
Setengah jam kemudian, terapi jalan itu selesai. Kini saatnya mereka untuk sarapan pagi.
Dengan berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit, Ira mendorong kursi roda Raga. ''Kemarikan pada saya kursi Roda nya. Kamu dan Zafa jalan saja disamping kami. Kita jalan beriringan,'' katanya pada Ira.
Ira dan Zafa mengangguk. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuat suara hingga mereka tiba di kantin.
Duduk bersama dengan saling berhadapan. Ira di depan Raga. Zafa di depan dokter Salim. Ira menatap datar pada mereka berdua.
''Jelaskan!'' titah Ira tak terbantahkan.
Kedua orang itu saling pandang dan menghembuskan nafas panjang. Zafa menunduk, sementara' dokter Salim menoleh ke meja.
''Baiklah.. sebenarnya kami dulu pernah dekat, pada saat masih SMP. Dan kami juga sudah dijodohkan sedari kecil, Sama seperti kalian!'' dokter Salim buka suara membuat Raga dan Ira terkejut.
''Apa?!'' pekik Ira dan Raga. Mereka berdua menatap pada Dokter Salim dan pada Zafa.
''Maksud kamu, sama seperti kami apa?'' tanya Ragata pada rekannya ini.
''Sama seperti kalian berdua yang kuat di jodohkan sejak masih dalam kandungan, begitu juga denganku. Abi ku dan Abi Zafa merupakan sahabat dekat. Sedari mereka adalah hingga kualih pun mereka bersama. Dan mengambil jurusan pun sama ketika di Kairo,'' ujar dokter Salim menerawang jauh masa dulu kedua orang tua nya.
Zafa dengan segera membuka Rantang yang dibawanya. Sudah tersedia piring kecil disana.
Untuk Raga, Ira sudah menyediakan bubur khusus untuknya. Agar adil, Ira pun ikut makan makanan itu.
__ADS_1
Dokter Salim tersenyum melihat nya. Ia mulai melanjutkan lagi ucapan nya. ''Mereka berdua menikah juga dihari yang sama. Hanya saja.. untuk proses kehamilan yang berbeda. Ummi saya dan ummi Zafa berbeda tingkat kesuburan pada rahimnya. Oleh karena itu, ummi saya yang terlebih dahulu mendapatkan amanah itu,'' jelasnya lagi membuat Zafa menunduk.
Ira memegangi tangan Zafa untuk memberikan semangat padanya. ''Dan pada saat mereka tau, kalau ummi Zafa... tidak bisa miliki keturunan, ummi Zafa sempat stress selama setahun lamanya. Ia depresi karena memikirkan diri ya yang tidak subur. Berbeda dari istri sahabat suaminya. Yaitu, Ummi saya. Ummi sempat membujuknya, namun tidak berhasil. Dengan terpaksa, ummi Zafa mereka rehab di rumah sakit demi kesembuhan nya. Berharap jika ummi Zafa kembali lagi.'' Cerita dokter Salim dengan leher tercekat.
Ia menunduk. Raga memegang tangannya untuk menenangkan Dokter Salim. Ia tersenyum melihat Raga.
''Dan ya, berkat usaha dan doa dari orang terdekat ummi Zafa akhirnya sembuh total. Pada saat ummi melahirkan saya, ummi Zafa sempat membawa kabur saya. Ummi saya membiarkan saja. Mungkin dengan mengurus bayi orang lain bisa membuat hatinya tenang walau sebentar. Tapi ternyata.. Allah menegurnya melalui saya,'' ujarnya lagi.
Semakin membuat Zafa tertunduk dengan tubuh bergetar. Ira memeluknya. Dokter Salim pun begitu.
''Saya jatuh dari tempat tidur karena ummi Zafa teledor hingga menyebabkan say tidak sadarkan diri selam Dau Minggu. Waktu itu, ummi Zafa begitu panik. Ia tidak berani membawa saya ke rumah sakit. Takut di marahi oleh Abi Zafa. Karena Abi juga sedang bertugas disana. Jadilah saya dirawat dirumah oleh beliau ala kadarnya.''
''Hingga Abi pulang dan melihat Kak Salim dalam keadaan tubuh membiru. Abi tidak berkata apapun, namun segera membawanya kerumah sakit. Sampai dirumah sakit, Kak Salim di nyatakan koma. hiks.. maafkan ummi ku, Kak..'' timpal Zafa dengan menangis.
Dokter Salim tersenyum namun sendu. ''Tak apa Dek.. semua itu memang sudah menjadi takdir ku seperti itu. Aku tidak apa-apa 'kan? Kamu tenang saja ya? Tidak usah khawatir-,''
Deg!
Deg!
''Tidak bisa memiliki keturunan?'' tanya Ira dengan tangan bergetar.
Raga panik melihat Ira seperti itu. ''Hunny! Lihat aku! Kamu akan baik-baik saja! Tunggu sampai aku pulih, baru aku akan menyembuhkan mu! Hunny!!'' seru Raga dengan suara naik satu oktaf karena melihat Ira melihat dokter Salim dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
''Kenapa? Apa ada yang salah dari kata-kata ku?'' tanya Zafa pada Ira.
Ira tak menyahut, tapi buliran bening itu mengalir di pipinya yang tertutup niqob. ''Hunny!!'' seru Raga lagi membuat Ira terjingkat kaget.
''Hah? I-iya By? Kamu aku apa? Mau minum? Aku ambilkan ya?'' Raga menghela nafasnya. Jika sudah seperti itu, Ira pastilah tertekan lagi.
''Dokter Salim, bawa saya pada istri saya. Kita pindah posisi,'' tegas Raga, membuat Zafa mematung.
''Ada apa? Apakah ucapan ku tadi salah?'' tanya Zafa lagi. Raga tidak menjawab, ia tetap memaksa dokter Salim agar mendorong kursi roda itu menuju pada sang istri.
''Hunny...'' panggil Raga begitu lembut, Ira menoleh namun air mata itu bercucuran.
''Kamu sehat Hunny! Kamu sehat! Aku yang akan mengobati mu! Percaya padaku!'' tegas Raga sambil menatap Ira
Ira mengangguk namun air mata itu tetap bercucuran. ''Ra... kamu?'' tanya Zafa pada Ira.
Ira mengangguk dan semakin tersedu. ''A-aku juga mandul kak.. aku ma-mandul...''
Ddddduuuaaarrrr..
''Astaghfirullah.. ya Allah...''
💕💕💕💕💕
__ADS_1
Noh, masih aja dalam nestapa mereka berdua.
Kapan ya mereka bisa bahagia? 🤧🤧