
Seluruh keluarga sudah pulang kerumahnya masingmasing. Tinggal lah Ira dan Raga saja. Ira memaksa seluruh keluarga nya untuk pulang dan beristirahat.
Apalagi ummi Hani dan Abi Hendra. Kedua orang itulah yang begitu lelah mengurus Ragata.
Siang dan malam dirumah sakit. Dan dua hati ini begitu membuat mereka lelah. Karena hanya tidur selama dua jam saja sehari.
Kondisi Raga yang semakin menurun membuat kedua paruh baya itu tidak berani memejamkan mata walau sekejap saja.
Takutnya Raga pergi tanpa mengabari mereka. Dan tepat seperti dugaan ummi Hani, jika kondisi Raga semakin menurun sejak dua hari belakang an ini.
Hari dimana ia menunggu kehadiran Ira untuk menjenguk dan menemuinya selama setahun ia bertugas.
''By??''
''Hem?'' sahut Raga
''Kamu mimpi apa saat tidur selama setahun ini?'' tanya Ira dengan tersenyum.
Ragata pun ikut tersenyum. ''Aku.. selalu.. memimpikan mu. Di setiap malam ku, aku selalu melihat wajah mu yang menangis karena diriku.''
''Iya kah?''
Raga mengangguk. Sebenarnya Ia dilarang untuk berbicara banyak, tapi Ira Tidak peduli akan hal itu.
Dan Raga pun sangat ingin mendengar cerita dari isterinya tentang dirinya selama setahun ini.
Walau masih terbata, Raga mencoba melatih terus pita suaranya yang sudah puasa bicara selama setahun ini. Demi sang istri.
''Ya, aku selalu melihatmu menangis di setiap sujud mu. Tapi aku tidak bisa menyentuh mu. Aku hanya mendengar suara lirih saat kamu berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan ku tanpa berpikir tentang kesehatan mu.'' Ceritanya lagi.
Ira terharu. Tangannya yang masih sibuk mengelap seluruh tubuh Raga dengan waslap, berhenti.
Ia menatap Raga dengan mata berkaca-kaca. Ragata tau itu. ''Kunci dulu pintunya, takutnya ada yang datang. Aku sangat ingin melihatmu tanpa hijab,'' ucap Raga membuat Ira mengangguk.
Ira melepas kan waslap dan berlalu kedepan pintu, setelah itu ia mulai membuka kancing hijab yang tersemat dengan kancing cantik mutiara putih di sebelah dada kirinya.
Raga memperhatikan setiap gerakan tangan Ira. Ia tersenyum. Matanya menoleh pada ruangan sekitar.
Ada cctv. Ira yang hampir membuka hijabnya berhenti saat merasakan tangan Ragata menyentuh tangannya.
''Kemari,'' bisik Raga
Ira menurut. Raga mendekatkan wajahnya pada telinga Ira. ''Jangan buka hijab mu disini. Ada cctv di belakang mu. Ck. Padahal aku sangat ingin melihat mu tanpa hijab?'' gerutu Raga dengan segera memeluk tubuh ringkih Ira.
__ADS_1
Ira terkekeh. ''Kamu udah bisa jalan belum? Jika sudah, ayo kita ke kamar mandi. Kamu bisa melihat ku sepuas nya disana tanpa hijab.'' Ucap Ira dalam pelukan Raga.
Raga mengurai pelukannya. ''Pintar! Ayo, tuntun aku ke kursi roda itu. Tadi Abi sempat mengambilnya untuk memudahkan mu membawaku ke kamar mandi. Maaf.. tubuhku belum kuat untuk berdiri tegak seperti mu, Hunny..''
Ira terkekeh, ''Jika kamu Tidak bisa, maka aku yang akan menjadi kakimu. Ayo, kita ke kamar mandi. Biar ku ambil dulu baju ganti ku. Aku juga belum mandi pagi ini.'' Ira terkekeh setelah mengatakan hal itu.
Begitu juga dengan Ragata. Dengan cepat Ira mengambil baju ganti dan handuk nya. Ia menarik kursi roda dan membawanya ke depan Ragata.
Ira mengangkat tubuh ringkih Raga yang begitu kurus. ''Ah, Alhamdulillah... ayo! Temani aku mandi!'' ucap Ira mengedipkan sebelah matanya pada Raga.
Raga tertawa. ''Jangan memancingku Hunny... kamu tau 'kan? Jika aku sudah sangat lama menunggu hal ini? Aku ingin meminta hak ku padamu. Tapi tidak sekarang. Tunggu sampai tubuh ringkih ini kembali seperti semula.'' imbuh Raga pada Ira, yang ditanggapi Ira dengan mengecup pipinya.
Teringat akan hak, Ira jadi berpikir tentang..
''Sonia...'' lirih Ira tanpa sadar, tapi masih terdengar oleh Ragata.
Raga memegang tangan Ira. ''Setelah aku sembuh, akan ku ceritakan semuanya padamu. Bukti pun masih ada di kamar rahasia kita. Ck. Tega kamu Hunny. Satu rumah tapi pura-pura jadi pembantu. Padahal saat itu aku sangat yakin, Jika kamu adalah Hunny ku! Setiap pergerakan tangan dan tubuhmu aku mengenalnya. Lagi, suara merdu mu. Aku tau itu kamu Hunny. Tapi kenapa kamu menghindari ku?'' tanya Raga pada Ira.
Ira tersenyum lembut menatap Raga. Tangannya dengan cekatan melepaskan hijabnya.
Raga menatapnya dengan instens. Tanpa berkedip. Rambut hitam panjang masih sama seperti dulu, kulit halus kuning Langsat kini berubah menjadi putih ke kuning-kuningan.
Lagi, tangan Ira bergerak membuka baju gamisnya tersisa hanya celana panjang bermotif hello Kitty dan baju lengan pendek senada dengan celananya.
Ira menunduk menatap Ragata. Ia menelan ludah dengan kasar saat melihat jakun Ragata naik turun menelan Saliva.
Ira semakin dekat dengan nya. Tangan Ira memegangi Raga di kedua sisi kursi roda yang Raga duduki.
Mata mereka saling bertubrukan. Ira tersenyum, Raga pun demikian. Entah siapa yang memulai nya, bibir mereka berdua sudah bertaut.
Menyalurkan rasa sayang yang tertunda selama setahun. Rasa rindu yang menggelora.
Ira duduk di pangkuan ringkih Raga. Dapat Ira rasakan, jika sesuatu di bawah sana sedang on.
Raga tersengal. Begitu juga dengan Ira setelah pagutan itu selesai. Saling bertatapan penuh cinta dan kerinduan.
''Aku sangat merindukanmu Hunny .. sangat merindukan mu. Cup.'' Raga labuhkan lagi kecupan manis di putik merah jambu milik Ira.
Dengan senang hati Ira menerimanya. Seolah tidak sadar oleh waktu, mereka berdua saling menyalurkan rasa sayang dan rasa cinta yang begitu menggebu.
Ira melepaskan pagutan nya setelah menyadari jika ia sedang duduk di pangkuan ringkih Ragata.
''Astaghfirullah! hufffttt... maaf By! Aku lupa! Jika kamu belum kuat menahan tubuhku! Kita akan melakukan nya setelah kamu sembuh saja ya?'' pinta Ira, Raga mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Ia memeluk tubuh Ira yang masih duduk dipangkuan nya. ''Aku senang bisa memeluk tubuhmu seperti ini. Kamu candu ku Hunny. Walaupun kita belum bersatu, tapi menyentuhmu seperti ini adalah suatu kebahagiaan tersendiri di hatiku. Hunny ku.. cintaku .. hidupku.. cup.'' Lagi kecupan manis itu Ira terima dari sang suami.
Ira mendorong pelan tubuh Raga. ''Kamu harus istirahat By! Aku mandi sebentar ya? Mau keluar atau-,''
''Disini saja. Aku akan membantu mu untuk mandi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku membantumu mandi. Terakhir saat aku akan berangkat ke Inggris lima tahun yang lalu.'' ucap Raga pada Ira.
Ira tersenyum. ''Hem.. senangnya hatiku. Ternyata suamiku sudah sukses sekarang ya? Menjadi seorang dokter? Dokter Ragata Hariawan Sp.OG. Kalau pun aku hamil anak kita aku tak perlu periksa pada dokter lain. Aku periksa pada pakar dalam membuatnya saja.'' celutuk Ira asal.
Membuat Ragata tertawa terbahak. Ira terkikik geli melihat Raga tertawa seperti itu. ''Aku berhasil membawa mu Kembali sayangku, jadi... aku minta upah darimu.'' goda Ira sambil mengedipkan mata manja pada Raga.
Raga terkekeh. ''Kemari. Apa yang kamu inginkan Hunny?'' tanya Raga pada Ira.
Ira mendekati Raga dengan kain sebatas dada dan lutut. Ia duduk di pangkuan ringkih Ragata.
Bibirnya manyun seperti bebek, Ragata terkekeh. ''Hem.. apa ya? Rumah, mobil, uang, aku punya semuanya! Satu yang belum aku punya darimu Hubby!'' kata Ira sambil menatap Raga dengan serius.
''Katakan!'
''Aku menginginkan penerus mu terlahir dari rahimku. Aku bisa menjadi ibu dari anakmu. Aku akan menjadi istrimu seutuh nya, jika aku sudah melahirkan penerus mu, suamiku. Bisakah aku mendapatkan nya?''
Ragata tersenyum. ''Tentu. Apalagi yang kamu inginkan?''
''Aku ingin kamu cepat sembuh seperti sedia kala. Sama seperti tahun-tahun yang lalu saat kita bersama. Aku sangat merindukan mu, By.. sangat merindukan mu.. hiks..'' Isak Ira.
Ragata memeluk erat tubuh setengah polos itu. ''Aku juga sangat merindukanmu istriku. Sehari tanpa mu serasa setahun. Lima tahun aku bertahan di Inggris, aku sangat tersiksa Hunny.. sangat tersiksa. Jika bukan karena mu, maka aku tidak akan pergi ke Inggris untuk melanjutkan studi ku!''
Ira mengurai pelukannya dari tubuh Raga. ''Karena aku?''
''Ya, kamu hunny.''
''Tapi... kapan aku menyuruhmu sekolah ke Inggris? Seingat ku tidak?'' kata Ira dengan menerawang jauh.
Cup!
Raga mengecup bahu polos Ira. ''Ayo mandi. Aku bisa khilaf disini lama-lama bersama mu. Aku belum sehat loh..''
Ira tergelak kencang. ''Hahaha... maaf aku lupa by! Kamu belum jawab pertanyaan ku! akan ku tagih selesai mandi!'' ucap Ira.
Setelah mengatakan itu, Ira mandi dengan terburu-buru. Raga yang melihatnya tertawa. Kebersamaan mereka setelah lima tahun berlalu.
Hari ini bersatu kembali setelah sekian lama.
💕💕💕💕💕
__ADS_1
Gimana?
Mau lagi?