
Selesai makan, kini mereka semuanya berkumpul di ruang tangah. Di mana ruang tivi yang menyatu dengan ruang tamu.
''Duduk bang.. aku mau ngenalin calon mantu kita! Ini Ragata Hariawan, putra dari Hendra Hariawan dan juga Hani. Abang masih ingatkan tentang mereka berdua? Dulu, saat kita menikah, mereka berdua datang, Abang ingatkan?? jika ayah Raga ini lah yang memberikan gelang ini pada ku??'' tanya Alisa, sembari menunjukkan gelang yang sengaja ia pakai malam ini.
Emil yang paham pun mengangguk. ''Lantas??''
''Mereka sepakat ingin menjodohkan putra nya dan putri kita untuk di nikahkan. Tapi nanti setelah mereka dewasa. Dua Minggu dari sekarang, mereka tunangan aja dulu. Sengaja, aku panggil Abang kesini. Biar Abang tau, dan tidak menyalahkan ku nantinya..'' lirih Mak Alisa sembari menunduk.
Ayah Emil menghela nafasnya. ''Jadi begitu... ayah kirain ada apa? Sampai buru-buru kayak begitu! Putri ayah sudah besar rupanya! Sudah tau yang mana nama nya lelaki??'' goda Emil pada Ira.
Ira mendelik. Ayah Emil tertawa. ''Ayah setuju kok. Apapun untuk putri ayah.. asalkan itu bisa membuatnya bahagia.. apa salah nya?? Nak Raga...'' panggil ayah Emil.
''Saya Yah..'' sahutnya.
''Ayah minta, kamu jaga Ira baik-baik ya? Karena jika sudah seperti ini maka separuh dari tanggung jawab ayah ada bersama mu.. Bahagiakan Putri ayah.. jika kamu memang tidak mampu, kembalikan lagi kepada ayah. agar ayah bisa mencari pengganti mu.. jika kau sudah tidak menginginkan nya lagi.. maka kembalikan dengan cara baik-baik! Jangan dibuang begitu saja...'' lirih ayah Emil dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Begitu juga dengan Mak Alisa. Ia sangat sadar akan hal itu.
''Insyaallah Yah.. saya akan berusaha seperti yang ayah mau. Walau saya masih kecil, tapi saya akan belajar arti dari tanggung jawab yang sesungguhnya. Lagi pun, Abi juga sering mengajarkan saya tentang tanggung jawab. Ayah tidak usah kahwatir ya??'' sahut Raga.
Ayah Emil senang mendengar nya. ''Jika memang sudah di putuskan, maka ayah akan menunggu hari baik itu tiba. Jangan lupa kabari ayah, kakak kan tau dimana ayah tinggal sekarang?? Demi kalian bertiga, ayah rela berjauhan dengan keluarga ayah disana. Lagi pun sebentar lagi ayah akan-''
''Menikah dengan Tante Azizah! Karyawan di toko roti nya Mak! Haha... pawang ayah, Tante zizah....'' pekik Lana begitu kuat, setelah itu ia lari ngacir.
Emil yang mendengar nya melototkan matanya. ''Dasar! awas kamu bang! Ayah setop uang jajan kamu! Bisa-bisanya ngeledek orang tua! ishh...'' gerutu Emil.
Mak Alisa, Raga serta Ira terkekeh geli saat melihat tingkah Lana dan ayah Emil.
''Sudah jam 9 malam. Ayah harus pulang! kasian penghuni rumah ayah pasti nyariin!'' celutuk ayah Emil.
Membuat Ira memutar bola matanya malas. ''Ya sudah, hati-hati dijalan ya? Perut udah kenyang, sekarang waktunya tidur! bukan begitu bang??'' tanya Alisa.
Membuat Emil tersenyum malu di hadapan calon mantu. Raga diam saja. Ia pura-pura tidak mendengar nya.
__ADS_1
''Terimakasih jamuan makan malam nya dek.. besok-besok, panggil Abang lagi ya? jika kamu masak banyak??''
''Nggak akan! udah Sono pulang!' titah Alisa, membuat ayah Emil cemberut.
Sedangkan Lana tertawa begitu puas ketika melihat ayah Emil tidak bisa berkutik di depan Mak Alisa.
''Hahaha... kasiaaaannn ...'' celutuk Lana dari atas sana.
Ayah Emil mendelik menatap nya. Setelah nya ia berlalu pergi meninggalkan Ira dan juga Raga yang masih berdiri mematung disana, melihat kepergian ayah Emil.
Setelah melihat ayah Emil, hilang di tikungan jalan. Raga menyentuh tangan Ira dan berbicara padanya.
''Sayang... maaf...'' lirih Raga
Ira tidak peduli dengan itu. Ia melewati Raga begitu saja tanpa melihat nya sama sekali. Mulutnya berkedut ingin berbicara lagi, tapi melihat Ira yang sudah pergi, ia urungkan.
Biarlah besok saja pikirnya. Setelah nya ia masuk ke kamar Lana yang juga sudah menunggu nya disana.
Keesokan paginya.
''Enggak!'' sahutnya terkesan dingin.
Alisa menghela nafasnya. ''Pasti ada sesuatu kan?? Jika memang kamu tidak suka dengan kelakuan nya, di bicarakan saja nak.. tidak baik berdiam diri lama-lama seperti itu. Masih jadi calon, bagaimana kalau sudah menjadi suami?? Mau kamu, suami kamu tidak ridho terhadap mu??''
Ira diam. Tidak tau harus bicara apa. Alisa menghela nafasnya lagi. ''Kak... bicarakan baik-baik pada nya.. agar tidak timbul kesalahan pahaman yang mendalam. Ya?? Kamu harus bisa menjadi air, jika Raga sedang menjadi api. Ayo.. Mak nggak mau lihat kamu sama calon mantu Mak, berantem kayak begitu. Belum sah aja, kamu udah kayak gini? Berubah nak.. nggak baik mendiamkan seseorang. Jika memang tidak suka, biacarakan pada nya baik-baik. Raga bukan cenayang nak.. yang tau apa isi hati mu..'' imbuh Mak Alisa, membuat Ira tertegun.
''Ya.. nanti akan kakak bicarakan! Mak tenang aja ya?? Ya udah, kakak mandi dulu! Sebentar lagi mereka turun!'' ucap Ira, setelahnya ia berlalu pergi.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi sedari tadi. Niat hati ingin mengambil minum, malah mendengar jika Ira sedang dinasehati oleh Mak Alisa.
Ia tersenyum tipis. ''Pantas saja Abi sangat menyukai Mak Alisa dulu nya. Wong, Mak Alisa begitu bijak orang nya? Sungguh beruntung, aku memiliki ibu mertua sepertinya. Ia sama seperti ummi dirumah. Cerewet, namun baik hatinya.'' gumam nya setelah nya ia berlalu meninggalkan Mak Alisa termangu seorang diri di dapur.
Seusai sarapan, kini mereka bertiga berangkat sekolah bersama-sama dengan jalan kaki.
__ADS_1
Raga ingin bicara dengan Ira, tapi dari kejauhan seseorang datang mendekati Raga dan menyapa nya.
''Pagi, Ga...'' sapanya
''Pagi juga...'' sahut Raga, ia menoleh pada Ira yang menatap lurus ke depan.
Lana menghela nafasnya. ''Hadeeeuuhh.. mulai lagi dah tuh lawakan! Makan tuh lawakan bang! jangan salahkan aku ya nanti?''
''Maksudnya??'' tanya Raga tak mengerti
Lana tersenyum smirk. ''Abang tunggu aja! Abang yang menabur angin? Abang juga yang akan menuai badai!!'' seru Lana, kemudian ia berlalu meninggalkan Raga yang membatu setelah mendengar ucapan nya.
Niat hati ingin ngomong sama Raga, malah di ganggu lagi oleh perempuan yang kemarin siang di lihat olehnya.
Ira berubah menjadi dingin. Raut wajahnya tak enak di pandang. Siapa pun yang berpapasan dengannya, tidak berani melihat raut wajahnya yang begitu dingin.
Raga sibuk berbicara dengan Nessa. Gadis cantik yang juga menyukai Raga saat pertama kali pemuda itu masuk sekolah.
Ira mengepalkan tangannya begitu erat. Ingin rasanya menghajar Raga. Tapi ia tahan. Ira mengucap istighfar berulang kali di dalam hatinya.
Sekilas Raga melihat Ira yang sedang tidak ingin menatapnya sama sekali. Karena sudah tidak enak hati dengan Ira, ia berpamitan dengan Nessa dan mengejar Ira yang berlalu ke arah musholla.
Sesampainya disana, ia tak melihat Ira. Yang terlihat hanya sepatu nya di undakan tangga. Sekilas ia melihat Ira sedang sholat.
Ia tersenyum tipis. Namun, setelah mengingat kenapa Ira berubah, senyum itu surut berubah menjadi raut wajah cemas.
Saat melihat Ira yang sudah selesai sholat, Raga mendekati nya.
''Sayang...''
Deg.
💕
__ADS_1
Hayo bang.. kamu menabur angin, kamu juga yang akan menuai badai...😄😄
TBC