Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
BCKS ll Rujak


__ADS_3

Bukankah sebuah beban kehidupan selalu timbul karena pikiran manusia itu sendiri? Dalam letak dan detak rupanya bukan atsmofir yang bergerak lambat atau terlalu cepat, ada masanya seseorang mampu menjangkau ke pemikiran yang mendadak rumit.


Setelah kejadian tadi membuat Fauzi tidak memperbolehkan Syifa keluar, beruntung tadi sempat ada bodyguard Ayah yang membereskan kekacauan pasar.


Syifa sedang mengobati luka yang ada di lengan Fauzi, gagal makan rujak inimah, aduh gimana ya ngomongnya. Abisnya Syifa masih kepengen sama yang namanya rujak.


"Sudah." Ucap Syifa.


Fauzi yang hanya menggunakan kaos putih membuat Syifa menatapnya sebal, gimana kalau tiba-tiba ada santriwati masuk? Ah Syifa kenapa jadi cemburuan gini.


Syifa meminta Fauzi untuk berbaring, aura keteduhan Fauzi masih terlihat meski sudah terpejam.


rujak rujak ssss enaak


"Ini kenapa otak aku isinya rujak semua sih." Gumam Syifa, rujak gak bisa ke hapus dari otaknya.


Syifa kembali menatap Fauzi yang sepertinya sudah tertidur, dengan gerakan sangat sangat lambat, Syifa menuruni tempat tidur kembali melirik Fauzi lagi kemudian bernafas lega kala Fauzi masih tidur.


Rujak


Rujak


Otak Syifa ngeblank seketika, tergantikan oleh rujak yang pasti rasanya aah mantap. Syifa jadi gak sabar kepengen makan.


Tangan Syifa ia angkat untuk membuka pintu namun gerakannya terhenti seketika.


"Hmm mau kemana Fa?" Suara itu membuat bulu kuduk Syifa terasa berdiri dari kulitnya. Was was sembari membaca mantra itu yang Syifa lakukan saat ini.


Jangan dulu kang.


Semoga ngigau semoga ngigau


Sayangnya alam tak berpihak dengan dirinya, Syifa menoleh ke belakang kemudian menyengir kala Fauzi menatap dirinya datar dengan posisi terbaring.


"Kemana?" Tanya Fauzi lagi. Syifa dengan muka juteknya berjalan lagi duduk di pinggir ranjang, ia memalingkan muka terus membatin kenapa suaminya belum tidur.


Hening, Syifa menoleh lagi ke arah Fauzi dan yang paling menyebalkan saat terlihat Fauzi kembali memejamkan mata. Syifa jadi heran apa kang santrinya ini kelelahan? Tapi tetap saja rujak masih berkuasa di kepala.


"Kang..." Panggil Syifa.


"Temani aku tidur Fa." Ucap Fauzi tanpa mau membuka mata.


Hening..


"Syifa pengen rujak." Ucap Syifa menunduk.


"Tidak usah." Kata Fauzi masih dengan terpejam, sedangkan Syifa mencibik kesal.


"Syifa pengen."


"Gak boleh."


"Ish kamu nyebelin." Syifa bersedekap dada sembari memalingkan wajah, ini terlihat seperti anak kecil yang sedang ngambek karena tidak mendapat keinginannya.


"Syifa.." Panggil Fauzi. "Kamu tau kan kejadian tadi lengan aku jadi begini? aku gak ngebolehin kamu keluar." Ucap Fauzi tentu saja membuat Syifa menunduk merasa bersalah


Ingin ku menangis.


Tok. Tok. Tok


Syifa menatap Fauzi, bisa-bisanya Fauzi sedari tadi terpejam.


"Buka pintunya Fa." Titah Fauzi masih dengan terpejam. Syifa memalingkan wajah.


"Nggak mau!." Ujar Syifa sebal.


Fauzi membuka mata seraya terkekeh ia terduduk dan mencubit hidung Syifa yang imut jika berlagak seperti anak kecil. Sedangkan Fauzi mulai berjalan menuju pintu.


Entahlah Syifa tidak mau mendengar, ia sebal Fauzi yang belum mengabulkan keinginannya. Terlihat Fauzi berbicara sebentar kepada sesorang di luar sana, Syifa memilih memalingkan wajah.


"Fa.." Panggil Fauzi.


"Apa!" Jawab Syifa ketus.


"Jangan ngambek sama suami." Kata Fauzi lagi semakin membuat Syifa sebal.

__ADS_1


"Turuti kata istri." Jawab Syifa masih tak mau menatap Fauzi di ujung sana.


"Kamu ini udah tua masih menggemaskan." Bisa-bisanya kang santri ngegombal di saat seperti ini. Syifa malah semakin geram dibuatnya.


"Tua tua! masih tua kamu kang, ngak sadar diri." Ucap Syifa sudah sangaatttt sebal terlihat gaya bicara yang blak-blakan.


Fauzi menggeleng pelan sembari menyiapkan sesuatu di meja kerjanya.


"Jadi mau apa tadi?" Tanya Fauzi.


"Gak jadi."


"Yakin?"


"Hm."


Fauzi tertawa dengan tingkah sang istri, namun tiba-tiba saja terkejut kala Syifa mengusap ujung matanya. Apa Syifa menangis, keterlaluan kamu zi.


"Ini Fa ada rujak." Ucap Fauzi membuat Syifa menoleh dengan muka sembab.


"Gak jadi pengen." Ketusnya.


"Loh, kok gitu?" Tanya Fauzi, sedangkan Syifa kembali melengos.


"Enak ini Fa, aku habisin ya?..,.Sambelnya mantep." Fauzi mulai duduk dan mencolekkan buah ke sambal rasa asam lebih mendominasi yang membuat ngilu, tapi demi menarik perhatiannya Syifa kan ya.


"Ssh mantap Fa ^^" Kata Fauzi.


"Nggak."


"Yakin."


Hening, "kalau kamu nggak mau yaudah aku ha...Astaghfirullah uhuk uhuk uhuk." Fauzi terbatuk batuk kala Syifa sudah berdiri di samping meja menatap binar ke arahnya.... Ehh ke rujaknya.


"Mau apa?" Tanya Fauzi setelah meneguk air.


"Mau rujak." Jawab Syifa tanpa dosanya. Tak mau membuat Syifa ngambek lagi, Fauzi segera menarik Syifa ke pangkuannga.


"Turun Kang, Syifa berat. Lenganmu masih sakit." Ucap Syifa berontak.


"Yang sakit lengan kok Fa bukan kaki, sekarang cepat makan." Titah Fauzi yang hanya di jawab anggukan oleh Syifa.


Fauzi melingkarkan tangannya ke perut Syifa, ia bersyukur Allah masih melindungi calon anaknya. Dagunya ia topangkan ke bahu Syifa sesekali menyembunyikan kepala di ceruk leher Syifa.


"Nanti kita ketemu Annisa ya." Ucap Fauzi membuat Syifa mengangguk.


"Annisa tadi minta dibelikan Al-Qur'an baru." Ucap Syifa sembari memasukan buah ke mulutnya.


"Sudah Iqro' berapa?" Tanya Fauzi.


"Enam," Jawab Syifa membuat Fauzi mengangguk.


****


"Kang turunin berat." Rengek Syifa membuat Fauzi terkekeh sejenak.


"Sekali saja Fa, malam ini Annisa mau tidur di sini nanti kita gak bisa romantis-romantisan lagi." Kata Fauzi.


"Gimana kalau misalnya aku nggak ada ya? Syifa jadi penasaran kehidupan Kang Santri." Ucap Syifa membuat Fauzi langsung membekap mulut Syifa dari belakang.


"Mmhh."


"Jangan ngomong gitu Fa,"


"Syifa takut kang." Lirih Syifa membuat Fauzi menggeleng.


"Percaya sama Allah." Ujarnya tersenyum, Syifa memiringkan kepala dan mendongak ke samping terdapat Fauzi yang tersenyum teduh.


"Kira-kira anak kita bakal laki-laki atau perempuan ya?"


"Laki-laki ataupun perempuan semua sama saja, kan itu titipan dari Allah." Ucap Fauzi.


"Emmm kira-kira mirip bunda atau abi ya?" Tanya Syifa lagi membuat Fauzi tersenyum-senyum.


"Mirip aku aja Fa." Ucap Fauzi membuat Syifa mengerinyit. "Kenapa?"

__ADS_1


"Biar gak pecicilan kayak kamu." Kata Fauzi tanpa dosanya, Syifa yang kesal malah memukul lengan Fauzi.


"Allahu Akbar... sakit fa."


"Aduhh maaf sengaja hehe..." Nyengir Syifa.


"Ish, tapi bener kok Fa, kalau lahirnya duplikat aku bakal kalem anak kita." Ucap Fauzi.


"Memangnya kamu kalem Kang?" Tanya Syifa, serius baru tau.


"Iya Fa, aku kalem." Jawab Fauzi dengan watados dan juga sok polos membuat Syifa hanya membatin.


kalempit lempit kang.


Fauzi melihat Syifa mengambil buku diary tak lupa pena yang tersiap juga di sana. Jari jemarinya menari di atas kertas putih sesuai baris. Setelah selesai, Fauzi membacanya.


Shakila Shaqeena Syifa


Yusuf rafandan atahla


"Ini apa?" Tanya Fauzi mengerutkan kening.


"Laki-laki ataupun perempuan nantinya Kang Santri ...Harus nama ini nama anak kita." Kata Syifa membuat Fauzi menggeleng kepala.


"Nanti saja Fa, kalau udah hari H." Saran Fauzi.


"Ya nanti kalau aku nggak ada di sisi kamu lagi, kamu bingung dong Kang." Ucap Syifa tertawa membuat Fauzi tersentak.


"Kamu ngomong apa Fa, gak jelas banget." Ucap Fauzi heran sendiri.


"Hihi serius amat suami aku."


"Becanda kamu nggak lucu Fa." Ucap Fauzi datar.


"Lihat Kang. Namanya bagus, Asyifa gitulohhh yang halu hehe." Ucap Syifa lagi yang membuat Fauzi terdiam saja.


****


Tiga, dua, satu.


Buuuummmmm


Gema bom menghanguskan ruangan bawah tanah, seseorang misterius tersenyum menyungging kala markas itu sudah menjadi tumpukan abu-abu.


"Berani menghalangi bisnisku maka hancur."


Setelah mengatakan itu ia pergi.


Beberapa saat kejadian itu, Arnold dan Ridwan serta Rian datang terburu-buru melihat salah satu markas sebagai tempat merencanakan sesuatu sudah hangus.


"Ada berapa nyawa." Tanya Arnold dingin.


"Sekitar sepuluh king." Saut Rian.


"Ayah.." Kata Ridwan terputus.


"Tidak ada Ayah anak dalam anggota." Potong Arnold di sertai cekikikan oleh Rian.


"King.. siapa yang melakukan ini." Tanya Ridwan konyol, ia sebenarnya lupa mau bicara apa gara gara asisten pribadinya yang cekikian gak jelas..


"Musuh."


"Alex?"


"Hm."


"Orang-orangnya merampas beberapa harta dari orang pasar, lebih lagi hampir mencelakakan putri saya....


"Pengecut.." Sambung Arnold mengepalkan tangan.


"Kita balas?" Tanya Ridwan.


"Tentu saja."


*

__ADS_1


z


z


__ADS_2