Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Resepsi pernikahan?


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Hari ini mereka berdua sudah di izinkan untuk pulang. Karena melihat kondisi Raga yang semakin hari semakin membaik.


Badan kurus kering kini sudah lumayan berisi. Begitu juga dengan semua anggota tubuhnya. Ia sudah bisa berjalan kembali seperti biasa.


Hanya saja Raga dilarang untuk berlari, mengingat dadanya yang semakin sesak bila dibawa berlari.


Seluruh keluarga besar bersuka cita atas kesembuhan Raga yang dibilang singkat. Semua ini karena semangat hidupnya telah kembali.


Ira. Sang istri. Demi dirinya, Raga berjuang mati-matian untuk kesembuhan tubuhnya. Baru setelah itu ia akan memeriksa tubuh Ira.


Namun, sebelum itu Raga harus berusaha sendiri dulu. Yaitu dengan melakukan pembuahan dulu pada sel telur Ira untuk membuktikan kebenaran nya.


Ia tau, jika Ira memang sudah divonis mandul sedari ia kecelakaan waktu itu. Tapi Raga masih yakin, jika Ira pasti bisa membuahi bibitnya.


Raga yakin itu.


''Ayo, nak. Semuanya sudah menunggu kalian. Kita harus cepat! Iya kan By?'' kata ummi Hani pada Abi Hendra.


Abi Hendra mengangguk. Hanya Abi Hendra dan ummi Hani saja yang menyusulnya. Karena seluruh keluarga sudah menunggu kepulangan mereka dirumah.


Ira dan Raga mengangguk bersamaan. Dengan segera keluar dari rumah sakit itu dan menaiki mobil yang disupiri oleh Abi Hendra.


Di tengah perjalanan Ira dan Raga saling pandang karena jalan yang mereka tuju bukanlah ke rumah mereka berdua.


Tapi seperti menuju ke hotel HDS Group. Raga tau itu. Ia semakin penasaran, ada apakah kiranya disana.


Setengah jam kemudian, mereka tiba di loby hotel yang sudah dirias sedemikian rupa. Raga dan Ira terkejut.


Mereka berdua terkejut melihat tulisan yang tertera di atas sana yang terpampang begitu besar dengan ukiran nama mereka berdua.


Happy wedding Ragata & Ira.


''Ummi? ini....'' tanya mereka berdua.


Ummi Hani tersenyum begitu juga Abi Hendra. ''Ya, ummi membawa kalian ke hotel keluarga kita. Untuk melaksanakan peresmian pernikahan kalian berdua. Resepsi pernikahan yang sudah kami rencanakan sejak satu tahun yang lalu. Saat Raga masih dalam keadaan koma.''


''Hah?'' terkejut mereka berdua mendengar nya. Ummi Hani terkekeh.


''Ayo ah. Resepsinya akan dimulai dari habis dhuhur nanti. Untuk sekarang, kalian berdua harus dirias terlebih dahulu terutama Ira. Kamu harus bersiap sayang. Tangan mu harus di ukir dengan Henna. Mak Alisa sudah menunggu kita. Itu disana!'' tunjuk ummi Hani.


Mak Alisa tersenyum dan melambaikan tangannya. ''Mak? Papi? Jadi kalian semua...'' ucapan Ira terhenti karena Annisa adik kecilnya dengan segera menariknya masuk kedalam ruangan hotel itu.


Mereka masuk ke sebuah ruangan. Disana sudah ada MUA dan juga seorang wanita sebaya Ira sedang menunggunya untuk diukir.


''Silahkan mbak Tya. Ini dia pengantin kita!'' Kata Annisa pada Mbak Tya pengukir Henna ditangan Ira nantinya.


''Mari Kak? duduk disini. Buka semua baju Kakak. Tinggalkan baju biasa saja ya. Takutnya nanti kesenggol bajunya.'' ucapnya sambil menarik lembut tangan Ira.

__ADS_1


Ira menoleh Pada Raga dan Mak Alisa. Sementara Papi Gilang dan Abi Hendra mereka berdua diluar sedang mengurusi persiapan resepsi pernikahan Ira dan Raga.


''By??''


Raga tersenyum, ''Kakak disini. Buka saja hijabnya. Tidak ada orang lain disini. Cuman ada kita saja. Kakak mau istirahat saja di ranjang,'' imbuh Raga dengan segera ia pergi ke ranjang dan merebahkan diri disana.


Tubuh Raga belum lah fit. Masih sesekali terasa sesak di dadanya. Itu hal yang wajar. Raga pun tau itu.


Ira menatap Raga yang sedang berbaring di ranjang dengan memejamkan kedua matanya.


''Kak Tya, aku disana aja ya kakak ukir tangannya. Biar sekalian bisa istirahat nanti.'' kata Ira, ia segera membuka seluruh hijab serta niqobnya.


Begitu juga dengan baju gamis serta kaos kaki. Yang tersisa hanya lengan panjang berwarna biru Dongker dengan celana bahan berwarna hitam.


Rambut ikal bergelombang, ia sanggul ke atas. Semua itu tidak luput dari tatapan Raga. ''Hijab instan aja Tak apa ya kak? Takutnya nanti ada yang tiba-tiba masuk.''


''Hunny.. nggak akan ada yang masuk. Di kamar ini hanya ada kita berempat. Iya kan Ummi?''


''Benar! Mak mu tadi ada keperluan makanya tidak ikut kita ke dalam. Sedang Annisa sudah ngacir keluar ketika melihat Mama Linda datang.'' jawab ummi Hani dengan sedikit kekehan di bibirnya.


''Baiklah...'' ucap Ira pasrah.


Dengan segera tangannya dihias. Mereka berdua begitu telaten mengukir tangan dan kaki Ira.


Hingga satu jam lamanya, Ira sudah tertidur dengan kepala miring ke kanan dan menimpa kepala Raga.


Raga pun sama. Mereka tertidur. Ummi Hani yang baru saja masuk, tersenyum melihat pengantin baru itu.


''Sudah Bu Hani. Kalau begitu, kami permisi ya? Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam...'' sahut ummi Hani.


Ummi Hani menghidupkan AC dikamar itu. Setelahnya ia keluar. Sementara Raga yang merasa kedinginan, semakin merapatkan dirinya pada Ira.


Tangannya ia telusupkan ke dalam baju Ira. Tangan itu menghangat disana. Ira tidak sadar Karena sudah terlelap.


Sebulan ini tidur dirumah sakit, begitu membuat nya tidak nyaman. Satu ranjang dengan Raga, tidur dengan berpelukan dan miring sebelah membuat kedua tubuh pengantin baru itu begitu sakit.


Tapi mereka tahan demi kesembuhan. Dan ya, hari ini Raga keluar dari rumah sakit setelah dinyatakan sembuh total.


Dan langsung saja dibawa ke hotel milik keluarga nya. Sekali jumpa kasur empuk, pengantin baru itu langsung saja terlelap dengan damai.


Tidak sadar akan keadaan mereka sedang Di mana Sekarang. Hingga pukul dua belas siang, ummi Hani masuk Kembali ke kamar pengantin baru itu.


Terlihat disana jika Raga begitu nyaman tidur dalam pelukan Ira. Dengan Henna ditangan sudah mengering membuat Ira bebas memeluk sang suami.


Ummi Hani terkekeh melihat tingkah Raga yang begitu mirip dengan Abi Hendra dulu, pada saat mereka masih pengantin baru. ( Baca cerita Mak Alisa, aku bukan Pembawa sial biar pada tau.)


''Anak dan Abi nya sama saja. Paling suka dengan ceruk leher! entah ada apa disana?'' ummi Hani terkekeh lagi melihat Raga tertidur seperti itu.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, ummi Hani membangunkan pengantin baru yang sudah usang itu.


''Bangun nak.. Henna mu sudah mengering loh.. kayaknya habis mengenai wajah Raga!'' celutuk ummi Hani.


Ira mengerjabkan matanya. Ia membuka perlahan mata yang begitu berat untuk dibuka.


''Emh.. ummi.. sudah jam berapa ini?'' tanya Ira dengan suara serak khas bangun tidur.


Ummi Hani terkekeh, ''Sudah jam dua belas. Ayo bangun. Kalian harus makan dulu. Udah ummi siapkan! Bangunkan Raga, nak?''


''Iya ummi. Ehem. Kak... kak Raga. Bangun. Udah masuk waktu dhuhur loh.. bangun!''


''Sebentar lagi Hunny.. masih ngantuk!'' Sahut nya masih dengan mata terpejam.


Raga semakin menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Ira. Ira menggigit bibirnya. ''By?? Bangun! Ada ummi loh disini!'' bisik Ira di telinga Raga.


Raga mengerjabkan matanya. Ia membuka perlahan mata yang begitu lengket itu. ''Ehem, ummi udah lama disini?'' tanya Raga sambil duduk menyender di kepala ranjang.


''Lumayanlah.. untuk melihat sepasang pengantin baru yang sudah usang saling berpelukan!'' goda ummi Hani.


Ira menunduk malu. Berapa helai dari rambut nya jatuh menutupi pipinya. Raga menatap instens pada Ira.


Ummi Hani terkekeh. ''Udah ah. Dimakan ya? Setelah itu sholat dan bersiap untuk dirias. Acara akan dimulai pukul dua siang sampai dengan selesai!''


''Baik, Ummi.'' Sahut Ira, masih dengan menunduk malu.


Ummi Hani berlalu keluar. Tinggallah Ira dan Raga berdua di kamar itu. Ira turun dari ranjang dan berjalan duluan ke kamar mandi untuk mencuci Henna yang sudah mengering ditangan nya.


Setelah selesai, ia kembali lagi dimana Raga sedang menunggu nya. ''Ayo, kita makan By?''


Raga mengangguk. Ia pun berlalu ke kamar mandi dan kembali setelah mencuci mukanya.


Setelah itu ia duduk lesehan di lantai bersama Ira. ''Satu piring berdua aja Hunny. Biar lebih romantis!'' celutuk Raga membuat Ira tersipu malu.


Ia menunduk tak mau melihat Raga. Raga terkekeh. ''Cantik!'' celutuknya lagi semakin membuat Ira malu.


''Kamu cantik dengan ukiran Henna ini.''



Ira semakin tersipu malu. Raga menarik kedua tangan Ira dan ia letakkan di atas meja kecil dihadapan mereka. Tempat ummi Hani meletakkan seluruh makan an mereka tadi.


Semua makanan itu Raga turunkan ke bawah, dan ia letakkan tangan Ira disana untuk di lihat lebih jelas lagi.


''Cantik sekali! Sangat cocok dengan kulitmu! Ayo, kita makan!'' katanya pada Ira. Ira mengangguk patuh.


Mereka berdua makan satu piring berdua dengan saling suap suapan. Hingga mereka sudah selesai baru kemudian mandi dan sholat.


Selesai sholat, para MUA yang akan merias wajah Ira sudah menunggu di dalam kamar mereka bersama ummi Hani.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Otw kondangan ye?


__ADS_2