Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Menikahlah dengan ku!


__ADS_3

''Jika kau tidak ingin video tak senonoh mu ini sampai ke tangan kedua orang tuamu, jauhi aku dan istriku! Jika tidak, kau akan tau akibat nya! Kau berani menuduh istriku yang tidak-tidak! Lalu bagaimana dengan mu? Cih! Berbuat kotor tapi menuduh orang lain yang melakukan nya! Aku sudah tau gadis seperti apa kau Arumi! Jadi jangan coba untuk mendekati ku dan menghancurkan pernikahan ku! Dengar itu! Jika kau tidak mau video mu ini beredar di pesantren dan di seluruh dunia maya! Jangan main-main dengan ku Arumi Sulistiawati!! Berani kau melakukan nya? Maka nyawa Abi mu yang akan menjadi taruhan nya!''


Deg!


Deg!


Arumi berhenti mengambil ponsel milik Raga. Tubuhnya berdiri kaku disana. Karena melihat seseorang yang begitu di kenalnya sedang berdiri diluar sana.


''Ba-bang Amir...'' lirih Arumi.


Raga mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Arumi. Ia menoleh kemana mata Arumi memandang.


Raga menerbitkan senyum sinis nya. ''Temui pasangan mu! dan jangan pernah ganggu aku lagi! Camkan itu!'' tegas Raga.


Setelah mengatakan itu, Raga berlalu meninggalkan Arumi dan melewati Amir. Raga tersenyum kecil melihat kakak kelasnya itu.


''Jaga dia! agar tidak lepas kontrol! Jika kau tidak ingin video itu beredar di pesantren dan dunia maya!'' ancam Raga.


Amir menatap datar pada Raga. Dengan segera Raga berlalu meninggalkan pasangan yang sama sepertinya itu.


Sama dalam hal menyukai bukan dalam hal menikah.


Raga keluar dari kelas Ira. Ia menatap ke sekeliling mencari keberadaan Ira. Dari depan hingga keliling satu pesantren tak juga ia temukan.


Raga sudah letih keliling mencarinya. Belum lagi bel akan segera berbunyi. Hingga sekelabat bayangan ia tangkap sedang sholat di mushola pesantren mereka.


Dengan segera ia melangkah ke sana. Tiba disana, Ira baru saja menyelesaikan sholat sunah Dhuha.

__ADS_1


Raga masuk dan mendekati Ira. ''Hunny..''


''Loh? By? Ngapain kemari? Sudah selesai urusan nya?''


Raga tersenyum. Inilah yang ia sukai dari Ira. Walaupun sedang ada masalah tapi ia tetap berbicara padanya. Tidak seperti...


''Kakak cariin ternyata kamu disini. Yuk, masuk! Lima menit lagi bel berbunyi.'' imbuh Raga.


Ira mengangguk patuh. Dengan segera ia melipat mukenahnya dan berlalu keluar dari mushola pesantren mereka.


Mereka berpisah di depan kelas masing-masing. Sambil berjalan Raga menjelaskan tentang kejadian tadi pada Ira.


Ira mengerti dan tidak mempermasalahkan nya. Dan sejak hari itu Arumi tidak terlihat batang hidung nya lagi.


Karena setelah pertemuan hari itu, Arumi jarang menemui Raga dan juga Ira. Ia mulai mendekati Amir kakak kelasnya. Yang ternyata telah memutuskan hubungan nya dengan Arumi waktu itu.


Hari ini seluruh keluarga para santri datang ke pesantren untuk menjemput putra putri mereka.


Ira dan Raga sudah bersiap sedari tadi. Namun karena kebelet, Ira berlari ke kamar kecil.


Saking buru-buru nya ia menabrak seseorang hingga jatuh ke tanah. Dengan Ira jatuh terduduk sedangkan pemuda itu jatuh tersungkur.


''Maaf Pak! Saya tidak sengaja! Mohon maaf Pak! Saya kebelet!'' celutuknya setelah membantu pemuda itu kemudian ia berlari ke kamar kecil.


Lima menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dan terkejut mendapati seorang guru mereka sedang berdiri di depannya dengan wajah datar.


''Pa-pak Armand! A-ada apa ya Pak?'' tanya Ira tergagap.

__ADS_1


Ia menunduk tak berani menatap guru agama nya itu. Tangannya meremat ujung baju nya hingga lusuh.


Pak Armand semakin mendekati Ira. Ira ketakutan. Ia mundur. Tapi bukan ke belakang, namun ke samping.


''Mi-minggir Pak! Sa-saya mau lewat!'' ketus Ira namun tergagap.


Pak Armand semakin mengikis jarak. Ia memajukan wajah ya pada Ira. Ira semakin gugup.


Ya Allah... selamat kan aku..


Guru agama mereka ini semakin dekat dengan wajah Ira. Ia ingin mengecup pipi mulus Ira, namun..


Dukk..


''Aarrgghhtt...'' pekik Pak Armand. Ia meringis menahan sakit di dagunya karena sengaja di jedug Ira dengan kepala nya.


Ira ingin tertawa sebenarnya. Namun tidak berani. Ia menjauh dari guru agama nya itu dan menatap datar padanya.


''Anda kenapa Pak Armand? Ada yang ingin di bicarakan? Jika iya, Ayo kita ke depan! Tidak baik jika berdua seperti ini! Dikamar mandi lagi!'' ketus Ira namun berwajah datar.


Pak Armand yang masih merasakan sakit di dagunya menoleh pada Ira. Ia menatap sayu pada Ira. ''Menikah lah denganku!''


Deg!


Deg!


''Apa?!''

__ADS_1


TBC


__ADS_2