
...Cukup Bagiku Allah SWT...
****
Satu bulan berlalu,
Fauzi dengan setelan koko hitam dan juga sarung hitam berjongkok di depan sebuah nisan. Ini pertama kalinya ia mengunjungi makam sang istri.
Setiap yang berjiwa akan mengalami kematian, dan setiap insan ada yang tabah. Air mata Fauzi lolos, tentu saja syok ketika ada makam yang benar-benar tertulis nama istrinya.
Cukup bagiku Allah Fa.
****
Flashback on.
Lelaki yang telah beberapa hari tak sadarkan diri itu mulai menggerakkan jari-jarinya. Perlahan mata teduh itu mengerjab ruangan putih dan bau khas obat menyeruak ke dalam indra penciuman.
"Si syifa." Lirihnya.
Fauzi dengan segala ke lemahan mencoba bangkit dari tempat tidur, sesekali meringis kala bagian perut masih terdapat jahitan yang ia yakini adalah bekas tusukan.
Pertama kali yang ia cari adalah istri dan anaknya. Semoga baik baik saja. Fauzi mencabut selang infus dan juga beberapa alat di sana, masih terlihat jelas dengan bibir putih pucat mencoba bangkit dari tidur berjalan tertatih tatih.
Syifa
Fauzi memutar knop pintu, sesuatu terasa basah di bagian perutnya namun dengan sigap tangannya menutupi bercak merah, luka itu kembali mengaga karena Fauzi memaksakan berjalan.
Breaking news
telah di temukan sosok wanita hamil tertutup bebatuan di arus jembatan Zzzz dengan kondisi ya sudah tak bernyawa, polisi sulit menemukan identitas korban, wajah korban sudah tak di kenali.
Jantung Fauzi berpacu lebih cepat,
"Syifaaa." Teriaknya, beberapa suster yang sedang lewat menoleh.
"Pak, saya antar ke ruangan lagi ya." Tawar suster.
Fauzi menggeleng.
"Tidak sus, is-istri saya dimana? " Ucap Fauzi nadanya terputus putus dengan muka memerah.
"Maaf tapi luka bapak belum pilih dan perbannya berdarah lagi."
"Saya bilang mau ketemu istri saya, dimana istri sayaa!!!!!" Kata Fauzi membuat salah satu suster itu dengan cepat memanggil dokter.
"Tenang dulu pak Fauzi." Ucap suster.
"saya bilang saya mau ketemu istri saya." Kata Fauzi lagi ia benar benar khawatir dengan kondisi Syifa, berharap hari itu hanyalah mimpi buruk.
Fauzi hendak berjalan namun satu suntikan sudah menembus di lengannya, perlahan demi perlahan mata itu terpejam. Dokter menyuntikkan obat penenang di sana.
Dalam ruangan
"Lukanya kembali terbuka dok." Ucap salah satu suster. Sudah menyiapkan alat jahit.
Jam demi jam berlalu,
Fauzi kembali mengerjab, pening menghinggapi kepalanya.
"Zil udah sadar, Alhamdulillah." Ucap Uminya yang berbinar sampai meneteskan air mata.
"Umi.."
"Ya le."
"Syifa mana?"
DEG
Fauzi bingung dengan keterpakuan sang Umi, sampai pintu terbuka menampilkan sosok Abi dan juga Ayah mertua.
"Le sudah sadar?" Tanya Abi. Fauzi mengangguk.
__ADS_1
"Bi, Syifa mana?" Tanya Fauzi membuat semuanya saling pandang. Arnold mengkode besannya untuk memberi ruang waktu dirinya dan Fauzi.
****
"Nggak mungkin yah..." Fauzi menggeleng pelan. Astaghfirullah.
"Ayah tidak yakin tapi di katakan wanita itu tengah hamil dan kemungkinan anaknya sudah terlahir tapi ikut hanyut oleh air dan sampai saat ini belum di temukan."
Fauzi membisu dengan tatapan kosong.
"Kamu tau nak?..." Kata Arnold menghela nafas berat.
"Ayah adalah cinta pertama putrinya dan cinta terbesar seorang lelaki adalah ayah kepada putrinya." Sambung Arnold membuat Fauzi menatap mertuanya, masih ada air mata yang mengalir di sana.
"Ayah yakin tak yakin dengan ini."
"Maksud ayah."
"Syifa atau siapapun dia, telah di temukan dalam kondisi wajah yang hancur, tapi menurut si penemu bahwa korban itu dalam kondisi hamil, ayah bertanya kemana anaknya...Ya dia jawab seperti seolah anak itu telah lahir kemudian hanyut karena banyak darah di sana." Jelas Arnold.
Flashback off
Air mata fauzi menetes terlihat dari muka yang memerah, sembari mengirimkan doa untuk Almarhum.
"Bahkan sampai sekarang pun aku masih menunggu kamu pulang ke pelukan aku Fa, sampai sekarang aku masih ingin membuktikan ke kamu kalau cinta aku bukan hanya sekedar rasa biasa Fa."
Fauzi mengusap wajah, kemudian bangkit berdiri.
"Aku pamit Fa." Ucap Fauzi tersenyum meski ada aliran air mata yang merembes namun segera ia usap
*****
Fauzi melangkahkan kakinya di halaman Pesantren bersamaan sapaan para santri maupun Ustadz Ustadzah yang sudah tahu berita duka ini
Dari arah lain terdapan Annisa dengan senyum lebarnya berada di dua meter dari langkah Fauzi yang terhenti.
Fauzi merentangkan tangan tapi Annisa masih menggeleng hingga Fauzi menaikkan alis seolah bertanya kenapa?
"Peluk mau?"
"Mauu." Seketika Annisa menghambur memeluk Fauzi dengan erat.
"Abi habis ketemu Bunda?" Tanya Annissa saat itu membuat Fauzi hanya mengangguk.
"Lihat Fa, putri kita sangat dewasa meski masih anak anak. Kamu harus bangga di sana ya. Setidaknya tolong kamu masih ingin pulang ke pelukanku Fa?." Batin Fauzi mendongak ke arah langit langit agar Annisa tidak melihat dirinya sedih.
Kalau kalian pikir Annisa tidak sedih pasti sedih. Anak ini selalu di beri nasihat untuk ikhlas oleh Abi dan Ummi hanya saja dalam waktu tertentu mampu membuat gadis cilik itu menangis sendirian merindukan sang bunda. Fauzi tau itu.
"Assalamu'alaikum Gus." Ucap lembut sosok gadis yang menunduk di hadapan mereka.
Fauzi seketika berdiri dan Annisa berada di samping Fauzi.
"Wa'alaikumussalam."
"Punten Gus, saya mau mengajak Annisa untuk ke toko buku." Ucap Gadis itu bernama Hasna.
Fauzi menatap ke arah bawah di mana putrinya hanya memainkan ujung jilbabnya dan menggigit bibir bawah.
"Annisa berhasil menghafal Asmaul husna abi. Kata kakak ini Annisa dapet hadiah buku." Ucap Annisa membuat Fauzi mengangguk.
"Kamu jagain anak saya." Ucap Fauzi di jawab anggukan oleh Hasna, setelah itu Fauzi berjongkok mengelus kedua bahu putrinya kemudian mengecup kening putrinya.
"Jangan minta macam-macam sama kakak ini." Kata Fauzi membuat Annisa mengangguk cepat.
****
Berhari hari kemudian, Annisa sedang tertawa riang bersama Angkasa di salah satu taman tak lupa ada hasna yang juga ikut bermain. Hasna amanda gadis berusia 23 tahun yang sudah lama mengabdi di pondok ndalem tampilan sebagai santriwati muslimah yang juga incaran para santriwan.
Anehnya belum mau menikah.
"Annisa sayang, ayo kita pulang ke pondok."
"Okee kak." Jawab Annisa setelah itu pamit ke Angkasa.
__ADS_1
"Sa aku pulang dulu yah."
"Hati hati nis." Ucap Angkasa.
Sesampainya di pondok.
"Kapan kapan anterin Annisa lagi yaa kak hehe." Kata Annisa nyengir membuat Hasna mengangguk dan tersenyum. Setelah itu Annisa sudah memasuki pintu bertuliskn Gus
Apa masih ada kesempatan untuk memasuki ruangan itu? Entahlah apa yang tengah di pikirkan gadis itu.
"Hayyoo mikirin opo?" Kejut temannya. Sedangkan Hasna hanya terlihat acuh.
"Nungguin ruangan Gus terbuka?" Celetuk satunya lagi.
"Apaan sih." Jawab Hasna mengelak.
Hasna meninggalkan kedua temannya yang terus mengomporinya, berharap tidak ada siapapun yang mendengarnya.
"Opo sih kalian, kalau sampe Gus Fauzi tau dia gak mungkin ngizinin aku lagi bareng Annisa." Ucap Hasna cemberut.
"Halah kamu ini udah lama banget loh mendem perasaan bahkan sejak dulu saat belum ada Si istri Gus." Ucap temannya bernama Dinda. Dia kasihan dengan Fauzi yang masih muda harus di tinggal sang istri
"Iya loh, barangkali Allah mengabulkan isi doamu sekarang?" Ucap satu lagi bernama Fika.
"Kalian ini jangan ngaco mana mungkin Gus Fauzi mau sama aku."
"Lah kamu sukane yo nolak orang lain, kalo bukan karena nunggu Gus Fauzi terus buat siapa lagi yee kan?" Tanya dinda.
"Kamu pantes kok, usaha dulu. Barangkali kisah cinta diam Fatimah akan terulang di masa kini." Ucap Fika menggoda.
"Tapi Ali dan Fatimah saling mencintai."
"Usaha dulu mbak hemmmm. Annisa dulu baru Abinya hehe." Ucap Fika dan Dinda menggeret Hasna untuk pergi dari sana.
Tanpa mereka sadari ada Ustadz Rizal yang sedari tadi mendengar percakapan keduanya.
"Harus laporan sama Gus Fauzi nih." Gumamnya mantap.
****
"Nah jadi gitu Gus." Ucap Ustadz Rizal setelah menyesap rokok di malam penjagaan jadwal.
"Jadi..."
"Gimana Gus?"
Fauzi terdiam sejenak, "Saya harus apa?" Tanya Fauzi konyol membuat Rizal menepuk jidat.
"Sakarepmu Gus. Heran Alm.Ning Syifa bisa cinta sama njenengan." Kekeh Rizal membuat Fauzi menjadi datar.
"Terserah dia Ustadz, asal mereka tidak melakukan cara cara haram. Aku doakan Hasna cepat mendapat pengganti doa nya." Ucap Fauzi membuat Rizal mengerinyit.
"Lohh Gus gak niat cari istri lagi?" Tanya Rizal heraannn...
Fauzi terdiam menatap lurus kedepan sembari menggeleng pelan.
"Cukup bagiku Allah, Syifa satu-satunya cinta pertama saya. Bagaimana mungkin saya bisa melupakan itu. Yang hilang hanya raga bukan jiwa sama halnya cinta, aku harus apakan rasa ini Fa?"
"Bahkan sampai detik ini aku masih memiliki keyakinan akan ada masa kita bertemu, hanya jarak yang sedang jadi penghalang ...entah itu surga atau masih berpijak dunia. Apapun itu percayalah kamu pertama dan terakhir Fa."
"Ini bukti cinta aku Fa, bukti cinta kang santri."
"Malah ngelamun Gus, gus." Kesal Ustadz Rizal.
*
z
Makin tertantang untuk baca atau mau udahan aja?
Saran dan maklumi typonya
Tetap Jadikan Al-Qur'an bacaan utama.🤗🤗
__ADS_1