Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Periksa


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah sebulan lebih Raga mengalami mual muntah.


Setiap pagi sekali mual dan muntah Kaka menghirup aroma balado udang yang Ira masak untuknya.


Ira sampai menangis dibuatnya. Raga jatuh pingsan saat mencium bau balado udang yang ia masak saat Raga pulang dari rumah sakit tiga Minggu yang lalu.


Ira menangis tersedu saat mendampingi Raga yang tidak sadar sama sekali. Beruntung nya rumah itu sudah ramai penghuninya.


Karena Raga sudah mempekerjakan dua orang IRT wanita dan dua laki-laki untuk menjaga pintu gerbang dan mengurus kebun sayur dan bunga milik Ira.


Jangan tanyakan, kenapa seorang pemilik rumah sakit itu hobi berkebun. Semua itu menurun dari Mak Alisa.


Mak Alisa pernah bilang. Jika masih ada lahan yang bisa di olah, kenapa harus beli? Beli boleh.


Tapi belilah pada pedagang bawah. Jangan di supermarket agar rejeki kita bisa terbagi untuk mereka juga. Begitu kata Mak Alisa.


Pintu gerbang yang selalu Ira buka sendiri selama belum ada penjagaan, Ira sering mengalami sakit di tangan.


Karena gerbang rumah mereka model tarik dan Sorong agar pintu terbuka. Raga memahami semua itu.


Dan hari ini, mereka berdua sedang dalam perjalanan, kira Ira sering mengeluhkan kram di perut bagian bawahnya.


Saat tau hal itu. Raga dengan segera mrmbawa kerumah sakit. Dan disinilah mereka sekarang. Mereka berdua baru saja tiba di pekarangan rumah sakit milik Ira yang di kelola oleh Raga.

__ADS_1


''Selamat Pagi Nyonya...''


''Selamat pagi...'' sahut Ira dengan tersenyum.


Tapi tidak dengan Raga. Wajah itu selalu datar. Mereka semua sudah paham siapa direktur utama mereka itu.


''Masuk hunny!'' tegas Raga


''Ya,'' sahut Ira


Dengan segera ia merebahkan dirinya di angkat pasien. Raha sudah tau kenapa Ira seperti itu.


Bahkan saat mereka melakukan penyatuan, Raga selalu lembut saat menggauli Ira. Tapi sering kali Ira ngambek.


Ira merengut sebal saat memikirkan hal itu. Tapi ia bisa apa? Jika Raga selalu mengatakan, itu semua demi kebaikan nya dan juga calon bayinya nanti yang akan hadir sebentar lagi.


Alasan yang tidak masuk akal menurut Ira. Ira sempat merajuk dan tidur di kamar tamu rumah mereka.


Raga hanya bisa bersabar saat itu. Bahkan Ira sering kali memintanya duluan. Jika Raga tidak memulainya.


Ck! Dasar ira!


Pikir Raga. Ia tersenyum tipis saat tau, jika Ira sudah memilki sesuatu yang mereka inginkan dan selalu mereka pinta di dalam sujud mereka.

__ADS_1


''Baiklah, masih sakit ya perutnya?'' tanya Raga


Dengan cekatan tangan kekar itu terus saja menggerakkan kursor hingga menunjukkan sesuatu di layar monitor di hadapan nya.


Deg!


Tangan Raga berhenti menggerakkan kursor itu. Matanya mengembun, buliran bening siap meluncur.


Mendapati sang suami hanya diam sambil menatap layar monitor, Ira pun juga menoleh kesana.


Deg.


Deg.


''By!'' panggil Ira dengan mata berkaca-kaca.


Raga menoleh dan tersenyum, tapi air mata mengalir di pipinya. ''Selamat hunny! Kamu akan segera menjadi ummi! Menjadi ummi untuk baby twins kita!''


Deg!


Ira terkejut lagi. Bukan ia tak tau. Karena ia tau, makanya mata itu berkaca-kaca. Karena hal seperti ini, sudah pernah ia alami saat kehamilan Mak Alisa dulu.


Ketika Mak Alisa hamil bayi twins Algi dan Nara.

__ADS_1


__ADS_2