
Tubuh nya kaku seperti kayu. Rayyan dapat merasakan itu. Dengan segera tangan gemetar ummi Hani, membuka kain putih itu.
Deg!
Tubuh Ira membatu di tempat. Wajahnya pucat seperti mayat. Bibirnya kelu untuk berbicara.
Air mata bercucuran menjatuhi pipi tirus nya. Ia menangis sesegukan. Tanpa sadar ia mendekati ranjang itu dan meraung disana.
''Hiks.. Tidaaaaakkk... Kak Ragaaaa... haaaaa... Jangan pergiiiiii... aku kembali Kaaaakkk... haaaa... tidaaaaakkk... tidaaaaakkk .. aaaaaaa ... banguuuunnnn... tidaaaaakkk...''
Ddddduuuaaarrrr...
Seseorang tersentak tubuhnya saat mendengar suara tangisan itu. Begitu jelas terdengar di telinga nya. Tapi entah di mana.
''Hiks.. banguuuunnnn... kamu pergi kak? Kamu pergiiiiii... tidaaaaakkk... kamu janji akan bertahan selama setahun? banguuuunnnn Kak! Hiks, ba-banguuuuunn..'' Raung Ira lagi.
Semua yang ada disana ikut menangis melihat Ira meraung seperti itu. ''Bangun kataku! Inikah yang kamu bilang dulu, heh?! Hiks.. kamu ingin tidur selama setahun saja! Tunggu sampai aku kembali baru kamu akan bangun hiks.. bangun! Bangun katakuuuu!!!'' sentak Ira dengan mengguncang tubuh Raga yang sudah kaku.
''Haaaaaaaa... tidaaaaakkk... jangan pergiiiiii... haaaaa.. Kak Ragaaaa... huuaaaaaa... aaaaaaa.... banguuuunnnn... banguuuunnnn ...'' Raung Ira semakin menyayat hati.
Papi Gilang yang tidak sanggup melihat kerapuhan Ira mendekatinya. ''Istighfar nak. Istighfar! Raga sudah pergi. Ikhlaskan! Agar ia bisa tidur dengan tenang! hem?'' ucap Papi Gilang sambil memeluk tubuh ringkih Ira.
Ia pun tak tega melihatnya putri sambungnya itu harus terluka karena Ragata yang pergi tanpa berpamitan padanya.
Ira menggeleng dengan terus menangis. Tangannya semakin erat memeluk tubuh kaku Ragata.
''Hiks.. bangun By. Tega kamu ninggalin aku? Inikah yang kamu katakan setahun yang lalu? Kamu akan tidur seperti tupai? Hibernasi begitu?! hiks.. bangun By.. aku sudah kembali.. tega kamu meninggalkan ku? Saat aku baru saja kembali dari tugasku? hiks..'' Isak Ira lagi
Semua yang ada disana tidak bisa berbuat apapun. Mereka hanya bisa menangis saat melihat Ira menangis begitu pilu.
Pagi tadi saat Abi Hendra menghubungi Mak Alisa, Ragata sudah tidak menunjukkan reaksi apapun lagi.
Abi Hendra mencoba mempercayai Jika Raga masih hidup. ia tidak meninggal. Tapi hanya tertidur saja.
Namun dokter menyangkal nya. Mereka sudah memastikan jika Ragata sudah meninggal lima menit yang lalu.
Ummi Hani histeris, begitu juga dengan kedua adiknya. Tapi tidak dengan Abi Hendra. Ia yakin, jika Ragata masih hidup.
Ia hanya sedang tersesat. Ia sedang menunggu kepulangan Ira. Maka dari itu, Abi Hendra dengan segera menyusul Ira ke terminal dengan membawa serta Rayyan putra sulung Papi Gilang.
Karena dialah orang pertama yang datang kesana saat mendengar kabar Jika Ragata sudah tiada.
Beruntungnya Rayyan saat itu ia sedang ada acara disekolahnya dan baru pulang. Saat di perjalanan, Abi Hendra menghubunginya untuk menyusul Ira ke terminal.
Rayyan mengangguk setuju. Walau tadi sempat menangis di perjalanan saat mendengar jika Raga Abang iparnya sudah tiada.
Ira semakin histeris, sakit tubuhnya tidak sebanding dengan sakit hatinya. Ia semakin erat memeluk tubuh Ragata.
Niqob yang tersampir di wajahnya entah sudah lari kemana. Ia tidak sadar jika hijabnya pun hampir terbuka.
Papi Gilang yang tau, dengan segera membetulkan nya. Ira tidak perduli. Yang ia mau, Ragata harus bangun.
Sadar jika kakinya sakit akibat berdiri menahan berat tubuh Raga, Ira memilih untuk tidur bersama di ranjang sempit milik Raga.
''Kakak akan menemani kak Raga sampai bangun. Kalian boleh pulang. Biarkan kami berdua. Rayyan! Temani kakak disini. Yang lain boleh pergi!'' tegas Ira tanpa melihat pada mereka semua.
Semua yang ada disana saling pandang. Rayyan melihat mereka dan mengangguk. Mereka bingung, ''Tapi Nak...''
''Mami.. kakak butuh waktu untuk bisa mengikhlaskan, ayo kita keluar. Nanti Abang yang akan temani kakak disini, percaya sama Abang. Tidak akan terjadi apapun!'' ucap Rayyan pada Mak Alisa.
Mak Alisa menatap Papi Gilang dan Abi Hendra. Mereka mengangguk pasrah. Dengan berat hati mereka semua keluar.
Tinggallah Ira dan Ragata saja. Ira menatap wajah putih pucat yang sudah kaku itu. Anehnya, tubuh Ragata tidak dingin. Namun hangat.
Ira bisa merasakan itu. Ia tersenyum manis melihat tumbuh ringkih sang suami. ''Sayang.. Hubby.. bangun. Aku sudah pulang loh.. masa kamu tega sih nggak bangun saat aku sudah ada di sini? Kamu udah janji loh..'' Ira menatap sayu pada wajah pucat Ragata.
Ira terkikik saat menyadari jika wajah Raga saking tampan saat tertidur seperti itu. ''Bangun By. Tidakkah kamu rindu pada ku? Aku sudah pulang loh.. aku tau kamu masih hidup! Biar saja semua orang mengatakan jika kamu sudah meninggal! Tapi aku tidak! Aku percaya kamu masih hidup. Gimana kamu meninggal, kalau tubuhmu saja masih hangat begini?''
''Tubuh yang sama saat dulu pernah memeluk ku saat tidur. Tubuh yang sama saat menggoda ku ketika mandi. Tubuh yang sama saat kamu pernah mencoba melakukan itu...'' wajah Ira merah merona saat mengatakan suatu rahasia yang hanya mereka berdua yang tau.
__ADS_1
Rayyan mematung di depan pintu. Mendengar ucapan Ira, ia tidak jadi masuk. Hanya menjadi satpam di pintu saja.
''Bangun By.. bangun ih! Kamu nggak mau bangun, aku cium nih?! Beneran, kamu tidak mau bangun?'' tanya Ira pada tubuh ringkih Raga.
Wajah Ira merona lagi saat memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada Raga ketika ia masih bersama dulu.
Cup.
Kecup an pertama ia labuhkan.
Cup.
Kecupan kedua ia labuhkan lagi.
Cup.
Darahnya semakin menggebu ingin mengecup bibir tipis Ragata. entah dari mana datangnya keinginan itu. Yang jelas, dulunya Raga sangat suka mencuri ciuman darinya.
Mengingat hal itu, Ira semakin malu saja. Tapi ia tidak peduli. Lagi dan lagi ia kecup bibir tipis nan hangat itu.
Sedari tadi, saat Ira memeluk Raga sambil meraung, tubuh itu tiba-tiba saja menghangat kembali.
Ira terkejut, namun tidak ia tunjukkan kepada seluruh keluarga besar nya. Ia ingin membuktikan dulu sendiri. Baru setelah nya, ia beritahukan kepada seluruh keluarga nya.
Ira semakin gencar memberi kecupan cinta di bibir sang suami. Berharap pancingan itu berhasil.
Kecupan yang kesekian kalinya, Ira melumaaat, memagut dan mengecap bibir pucat itu.
Deg, deg, deg.
Jantung Ragata terpompa begitu kuat. Ira tidak berhenti. Ia semakin kuat membuat aksinya itu.
Tangan Ragata ia rangkulkan di pinggang nya. Sedang tangan kiri Ragata ia pegang dengan tangan kanannya.
Ia saking gencar melakukan aksinya. Lagi dan lagi kecupan demi kecupan. Ia semakin gencar membuat Ragata tersadar dari tidur nya.
Kecupan terakhir ia berikan pada bibir sang suami. Siapa sangka, jika mata yang tertutup itu terbuka dengan lebar.
Ia menatap wajah sang istri yang begitu dekat dengan nya. Bibirnya tertarik sedikit saat melihat wajah sang istri begitu dekat dengan nya.
Wajah ayu yang dulu begitu ia rindukan. Sangat ia rindukan selama setahun ini. Sentuhan tangannya, wangi tubuhnya, seakan membuat Raga tidak ingin pergi walau sejenak saja.
Dan sekarang, wajah itu sedang menyesap bibir tipisnya. Sementara Ira tidak sadar jika Ragata sudah bangun.
Dengan lembut ia masih memagut bibir pucat itu. Mengecap dan menggigit sedikit bibir itu agar terbuka.
Ragata dengan senang hati membuka bibir nya. Ira terkejut, namun ia sadar saat tangan Ragata sudah memeluk pinggang nya.
Ira ingin tertawa namun masih ingin menikmati sesuatu yang telah halal mereka lakukan.
Setelah puas, Ira melepaskan nya. Ragata menatap mata Ira yang sedang mengembun. ''Hu-hunny...'' lirih Ragata dengan sedikit senyum di bibir bengkaknya.
Ira tertawa saat mendengar suara Ragata. Namun air mata terus mengalir di pipi nya. ''Kamu sudah bangun, By?''
Raga mengangguk. ''Ya, aa-ku ba-ngun ka-re-na ka-mu...'' sahut Raga dengan tersenyum.
Ira tertawa begitu keras. Ia semakin erat memeluk tubuh Raga. Dibalas tak kalah erat oleh Ragata.
Semua yang diluar terkejut mendengar suara tawa Ira. Mereka semua ingin masuk, tapi Rayyan menahan nya.
''Kita tunggu sampai kakak yang menyuruh kita masuk. Sabar ya?'' pinta Rayyan.
''Tapi Nak..''
''Mami? Percaya kan sama kakak?'' tanya Rayyan dengan tatapan lembut nya.
Mak Alisa mengangguk. ''Baiklah..'' ucapnya pasrah.
Sementara di dalam, Ira semakin terharu melihat Ragata sudah bangun. Ia mengecup seluruh wajah Ragata. Tidak terlewat sedikit pun.
__ADS_1
Raga tertawa, namun tidak berapa terdengar karena suara nya agak serak. Hanya Ira yang bisa mendengar nya.
''Aku senang kamu bangun By! Terimakasih, terimakasih sayangku, cintaku, hidupku, kamulah segalanya bagiku. Tanpamu tiadalah aku!'' seloroh Ira.
Ragata tertawa. ''A-ku pun be-gi-tu Hunny..'' ucap Ragata dengan terbata.
Ragata semakin erat memeluk tubuh Ira. Ia tak menyangka jika Ira sudah kembali untuk membawa nya kembali.
Ira menepati janjinya. Begitu pun dengan nya. Ira semakin erat memeluk tubuh ringkih Ragata.
''By??''
''Hem?''
''Boleh?'' tanya Ira dengan pipi merona
Ragata tertawa. ''Ma-u la-gi?'' Ira mengganguk mantap
Ragata tertawa lagi melihat pipi Ira merah merona. ''Kenapa?''
''Masih kangen...'' bisik Ira di ceruk leher Ragata.
Ragata tertawa. ''De-ngan se-nang ha-ti..Cup!''
Ira melotot, namun tersenyum saat Ragata mengecup bibirnya. Setelah dirasa puas, Ragata melepaskan nya.
Ia menatap Ira yang wajahnya kini merah merona. Raga terkekeh sangat pelan. ''Um-mi? A-bi?'' tanya Raga pada Ira.
Ira terkejut kemudian terkekeh. ''Tunggu sebentar! Mereka diluar! Lupa aku by! hehehe..''
Raga pun ikut terkekeh.
Cup!
Ira mengecup sekilas, Ragata terkejut namun setelah itu terkekeh saat menyadari Ira mengedipkan matanya pada Raga.
Ira berdiri di depan pintu dan menarik nafas.
Ceklek!
Pintu terbuka.
Mereka semua terkejut melihat wajah Ira begitu berseri. Senyum di bibirnya begitu manis.
Semua yang ada disana tertegun. ''Masuklah! Kak Raga sudah bangun!''
Deg!
Deg!
''Apa?!''
💕💕💕💕💕
Wooooaaaahhh.. panjang amat euuuyyy!
Hehehe .. bonus! Othor lagi kemaruk nulis!
Lembur ini! 😁😁
Jan lupa jempolnya di goyang, kembangnya di siram ye? uhuuyyy..
Panjang amat noh..
Udah ah! Othor mau bobok cuantik dulu!
Bye bye!
Tunggu besok lagi ye? 😁😁😁
__ADS_1