
Setibanya mereka di sekolah, kini kedua pasangan labil itu di bawa ke kantor untuk di tanyai oleh beberapa guru.
Termasuk pak Madan.
Kini mereka berdua sedang dihadapkan pada seorang guru yang bernama pak Yunus. Beliau adalah guru BK di sekolah raga dan Ira.
Sedari amsuk, tubuh Ira sudah bergetar hebat. Raga merasakan nya. Tapi Raga tidak bisa berbuat apa-apa, karena ternyata Abi Hendra masih terjebak macet disana.
Karena rute yang biasa mereka lalui sedang mengalami perbaikan jalan. Jadilah mereka agak sedikit terlambat.
Ira terus menatap awas pada orang yang ada dihadapan nya ini. Sesekali melihat kesan kemari seperti mencari sesuatu.
Pak Yunus yang melihatnya menjadi kesal. Raga Hanay bisa menghela nafasnya. Pemuda tampan bertubuh jangkung itu, semakin gelisah ketika melihat pujaan hatinya kembali terusik saat melihat kedatangan seseorang.
''Nggak! nggaaaakkk... kak Ragaaaa... dia dataaaangggg... aaaaa...." pekik Ira saat melihat seorang guru masuk dengan membawa beberapa berkas di tangan nya itu.
Raga menoleh, ternyata itu adalah pak Udin guru olahraga mereka. Dan ternyata juga, beliau lah tadi yang dilihat Ira di air terjun Sipisopiso.
"Pulang kaaaakkk... kita pulaaaangg..." pekik Ira lagi.
Raga semakin khawatir saat melihat Ira seperti itu. Raga berulang kali memeluk tubuh Ira di hadapan para guru, membuat guru itu terkejut melihat tingkah Raga.
Pak Yunus yang tidak senang melihat tingkah Ira, langsung saja menyentak Ira hingga pelukan itu terlepas.
Hingga Ira jatuh terpental dan kepalanya terbentur tepian meja.
Bruuakkk..
"Astagfirullah! sayang!!"
Deg.
Semua guru terkejut dengan pekikan Raga. Mereka berduyun-duyun masuk keruangan BK.
Pak Yunus yang melihat Ira jatuh terkapar, terdiam. Raga menangis melihat Ira.
"Bangun Ra! bangun! kita pulang ini! ayo bangun! Bangun sayang, haaaa.. aaa.. Iraaa... banguuuunnnn..." Raung Raga.
Membuat ruang BK itu senyap sepi. Yang terdengar hanya raungan Raga saja. Raga semakin erat memeluk Ira.
Bagian pelipis Ira memar karena benturan yang begitu kuat ketika di dorong oleh pak Yunus.
Melihat itu semakin membuat Raga meraung-raung. "Apa yang sudah anda lakukan hah?! hiks.'' sentak Raga.
__ADS_1
Semua yang ada disana mematung mendengar sentakan Raga. Pak Yunus lebih terkejut lagi dengan perlakuan murid nya ini.
Ia masih saja diam. ''Minta kayu putih!'' pekik Raga.
Risa yang mendengar nya maju ke depan dan memberikan kayu putih pada Raga.
''Keluar Risa!! katakan pada Wahyu, telpon Abi dan ummi ku agar segera datang kemari. Ini hal bukan main-main!'' ucap Raga begitu dingin, setelah reda dari menangis.
Ia menatap tajam pada pak Yunus dan ditatap tak kalah tajam oleh pak Yunus. Risa lari ngacir keluar, dengan mendorong seluruh siswa yang berdiri di depan pintu.
Raga yang melihat itu menatap tajam pada semua murid. Mereka terkejut melihat mata Raga yang memerah dan juga wajahnya datar dan dingin.
''Keluar!!'' titahnya dengan dingin.
Semua yang mendengar berhamburan lari keluar. Sekarang hanya tersisa Pak Yunus, pak Udin, dan ibu Prita.
Mereka bertiga semakin marah saat melihat Raga memangku Ira. Raga mengusap tubuh Ira dan membisikkan sesuatu di telinga Ira.
Dan berhasil.
Ira sadar, namun matanya malah melihat pak Udin lagi yang sedang menatapnya dengan datar.
"Pu-pulang kak! dia disini! a-aku takut! ayo kita pulang!!" ucap Ira sembari memeluk Raga begitu erat hingga rasanya sulit untuk bernafas.
Raga menoleh, air mata yang tadi sudah kering kini mengalir lagi karena melihat Ira yang semakin bergetar tubuhnya.
Raga menatap datar pada pak Udin. " Anda bisa diam tidak?! Saya hampir mati sesak nafas karena kelakuan Anda! Apakah anda tidak melihat, jika Ira sedang ketakutan??"
"Cih! ketakutan kok meluk-meluk!" ketus ibu Prita.
Ira semakin kuat memeluk tubuh Raga. Dan dibalas lebih erat lagi oleh Raga. Pak Yunus semakin geram.
''Ceritakan yang sebenarnya, ada apa yang terjadi diantara kalian!'' tegas pak Yunus.
Tubuh Ira semakin ketakutan. Wahyu yang melihat dari jendela tak tega. Ia berulang kali menelpon ummi Hani dan Abi Hendra, mereka mengatakan jika Raga dan Ira dalam masalah besar sekarang.
''Heleh! mana mau dia ceritakan, udah pak.. bilangin aja pada pak kepala sekolah agar mereka berdua di keluarkan.''
Deg.
Ira semakin ketakutan. ''Kak.. aku nggak mau dikeluarkan! bilang Abi kak! mana Abi??'' bisik Ira ditelinga Raga.
''Abi ada. Tapi masih dijalan, jalan nya sedang mengalami perbaikan dan juga sangat padat. Jadi.. sabar aja ya??'' bisik Raga ditelinga Ira.
__ADS_1
Ira mengangguk. Sedangkan Raga masih menangis saat merasakan tubuh Ira bergetar karena ketakutan.
Ia melihat jika wajah Ira sudah pucat pasi. ''Jangan takut.. ada kakak disini.. tenang ya..?'' bisik Raga di telinga Ira.
''Kakak jangan pergi.. disini aja ya?? Temani aku...'' lirih Ira begitu pelan di telinga Raga.
Raga mengangguk, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ira. Ia mengusap punggung Ira dengan sayang.
Sesekali mengusap kepala Ira. Abi Hendra dan ummi Hani tiba disana, setelah melalui kemacetan yang sangat panjang.
Wahyu yang melihat Abi dan ummi Raga, berlari mendekati mereka dan Salim.
''Abi! Ummi! Raga dan Ira di dalam sedang disidang!''
''Apa?! kenapa kedua anakku di sidang?! Ada masalah apa sampai di sidang?! Abi!!!'' ucap ummi Hani.
Ia begitu terkejut mendengar ucapan Wahyu. ''Ayo! kita akan tau setelah tiba disana.'' setengah berlari abi Hendra dan ummi Hani.
Setibanya disana, Abi Hendra dan ummi Hani mematung di depan pintu. Terlihat Ira semakin erat memeluk Raga yang sedang duduk di kursi.
Raga dengan sayang semakin erat memeluk kekasih hatinya itu. Abi Hendra masih bingung dengan apa yang terjadi.
Terlihat ibu Prita yang super jutek itu, wajahnya merengut sebal. Sedangkan pak Yunus, wajahnya mengeras.
Ingin sekali ia menyentak Ira seperti tadi lagi. Tapi takut, karena mata nya sudah menangkap siluet dari sang kepala yayasan sekolah mereka.
Pak Udin lebih kesal lagi pada Ira. Karena menurut nya, Ira hanya berpura-pura saja. Ingin marah, tapi tak berani.
Pak Madan yang melihat Abi Hendra dan ummi Hani, mendekati mereka. ''Sudah lihat??'' tanya nya.
''Ya, tapi kenapa Ira bertingkah seperti itu??'' tanya ummi Hani sedikit heran dengan sikap Ira.
Pak Madan menghela nafasnya. ''Itulah mengapa kalian dipanggil kemari dan juga Alisa. Kepala sekolah sudah menelpon nya tadi dan sebentar lagi akan datang kemari untuk menemui kita. Sabar saja. Kalian pasti akan tau apa yang terjadi dengan putri sulung Alisa...'' lirih pak Madan dengan menunduk.
Abi Hendra dan ummi Hani saling pandang.
Ada apa sebenarnya??
💕
Di tungguin terus ya!
TBC
__ADS_1