
''Bisa jadi apa dokter??'' desak Ayah Emil karena melihat dokter Zayyan diam saja.
''Dokter??''
Dokter Zayyan menghela nafas berat. ''Bisa jadi gila!''
Ddddduuuaaarrrr...
Bagai disambar petir di siang hari buta. Raga dan seluruh yang berdiri disana tersentak mendengar ucapan dokter Zayyan.
''Gi-gila??'' ulang Mak Alisa
''Ya! Gila. Penyakit ini memang berujung kesana. Maka dari itu, anak anda harus segera dirawat, agar trauma yang di alami nya tidak semakin parah. Karena jika sengaja di perlambat, tidak menutup kemungkinan anak anda akan benar-benar gila karena trauma psikis ini. Saran saya, mulai besok bawa anak anda ke dokter spesialis jiwa. Lebih cepat lebih baik. Ini resep obat dan juga vitamin nya. Jangan lupa diberikan. Tugas saya sudah selesai! Tuan Hendra? Saya permisi! Assalamualaikum.''
''Waalaikum salam...'' sahut para orang tua bersama an.
Setelah dokter turun ke bawah untuk pamit pada seluruh tamu, kini Mak Alisa dan ummi Hani masuk ke kamar Ira dan Raga.
Sedangkan Abi Hendra dan ayah Emil, mereka berdua turun ke bawah untuk melihat para tamu yang mereka jamu karena acara pernikahan dadakan kedua anak mereka.
''Nak??'' sapa Mak Alisa dan ummi Hani.
''Eh? Mak? Ummi?'' Raga terkejut karena mendengar suara panggilan dari kedua orang tuanya.
''Kamu harus selalu di dekat Ira. Walau dalam keadaan apapun, kamu harus menemaninya. Terkecuali kamu sekolah. Nanti Ummi dan Mak Alisa yang akan menjaga Ira. Besok Ummi akan panggilkan dokter khusus kejiwaan agar Ira bisa cepat diatasi trauma nya. Tidak baik di tunda-tunda. Iyakan Lis??'' tanya ummi Hani pada Mak Alisa.
Mak Alisa mengangguk samar. Pikiran nya kosong. Melalang buana entah kemana. Satu tujuan hati dan pikiran nya.
''Papi....''
Deg!
Mak Alisa terkejut saat mendengar suara gumaman Ira. Mereka saling pandang. Alisa menatap lekat wajah Ira yang berada di pangkuan Raga.
Wajah itu begitu pucat seperti tak ada gairah hidup.
''Papi... jangan pergi...'' lirihnya lagi.
Raga menatap datar pada Ira. ''Apakah Papi Gilang, Mak??''
Alisa terkejut mendengar ucapan Raga. Ummi Hani menoleh Alisa. Alisa mengangguk. ''Ya.. Ira sangat dekat dengan Papi Gilang melebihi dengan Ayah Emil. Tanpa Papi Gilang, mungkin saat ini Ira, Lana, dan adek pasti sudah tidak ada di dunia ini..'' lirih Alisa dengan leher tercekat.
Ummi Hani mengusap lembut bahu Mak Alisa. ''Sabar Lis... belum saat nya..''
Alisa hanya bisa mengangguk pasrah. Ira yang mendengar suara orang berbicara di tepi telinga nya membuka mata.
''Mak?? Ummi?? Kak Raga mana??'' tanya Ira kebingungan mencari Raga.
Mak Alisa dan ummi saling pandang. Raga terkekeh geli melihat tingkah Ira.
__ADS_1
''Ehm, ayo Lis! Kita keluar! Nggak enak lama-lama di kamar pengantin baru! Yang ada entar kita di cuekin lagi!'' ketus ummi Hani, sengaja untuk menggoda Ira.
''Hah? Pengantin baru?? Siapa?? Kak Raga mana Ummi??''
Alisa terkekeh melihat tingkah putri sulung nya itu. ''Ayo Hani kita keluar! Lihat tamu kita udah pada pulang belum?'' ucap Mak Alisa, sembari memberi kode pada ummi Hani.
Dan dingguki oleh ummi Hani. Setelah nya mereka berdua berlalu keluar dari kamar pengantin baru labil itu.
Melihat pintu sudah tertutup rapat, Raga mulai menjalankan aksinya.
Cup!
''Eh?'' Ira menoleh keatas mendapati Raga ada di atasnya. Ternyata kepala Ira berada dipangkuan Raga.
Ira mengerjab. Sedang Raga terkekeh. ''Kamu kenapa?? Kok kayak terkejut gitu??''
Lagi Ira mengerjab lucu. Membuat Raga tidak tahan untuk tidak menggoda istri nya itu. ''Mau lagi, hem??''
''Hah? A-apa? Ma-mau apa??'' tanya Ira balik
''Mau ini! Cup.''
Wajah Ira memerah karena malu. ''Ishh... Kak Raga! Suka banget sih cari kesempatan dalam kesempitan!'' sewot Ira
Raga tergelak kencang. Bibir Ira maju dua senti ke depan. Raga mencomot bibir itu. ''Mau lagi??''
Mendengar suara Raga yang sedang tertawa, Mak Alisa dan ummi Hani tersenyum. Berarti Raga sudah berhasil membawa Ira ke alam nyata.
''Ayo kita turun! Biarkan mereka berdua! Sekarang kita tidak perlu khawatir lagi!'' Imbuh ummi Hani dan segera mereka turun untuk menemui para tamu mereka.
Didalam kamar Ira.
''Sayang??''
''Hem?''
''Kakak punya sesuatu untuk mu!'' kata Raga sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Ira.
''Sesuatu?? Sesuatu apa??'' tanya Ira sembari bangkit dari pembaringan nya, karena melihat Raga sedang menuju lemari pakaian mereka berdua.
Raga mengambil sesuatu dari dalam lemari itu, dan membawanya ke hadapan Ira.
Raga duduk di hadapan Ira dengan duduk bersila. Begitu juga dengan Ira. Raga menatap Ira dengan senyum teduh nya.
Cup!
Lagi, Raga memberikan kecupan di dahi Ira. Membuat sang empu memejamkan kedua matanya.
''Buka mata mu!'' titah Raga.
__ADS_1
Dengan perlahan, Ira membuka matanya. Pertama kali yang ia lihat adalah satu set perhiasan emas berada ditangan Raga.
Di lapisi dengan kotak beludru berwarna biru Dongker. Ira yang melihat nya mematung.
''I-ini apa Kak??'' tanya Ira, ia menatap manik hitam yang terus menatap nya sedari tadi.
''Ini mahar untukmu! Mulai sekarang kita sudah sah menjadi pasangan suami istri!'' imbuhnya santai sembari memakai kan kalung itu ke leher Ira.
Ira terkejut. ''Kapan kita nikah nya?? Bukan nya kita baru saja pulang dari camping ya?''
Raga tersenyum manis sekali, membuat pipi Ira merah merona. Raga terkekeh melihatnya.
''Cantik!'' celutuknya.
Lagi, Raga memakaikan cincin dan juga gelang di tangan Ira. Membuat gadis remaja yang baru tumbuh itu terkejut lagi.
''Ka-kak i-ini...''
Ira semakin terkejut melihat cincin itu sama persis yang pernah diberikan Raga untuknya ketika di dalam mesjid saat Raga melamar Ira dulu nya.
Raga tersenyum. ''Ya, ini cincin yang sama yang pernah Kakak berikan padamu dulu. Memang sebenarnya cincin ini tuh untuk mahar kamu kalau kita nikah nanti. Tapi karena kejadian yang baru saja menimpa mu... Kakak sudah ambil keputusan harus menikahi mu sejak dini.'' Jelas Raga membuat Ira semakin terkejut.
''Kita??''
''Ya, Kakak baru menikahimu langsung dari ayah Emil. Beliau masih ada di bawah sedang menjamu tamu saat Kakak tadi ijab Qobul dengan Ayah Emil.'' Sahut Raga yang tau arti dari pertanyaan Ira.
''Kita suami istri begitu??''
''Ya, sayang! Mulai sekarang, apapun yang ada pada dirimu, sudah halal untuk ku lihat. Tidak seperti kemarin.. itu dosa..'' lirih Raga dengan wajah sendunya.
''Maaf...'' cicit Ira saat melihat Raga menundukkan kepalanya.
''Tak apa. Yang jelas, sekarang kita sudah sah! Jadi nggak ada halangan lagi untuk bisa...'' Raga memainkan alis matanya naik turun.
Membuat Ira mendelik. Namun dibalas tertawa oleh Raga. ''Apapun untukmu akan Kakak lakukan sayang. Karena hanya kamu yang Kakak inginkan, bukan yang lain..''
''Benarkah??''
''Ya!'' sahut Raga
''Bagaimana kalau suatu saat Kakak berubah, dan lebih memilih wanita lain dibanding aku? Dan juga... jika suatu saat Kakak kuliah di luar negeri, tak menutup kemungkinan bukan jika Kakak akan memiliki gadis lain disana? Dan apakah Kakak nantinya akan memilihku atau memilih nya? Lalu, jika nanti nya Kakak mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan tentang diriku, akankah Kakak bertahan dengan ku? Atau akan membawa pulang wanita lain dan masuk ke dalam rumah kita?''
Deg!
💕
Hayoo pasangan labil ini... 😄😄
__ADS_1