
Enam bulan berlalu setelah perdebatan antara Mak Alisa dan juga Ira. Saat ini Ira sedang bersiap-siap untuk diantar ke pesantren oleh Mak Alisa.
Berbekal alamat dari ummi Hani, hari ini mereka akan pergi kesana untuk mengantar Ira.
''Ayo Kak. Tunggu apa lagi? Kok bengong sih?'' tanya Lana.
Mak Alisa menoleh, ia menatap wajah putri sulungnya yang berubah menjadi datar. Sama seperti Papi Gilang.
''Kamu berubah pikiran, Kak?''
Ira menoleh pada Mak Alisa. ''Nggak kok Mak. Ayo kita jalan! Teman kakak udah duluan jalan tuh!'' tunjuk Ira pada sebuah travel yang melewati mereka.
''Aku tunggu disana Say!'' pekik Risa.
Ira terkekeh, ''Ya, pergilah! Kamu kan tipe yang selalu buru-buru?''
''Ishh.. mana ada! Ayo Ma, kita jalan. Ira nyusul sama Mak nya.'' imbuh Risa sembari merengut sebal.
Ira terkekeh. Mak Alisa tersenyum.
Ira diantarkan oleh Kakek Kosim menggunakan mobil Papi Gilang, karena adik bungsunya yaitu Rayyan ikut bersama mereka.
Dalam perjalanan Ira selalu memikirkan apa yang akan kan terjadi jika ia satu pesantren dengan Ragata.
Sanggupkah ia menahan sakit hatinya nanti? Bohong jika Ira tidak sakit hati dengan perlakuan Raga saat ini.
Bohong jika selama setahun ini ia tisak sakit hati karena diabaikan oleh Ragata. Hatinya begitu sakit saat mendapati berita dari Wahyu, sahabat Raga jika suaminya itu sudah dilamar oleh pemilik pesantren tempat ia mondok sekarang.
Kadang Ira berfikir, jika memang tujuan Raga menikahinya hanya untuk di abaikan seperti ini, untuk apa dulu menikahi nya?
Jika ujung-ujungnya Ira harus menahan sakit seperti ini. Istri mana yang tidak terluka bahwa suaminya sudah di jodohkan dengan gadis lain sementara status mereka adalah suami istri?
Ira memejamkan kedua matanya saat merasakan sesak di dadanya. Hancur dan perih melebur menjadi satu.
Ia mencoba menata hati kembali walau ini akan sangat sulit karena harus terus menerus melihat Raga bersama dengan gadis lain.
Sedangkan ummi Hani dan Ragata sudah menunggu kedatangan Ira sejak dua jam yang lalu.
Ummi Hani merasa bersalah dan kecewa kepada Papa Hariawan Karena menjodohkan Raga tanpa sepengetahuan nya.
__ADS_1
Oleh karena nya ia hadir di pesantren itu untuk menjelaskan semua ini kepada Ira dan Mak Alisa.
Dua jam lima belas menit, mereka tiba disana. Ira turun di susul Lana, mbak Sus serta Mak Alisa.
Ummi Hani yang melihat itu berlari mendekati Mak Alisa. Ia mengabaikan Ira yang berdiri mematung melihat suaminya di bawah pohon rambutan bersama gadis yang dulu pernah melihat mereka di dalam mobil.
''Assalamualaikum sayangku.. apa kabarnya? Loh.. ini pasti Rayyan ya?'' tanya ummi Hani.
Mak Alisa tersenyum dan mengangguk. ''Ya, putra kandung Gilang!'' sahut Mak Alisa.
''Masyaallah tampan nya..''
''Raga mana?'' tanya Mak Alisa sambil melirik Ira yang terus menatap datar pada Raga disana.
Mak Alisa tau, tapi ia mencoba untuk basa basi saja. ''Eh, Raga!!!'' pekik ummi Hani.
Raga menoleh,
Deg!
''Hunny...'' lirih Raga dalam hati.
Ia menatap datar pada Ira, dengan segera ia berlari dan mengejar Mak Alisa yang sudah berlalu karena melihat Ira yang pergi tanpa pamit pada mereka semua.
Deg!
''Hani...''
''Ummi...'' panggil Raga dan Abi Hendra bersamaan.
Ummi Hani berlalu meninggalkan kedua pangerannya itu dengan wajah sendu. ''Abi... aku tak mau seperti ini. Kenapa kalian tega membuat ku terjebak dengan kehidupan rumit ini?'' lirih Raga dengan wajah sendu.
''Abi punya saran untukmu, Nak.''
Raga menoleh, ''Apa?''
''Tinggalkan Ira! Ceraikan istrimu itu. Dan menikahlah dengan pilihan Opa mu! Semua ini akan berjalan sesuai dengan keinginan nya. Walaupun kamu menolak, itu tidak akan berguna sama sekali! Lepaskan Ira dan penuhi permintaan Opa mu!''
Deg!
__ADS_1
Deg!
Hati Raga berdenyut sakit mendengar ucapan Abi Hendra. Ia menatap datar pada Abi nya. Begitu juga dengan Abi Hendra.
Wajahnya saat ini begitu dingin, ketika melihat ummi Hani mengusap bulir bening mengalir di pipinya.
''Baik! Jika itu keinginan Abi. Maka akan aku lakukan. Tapi sebagai ganti nya, Abi juga harus melepaskan Ummi untuk selamanya!''
Deg!
Abi Hendra menatap datar pada Ragata. ''Tidak bisa!'' tegas Abi Hendra.
Raga tersenyum sinis. ''Jika Abi saja tidak bisa? Lalu bagaimana dengan ku? Katakan itu pada Opa! Jika ia tetap memaksakan untuk menikah dengan gadis itu. Maka aku akan keluar dari keluarga besar Hariawan!'' tegas Raga.
Ia menatap tajam pada Abi Hendra yang juga sedang menatapnya. Raga berjalan mendekati ummi Hani dan Mak Alisa.
''Assalamualaikum Mak..''
''Wa'alaikum salam Nak.. apa kabar mu? Kayaknya kamu gemukan ya disini? Senang banget ya disini? Pasti sudah ada yang menggantikan posisi Ira bukan? Jika iya, Mak harap kamu bisa melepaskan Ira secepatnya! Aku tidak mau melihat air mata selalu mengalir di pipinya karena terus menerus melihat dan mengingat kelakuan mu Ragata Hariawan!''
Deg!
Deg!
Ummi Hani dan Raga saling pandang. ''Mak...''
''Cukup Ragata! Lepaskan putriku! Cukup sampai disini! Selesaikan ini segera. Biarlah putriku menjadi janda di usia muda daripada harus menahan sakit melihat mu dengan wanita lain! Ceraikan putriku! Karena aku tidak mau menerima anakku harus berbagi suami dengan gadis lain! Kamu pantas dengan nya! Tapi tidak dengan putriku! Putriku hanya gadis lemah yang tidak bisa apa-apa! Kami hanya orang biasa! Bukan orang terpandang seperti kalian berdua! Ceraiakan segera Ragata!'' tegas Mak Alisa membuat ummi Hani dan Raga mematung di tempat.
Begitu juga dua orang paruh baya yang ada dibelakang mereka. ''Dan untuk kamu Hani! Mulai sekarang, kau bukanlah sahabat ku lagi! Cukup sampai di sini! Persahabatan kita putus. Kamu bukanlah sahabat ku lagi. Begitu juga dengan kau Tuan Hendra Hariawan!!''
Ummi Hani menggeleng, matanya sudah sebab karena menangis. ''Jangan berbicara seperti itu Alisa. Sampai kapan pun kamu tetaplah sahabat ku. Sekaligus saudara ku! Aku tak mau putus dari sahabat ku sendiri. Tolong Alisa.. kita bisa bicara baik-baik ya?'' bujuk ummi Hani dengan berlinang air mata.
''Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semua ini sudah jelas! Lepaskan segera putriku Ragata Hariawan!'' tegas Mak Alisa lagi.
Ia menatap datar pada dua orang paruh baya disamping Abi Hendra. Mereka berdua begitu terkejut dengan ucapan Mak Alisa.
''Aku tunggu satu kali dua puluh empat jam, Ragata!'' tegasnya lagi.
Setelah mengatakan itu, Mak Alisa bangkit dan pergi kedalam pesantren untuk menemui Ira.
__ADS_1
Raga menatap datar pada Mak Alisa yang sudah berlalu meninggalkan nya.
TBC