
Tiga bulan berlalu sejak kejadian itu. Kini hubungan Ira dan Raga seperti jalan di tempat.
Seringkali Ira menghindari Raga ketika mereka bersama di rumah. Tapi Raga tak peduli.
Ia selalu berusaha mendekati belahan jiwa nya itu. Sekeras apapun Ira mencoba nya tapi tetap saja Raga selalu tidak ingin jauh darinya.
Bahkan ketika Ira mandi pun, Raga ikut. Sering kali Ira mengomel, tapi Raga hanay terkekeh kecil saja untuk menanggapi omelan Ira.
Setiap hari Ira selalu saja menghindar darinya. Ira setiap harinya mengusir Raga untuk pulang kerumah ummi Hani.
Tapi pemuda labil itu tidak mau menurutinya. Ia akan tetap disana sampai ijazahnya keluar dan juga ia pergi untuk mondok di pesantren.
Dan hari ini adalah hari dimana Raga harus segera untuk pergi ke pesantren. Ummi Hani sudah menunggu nya sedari tadi bersama Abi Hendra.
Mereka berbicara sebentar sebelum mereka mengantarkan Raga ke pesantren. Lama mereka menunggu pasangan labil itu, tapi pasangan itu tak kunjung turun.
Ummi Hani dan Mak Alisa saling pandang. Begitu juga dengan Abi Hendra. Mereka bertiga menghela nafas panjang.
Sementara di kamar Ira, raga sedang mencoba membujuk Ira untuk mau mengantarnya ke pesantren.
''Sayang.. ayo dong.. ya?'' pinta Raga yang kesekian kalinya.
Ira menghela nafas kesal. Ia menatap datar pada Raga. ''Aku tidak ikut bersama mu! Pergilah! Ummi dan Abi sudah menunggu mu sedari tadi.'' Imbuhnya, ia kemudian berlalu ke lemari untuk menyusun bajunya yang baru saja ia setrika.
Dengan memakai baju daster selutut, rambut di Cepol asal membuat aura kecantikan Ira begitu cantik dimata Raga.
Ia mengikuti kemana langkah Ira pergi. tiba di dekat Ira, ia memeluk belahan jiwanya itu dengan erat.
Ira tersentak, namun ia tidak peduli. Raga memeluknya dari belakang. Ia sandarkan dagunya di bahu Ira.
Sementara gadis itu masih sibuk dengan pakaian nya. Sebenarnya tidak ada yang perlu dirapikan lagi.
Ira sengaja menghindar dari Raga. Karena sedari tadi malam hingga siang ini, ia terus memaksa Ira agar mau mengantarnya ke pesantren.
''Kakak akan kangen banget sama kamu sayang.. ayolah.. mau ya?'' lirihnya di telinga Ira.
Bulu halus Ira meremang. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa yang entah seperti apa sedang melanda dirinya.
__ADS_1
''Sayang..''
''Nggak Kak! Kamu pergi sendiri ya? Aku masih sibuk. Nanti saja saat kunjungan pertama kali aku ikut ummi untuk menemui mu! Sekarang pergilah!'' usir Ira yang kesekian kalinya.
Lagi Raga tak peduli. ''Please.. sayang.. mau ya?'' pinta nya lagi.
''Nggak Kak!''
''Istriku... sayang ku.. cintaku.. ayolah..'' bujuknya lagi.
''Ira melepaskan paksa rangkulan tangan Raga di perutnya. Ia berbalik dan menatap Raga dengan datar.
Raga tercubit hatinya melihat wajah Ira selama tiga bulan ini tidak ada senyum sama sekali untuknya.
''Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan Ragata! Jika aku bilang tidak mau, maka tidak mau! Kamu paham nggak sih!'' ucap Ira dengan suara meninggi.
Lagi, Raga merasakan sakit yang tiada tara saat Ira berbicara seperti itu. Ira nya yang dulu begitu lemah lembut terhadap nya kini berubah seiring waktu.
''Aku suami mu menginginkanmu untuk mengantar ku ke pesantren bersama ummi dan Abi! Apakah aku salah memintanya pada mu? Aku suami mu Ira! Ingat itu! Sekarang ganti baju mu! Ini perintah! Aku tunggu di bawah! Tak ada penolakan!'' tegas Raga
Membuat Ira menatap dingin padanya. Setelah mengatakan itu, Raga segera keluar dan turun ke bawah menuju kedua orang tuanya.
Dadanya sesak saat mengatakan hal itu kepada Raga. Suami nya. Mata nya mengembun ingin mengeluarkan bulir bening.
Tapi ia usap dengan kasar. ''Baik! jika itu yang kamu inginkan! Maka aku akan ikuti mau mu! Walau ku tau melihat mu disana nanti, pasti akan melukai hatiku! Tapi aku akan berusaha tegar menghadapi semua ini! Sebelum kamu yang memintaku mundur, aku dulu yang memilih mundur dari mu Suamiku..'' lirih Ira.
Dengan segera ia mengganti bajunya gamis dan dan hijabnya. Setelah itu kaos kaki. Selesai semua, ia turun ke bawah menemui ketiga orang tua nya disana.
Tiba disana Raga mematung melihat bidadari hatinya itu. ''Masyaallah... cantiknya anak Ummi...'' ucap ummi Hani sembari mendekati Ira yang sedang berjalan mendekati mereka semua.
Raga menatap Ira tanpa berkedip, Abi Hendra yang melihatnya terkekeh geli. Mak Alisa tersenyum saja.
''Ayo! Kakak udah siap!'' imbuhnya, membuat pemuda labil itu terkejut dan mengerjabkan matanya.
Abi Hendra tertawa melihat itu. Begitu juga dengan ummi Hani. ''Baiklah, sudah waktunya! Lis, aku bawa dulu ya bidadari surga ini bersama ku?''
''Ya, tentu. Bawalah! Sekarang dia milikmu!'' sahut Mak Alisa dengan terkekeh kecil melihat Raga yang terus menatap Ira putri sulungnya.
__ADS_1
''Ayo Nak! Kita pergi sekarang!'' ajak ummi Hani pada Ira dan Raga.
Kedua orang itu mengangguk patuh. Ummi Hani berjalan duluan bersama Ira. Sedangkan Raga dan Abi Hendra mengikuti mereka dari belakang.
Tiba di depan mobil, ummi Hani yang paham, membiarkan Raga duduk bersama di belakang. Dengan Abi sendiri yang menyetir nya.
Raga tersenyum tipis melihat tingkah ummi nya itu. Ummi Hani terkekeh kecil. Semua siap, kini waktunya untuk menuju ke pesantren.
Butuh waktu sekitar satu jam setengah, untuk sampai disana. Itu pun jika tidak terkendali macet.
Di perjalanan ke empat orang itu asik bercakap-cakap. Ada saja yang dibahas oleh ummi Hani untuk mencair kan kebekuan yang terjadi antara menantu dan putra sulungnya itu.
Saking banyaknya yang di omongkan, mereka sekarang sudah tiba di depan gerbang pesantren.
Dari kejauhan ada seorang gadis sedang menatap ke mobil Raga. Dengan segera ia berlari dan memanggil Abi nya untuk menemui tamunya itu.
Seorang lelaki paruh baya mendatangi Abi Hendra.
''Assalamualaikum Nak Hendra..'' sapa nya.
Abi Hendra yang masih sibuk dengan koper milik Raga menoleh. Ia tersenyum mendapati pemilik pesantren yang ternyata sahabat Papa nya itu mendekati mereka.
''Waalaikum salam ustad Sofian.. apa kabar?''
''Alhamdulillah baik.. mari.. istri saya sudah menunggu sedari tadi! Loh? Ini Kiara ya? Tapi kok nggak mirip sih?''
Abi Hendra terkekeh begitu juga ummi Hani. Sedangkan Raga dan Ira mereka berdua saling bertatapan.
Nan jauh disana ada seorang gadis cantik sedang memperhatikan Raga. Ia tersenyum malu melihat pemuda tampan itu.
Ira bisa melihat dimana gadis itu sedang tersipu malu tiap kali ia menatap Raga. Ira menghela nafasnya.
''Sayang..''
''Inilah yang aku tidak inginkan! Melihatmu di sukai oleh gadis lain yang sebaya dengan ku!''
Deg!
__ADS_1
TBC