Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Tersesat


__ADS_3

Suara auman yang begitu keras membuat Ira ketakutan. Tubuhnya bergetar saking takutnya.


Rrrooooaaaarrr...


Rrrrrtrrrhhh


''A-apa itu?! Kak Raga...!!!'' pekik Ira lagi.


Ia masih saja memanggil nama Raga, berharap jika Raga juga mendengar suaranya.


Auuuummmm...


Rrrrrtrrrhhh..


''Ya Allah! Apa itu?! ini dimana sih?! kok aku bisa kesini? Suara apa itu? Kak Raga... aku takut! kesini kak!'' Setu Ira dengan tubuh yang sudah gemetar.


Terdengar lagi suara auman yang begitu kuat dan juga suara kresek-kresek dedaunan kering.


Menambah seram suasana pada saat itu. Ira menoleh kesana kemari tapi tak menemukan apapun.


Matanya awas terus saja mengawasi. Kakinya semakin jauh masuk ke dalam hutan. Sedangkan Raga masih menyusuri tepi hutan, berharap gadisnya itu cepat di temukan.


Sesekali terdengar seperti suara auman dan juga suara gesekan dedaunan yang di tiup angin.


Semburat jingga hampir menunjukkan dirinya. Sedangkan ia belum menemukan dimana keberadaan Ira.


Hatinya begitu gelisah dan was was. ''Ya Allah.. lindungi Ira dimana pun ia berada.. pertemukan aku dengannya. Apapun keadaan nya Nuri aku akan tetap menerima nya. Aku mohon ya Robb.. belum lagi ini hampir Maghrib. Kamu dimana sayang...'' lirih Raga sembari terus menyusuri tepian tebing air terjun.


Kakinya semakin jauh masuk kedalam hutan. Tiba-tiba telinga nya mendengar seperti suara orang memanggil.


Suaranya begitu samar-samar. Karena bercampur dengan suara tiupan angin yang begitu kencang.


Entah mengapa perasaan semakin tak karuan, ketika kakinya semakin jauh masuk ke dalam hutan.


Ia semakin mendekati suara itu. Ira yang masih kebingungan harus mencari Raga kemana, ia memilih berjalan di tepian tebing air terjun.


Sesekali menoleh kesana kemari. Cuaca yang begitu dingin dan mencekam. Ditambah suara angin yang begitu menakutkan karena bergesekan dengan dedaunan.


''Kak Raga... kamu dimana kak?? Aku takut... Ya Allah.. aku harus cari kemana lagi?? Jika aku pulang, kasian kak Raga. Tapi gimana aku pulang? Sedang aku semakin jauh kedalam hutan! Kak Raga... aku takut..'' lirihnya lagi.


Kakinya semakin jauh melangkah. Saat ingin lebih dalam lagi masuk ke hutan, di tengah suasana yang begitu mencekam.


Mata Ira melihat ada sebuah cahaya berwarna merah begitu kecil. Tidak berkedip sama kali.


Tapi sinar itu terus saja menatapnya. Ira terus saja menatapnya, semakin dilihat semakin tidak beres.


Saking takutnya karena melihat ada yang aneh dengan sinar itu, Ira sampai jatuh tersungkur.

__ADS_1


Hingga ranselnya jatuh karena posisinya jatuh tersungkur dengan tengkurap. Sedangkan ranselnya yang lumayan berat, talinya putus.


''Aaahh.. sakit! Aduh! ranselku!'' serunya.


Ketika ia mendongak untuk melihat sinar itu lagi, betapa terkejutnya Ira jika sinar itu sudah ada di depannya.


''Aaaaaa... Tidaaaaakkk... Kak Raga.....!!!!!'' pekik Ira dengan suara yang begitu lantang.


Hingga Raga yang berada tidak jauh darinya berlari dengan kencang saat mendengar suara itu.


''Ira!!!!!'' teriak Raga dengan berlari begitu kencang.


Tak tau apa yang di tabrak olehnya. Yang penting Ira, pikirnya. Ira ketakutan setengah mati.


Tubuhnya terus beringsut hingga sampai ke tepian tebing. Ia bangkit saat sinar itu terus saja mendekat ke arahnya.


Ira perlahan bangkit dan berdiri tapi naas, kakinya terpeleset dan jatuh ke bawah.


''Aaaaaa... Maaaakkk... Kak Ragaaaaaaaa....'''


Byuuuuurrrrr...


''Iraaaaaaa......'' pekik Raga saat mendengar suara Ira yang begitu keras memanggil nya.


Ira jatuh ke bawah dan tenggelam dengan air yang terus mengalir. Membawanya entah kemana.


Padahal tidak. Sinar itu telah lenyap. Sedangkan Raga terus berlari hingga ia jatuh tersungkur ke depan dengan dagu duluan yang mendarat di tanah.


''Aaaakkkhhh... sakit!'' keluhnya saat merasakan ngilu di dagunya.


Raga bangun dan melihat apa yang membuat nya jatuh. Saat ia melihat walau samar-samar, ternyata ransel Ira.


Raga semakin terkejut saat melihat sesuatu di bawah sana seperti orang yang tenggelam timbul di dalam air.


Matanya menyipit, dan saat ia fokus matanya membelalak kaget.


''Sayaaaaanngg... Iraaaaa...'' pekiknya begitu lantang.


Ia membuka tas Ira dan merogoh nya. Mencari sesuatu yang bisa ia gunakan. Dan ternyata ia menemukan senter.


Secepat kilat Raga berlari dengan senter yang ia gigit di mulut dan ransel yang sedang ia pakai.


Tidak tau apa dan secepat apa Raga berlari. Baginya, Ira. Ia semakin kencang berlari, seolah seperti dirinya merasa jika dirinya saat ini seperti di kendalikan oleh sesuatu.


Tapi ia menggubris itu. Yang terpenting Ira. Raga melihat Ira semakin tenggelam timbul di dalam air yang terus mengalir.


Raga semakin cepat berlari hingga tak tau dimana sekarang posisinya karena mengikuti arus air yang begitu jauh dan terus mengalir.

__ADS_1


Ira melihat Raga sekilas, tapi anehnya ia melihat Raga seperti memilki sayap. Sayap berwarna putih terang yang begitu bersinar.


Ira yang melihatnya tersenyum, sebelum matanya terpejam. Ia bergumam menyebut sesuatu dan berdoa.


''Kak Raga.. aku melihat mu seperti malaikat yang memillki sayap putih di kedua sisi kanan dan kiri mu. Kalau aku boleh meminta sebelum aku pergi, aku ingin dinikahi oleh mu.. aku ingin bersama mu.. aku ingin menghabiskan sisa hidup ku bersamamu.. Mak... Papi... Abang.. adek... maafkan kakak .. kakak tidak bisa bersama kalian lagi... Maafkan kakak, kak Raga... aku sangat menyayangimu Ragata Hariawan.. Lailahailallah.. Muhammad urrasulullah...'' lirih nya, kemudian ia benar-benar tidak sadar kan diri lagi.


Raga yang sudah menunggu Ira di ujung bebatuan sana, menajamkan matanya. Saat melihat Ira sudah mendekati nya, ia turun ke dalam air dan menyambut tubuh Ira.


Deg, deg, deg.


''Sayang...'' lirih ya saat mendapati tubuh Ira yang begitu dingin. Dengan baju Ira koyak sana sini dan juga hijabnya entah kemana.


Juga rambut Ira yang tergerai panjang hingga melewati pinggang. Raga tertegun melihatnya.


Selama ini ia hanya melihat Ira yang selalu tertutup. Dan hari ini, ia melihat pujaan hati nya dalam keadaan terbuka.


Lama ia menatap Ira, hingga tersadar saat merasakan hawa air yang begitu dingin hingga menusuk ke tulang.


Raga membawa Ira ketepian, dimana ia tadi meletakkan ranselnya. Ia membaringkan Ira dengan perlahan dan hati-hati.


Matanya tak berhenti menatap wajah Ira yang begitu cantik tanpa hijab. Raga mencoba untuk menyadarkan Ira dengan cara menepuk-nepuk pipinya.


Tak ada respon dari Ira. Raga semakin khawatir. Lagi, ia mencoba nya namun, tetap nihil. Lalu ia mencoba memompa dada Ira berharap Ira bisa sadar kembali.


Berulangkali Raga mencoba namun tetap tidak ada perubahan sama sekali. Raga semakin gelisah dan takut.


Takut akan pemikiran nya. Terakhir ia mencoba dengan nafas buatan. Raga menghela nafasnya berulang kali karena gugup.


''Maafkan kakak sayang.. jika bukan cara seperti ini.. kakak nggak punya cara lain..''


Cup.


💕


Hayoo.. Abang ngapain tuh??


😁😁😁


Sinar laser berwarna merah itu memang beneran ya. Itu othor sendiri yang mengalaminya.


Saat itu othor lagi keluar rumah, masih jam sembilan malam. Othor keluar untuk gembok pagar, saat berbalik othor lihat ada sinar laser berwarna di depan rumah tetangga othor.


Karena othor orang ngga takut, cuek aja. Tapi semakin lama semakin aneh. Karena tidak ingin terjadi apapun othor masuk kerumah.


Dan benar adanya, tidak ada seorang pun yang lihat kecuali othor sendiri.


Pengalaman euuy.. 😄😄

__ADS_1


TBC


__ADS_2