Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Bertemu Timong


__ADS_3

''Astaghfirullah! sayang! bikin kaget aja kamu! Ishhh... ngapain??'' tanya Raga karena melihat Ira sudah berdiri di belakangnya dengan rambut yang tergerai sepinggul.


Raga terus menatap Ira dengan instens. Ia tak menyangka, jika pujaan hatinya itu sangatlah cantik jika tidak memakai hijab.


Kulit putih mulus, rambut hitam panjang hingga sepinggul menambah aura kecantikan Ira di mata Raga.


Ira tersenyum. Raga mengerjab. Ira terkekeh. Ia mendatangi Raga yang sedang mencoba untuk menghidupkan api dengan kayu bakar.


Tag masih saja menatap Ira. Dengan kaos oblong berwarna abu-abu punya Raga dan juga celana pendek melewati lutut, membuat Raga tak berhenti menatap Ira.


''Kak... jangan ditatap begitu, ih! Maluuuuu....'' lirihnya sembari menunduk.


Pipinya sudah menyembulkan semburat merah seperti tomat masak. Terasa panas hingga ke telinganya.


Raga tersenyum. ''Kenapa nggak pakai hijab??''


Ira mendongak. ''Hijab yang satunya ketinggalan di tenda kak.. jadi disini nggak ada hijab nya. Aku kan bawa dua ransel? Satu untuk kakak, satu lagi untukku. Karena terburu-buru, Hanay ransel ini yang bisa ku bawa, lagipun ransel ini berisi kotak P3K, kan?? Makanya aku bawa yang ini aja... jadi... hijabnya....'' lirih Ira sembari menunduk.


Ira meremas tangan nya karena takut, jika Raga akan marah. ''Ya sudah, nanti kita cari hijab mu yang hanyut. Pasti tidak akan jauh dari sini. Terus, ngapain kesini??'' tanya Raga untuk memastikan saja.


''Emm.. itu... aku mau bantuin kakak masak, perut ku udah lapar sedari tadi kak..'' lirihnya lagi.


''Tapi kamu masih sakit sayang. Nggak usah ya? Istirahat aja. Biar kakak yang masak, ayo!'' ajak Raga, namun Ira menggeleng.


Raga menghela nafasnya. ''Sayang...''


''Kak... aku udah sehat kok! Beneran! Gini aja deh, kakak cari aja hijab aku yang hanyut, biar aku yang masak! Sepulang kakak dari sana, semuanya sudah beres!'' imbuhnya dengan semangat empat lima.


Raga tersenyum. ''Ya udah, kamu nggak pa-pa kan kakak tinggal?? Bakalan lama loh.. karena kakak harus keliling lagi mencari buah-buahan? Kamu berani??''


''Insyaallah kak... kalau siang aku berani, asal jangan malam...'' lirihnya dengan sedikit ketakutan.


Raga menghela nafas pasrah. ''Oke. Kakak pergi! jangan keluar tanpa hijab mu.'' titah Raga.


Ira mengangguk dan tersenyum manis.


Cup.


Ramah mengecup kening nya sekilas, kemudian ia berlalu mengambil pakaian mereka yang basah untuk dibawa ke tepi air terjun untuk dicuci dan dikeringkan.


Raga membawa pakaian basah itu dalam sebuah ember yang tersedia disana. Setelah semuanya siap, kini Raga berjalan tanpa melihat kebelakang lagi.


Karena ia tau, jika Ira sedang masak di belakang gubuk tua itu. Sedangkan Ira masih berdiri mematung, karena baru saja mendapatkan kecupan hangat dari Raga.


Yang membuat hatinya bertambah berdesir untuk pemuda tampan yang masih labil itu. Ira sadar jika Raga sudah pergi, sekarang saatnya Ira mulai memasak.


Ira menghidupkan api dengan pemantik api yang tersedia disana, ia melihat jika tadi Raga sedang mengupas buah ubi untuk direbus.


Dengan segera Ira mengeksekusi semua bahan yang ada disana. Termasuk kelapa tua. Sedari tadi Raga bingung harus diapakan dengan kelapa tua itu.


Tapi tidak dengan Ira. Ira pada dasarnya sudah terbiasa dengan cara memasak dari kayu bakar, malah tambah membuatnya lebih bisa.


Karena ketika mereka tidak punya uang untuk membeli tabung gas elpiji, Mak Alisa sering kali memasak dengan kayu bakar seperti sekarang ini.


Jadi jangan heran, jika Ira juga bisa. Wong udah terbiasa. Setelah selesai dengan ubi yang di kupas nya, kini Ira mulai dengan kelapa yang dikupas kemudian di parut dan akan dijadikan santan.


Karena melihat bahan yang ada semua lengkap, mulai dari garam dan gula serta minyak makan pun ada, Ira mulai membuat kolak ubi.


Ia tersenyum saat membayangkan jika Raga pulang nanti pasti kaget melihat masakan nya.

__ADS_1


Sedangkan Raga, kini ia sedang menuju aliran air terjun SiPiso-piso. Ia tau jika air itu pasti mengalir tak jauh dari gubuk yang mereka tempati sekarang.


Cukup berjalan seratus meter kearah barat saja, Raga sudah menemukan aliran air terjun itu.


Ia tersenyum, setelah nya ia turun untuk mencuci semua pakaian basah mereka agar bisa di pakai untuk pulang besok pagi.


Karena acara kemah mereka besok pagi sudah selesai.


Selesai dengan mencuci bajunya, ia menjemur baju itu di bebatuan besar yang ada di aliran air terjun itu.


Agar cepat kering pikir nya. Setelah selesai, kini Raga berkeliling untuk mencari buah-buahan kira-kira yang bisa untuk dimakan.


Raga terus menyusuri jalan setapak di dalam hutan itu, saat ia melewati sebuah pohon besar ia melihat jika banyak buahan disana, dengan monyet banyak bergelantungan sedang makan buah itu.


Raga takut ingin mendekat ke pohon besar itu, jika ia tidak kesana, Ira pasti kelaparan. Pikirnya. Dengan mengucap bismillah, ia berdoa dalam hati agar hewan yang bergelantungan itu memberikan nya izin untuk mengambil buah itu walau hanya sedikit.


Tiba disana, ia berhenti. Sekumpulan monyet itu juga sedang menatapnya. Raga menghela nafasnya.


''Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum wahai penghuni pohon besar ini, maaf jika saya mengganggu acara makan kalian semua, saya datang kesini ingin meminta sedikit makanan kalian, apakah diperbolehkan??'' tanya Raga pada sekumpulan monyet itu.


Salah satu monyet itu turun dan mendekati Raga. Saat tiba di depan Raga, monyet itu melompat ke arahnya dan memeluk Raga dengan erat.


Raga terkejut, namun ia tak menolak pelukan monyet itu. Monyet itu mencium kening Raga dan melihatnya.


Terlihat disana, jika monyet itu sedang menangis melihat Raga. Raga tersentak. Ia menatap maat monyet itu begitu lama.


Setelah sadar, Raga mengerjab. ''Timong???'' tanya Raga pada monyet itu. Monyet berukuran sebesar anak kambing itu menjerit khas dengan suara monyet.


Setelahnya ia memeluk Raga dengan erat lagi. Dengan kedua kakinya, memeluk pinggang Raga.


''Beneran kamu Timong?? Timong ku?? Timong yang dulu aku lepas dihutan saat aku berusia sepuluh tahun??'' tanya Raga, ia masih berbicara dengan monyet itu.


Monyet itu semakin memeluk erat tubuh Raga. Ia pun menangis. ''Hiks, Timong! Timong ku! Maaf... kalau dulu aku melepas mu! Maaf...'' lirih Raga masih dengan memeluk monyet kesayangan nya itu.


Seakan tau, monyet itu mengangguk dan mengusap air mata Raga. Ia mengecup berulang kali kening Raga.


Raga semakin menangis. Monyet itu semakin erat memeluknya. Sedangkan puluhan monyet itu terdiam melihat salah seorang dari mereka memeluk manusia yang baru saja tiba.


Raga berhenti menangis dan tersenyum melihat Timong. ''Kamu udah punya keluarga Timong??'' tanya Raga dengan melepas Timong agar turun ke tanah.


Timong mengangguk, setelahnya ia memanggil sekumpulan anak-anak monyet juga monyet jantan yang lumayan besar dari tubuh Timong.


Satu koloni turun kebawah. Mereka semua menatap heran pada Raga. Raga tersenyum. ''Assalamualaikum, wahai para anggota Timong dan juga... suami Timong??'' monyet jantan itu menatap Raga.


''Aku Ragata. Sahabat Timong dari Timong dulu masih sangat kecil. Sekarang aku sedang tersesat disini, mau kah kalian membantuku untuk mencarikan sedikit makanan untuk ku dan juga...'' Raga menatap Timong yang juga sedang menatapnya.


''Calon istriku. Dia sekarang sedang kurang sehat. Berada di pondok yang tak jauh dari sini. Timong?? Maukah kau membantuku untuk mengambil beberapa buah itu untuknya??'' tanya Raga, Timong terdiam.


Raga menghela nafasnya. ''Timong... seperti kau yang juga sudah berkeluarga, begitu juga dengan ku. Aku juga akan memiliki istri, dan sekarang calon istriku sedang sakit. Kemarin, ia jatuh ke air terjun dan sempat.. hah! Mati suri! Maukah kau membantuku Timong?? aku tak minta banyak, cukup untuknya saja. Karena ia lebih membutuhkan buah-buahan itu..'' lirih Raga dengan wajah sendu.


Timong masih saja menatapnya. Setelah sadar, Timong dan anggota yang lain pergi meninggalkan Raga seorang diri.


Raga mematung. ''Apakah kau tidak menyukai calon istriku Timong?? sampai-sampai kau pergi begitu saja, tanpa berpamitan padaku??'' ucap Raga pada Timong yang sudah berlalu dan bergelantungan di setiap pohon besar.


Karena tidak mendapat kan buah-buahan segar, Raga pergi dari sana. Ia turun untuk mencari hijab Ira yang hilang hanyut terbawa arus air.


Ia menyusuri setiap jalan, hingga tiba di tepi air tadi. Tempat ia mencuci baju nya dan Ira. Melihat pakaian nya sudah lumayan kering, Raga membawa pakaian itu kembali ke gubuk tua.


Ia terus menyusuri jalan setapak itu dengan hati yang gelisah. Memikirkan Ira. Apa yang harus ia katakan pada Ira nantinya jika buah itu tidak ia temukan.

__ADS_1


Minta sama Timong, tapi Timong tak peduli. Ia malah pergi begitu saja. Raga menghela nafasnya.


Raga berjalan terus menyusuri jalanan itu, sesekali terdengar suara pekikan monyet. Ia mendongak ke atas, melihat sekawanan monyet sedang bergelantungan disana.


''Timong...'' lirihnya.


Sedangkan di gubuk tua, Ira di kejutkan dengan kedatangan ratusan monyet. Ira jadi ketakutan setengah mati.


Tubuhnya yang belum sehat, sedang pikirannya yang sedang trauma membuat tubuh itu bergetar hebat.


Ira melihat sekumpulan monyet mulai masuk dan menatap dirinya. Ira ketakutan, tubuhnya gemetar.


Tubuhnya luruh ke lantai dan menangis. Ira terisak. Ia menangis dengan memeluk kedua kakinya.


Seekor monyet betina mendatangi nya. Ia semakin ketakutan. Monyet itu mendekati Ira dan mengusap kepala Ira dengan perlahan.


Ira tersentak. Ia menoleh, terlihat seekor monyet sedang mengusap kepalanya dengan sayang.


Ira semakin menangis. Monyet itu segera memeluk Ira. Ajaib nya tubuh Ira yang gemetar, langsung saja hilang seketika.


Ia mendongak, melihat monyet yang sedang memeluknya itu. Monyet itu seperti tersenyum terlihat Dimata Ira.


Ira mengerjab.


Cup.


Sebuah kecupan monyet itu berikan padanya. Ira mematung. Ia terus saja menatap pada monyet itu.


''Kak Raga...'' lirih Ira.


Seakan tau, monyet itu mengangguk. Ira terkejut. ''Kamu peliharaan nya kak Raga??''


Monyet itu mengangguk. Ira menangis dan memeluk monyet itu. Dibalas dengan usapan di kepala Ira.


Raga terus saja berjalan, dari kejauhan ia melihat gubuk itu di penuhi dengan ratusan monyet.


''Monyet??'' gumamnya.


Setelah sadar jika Ira di sana sendirian, Raga berlari dengan kencang.


''Tidaaaaaakkkkk....''


''Sayaaaaannggg....''


''Iraaaaaaa.....''


Deg.


💕


Ini kejadian nyata ya. Di tempat othor ada yang kayak begitu.


Cuman bedanya, si monyet ini dendam dengan majikan nya itu.


Nggak mungkin dong.. othor buat gitu?? Biar beda, othor rubah aja ceritanya.


Tapi tetap sama kok. Hanya beda nya si Timong ini baik, sedangkan di tempat othor serem! 🤣🤣


Like dan komen!

__ADS_1


TBC


__ADS_2