Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Kedatangan Tuan Krisna


__ADS_3

Enam bulan berlalu.


Saat ini Ummi Hani dan Abi Hendra sedang duduk memantau Raga. Setiap hari dan setiap malamnya mereka selalu mengontrol Raga.


Mereka tidak sedetik pun pergi dari ruangan itu. Mereka menjaga Raga secara bergantian. Kadang ummi Hani, kadang Abi Hendra yang menjaga Raga.


Sepulang dari kantor, mereka berdua pasti bertukar posisi. Jika ummi Hani pulang, maka Abi Hendra yang menunggu Raga. Begitu pun sebaliknya.


Dan saat ini mereka berdua sedang menunggu Raga bersama. Setelah seorang suster tadi menelpon mereka karena suster itu mendapat tugas menjaga pasien lain.


Mau tidak mau mereka harus cepat pulang dari kantor dan menunggu Raga. Kondisi Raga masih saja sama.


Tidak dapat perubahan sama sekali. Masih tetap betah dalam tidurnya. Terkadang harapan itu pupus saat dokter mengatakan Raga tidak mungkin bisa kembali jika ia sendiri yang tidak ingin kembali.


Ummi Hani masih ingat tentang pesan Mak Alisa. Jika Raga pasti bangun kala Ira sudah pulang dari bertugas.


''Kapan kamu bangun Nak.. tubuhmu semakin kurus. Seperti tidak terawat. Tinggal tulang dan kulit saja. Padahal masih enam bulan. Bagaimana Jika setahun? Akankah kamu bisa bertahan Nak? Ummi hanya bisa mendoakan mu sekarang, tidak bisa berbuat apapun. Tersisa harapan satu persen saja. Ummi tinggal menunggu Ira pulang saja dari tugasnya. Semoga kamu cepat bangun nak..'' lirih ummi Hani sambil terisak


Abi Hendra hanya bisa mengusap tubuh ummi Hani dengan lembut. ''Sabar Hunny.. putra kita pasti bangun. Kita hanya bisa berdoa saja saat ini untuk kesuburan nya. Sambil menunggu Ira pulang dari tugasnya. Nanti Abi akan hubungi Ira kapan Ita puakng dari tugasnya. Saat tugas itu selesai, Ira harus segera menemui Ragata. Abi akan bilang semua padanya. Kamu harus sabar .. semau ini ujian untuk dirinya. Sekaligus menebus dosa nya yang sudah ia perbuat pada istrinya.'' ucap Abi Hendra sambil terus mengusap tubuh ummi Hani.


''Ragata...'' lirih ummi Hani.


Oma dan Opa sangat terkejut mendengar berita, jika Ragata mengalami koma. Mereka berdua sempat pulang, tapi tidak bisa lama.


Karena adik Abi Hendra pun sedang sakit di Singapura. Sempat Opa putra ingin membawa Raga kesana, tapi ummi Hani melarang nya.

__ADS_1


Takut jika Ira pulang nanti terpuruk dan merasa bersalah karena pergi tanpa memberitahu nya.


Sedangkan sakit seperti itu saja, mereka sekeluarga sengaja menutupinya. Agar Ira tidak khawatir dengan keadaan Ira.


Ummi Hani dan Abi Hendra saling menyemangati satu sama lain. Supaya mereka sanggup menghadapi ujian ini.


Sedang asyik-asyiknya memandangi Raga, pintu ruangan Raga di ketuk dari luar.


''Assalamualaikum, Tuan Hendra boleh kami masuk?''


Ummi Hani dan Abi Hendra saling berpandangan. ''Siapa By?''


''Seperti suara tuan Krisna? Untuk apa dia kemari? Dari siapa dia tau Jika Raga dirawat dirumah sakit?'' gumam Abi Hendra sambil berjalan untuk membuka pintu melihat siapa tamu mereka.


Ceklek,


''Ya, tuan Hendra. Kamu berdua datang untuk menjenguk Ragata. Sekaligus ingin minta maaf pada anak dan menantu anda tuan Hendra.'' jawab tuan Krisna.


Abi Hendra hanya ber oh ria saja. Abi Hendra menyuruh mereka untuk masuk. Tiba didalam, tuan Krisna dan Nyonya Anita, mematung melihat kondisi Ragata.


''Astaghfirullah.. ya Allah.. kenapa jadi kurus begini? Apakah Ragata sangat parah sakitnya?'' ucap taun Krisna.


Abi Hendra menghela nafasnya. ''Ragata sedang tidak sakit. Ia hanya tertidur sampai istrinya pulang untuk menjenguk dirinya.''


''Maksud Anda? Istri Raga pergi? Pergi kemana? Apakah ini karena putri kami?'' cecar Tuan Krisna.

__ADS_1


''Ira tidak pergi, tapi sedang bertugas. Bukan karena putri anda, tuan Krisna..'' jawab Abi Hendra.


Nyonya Anita menatap sendu pada tubuh yang tergeletak lemah diranjang Pasien. ''Kasihan sekali kamu, nak? Maafkan kesalahan putri kami... saat ini mereka berdua sedang menjalani hukuman nya. Maaf jika kehadiran putri Tante, kamu jadi sakit begini.. Maafkan orang tau ini nak..'' lirih nyonya Anita di telinga Ragata.


Ummi Hani semakin terisak mendengar bisikan dari Nyonya Anita. ''Maafkan kejadian yang telah terjadi pada kehidupan Ragata selama dua tahun ini di Inggris. Kami benar-benar menyesal tuan Hendra. Jika kami tau, Sonia mengancam dan menekan Ragata, pastilah kami bertindak. Kami sempat bertanya kepada informan kami, mereka mengatakan jika Sonia baik-baik saja tidak membuat ulah.''


Tuan Krisna menghela nafasnya. ''Ternyata... informan kami berbohong pada kami. Sonia telah menyuapkan mereka dengan sejumlah uang untuk tutup mulut. Sandi dan Sonia bekerja sama untuk membuat putra anda hancur dengan cara menjebaknya. Semua itu kami ketahui saat Sonia masuk rumah sakit karena keguguran..'' lirih tuan Krisna.


''Innalillahi wainnailaihi rojiun... kami turut berdukacita tuan Krisna. Terus, bagaimana kondisi Sonia sekarang? Apakah masih dirumah sakit? Apakah dirumah sakit ini juga?'' cecar ummi Hani dengan banyak pertanyaan.


Tuan Krisna tersenyum. Di balik tegasnya ummi Hani, masih ada rasa kemanusiaan pada dirinya.


Padahal Sonia sudah melukai dua orang sekaligus karena kebohongan nya. ''Alhamdulillah, Soni baik-baik saja Nyonya Hani. Saat ini ia sudah berada dalam penjara. Mereka berdua harus menjalani hukuman selama dua tahun baru mereka bisa bebas. Selama enam bulan ini, sudah banyak perubahan pada mereka berdua. Saya sangat bersyukur dengan hal ini. Atas kejadian ini, kedua anak saya sedikit demi sedikit sudah berubah. Dan Sonia tidak dirumah sakit ini. Tapi dirumah sakit lain..''


''Hoo.. Alhamdulillah kalau begitu. Tapi.. apakah Sonia tidak terpuruk saat tau, jika bayi yang dikandung nya ke guguran?'' tanya ummi Hani pada Nyonya Anita.


Nyonya Anita tersenyum namun air mata itu terus membasahi pipi tua nya. ''Sonia sempat terpuruk selama sebulan lamanya. Ia sempat menuduh Raga yang telah menggugurkan janinnya. Padahal tidak demikian. Ia hanya sedang merasa bersalah karena telah memisahkan Ragata dan istrinya. Untuk mengurangi rasa bersalah itu, tapi terpaksa memanggil dokter kejiwaan untuk menangani Sonia.''


''Dan Alhamdulillah nya, Sonia sudah mulai sadar jika semua yang sudah terjadi memang sudah menjadi kehendak Nya. Dan juga bayi yang Sonia kandung, tidak bisa berkembang. Lantaran saat hamil sering kali Sonia mengkonsumsi minuman beralkohol, dan juga jarang makan. Janin didalam kandungan Sonia kekurangan gizi. Dan pada usia kehamilan Sonia empat bulan, bayi itu keguguran dan meninggalkan kita semua.''


''Saya sempat kecewa saat mengetahui jika Sonia melakukan hal semacam itu. Tapi suami selalu meyakinkan saya, jika ini sudah menjadi suratan takdir Sonia dan Sandi. Kejadian ini adalah sebuah bentuk teguran untuk mereka berdua karena telah banyak melakukan kesalahan. Setelah mereka bebas nanti, kami akan segera menikahkan mereka berdua.'' jelas Nyonya Anita, sembari melirik Ragata yang tetap terdiam dengan wajah tenang.


Tubuh yang semakin kurus, semakin membuat Raga seperti mayat hidup saja. Semoga Raga bisa kembali lagi, saat waktu yang sudah ia tentukan pada Ira.


Semoga saja.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Cepat sembuh ya Bang? 🤧🤧


__ADS_2