Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
END


__ADS_3

Salah satu kebahagiaan terbesarku ialah, bangun pagi dan melihat wajahmu


ZildanAlFauzi


________


Malam hari, suasana canggung benar-benar terjadi dalam ruangan biru muda dan putih di kamar Syifa. Seolah ia berperang dalam dunia sendiri-sendiri.


"Apa nanti kang santri, eh suami hihi kenapa lucu sekali..Apa dia akan meminta hak nya malam ini tapi aku belum siap." Batin Syifa terus mondar-mandir seperti setrika.


Yah tadi Fatimah dan Ayana memberi beberapa pengetahuan dan kewajiban apa saja yang harus dilakukan oleh istri, pipinya mendadak panas jika harus melaksanakan salah satu diantaranya.


Ceklek..


Pintu terbuka melihatkan Fauzi yang berpakaian santai membuat Syifa memaku, apalagi langkahnya menuju arah Syifa yang tengah duduk di tepi ranjang.


"Eh eh mau ngapain." Tanya Syifa gugup.


"Memangnya mau ngapain?" Tanya balik Fauzi dengan posisi bingung. Pasalnya dia tidak ngapa-ngapain.


"Ehehe." Syifa hanya cengengesan, bisa-bisanya otaknya berjalan kemana-mana.


"Ayo sholat isya berjama'ah." Ajak Fauzi karena posisinya tengah hujan jadi menghalanginya untuk ke masjid.


"Oh iya-iya." Ucap Syifa buru-buru masuk ke kamar mandi, meninggalkan Fauzi yang melihat tingkah aneh istrinya.


Setelah keluar dari kamar mandi Syifa melihat Fauzi sudah menyiapkan perlengkapan sholat. Syifa mengerinyit heran.


"Kang santri udah wudhu?" Aihh Syifa benar-benar malu sendiri.


"Sudah, tadi kamu lama di dalam." Ucap Fauzi santai kemudian menyodorkan mukena, benar saja Syifa yang melihat arah jarum jam itu terbelalak dia di kamar mandi lima belas menit, buat apa coba?


"Astaghfirullah selama itu kah aku tarik nafas buang nafas karena grogi." Batin Syifa merutuki.


Fauzi memulai dengan takbir, Syifa mengikuti gerakan suaminya dengan khusyu' terdengar hanya percikan hujan seolah menunjukkan harmoni indah menghiasi malam berawan hitam.


Assalamu'alaikum warrahmatullah


Assalamu'alaikum warrahmatullah


Fauzi menadahkan tangan berdo'a dengan khusyu' ia sangat bersyukur ada keajaiban di dunia ini apalagi ia disatukan dengan Syifa seseorang yang berarti dalam hidupnya, semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan dalam keluarga yang baru ia bangun.


Selesai berdo'a Fauzi berbalik, ia memutar tubuh menghadap bidadarinya yang tengah menunduk, hanya ada kata Alhamdulillah dalam kamusnya saat ini. Syifa mencium tangan Fauzi dengan tangan gemetar.


Fauzi mengecup sekilas kening Syifa merangkum wajahnya dengan kedua tangannya, ada senyum tapi entahlah senyum apa yang ia artikan. Lain dengan Syifa seolah terhipnotis dengan mata teduh suaminya.


"Boleh?." Tanya Fauzi.


Syifa yang tadinya diam kini mengangguk pelan, rupanya mata Fauzi bisa membuat saraf Syifa berhenti detik itu juga. Tangan Fauzi menyentuh ubun-ubun sang istri kemudian melafadzkan sesuatu.


Fauzi memulai aksinya membuka mukena Syifa, lalu dengan anak jilbab Syifa hingga terurai panjang rambut Istrinya.


pet!


Gelap!


(Dah dah aku gak ruh๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ)


-


-


-


Keesokan harinya pukul 08.00 pengantin yang masih baru-barunya itu masih terlelap di ranjang yang sama, keduanya menggeliat bersama hingga..


Cup


Tanpa sengaja kening Syifa menyentuh bibir Fauzi, sontak keduanya saling membuka matanya ada senyum merkah di bibir Fauzi ada rona merah di pipi Syifa, Hemm karena tidur terlalu malam mereka setelah subuh memutuskan untuk tidur lagi.


"Mau langsung mandi atau sarapan dulu?" Tanya Fauzi.


"Emh mau cuci muka aja tadikan udah mandi." Jawab Syifa polos. Fauzi hanya mangguk-mangguk masih menatap Syifa yang berada di depannya.


"Kang jangan liatin mulu, aku malu." Ucap Syifa malu-malu ia menutup kepala dengan selimut.

__ADS_1


Fauzi tak habis akal ia ikut masuk kedalam selimut hingga mata mereka saling bertemu,


"Terimakasih untuk semalam, apa masih sakit?" Tanya Fauzi hati-hati. Syifa hanya menggeleng kecil.


Bohong!!


Entahlah ketika melihat mata Fauzi, semua yang di rasakan Syifa lenyap begitu saja seolah hidupnya hanya berpacu dengan detak jantung tanpa urat ...Mm mungkin.


"Baiklah ayo kita sarapan." Ucap Fauzi menyibak selimut mereka. Fauzi suami yang tidak peka melenggang dulu ke arah pintu namun beberapa saat mendengar ringisan dari seseorang.


"Suara siapa?" Batin Fauzi, hem apa dia sedang amnesia?


"Syifa kamu nggak papa? masih sakit ya? atau akang terlalu kasar?" Pertanyaan beruntun, Fauzi melihat Syifa yang meringis ia khawatir ini adalah salah-nya bisa-bisanya dia sempat lupa.


Bluss!!


Tiba-tiba saja kejadian semalam terngiang di kepala Syifa, pipinya serasa panas ia sudah menebak jika saat ini merah tomat sedang berpindah ke pipinya.


"Fa apa kamu demam? pipimu merah itu." Tanya Fauzi dengan bodohnya, bisa-bisanya.


"Ikh menyebalkan." Batin Syifa menatap Fauzi dengan tampang temboknya.


(...)


Sementara di ruang makan mereka menunggu si pengantin yang mungkin masih berduaan di kamar, Arnold dan Ayana tahu itu, lain dengan Rizky dan Ridwan mereka berdua sama saja tidak paham apa lagi Rizky.


"Ayah? Syifa sama Fauzi aku bangunin ya?" Tanya Ridwan buru-buru ke kantor malah menunggu si pasutri.


"Eeitss jangan ganggu dulu, nanti juga bangun." Ucap Ayana.


"Memangnya mereka ngapain jam segini belum bangun." Tanya Ridwan polos, sadar bang umurmu berapa? berlagak seperti anak usia nambelas tahun aja.


"Pasti kelelahan malam pertama." Celetuk Arnold, bisa-bisanya dia membahas ini tanpa rasa malu.


Ridwan sekarang paham, walaupun tadi otaknya masih nyangkut di pohon jadi sekarang juga udah tahu alasannya..Gini-gini juga ada materinya.


"Malam pertama?" Batin si anak polos yang sangat polos itu siapa lagi coba kalau bukan Rizky bocil alias abu jahil.


"Assalamu'alaikum Ayah, Bun, Bang, Dek." Ucap Syifa dan Fauzi yang baru datang setelah keluarganya menunggu.


"Gimana lancar?" Aihh siapa coba yang tanya kalau bukan Arnold Ayah super pede.


Fauzi dan Syifa hanya menunduk malu-malu dan mendudukan ke kursi yang masih kosong, Syifa mengambilkan sarapan untuk suaminya setelah mendapat kode dari Ayana.


Tiba-tiba..


"Kak Gus ipar sama kakak kenapa nggak ngajakin aku saat malam pertama?" Hih nyeleneh pertanyaan polos dari sosok yang tak lain si Rizky.


"Astaghfirullah Ya Allah."


Tuk!!


"Akhh." Kenapa dahiku di pukul sendok Bang, nanti kalau aku amensia gimana?" Cibir Rizky kesal sambil mengelus dahinya yang tidak benjol.


"Lagian kamu ini kecil-kecil pertanyaannya nyeleneh." Ketus Ridwan, sebenarnya Arnold dan Ayana sudah senyum-senyum tapi Fauzi dan Syifa hanya menunduk. Yaya begitulah.


"Dih, Rizky tadi cuma nanya doang kok." Ujar Rizky tanpa dosanya, ya iyalah dia mana tahu maksud perkataannya tadi.


"Lain kali jangan begitu, umurmu belum diatas KKM." Arnold.


"???" Ternyata Rizky masih mode kepala bertanya-tanya, anak usianya yang notabe selalu penasaran cenderung menyatakannya dari pada memendam.


"Emmm tapi kenapa harus ada malam pertama?" Ucap Rizky lagi dengan muka polos bin lola binti bener-bener nggak tahu dan jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu.


"Astaghfirullah tole, umurmu belum cukup."


"Punya adek gini amat ya."


"Ealah Rizky bundamu dulu ngidam apa coba,?"


"Astaghfirullah sabar masih bocah." Batin Syifa kalau nggak tuh udah kena timpuk pakek centong.


"Ya Allah kebanyakan makan Siomay tuh." Batin Fauzi.


_________________

__ADS_1


Kini Fauzi dan Syifa tengah duduk di taman belakang rumah yang ada beberapa bunga dengan banyak jenis, tentu saja Ayana dan Syifa yang merawatnya.


"Dek, terimakasih." Ucap Fauzi menatap Syifa yang sedang mengamati bunga indah itu.


"Untuk?" Tanya Syifa, sebenarnya ia gerogi karena ia di panggil adek Sudah kayak lagu Adek berjilbab biru aja hehe.


"Terimakasih sudah mau menunggu." Ucap Fauzi kini Syifa sudah menatap mata teduh itu.


"Hem, aku juga berterimakasih karena Akang membawa bukti dan menjadikan ku sebagai istri." Ucap Syifa, sadar nggak kalau kata santri nya tidak ada.


"Bertahanlah untukku, bertahanlah hidup denganku..Jalani hidup sesuai sunnah dan semoga rumah tangga kita dapat ridho dari Allah, sampai jannahnya." Ucapa Fauzi , Syifa sudah berkaca-kaca.


"Kenapa Akang mau membuktikannya dengan langsung menikah? bahkan aku tidak perlu akting untuk meminta gugatan , padahal hatiku sangat bahagia waktu yang sama dengan kecewa." Ucap Syifa mengeluarkan kekesalannya.


Fauzi memeluk erat Syifa seolah ini hanya miliknya, iya miliknya..Syifa nama yang tertulis di lauhul ma'fudznya, rela menunggunya tanpa kepastian apalagi belum jelas akan setianya atau tidak.


"Kamu mau tahu?" Tanya Fauzi mencium pucuk kelapa Syifa yang berlapis jilbabnya. Syifa mengangguk.


"Dan diantara Bukti mencintai Rasulullah Saw adalah dengan memperbanyak sholawat siang dan malam serta meneladaninya,,


...Maka cukup Bukti cintaku kepada adek dengan mengajak akad atas bekal restu dan Ridho dari orang tua,,,


...Serta hidup bersama dan saling mendukung, saling memperingatkan dikala sedang salah, dengan menjalani sunnah yang ada. InsyaAllah bersama sampai ke surganya." Tutur Fauzi.


"Aku mencintaimu karena Allah." Ucap Fauzi.


"Iya." Jawab Syifa hanya ber iya karena tengah menahan tangisnya.


"Ingat, dek, kamu adalah tempat untuk hati Akang berlabuh, kamu semangat hidup dan pendamping hidupku, kita berjuang bersama-sama menuju dan manggapai Syurganya." Ucap Fauzi menyatakannya.


"Aku juga mencintai mu, karena Allah, Terimakasih ini adalah bukti yang paling berharga dalam kehidupanku." Tutur Syifa terisak.


"Kamu tahu? aku tidak berjanji untuk selalu di sampingmu tapi akan selalu ku buktikan jika aku selalu mencintaimu, kamu adalah hidupku juga, separuh nafas dan jiwaku, Hanya Allah yang bisa merencanakan sesuatu." Ucap Fauzi.


"Benar katamu, soal koin seribu..Allah mempunyai seribu rencana bahkan bisa merubah sesuatu seribu langkah lebih cepat dari kita...Dan aku bersyukur ada kamu yang bisa membimbingku." Ucap Syifa lagi.


"Kau tahu aku hanya bisa memberi bukti, perasaan ini, kemarin, kini dan esok selamanya hanya untuk istriku, Asyifa Nur Fadilla."


Syifa semakin mengeratkan pelukannya, ia terharu akan bukti, yah bukti...


Bukti Cinta Kang Santri yang lima tahun lalu ia tunggu, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah.


Aamiin


___________END__________


Alhamdulillah, untuk kemarin Tuntas menunggunya Syifa dan kini Bukti Cinta Kang Santri nya...


Baper nggak?


Kalo nggak, ya gak masalah๐Ÿ˜†


Lebay thor?


suka suka dong haha๐Ÿ˜‚


Hayo... harus pada nyumbang ini haha๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


jangan lupa Vote nya๐Ÿ˜˜


Follow author,


Follow IG juga: @Sfrarska018 sapa tau mau ๐Ÿ˜Œ


Apa sih yang Buat kalian Singgah dan mau baca di novel ini???


coba deh di jawab..sapa tau nanti Extra part nya banyaak๐Ÿ˜‚ sukur-sukur kalo ada sequelnya ๐Ÿ˜‚


Tunggu Extra part nya yaa jangan ngilang dulu..


Komen kalian bikin aku semangat..


Salam dariku


Si Pemalas Sejuta Impian.

__ADS_1


__ADS_2