
Hari-hari pun berlalu. Tak terasa hampir dua Minggu gadis tak di undang dirumah mereka. Semakin hari semakin ada saja tingkahnya.
Ira mencoba lebih banyak bersabar. Sementara Ragata semakin muak dengan gadis itu.
Ragata sampai saat ini masih bingung. Siapa kiranya yang mengambil semua pakaian kotor nya dan mencuci nya. Setelah di cuci lalu di setrika.
Semua pakaian itu bertumpuk rapi di dalam lemari rahasia milik nya.
Melihat gelagat Ragata semakin hari semakin aneh, Sonia berpikir pasti karena ulah pembantu sialan itu.
Maka dari itu, ada saja kelakuan nya yang membuat Ira harus sabar di rumah itu. Sementara Ragata, ingin bertanya pada Bik Surti.
Tapi ia urungkan. Mengingat jika sampai Sonia tau, Bahwa setiap malamnya ia tidak tidur bersama gadis ular itu bisa gagal misi nya.
Sedikit lagi bukti itu hampir sepenuhnya lengkap. Seharusnya hari dimana ia pulang ke Medan, besoknya bukti itu sudah terkumpul semua.
Namun, karena orang suruhan Ragata itu mengalami kecelakaan, jadilah proses itu tertunda hingga membutuhkan waktu dua Minggu lagi.
Raga berdecak kesal dengan semua itu. Ingin marah, marah pada siapa? Semua ini karena salahnya juga yang menerima uluran tangan dari gadis ular itu.
Tapi ia yakin satu hal, bahwa apa yang ia pikirkan selama ini benar adanya. Besok. Ya, besok. Semua bukti itu akan ada ditangan nya.
Sementara di kediaman Papi Gilang, entah kenapa pria paruh baya itu begitu merindukan putri sambung nya itu.
Ia berpamitan pada sang istri untuk mengunjungi rumah mereka. Dan kebetulan hari ini adalah hari Minggu.
Dengan segera ia bergegas menuju ke kediaman Putri sulungnya dari pernikahan Mak Alisa yang pertama.
''Nggak usah di hubungi ah! Biar jadi kejutan! Biar kakak terkejut melihatku datang!'' imbuhnya dengan sedikit kekehan di bibirnya.
Papi Gilang tidak membawa serta Mak Alisa. Karena hari ini keempat anaknya sedang ingin berkumpul di rumah bersama nya. Papi Gilang memaklumi hal itu.
Sementara Papi Gilang dalam perjalanan menuju rumah Ira dan Ragata, Ira begitu shock saat ini tentang penemuan nya.
Tangannya bergetar hebat, seluruh tubuhnya membeku seperti tidak di aliri darah. Terlihat di saku baju milik Sonia ada sebuah foto yang menunjukkan Jika Ragata tidur bersama Sonia dan mencumb*inya.
Luruh sudah pertahanan Ira. Hatinya hancur lebur. Remuk redam dalam sekejab. Ia pikir, semua itu hanya alasan Sonia saja untuk merebut Ragata darinya.
Tapi bukti yang ada ditangannya saat ini sudah menunjukkan bahwa Ragatalah yang bersalah disini.
Brruukk..
Ira jatuh terhempas ke lantai. Tatapan matanya kosong. Semua bukti menunjukkan Jika itu adalah Ragata. Suaminya.
''Kamu selingkuh, Ragata? Dan itu sampai kamu melupakan ku disini? Apakah ini penyebabnya hingga kamu menutupi kebohongan kalian? Bukti ini nyata. Ini kamu Ragata. Ini kamu!'' serunya dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Sesak dadanya saat melihat foto itu. Foto yang memperlihatkan jika Ragata sedang menggagahi Sonia di apartemen miliknya.
''Astaghfirullah.. ya Allah... sakkiiiiitttt.. hiks.. hiks.. Papi...'' lirih Ira sambil meremas dada nya yang begitu sesak.
Ira menangis tersedu di tepi mesin cuci miliknya. Jika Ira sedang merasakan sakit yang tiada Tara tentang penemuan bukti itu, lain pula dengan Ragata.
Saat ini Ragata sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia memijit pelipisnya yang begitu sakit saat ini.
Sonia?
Gadis itu dengan tidak tau malunya tiduran di paha Ragata. Ia tiduran di paha Ragata sambil bermain ponsel.
Raga semakin kesal di buatnya.
Suara deru mesin berhenti di pekarangan rumah Ira. Papi Gilang tersenyum, membayangkan jika Ira akan terkejut karena kedatangan nya.
Dengan senyum terus tersungging di bibir tipisnya, pria paruh baya itu langsung masuk kedalam rumah Ira karena pintu tidak di tutup.
''Kenapa pintu tidak di tutup sih? Ck! kebiasaan anak gadis ku itu!'' gerutu Papi Gilang. Dengan segera ia mengayunkan tungkai jenjangnya memasuki rumah Ira.
''Assalamualaikum...''
Deg!
Ragata membuka kedua matanya. Kepalanya yang sedang mendongak, ia tegakkan karena mendengar suara seseorang yang begitu di kenalnya.
''Ishh.. kamu kenapa sih sayang?! Kok aku di dorong sih?! Emang siapa rupanya yang datang?!'' gerutu Sonia.
Dengan segera ia bangkit dan menoleh pada seseorang yang sedang ditatap oleh Ragata. Yaitu Papi Gilang.
Deg!
''Tu-tuan Gilang!'' seru Sonia terlonjak kaget. Ia sampai terjatuh kebelakang saking terkejutnya dengan sosok yang sedang berdiri dihadapan nya dengan wajah datar nan dingin.
Jantung Sonia dan Ragata berdegup tak beraturan. Wajah mereka begitu pias saat ini. Papi Gilang masuk dan berdiri dihadapan Ragata.
''Apa yang kamu lakukan Ragata!'' seru Papi Gilang dengan dingin.
Ragata menelan Saliva kasar. Sangat sulit untuk di telan saat ini. ''Pa-papi! I-ini ti-tidak se-seperti yang Pa-papi pikirkan!'' jawab Ragata dengan terbata. Ia merutuki dirinya yang tergagap saat berbicara di depan Papi Gilang.
Pria paruh baya itu menatap dingin pada Ragata. Tak sekalipun ia menoleh pada gadis yang hanya memakai celana hot pant dan baju kaos begitu ketat membentuk lekuk tubuh nya.
''Mana Ira?''
Deg!
__ADS_1
Lagi, jantung itu bergemuruh hebat. ''I-ira?? I-ira tidak disini Papi!'' jawab Ragata lagi masih dengan tergagap.
Ia begitu gugup saat ini berhadapan langsung dengan Papi Gilang. Pria paruh baya yang terkenal tegas dalam setiap keputusannya.
''Aku tanya mana putriku?!!'' sentak Papi Gilang.
Ragata dan Sonia terjingkat kaget. Sonia menunduk. Sementara Ragata memejamkan kedua matanya.
Ia tidak tau harus menjawab apa sekarang. Sedangkan Ira yang sedang menangis di dapur sana, samar-samar ia mendengar suara orang berbicara. Tapi siapa? Pikir Ira.
Ia masih duduk meringkuk di tepi mesin cuci. Meratapi nasib rumah tangga nya bersama Ragata.
Didepan sana, Ragata masih berdiri mematung di depan Papi Gilang. Papi Gilang masih menatap tajam Pada Ragata.
''Saya tanya sekali lagi. Kamu kemana kan putri saya hah?! Kamu membuangnya?! Kamu ceraikan?! Makanya kamu berdua dengan wanita lain?!'' sentak Papi Gilang lagi.
Lagi, Ragata dan Sonia terjingkat kaget. Ragata mengepal kan kedua tangannya untuk mengurangi rasa takut dihatinya saat ini.
''Ira tidak disini Papi! Sejak aku pulang dari Inggris dua Minggu yang lalu, aku tidak bertemu dengan Ira.'' jelas Ragata dengan menatap lembut pada Papi Gilang.
Papi Gilang terkekeh sumbang. ''Apa kamu bilang?! Putriku tidak disini selama dua Minggu ini? Lalu kemana dia selama hampir sebulan ini tidak pernah pulang kerumah jika bukan dirumahnya! Jangan berbohong Ragata! Aku tau siapa putriku!''
''Itu benar Papi! Aku tidak pernah bertemu dengannya sama sekali. Setiap hari aku selalu menunggunya disini. Namun ia tak pernah datang. Apakah karena Ira sudah memilki lelaki lain selain diriku?!''
Deg!
Papi Gilang terkejut mendengar tuduhan Ragata untuk Ira. ''Kamu jangan menuduhnya Ragata! Baik, jika kamu tidak mau mengatakan dimana Ira biar saya sendiri yang memanggil nya! Kakak!!!!''
Deg!
Deg!
''Papiiii!!! Papi datang? Hiks, Papi!!! Papiii.. kakak disini!!!'' pekik Ira dari arah dapur.
Ia berlari secepat mungkin hingga ia jatuh tersungkur di hadapan kedua orang itu.
''Papiiii!!! Hiks, Papiii... kakak mau pulaaaangg... haaaaa...aaa...''
Deg!
Deg!
Deg!
💕💕💕💕
__ADS_1
Ayo.. habis kamu Ragata sama Papi Gilang!
Kehancuran Ragata di mulai!