Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Menjemput Ira


__ADS_3

Raga dengan segera mengemudikan mobilnya menuju rumah Papi Gilang dan Mak Alisa.


Sementara itu dirumah keluarga besar Bhaskara, saat ini Ira sedang duduk berhadapan dengan Mak Alisa dan Papi Gilang.


''Jangan kembali pada pemuda brengsek itu Kak! Jika kakak berani kembali lagi padanya, jangan salah kan aku, jika aku akan membunuh pemuda itu! Kakak tau siapa aku kan?'' tanya Rayyan dengan dingin.


Ira menghela nafasnya. ''Jika bang Lana tau, Kakak di giniin sama Bang Raga aku yakin, bang Lana pun akan bertindak sama. Bang Lana pasti akan membawa kabur kakak dari sini. Aku yakin itu!'' tambah Algi.


''Kak?? Bukankah Kakak sedang ada tugas ya keluar kota?'' tanya Nara hati-hati.


''Tugas? Tugas apa? Kenapa Papi nggak tau? Kenapa malah Nara yang tau? Kamu sayang! Kamu tau juga tentang ini? Kenapa kalian tidak memberitahu kan ku? Apakah Papi tidak berguna lagi dirumah ini? Makanya kalian tidak memberitahu kan nya?!'' seru Papi Gilang begitu kesal.


Mak Alisa memegang tangan Papi Gilang. ''Aku pun tak tau, Pi.. ini aja aku kaget dengernya. Apakah itu benar Kak? Kapan? Di mana? Kenapa nggak bilang dulu sama kami?'' cecar Mak Alisa dengan banyak pertanyaan.


Algi menyikut lengan Nara dan mendelik pada adiknya itu. Nara hanya tersenyum meringis melihat Algi marah padanya.


Ira menghela nafasnya. ''Mak... Papi... ini Kakak baru mau ngomong. Tapi keduluan sama Adek! ishh...'' gerutu Ira.


Ia begitu kesal melihat sikap Nara. ''Hehehe... maaf Kak! Adek pikir, Kakak udah ngomong sama Mami dan Papi! hehe... I am sorry my sister!'' ucap Nara dengan mata puppy ice nya.


Mak Alisa terkekeh begitu juga dengan Rayyan. ''Kamu Dek! asal salah pasti begitu sama Kakak! Nggak asik ah! Sampai Papi marah-marah sama Kakak, sebelum kakak menjelaskannya! Belum Kak Raga! Dia selalu begitu! Suka sekali buat masalah! Padahal ummi Hani berulang kali mengingat kan nya! Tapi tetap saja! Ishh...'' gerutu Ira begitu kesal.


Mulut mencebik bagai bebek tapi air mata mengalir deras di pipinya. Papi Gilang tertegun melihat Ira.


''Kamu nggak marah nak, dengan perlakuan suami kamu? Selama sebulan ini-,''

__ADS_1


''Kakak nggak bisa marah padanya Papi.. sama seperti Papi sama Mak. Begitu juga Kakak. Rasa cinta lebih besar dibandingkan dengan rasa benci Papi .. kakak tau, Kakak salah Jika masih mau menerima nya yang melakukan kesalahan hingga berulang kali. Tapi itulah resikonya ketika kakak harus menikah dengan seorang Ragata Hariawan. Sedari kecil, Kakak sudah terbiasa dengan keadaan itu, Papi!''


''Tapi Nak... sebentar lagi Ragata pasti akan datang kesini untuk menjemput mu. Apakah kamu ingin ikut kembali dengan nya?'' tanya Papi Gilang, ia masih khawatir dengan keadaan putri sulungnya itu.


''Ingin pulang pasti Papi.. Rumah itu rumah Kakak yang sengaja kalian berikan untuk kami berdua. Tapi tidak sekarang.. Kakak harus pergi hari ini juga keluar kota. Ada tugas yang harus Kakak lakukan disana. Kakak yang terpilih sebagai ustadzah di salah satu pesantren di Aceh, Pi. Dekat dengan rumah Kakek dan Nenek. Kakak harus pergi selama setahun. Kakak udah teken kontrak. Jadi, tidak bisa ditunda lagi.'' lirih Ira dengan menunduk.


Mak Alisa menghela nafasnya. ''Jika itu memang keputusan mu. Baiklah. Tapi kamu tetap harus meminta ijin pada suami untuk pergi kesana. Jika tidak, kamu akan berdosa sayang. Kamu seorang istri. Jadi kamu harus tetap meminta ijin padanya. Apakah sudah kamu katakan padanya?''


Ira mendongak melihat Papi Gilang dan Mak Alisa. Kemudian menatap Rayyan. ''Berikan surat ini padanya, jika ia sampai datang kemari untuk menyusul kakak. Kakak mohon.. jangan marah padanya. Dia hanya sedang salah jalan. Di dalam surat itu sudah Kakak jelaskan semuanya. Tolong kamu berikan ya? Kayaknya travel kakak sudah datang deh?'' ucap Ira, ia mengintip melalui jendela rumah mereka dan benar, jika travel pesanan Ira sudah ada disana.


''Kakak pergi Mak, Papi.. tolong sampaikan maaf Kakak apda ummi dan Abi. Katakan pada mereka berdua, Jika Kakak akan kembali lagi pada waktu yang sudah di tentukan. Untuk itu, tolong jaga Raga selama Kakak Pergi. Kakak yakin, ummi dan Abi pasti paham. Ayo Dek! Bawa barang-barang Kakak!'' imbuh nya pada Rayyan.


Rayyan mengangguk patuh. ''Ayo, kita antar putri kita untuk menuju tugasnya. Jika nanti Ragata datang, biar Mami saja yang bicara padanya ya?'' pinta Mak Alisa dengan sangat pada Papi Gilang.


Papi Gilang menghela nafasnya. ''Baiklah.. tapi jangan salahkan Papi. Jika putra mu itu yang akan menghajar menantu sialan mu itu!'' ketus Papi Gilang dengan berlalu meninggalkan Mak Alisa dan Nara yang terkekeh bersama.


Sambil berjalan, Nara memeluk Mak Alisa dengan erat. ''Nanti akan adek coba untuk berbicara dengan Kakak, ya Mi. Mami nggak boleh banyak pikiran! Nanti darah tinggi Mami bisa kambuh lagi! Adek Ndak mau itu!'' pinta Nara dengan memeluk Mak Alisa.


Mak Alisa tersenyum melihat putri bungsunya itu. ''Tentu sayang.. melihatmu seperti melihat kakakmu, Annisa. Kalian berdua begitu mirip nak. Bagai pinang di belah dua!''


Nara tertawa. ''Kan satu gen Mami! Hanya beda ayah saja! Tapi tabung tetap satu kan?'' ucap Nara dengan cengengesan.


''Hahaha.. kamu bisa saja!''


Mereka berdua mendekati Ira dan empat teman Ira yang akan ikut bersama ke Aceh. Satu orang ustad juga ikut menemani.

__ADS_1


Dialah yang menjadi penanggung jawab untuk mereka semua para ustadzah itu. Mereka pergi setelah berpamitan dengan Mak Alisa, Papi Gilang, Rayyan dan kedua adik kembarnya.


Mak Alisa menitikkan air mata nya saat Ira pergi dengan membawa luka hatinya. Sementara itu, Ragata yang baru saja tiba terkejut melihat semua keluarga itu berkumpul diluar rumah.


Ia melihat ke seluruh jalan komplek itu. Tapi tidak ada apapun. Tapi mengapa mereka biasanya keluar? Pikir Ragata.


''Assalamualaikum.. Mak? Papi? Ira mana? Kenapa kalian bisa diluar? Terjadi sesuatu kah dengan Ira?'' cecar Ragata dengan banyak pertanyaan.


Papi Gilang dan Mak Alisa menoleh pada Ragata dengan wajah datar. ''Untuk apa kamu kemari!'' ketus Papi Gilang.


Algi dan Nara terkikik geli melihat Papi Gilang jutek seperti itu pada menantu sulungnya.


''Raga kesini untuk menjemput Ira, Pi, Mak. Apakah Ira ada?''


''Abang tak perlu lagi kesini. Kak Ira tidak ada disini. Dia baru saja pergi meninggalkan kita semua!''


Ddddduuuaaarrrr...


''Apa?!'' pekik Ragata. Tubuhnya oleng ke belakang dan jatuh terduduk di rumput yang tumbuh di halaman rumah mereka.


''Ya, Kakak pergi karena kebodohan Abang! Kakak pergi dengan membawa luka hatinya akibat perlakuan Abang!''


Ddddduuuaaarrrr...


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Lagi, kemaruk! hihihi..


__ADS_2