
Setelah mereka berdua mandi besar, Raga dan Ira turun kebawah untuk sarapan. Disana sudah ada ummi Hani dan Abi Hendra yang sedang menonton ummi Hani memasak.
Sekali pria paruh baya itu menggoda ummi Hani yang membuat ummi Hani merengut sebal.
Ira dan Raga terkekeh melihat itu. ''Selamat pagi ummi, Abi..'' sapa Ira.
''Selamat pagi nak? Mau sarapan atau mau minum susu saja?'' tanya ummi Hani pada Raga.
''Sarapan ummi.. buatkan susu jahe, Ra.. kayanya perutku ini kembung deh. Errgghh..'' Raga bersendawa.
Abi Hendra terkekeh. ''Kurang lama lagi perangnya Bang? Abi aja cuma dua jam, itupun Abi di cuekin sedari tadi.'' Bisik Abi Hendra di telinga Raga.
Raga melototkan matanya. ''Abi.. Abi nguping ya?'' bisik Raga lagi.
Kedua pasangan mereka tidak tau, jika ayah dan anak itu sedang berbisik-bisik ria. Abi Hendra terkekeh.
''Ya, Abi mendengarnya. Kamu lupa menghidupkan peredam suara?'' ledek Abi Hendra semakin terkekeh geli.
Raga mendelik tak suka pada Abi Hendra. ''Hoo.. jadi nguping nih ya, ceritanya.. lain kali, Abi tidak boleh nginap lagi disini!'' ketus Raga.
Ia menjadi malu karena ketahuan sama Abi nya sendiri. ''Hahaha.. ummi kita di usir nih sama Raga!''
Raga melototkan matanya. Ummi Hani berbalik masih dengan wajah juteknya. ''Abi aja sana yang pulang! Ummi mau disini aja sama Ira. Lagi pun Ira tidak kemana-mana hari ini. Perutnya lagi sakit, iya kan Ra?'' tanya mau pada Ira.
Ira tersenyum dan mengangguk. ''Iya ummi. Kakak nggak akan ke pesantren hari ini, tadi udah minta izin sama ummi Na. Nggak tau aja, ini perut kok sakit ya?''
''Sakit lagi?''
''He'em. Sesekali sakit, sesekali nggak. Tapi kayak ngilu gitu.''
''Oke. Cepat sarapan! Setelah ini kita harus ke rumah sakit untuk periksa lanjutan tentang rahim kamu. Tadi udah di cek, ada sesuatu yang terjadi makanya kamu sakit seperti itu. Ayo, ummi boleh ikut kalau mau. Abi? Abi pulang!'' ketus Raga.
Abi Hendra terkekeh. ''Takut Ketahuan kan sama Abi, hem? Ngaku kamu!''
Raga mendelik menatap Abi Hendra. Mereka berempat sarapan dengan tertawa karena Abi Hendra selalu bisa menggoda putra sulungnya itu.
Ira dan ummi Hani hanya bisa terkekeh saja melihat anak dan ayah itu. Usai sarapan, mereka semua bergerak menuju rumah sakit.
__ADS_1
Tapi tidak Abi Hendra. Beliau mendapat kabar, jika ada meeting mendadak yang dilakukan oleh pemegang saham dirumah sakit yang sedang di pegang Raga saat ini.
Karena Raga tidak bisa hadir, maka Abi Hendra lah yang menjadi perwakilan Raga. Ira belum tau, jika rumah sakit yang didatangi nya saat ini adalah milik Raga.
Walau masih separuhnya, Tapi tetap akan menjadi milik Raga. Semua itu akan jelas saat rapat komisaris itu selesai.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba diruangan Raga. Dengan segera Ira berbaring dibantu oleh Suster Santi.
Ia tersenyum ramah melihat Ira dan juga Raga. Raga bisa bernafas lega sekarang. Tangan cepat Raga langsung saja memeriksa tubuh Ira.
Dengan segera saja alat itu ia pasangkan dan terhubung langsung pada monitor di depannya.
Raga tertegun saat melihat saluran Ira yang tersumbat itu. ''Sudah bersih? Tidak ada lagi?'' gumamnya.
Raga mengedipkan matanya berulang kali, begitu juga dengan alat yang ada di perut Ira, ia menggerakkan pada kedua saluran itu.
Kosong.
Aliran itu lancar. Sudah tidak ada hambatan lagi, seperti pemeriksaan nya dua Minggu yang lalu.
Ia ingin bersorak riang saat ini. Bahwa penyembuhan Ira selama hampir sebulan ini tidak sia-sia.
Padahal baru kemarin ia memberikan obat itu pada Ira. Obat yang sengaja Raga ambil langsung dari dokter terkenal di Inggris saat ia akan pulang setahun yang lalu.
Obat itu tersimpan rapat di lemari dalam kamar rahasia miliknya. Raga masih saja menggeser alat kursor itu.
Jika memang sudah bersih, apakah darah yang tadi pagi aku lihat itu, darah yang tersumbat disaluran ini?
Lalu, kenapa pada saat kami sudah melakukan penyatuan baru keluar? Apakah ini ada hubungannya dengan Ira yang kesakitan karena terbentur di dinding mobil, disebabkan karena ulah si kadal betina itu?
Raga terus saja menerka-nerka dalam hatinya.Ia ingin percaya, tapi masihih ragu. Ingin sekali Raga mengatakan nya pada Ira.
Tapi belum saat nya. Karena saluran itu sudah bersih, Raga hanya tinggal memberikan obat untuk kesembuhan perut Ira agar tidak merasakan sakit dan ngilu lagi.
Ingin tersenyum, tapi tak bisa. Ia masih menerka-nerka segala kemungkinan yang terjadi.
Bisa saja saluran itu tersumbat lagi nanti, Raga tak ingin berbangga hati dulu. Dia harus melihat langsung perkembangan Ira setelah saluran itu bersih dan tidak tersumbat lagi.
__ADS_1
Ira tidak boleh banyak bergerak terlebih dahulu. Ia harus bedrest selama sebulan demi penyembuhan nya.
Ira memaklumi itu. Namun, siapa yang akan menggantikan nya selama sebulan di pesantren?
Alhamdulillah nya, masalah itu terpecah kan juga. Zafa dan dokter Salim datang untuk menjenguk Ira.
Zafa menawarkan diri untuk mengambil alih pekerjaan Ira selama sebulan ia istirahat. Dokter Salim menyetujui hal itu.
Untuk saat ini, Ira harus berdiam diri dan duduk manis seperti seorang ratu di rumahnya.
Setiap kali Ira merasa sakit, Raga pasti pulang untuk memantau keadaan nya. Selama sebulan ini Ira masih saja tetap istirahat.
Semua ini demi kesembuhan nya. Ira manut apapun kata Raga. ''By.. boleh ya? Aku udah mendingan loh.. boleh ya?'' pinta Ira untuk yang kesekian kalinya.
Raga menghela nafasnya. ''Tidak bisa hunny.. Kakak masih harus terus memantau kesehatan mu selama sebulan ini. Jika kamu sudah sembuh total, Kakak ijinkan lagi untuk beraktivitas, ya? Manut ucapan Kakak, hunny. Semua ini demi kesembuhan mu. Apakah kamu tidak kasihan dengan junior ku ini? Sudah hampir berkarat, gara-gara tidak bisa menyentuh mu sama sekali. Please hunny..'' pinta Raga dengan wajah memelas.
Ira tidak bisa menolaknya. Jika sudah bersangkutan dengan kebutuhan sang suami yang berada dibawah perut, Ira menyerah.
Sudah hampir sebulan ini Raga Tidak menyentuh nya. Semua itu demi kesembuhan nya.
Ira harus cepat sembuh dari penyakitnya.
Seluruh keluarga begitu puas dengan hasil kerja Raga selama sebulan ini. Mak Alisa begitu bangga pada menantu sulungnya itu.
Begitu juga dengan Papi Gilang. Ia sangat setuju dengan apa yang Raga lakukan. Semua itu demi kesembuhan Ira.
Putri sulungnya.
Besok pagi, Ira harus memeriksa kan diri lagi kerumah sakit. Apakah ia sudah sembuh total, atau masih harus dirawat lagi.
Semoga saja Ira sembuh total. Dan pasangan pengantin usang itu bisa mendapatkan momongan.
Semoga saja.
💕💕💕💕💕
Telat banget malam ini. Maaf ye? Othor paksa nulis ini! walau mata tinggal dua Watt lagi. 😪😪😴😴
__ADS_1