Bukti Cinta Kang Santri

Bukti Cinta Kang Santri
57. Kejamnya Syifa


__ADS_3

PERINGATAN


Adegan ini ada kekerasan fisik, yang tidak mau membayangkan ngga usah baca.


skip aja boleh😋


__________________________


Sosok gadis berjilbab tengah berdiri di dekat danau, ia melempar kerikil-kerikil kecil seolah melempar setiap masalah yang tengah ada dalam kehidupannya.


Yah Syifa gadis yang terus menatap danau dengan tatapan kosong, danau itu memang sepi karena tempat yang tersembunyi, suasana yang hening tetapi tidak dengan hati Syifa dengan air mata yang sudah mengering.


Grep!


Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya sontak Syifa terpanjat namun aroma maskulin mampu ia ketahui si pemilik tangan itu.


Ridwan!


Setelah susah payah memahami si garis ruwet Ridwan menemukan Gadis yang ia cari beberapa waktu lalu, punggung Syifa bergetar, dari situ Ridwan menyimpulkan jika adiknya sedang menangis.


Terlihat Syifa menyeka air mata dengan punggung tangannya, nyaris membuat Ridwan miris ia menempelkan kepala ke punggung adiknya, membuat ekor mata Syifa melirik arah samping.


"Maafkan Abang." Ucap Ridwan dengan suara serak.


Hening!


"Pukul Abang, tapi tolong..jangan diamkan Abang." Ucapnya lagi dan memejamkan mata.


Tangan Syifa melepaskan pelukan Ridwan menjauh satu langkah darinya hal itu membuat Ridwan hanya menunduk, bagaimana mungkin ia yang tak pernah takut berkelahi namun tidak jika masalah dengan adiknya.


Dua insan kakak beradik saling menunduk, sebenarnya Syifa sudah berbalik tetapi Ridwan saja yang mati kutu, dann


Bugh!


Tubuh Ridwan hampir terhuyung kebelakang namun segera ia tahan, mendapat pelukan tiba-tiba dari adiknya membuat senyumnya menyungging. Demi apa ia lega.


"Mm Maafin Adek yang kekanak-kanakan, padahal Abang mau yang terbaik dari semua, Maaf." Cicit Syifa.


Ridwan melepas pelukan adiknya mengangkat dagunya dan menghapus jejak Air mata. Ridwan menggeleng,


"Tidak, kamu benar dek jika kita terus kabur dari musuh maka akan membuat kita terus berada di ambang masalah, maafin Abang." Ucap Ridwan kembali memeluk adiknya.


-


-


Dering ponsel Ridwan berbunyi..


Sebenarnya kontak yang tertera nama Ayah bundanya terletak di ponsel yang berbeda, dan tentu saja ponsel ini khusus dunia gelapnya.


Ridwan menarik atas tombol hijau terdengar seseorang sedang mengomel tidak jelas memang.


"Hey kau darimana saja hah, kemana ponselmu yang satu." Gerutu dari seberang.


"Hey begitukah cara berbicara pada bos mu hem." Jawab Ridwan dengan nada dingin.


"Yaelah bos gitu aja ramah-ramah cepat tua nanti." Ujar dari seberang yang tak lain adalah Rian si asistennya.


"Ramah?" Ucap Syifa yang posisinya masih memeluk Ridwan.


"Eh Syifa, maksudnya Marah kalau Ramah kan beda ya, tapi kalau bagi Abangmu itu sama saja." dari seberang.


Syifa sudah cekikikan ia bingung dengan kelakuan si asisten sekaligus kakaknya yang kadang dingin kadang lembut.


"Katakan!" Ridwan to the point. Terdengar Rian menarik nafas.


"Ternyata ini ulah dari Riko atas perintah pamannya, dari mata-mata ku, pamannya bermusuhan dengan Ayahmu, dan dia ingin menguasai gelar king mafia di amerika." Ucap Rian serius.

__ADS_1


"Tangkap mereka dan sekap di ruangan bawah tanah." Ujar Ridwan rahangnya mengeras.


"Sudah beres kau ke sini saja, biar ku jelaskan detailnya." Suara Rian.


Tut!


Asisten itu memutuskan panggilan sepihak hingga Ridwan mendengus kesal. Sebenarnya bosnya Ridwan atau dia sih,,ah itu tidak penting.


"Abang mau ngapain." Suara Syifa membuyarkan lamunan Ridwan.


"Ti-tidak."


"Aku ikut." Ucap Syifa dengan dingin.


"Tidak usah Abang antar kamu pulang dulu ya." Ucap Ridwan karena tidak mau Syifa terluka.


"Ck! Ayolah bang.." Rengkek Syifa dengan tatapan menyeringai, Ridwan terkejut bukan main.


"Apa yang terjadi dengan adikku, kenapa jiwa pesicopatnya kambuh saat ini." Batin Ridwan bergidik.


Tepat di ruangan gelap dengan bau amis suasana yang begitu dingin, seluruh bodyguard menunduk terlebih lagi dilanda kebingungan dengan hadirnya gadis berjilbab yang berjalan di belakang King nya.


"Astaga macan betina." Cicit Rian.


Ridwan menduduki kursi kebesarannya, Syifa? walaupun beberapa kali pernah ke sini tetapi ini pertama kalinya berkunjung lagi setelah traumanya hilang.


"Astaga aku jadi merinding melihat tatapan si Macan betina itu." Batin Rian.


"Seret mereka ke sini." Ucap Ridwan datar.


Rian mengkode bodyguard untuk membawa 10 orang tersangka atas tindakan lancangnya dengan meneror Rizky.


Dengan tatapan menyeringai Ridwan memandang satu per satu wajah tersangka dengan tatapan iblisnya, namun belum puas karena tidak melihat wajah yang sangat ingin ia habisi saat ini.


"Dimana dia." Ridwan menatap Rian yang sedang menunduk.


"Shit." Umpat Ridwan.


Ridwan menatap 10 orang yang sudah babak belur, pasti ulah Rian yang melakukan. Ridwan menatap sinis 10 orang yang dianggapnya sebagai binatang saat ini.


Plassh!


Plash!


"Kalian salah telah mengusik ketenanganku." Ucap Ridwan pelan tetapi membuat nyali ke sepuluh orang itu menciut.


"Katakan dimana tuanmu bersembunyi hah." Teriak Syifa dari kursi yang tadi di tempati Ridwan.


1 tahanan menatap Syifa remeh, ia mengira gadis kecil itu hanya main-main. Ridwan masih diam membiarkan ejekan bengis itu.


"Kau membangunkan Sisi buruknya tuan." Batin Rian.


"Cih gadis kecil sepertimu jangan mengurusi urusan ini." Ucap tahanan dengan mengejek padahal mukanya sudah tak berbentuk.


Syifa tersenyum devil, tangannya menarik laci nakas tatapannya menemukan belati dan tersenyum menyeringai dengan jarak yang lumayan jauh dengan tatapan datar.


Jleb!


Belati itu menusuk tepat jantung pria tadi, Ridwan membulatkan matanya bukan karena takut tetapi adik kejamnya ini muncul tanpa di undang.


Oke kita tunggu tanggal mainnya..


Sembilan orang tadi bergetar ketakutan keringat dingin mulai bercucuran, Tanpa aba-aba Ridwan memotong kuku si bengis itu dengan golok, bukan kuku melainkan jari.


"Cantik sekali." Ucapnya menyeringai


"Akhhh."

__ADS_1


"Arrghh."


"Le-p-as kan kam- Arrghh."


Ringisan dan erangan sudah menghiasi ruangan amis itu, darah bercucuran di mana-mana, terlebih lagi gadis kecil itu juga melakukan hal yang sama.


Tak hanya goresan cantik dan bedahan kecil melainkan potongan-potongan tubuh tak berbentuk itu sudah terlepas dari anggotanya.


Iya kalau langsung mati tetapi Ridwan tidak akan membiarkan mati dengan mudah.


"Rian!" Teriak Ridwan.


"Uhuk-uhuk-uhuk.." Tunggu, apa yang dilakukan asisten itu, ck dengan santainya ia menyeruput teh yang sudah ia buat sedari tadi.


"Kau uhuk uuss biang keong tu uhuk." (Kau urus biangkerok itu) Ucap Rian dengan batuk-batuk.


"Baiklah." Ucap Ridwan melanjutkan aktifitasnya.


Ia menatap Syifa yang melukai si bengis dengan membabi buta, Ridwan menelan ludah kasar.


Glek


Satu belati mampu mencongkel mata si tahanan, Syifa tersenyum semirik iblis layaknya bukan dirinya sendiri. Ia mengambil samurai tajam yang tertangkap oleh matanya.


"Kejamnya Syifa." Batin Ridwan.


Dengan kemarahan yang sedikit mereda tiba-tiba Syifa menggelengkan kepala. Ia menatap samurai yang tengah di pegangnya terkejut lagi dengan para pria yang tubuhnya berpisah-pisah namun masih bernafas.


Creng!


Syifa melemparkan Samurai di tangannya dan menggeleng cepat.


"Tidak-tidak, Astaghfirullah." Gumam Syifa seperti tersadar dari dunia gelapnya.


Ridwan yang paham akan keadaan adiknya segera meraih tangan Syifa untuk di bawa keluar ruangan, tentu saja dengan pakaian yang berbau amis dan bercorak merah darah.


"Rian!" Seolah paham apa yang di maksud Bosnya Rian segera mengangguk, mengambil pistol termahal nomer 3.


"Sayang sekali jika senjata nomer 1 peluru terbuang untuk orang seperti kalian Cih." Ujar Rian memilih pistol termahal nomer 3.


Klek! (bunyi pelatuk)


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Sekiranya sudah selesai Rian meniup senjatanya dengan tatapan bangga, tidak ada rasa dosa sedikitpun karena ia tak percaya tuhan.


Fiuuhh!!


"Hemm untuk menyiksa? kalian mampu, namun untuk membunuh ku rasa itu tidak mungkin." Gumam Rian melewati mayat terkapar tak bernyawa.


"Beresakan ini cepat, sri galak sudah lapar, Jangan tinggalkan jejak sedikitpun." Ucap Rian dingin.


"Baik." Satu kata dan menunduk hormat mampu menjadi jawaban dari bodyguard itu


-


-


-


Komennya manaa🙄

__ADS_1


__ADS_2