
Hari ini Lana ingin menghadiri sebuah acara marawis di sebuah komplek yang Lana sendiri tidak tau tempatnya.
Yang jelas sekolah yang terpilih untuk menjadi pengisi suara dalam acara itu dalam menyandungkan sebuah sholawat.
Lana akan mendatangi sebuah mesjid agak jauh dari komplek perumahan mereka. Untuk mengikuti acara marawis yang ditunjuk oleh seorang pengusaha untuk pernikahan putra nya.
Lana sudah bersiap sedari subuh. Ia juga latihan melatih vokalnya agar lebih bagus lagi. Mak Alisa yang mendengar nya tersenyum.
Begitu juga dengan Ira dan Raga. Karena hari ini hari Minggu, jadi mereka semua berkumpul dirumah.
''Udah bagus itu suara kamu, Bang! kenapa harus di ulang-ulang sih?!'' sewot Ira.
Membuat Lana mendelik dan dibalas tawa oleh Raga. ''Isshhh.. biarin aja! kok Kakak yang sewot sih?! Abang tuh ya, sengaja latihan terus biar suaranya tambah bagus, begitu!''
''Heleh, sibuk latihan aja sedari tadi. Nanti giliran manggung, suara kamu habis! mau kamu kayak gitu?? Jangan malu-maluin sekolah kita ah!'' kesal Ira.
Ia sengaja menghentikan aksi Lana, karena menurutnya Lana akan kehabisan suara saat pertunjukan nanti.
''Betul itu bang! lebih baik kamu siap-siap aja ya? Mak yakin, suara kamu pasti sangat bagus, sampai-sampai pengantin itu menangis mendengar suara mu.'' sahut Alisa pula.
''Ho'oh! betul, betul, betul!'' celutuk Raga.
''Hehehe.. oke deh! Sudah jam setengah delapan, Abang berangkat dulu ya? Kak, Bang! Doa in Lana ya agar nanti perform nya bagus dan sukses.''
''Amiinn... tentu.'' sahut Ira dan Raga.
Alisa tertawa mendengar nya. Mak Alisa bisa tertawa tapi hatinya gelisah. Terutama hari ini.
Sedari malam hingga pagi ini, entah mengapa hatinya jadi gelisah tak karuan. Seperti akan terjadi sesuatu lagi, tapi entah apa.
Lana pamit dengan Alisa dan juga dua saudara nya. Saat ingin pergi Lana menatap Alisa begitu lama dan tersenyum manis.
''Abang sayang Mak, kakak, Abang, dan adek! Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah ya..'' lirihnya sembari berlalu.
Mak Alisa mematung. Entah mengapa firasat buruk itu sedang menghantui pikiran nya saat ini.
Lana pergi kesekolah nya, karena dari sanalah mereka akan pergi ke komplek perumahan Griya M.
__ADS_1
Mendengar nama komplek itu Lana mematung. Kata pertama yang disebut oleh nya ialah..
''Papi... kenapa alamat mesjid ini seperti alamat rumah Papi?? Apakah ini Papi?? Atau ada yang lainnya?? Siapa sebenarnya nama pengusaha sukses ini??'' gumam Lana, ia terus saja memikirkan hal sedang bermunculan di benak nya.
Setelah kepergian Lana, Mak Alisa begitu gelisah. Mak Alisa berjalan mondar-mandir tidak tentu arah.
Sesekali ia memegang ponselnya dan menggumam tak jelas. Ira yang melihat nya jadi bingung.
''Mak.. duduk atuh! Capek loh.. mondar-mandir kayak begitu. Ada apa sih Mak??'' tanya Ira, membuat Mak Alisa berhenti namun ia tetap gelisah.
''Nggak tau aja Kak! Perasaan sedari tadi malam sangat tidak enak. Kepikiran Abang terus dari tadi.'' Sahut Mak Alisa.
Raga terkekeh, ''Kalau perasaan Mak enak, bisa di makan dong?'' seloroh Raga.
Membuat Ira tertawa tapi tidak dengan Mak Alisa. Ia masih saja mondar mandir tidak jelas.
Tiba-tiba Mak Alisa yang sedang mondar mandir tak tentu arah, dikejutkan dengan deringan ponsel di saku gamisnya.
''Astaghfirullah!!'' kejutnya saat mendengar suara deringan ponsel.
Mak Alisa melihat jika itu panggilan dari Pak Kosim. Dengan cepat ia mengangkatnya.
Pak Kosim tersentak kaget. ''Da-darimana Neng Alisa tau??'' tanya nya dengan bibir memucat.
Padahal Alisa sedang tidak ada disana.
''Tadi pak Madan, wali kelas Lana menelpon saya, dia mengatakan jika Gilang sedang mengejar Lana yang berlarian entah kemana! Ada apa ini Pak! Mengapa aku merasa terjadi sesuatu dengan mereka?'' terka Mak Alisa.
Membuat Pak Kosim bertambah terkejut. ''Neng... Den Gilang dan Lana... mereka berdua mengalami... kecelakaan...'' lirih Pak Kosim.
Membuat Alisa mematung. Tubuhnya terasa kaku. Ponsel yang berada di tangannya terlepas.
Untung saja ada Ira di sebelahnya, jadi ponsel pemberian Gilang itu selamat dan tidak jadi mencium lantai rumah baru mereka.
''Mak!!'' pekik Ira.
Diseberang sana pak Kosim terkejut. Inilah yang ia takutkan kalau tau jika Lana dan Gilang kecelakaan maka Alisa juga akan mengalami hal yang sama.
__ADS_1
Tidak kecelakaan, tapi...
Brruuuukkkk..
''Astaghfirullah!! Mak!!'' pekik Ira dan Raga.
Mereka berdua begitu terkejut melihat Alisa jatuh kelantai dengan mata terpejam.
''Hallo... hallo.. Neng?? Neng Alisa!! jawab atuh Neng! ini kenapa??'' pekik Pak Kosim di seberang sana.
Ira yang terkejut jika sambungn ponsel itu masih menyala, segera berbicara dengan Pak Kosim
''Ha-halo kek! Ini kakak! Ada apa kek?? Apa yang terjadi sama Abang dan Papi??'' tanya Ira.
Ia pun jadi khawatir. ''Lana dan Papi kalian kecelakaan Nak! Sekarang mereka berdua sedang berada dirumah sakit Pirngadi Medan. Mana Mak kalian??''
Ira mematung mendengar ucapan Pak Kosim. Ira menggeleng dengan air mata yang sudah keluar tanpa di duga.
''Nggak! Nggak mungkin Kek!'' bantah Ira.
''Kakek nggak bohong Nak.. kalian kemari ya?? Saat ini Lana dalam keadaan kritis! Dia sangat membutuhkan banyak darah..'' sahut Pak Kosim.
Lagi dan lagi membuat Ira terkejut. ''Astaghfirullahal 'adhim... Kak Raga! Abang kecelakaan!!'' pekik Ira dengan segera memeluk tubuh Alisa yang tergolek dilantai dingin.
Beruntungnya ada karpet tebal yang sengaja di bentang Raga tadi. Karena mereka ingin menonton tivi sekalian bermain dengan Annisa.
''Innalillahi!! Sayang! Gimana bisa?! Mak!!'' pekik Raga saat menyadari Alisa pingsan karena mengetahui jika dua orang tersayang nya mengalami kecelakaan.
Pak Kosim masih mendengar suara tangisan pilu Ira dan Raga. Ia berharap, Alisa pun tidak kenapa-kenapa.
Dengan segera ia menutup sambungan ponsel itu dan berlari masuk kedalam. Karena ketika ia meninggalkan Gilang dan Lana tadi, Pak Kosim sekilas mendengar jika Lana sedang kritis dan membutuhkan banyak darah.
''Semoga kalian berdua selama Nak..'' gumam pak Kosim sembari terus berlari.
Sedangkan Ira masih berusaha untuk menyadarkan Mak Alisa. Dibantu Raga dengan mengoleskan minyak kayu putih. mereka berdua terus saja terisak.
''Ya Allah.. cobaan apa lagi ini di dalam keluarga ku. Baru saja aku sembuh, tapi kami sudah di uji lagi dengan hal seperti ini... kuatkan aku ya Allah.. kuatkan kami semua.. Papi.. semoga Papi baik-baik saja, Begitu juga dengan adikku Maulana. Lindungi dan selalu jaga mereka berdua sampai kami tiba disana saat nanti Mak sudah bangun dari pingsan nya.'' Lirih Ira di dalam hati.
__ADS_1
💕
TBC