
''Tidak! Jangan! Jangan Kak! Aku cuma sebentar, cuma setahun! Tidak! Kamu tidak boleh pergi! Bagaimana denganku??''
''Aku tetap harus pergi Hunny.. waktuku sudah tiba ..''
''Nggak!!! Kamu nggak boleh pergi!! Aku berjanji, setelah tugasku selesai aku akan kembali pada mu, By. Jangan pergi! Aku membutuhkan mu! Tanpa kamu apalah aku! Aku mohon...'' lirih Ira sambil memeluk tubuh tegap Ragata.
Ia menangis sesegukan di dada bidang yang begitu ia rindukan. Raga pun ikut menangis. Ia kecup dahi Ira begitu lama.
''Jangan pergi, Hubby.. aku sangat mencintaimu. Aku sudah memaafkan segala kesalahan mu. Ku mohon.. please.. Hubby..'' mata bulat bening itu menatap mata elang milik Ragata yang juga sedang mengeluarkan air mata.
''Benarkah? Kamu sudah memaafkan ku? Tidak marah lagi?''
Ira mengangguk mantap. ''Aku sudah memaafkan kesalahanmu. Karena cintaku lebih besar daripada rasa benciku kepadamu. Aku selalu mencintaimu, Hubby. Walaupun kita berjauhan, tapi hati ini tetap milikmu.''
Raga menatap dalam pada manik mata hitam milik sang istri. ''Kamu sedang tidak berbohong kan? Berbohong agar aku tidak pergi?''
Ira menggeleng, ''Apakah aku selama ini pernah berbohong padamu tentang segala masalahku? Yang ada kamu yang berbohong padaku!'' ketus Ira, bibirnya manyun seperti bebek.
Membuat Raga tertawa. ''Hahaha... iya, iya aku percaya. Tapi.. sementara kamu belum kembali, aku tiduran aja kali ya selama setahun? Buat apa jika mataku terbuka sedang kamu tidak ada di depan ku? Aku tak mau itu. Yang aku mau, ketika aku bangun untuk pertama kalinya nanti . Aku mau melihatmu. Kamu Hunny. Bukan yang lain. Bisakah kamu berjanji padaku, jika tugas mu sudah selesai, segeralah pulang. Temui aku, dan bangunkan aku, hem? Kamu bisa?''
Ira tersenyum, ''Tentu. Orang pertama yang aku temui adalah kamu. Suamiku Ragata Hariawan. Cintaku, hidupku dan matiku. Tanpa kamu apalah aku!''
Raga tertawa. ''Tentu Hunny. Aku pun begitu. Kamu segalanya bagiku. Hidup dan matiku ada bersama mu Hunny.. Aku akan menunggu hari itu tiba. Untuk sekarang, aku harus pergi. Jaga diri baik-baik. Doakan selalu aku. Aku harus hibernasi selama setahun untuk menunggu mu pulang!'' seloroh Raga.
Ira mendelik tak terima. ''Nggak boleh! Kamu nggak boleh hibernasi! Emang kamu tupai apa! Yang akan tidur selama musim dingin? Ishhh...'' gerutu Ira.
__ADS_1
Raga tertawa. ''Jaga diri Hunny. Sampai jumpa satu tahun lagi. Aku sangat mencintaimu. Sangat mencintai mu. Ingat janjimu! Aku akan menunggu mu! Jika kamu tidak datang, maka aku akan pergi untuk selamanya. Aku pamit, Hunny! Assalamualaikum...'' Ragata melepas kan pelukan nya dan berlalu meninggalkan Ira yang mematung mendengar kan ucapannya.
''Tidak! Tidak!!! Kak Ragaaaa!!! Tunggu!!! Jangan pergiiiiii!! Tidaaaaakkk...'' pekik Ira begitu kuat.
''Astaghfirullah!! Ra! Bangun! Ira!!! bangun!!!'' pekik ustadzah Zafa.
Ira tersentak dari tidurnya. Dengan nafas memburu, keringat bercucuran Ira menoleh pada ustadzah Zafa yang sedang memberikan nya minum.
''Minum dulu.''
Ira menerima gelas itu dan segera menenggak nya. ''Terimakasih ustadzah Zafa...'' lirih Ira dengan jantung bergemuruh hebat.
''Ya, sebaiknya kita bangun. Waktunya tahajud. Sudah jam 3. Ayo!'' ajak ustadzah Zafa.
Sementara di rumah sakit ditempat dimana Raga sedang dirawat, Ummi Hani terkejut melihat tangan Raga mengepal erat.
''Kamu sadar Nak? Abi! Raga sadar!'' pekik Ummi Hani.
Abi Hendra yang sedang tertidur pun terjingkat kaget. ''Sadar?? Mana? Mana dia?!'' seru Abi Hendra karena terkejut.
Ummi Hani terkekeh melihat nya. ''Raga, Abi. Raga! Putra kita! Ishhh.. gimana sih?''
Abi Hendra yang masih linglung, akhirnya tersadar. ''Raga? Astagfirullah! Benarkah? Tapi... mengapa matanya masih terpejam?'' tanya Abi Hendra saat melihat Raga terlelap dengan damai.
''Tadi, ummi melihat tangan Raga mengepal erat. Makanya ummi bangunin Abi.. ternyata Raga masih tidur..'' lirih ummi Hani dengan memegang tangan ringkih Ragata.
__ADS_1
Ambil Hendra menghela nafasnya. ''Sabar... Raga akan bangun saat ia ingin bangun. Untuk sekarang, biarkan ia tidur. Sudah cukup selama lima tahun ini ia menderita karena tertekan. Biarkan ia tidur, Hunny. Mungkin dengan tidur panjang seperti ini, ia akan bertugas dengan Ira walau hanya di alam bawah sadarnya. Ummi masih ingatkan, apa perkataan dokter tadi?''
''Ya.. Raga akan bangun karena dia sendiri yang menginginkan nya. Lukanya tidak terlalu parah. Tapi inilah keinginan nya. Dia tidak mau bangun Abi.. bagaimana ini? Apa yang akan terjadi, jika Ira tau?''
''Maka dari itu, kita jangan beri tahu Ira. Biarkan ia dengan tugasnya. Setelah selesai, baru kita beritahukan. Sabar ya?''
''Tapi.. Raga, Abi .. putra kita...'' Isak ummi Hani begitu menyayat hati.
Abi Hendra tidak bisa berbuat apapun saat ini. Karena tadi dokter mengatakan jika Raga akan sadar, dua jam setelah obat bius habis.
Namun hingga dua jam mereka menunggu, Raga tidak sadar juga. Akhirnya Abi Hendra memanggil kembali dokter untuk memeriksa nya.
Khusus dokter ahli kejiwaan. Dokter itu mengatakan, jika Raga akan bangun saat dirinya sendiri yang menginginkan bangun.
Ada tekanan pada otak sebelah kirinya yang membuat Raga tidak ingin bangun sampai suatu hal yang dia inginkan tercapai.
Ini diagnosa pertama dokter ahli kejiwaan itu.
Raga dikatakan koma setelah menunggu kurang lebih lima jam lagi setelah waktu sadar yang dikatakan dokter tadi Raga akan sadar.
Ya, Ragata Koma. Ia tidak akan bangun sampai sang pujaan hati kembali dari tugasnya. Ira Sarasvati. Sang istri tercinta.
💕💕💕💕💕
Kebut lagi! Kalau sanggup, sepuluh bab malam ini! 😱😱
__ADS_1