
Sore harinya.
Raga keluar dari rumah sakit bersamaan dengan Perawat baru itu juga sedang ingin masuk ke dalam rumah sakit.
Hampir saja mereka bertubrukan jika Raga tidak segera menghindar. Bukan Raga namanya jika tidak dingin dan ketus kepada seseorang yang tidak disukai nya.
Brruukkk..
''Aucchh.. ishhh.. bukannya di tolong, malah menghindar! Gimana sih?'' sungutnya sambil berusaha berdiri.
Raga menatap dingin padanya. Setelah gadis itu berdiri, ia terkejut siapa yang hampir saja menabraknya tadi.
Ia menoleh dimana pemuda jangkung itu sedang menatap dengan dingin.
Deg!
''Kak Raga!'' serunya, ia mundur kebelakang dua langkah.
Sementara Raga masih di tempat nya berdiri saat menghindar dari gadis itu tadi. ''Kalau jalan di perhatikan! Jangan sambil memegang ponsel!'' ketus Raga
Gadis itu tertunduk malu. ''Maaf Kak...'' cicitnya
Raga tak menyahuti, dengan segera ia keluar dari rumah sakit itu dan menuju mobil Avanza miliknya.
Gadis itu tersadar saat Raga sudah menghilang dari hadapan nya. Ia menoleh sekitar untuk mencari keberadaan Ragata.
Ia melihat Jika Raga sedang membuka pintu mobilnya dan akan segera masuk, setelah ia membuka jas putihnya.
Gadis itu berlari mengejar Raga yang akan masuk ke mobil.
Grep!
Deg!
Raga terkejut. Dengan segera tubuh jangkung itu berbalik dan melepaskan pelukan gadis itu dari tubuhnya.
Raga menghempaskan tangan gadis itu, hingga gadis itu jatuh terhuyung ke samping dan mendarat di lantai parkir mobil miliknya.
__ADS_1
Security disana, terkejut melihat Raga mendorong gadis itu. Dengan cepat ia berlari. Belum lagi kakinya menuju kesana, ia berhenti mendadak karena ucapan Dokter Raga.
''Beraninya kau menyentuh tubuhku! Apa kau ingin tangan mu ku patahkan? huh?!'' seru Raga dengan suara beratnya.
Gadis itu mendongak menatap Raga. Baju putih lengan panjang, begitu juga dengan celana panjang kotor karena terjatuh tadi.
Ia berdiri dan mengibas bajunya yang kotor terkena tanah bekas ban mobil di parkiran rumah sakit itu.
Ia menatap sendu pada Raga. ''Kenapa Kak? Kenapa kami selalu menolak ku? Apa kurangnya aku dibandingkan dengan gadis sok suci itu! Cih! Belum menjadi istri saja, sudah berani buka aurat seperti itu! Dimana baiknya coba?!''
Deg!
Raga mengepalkan tangannya. Ia menatap datar pada Gadis itu. Gadis yang hadir Karena kesalahan nya dimasa lalu.
''Apa katamu?! Sok Suci?!! Berani sekali kau mengatai istriku, huh?!'' seru Raga dengan rahang mengetat.
Gadis itu terkejut mendengar ucapan Raga. Namun, itu hanya sebentar. Setelah itu ia terkekeh, ''Istrimu? Kapan adik kelas kita itu menjadi istrimu Kak Raga! Dari dulu pun kamu selalu mengatakan hal itu padaku! Mana buktinya?! Bahkan pesta pernikahan mu saja tidak ada? Cih! Sok ngaku-ngaku kalau dia istrimu?! Heh! Jangan berbohong Kak Raga! Aku tau siapa dirimu! Kau sengaja menghindar dariku bukan?!''
Deg!
Lagi, amarah Raga semakin memuncak. Tangannya terkepal semakin erat. Hingga buku-buku tangannya memutih.
Santi menoleh dan..
Hap!
Mulutnya yang ingin berbicara pada Raga, segera Raga sumpalkan dengan sapu tangan milik Ira yang ia ambil dari saku celananya.
Santi membeku di tempat melihat tatapan Raga begitu datar, dingin dan tajam. Raga mengapit dagu Santi, membuat gadis itu bertambah terkejut.
''Mmm.. ehmm.. emmmm..'' gumam Santi Karena mulutnya terkunci oleh Capitan tangan Raga begitu kuat.
Wajah Santi memerah saking sakitnya. Ia memejamkan Kedua matanya dengan tangan nya memegangi tangan Raga yang sedang mencapit dagunya.
Gadis itu meronta-ronta karena rasa kebas di dagunya. Security yang berdiri di belakang Raga mendekati mereka berdua.
''Berhenti Pak Danu! Jangan mencoba untuk menghalangi saya! Gadis ini sudah berulang kali menyakiti istri saya! Dan hari ini? Dia menghina istri saya dengan mengatakan sok Suci! Istri saya yang bernama Ira Sarasvati memanglah suci dari pertama aku mengenalnya! Tubuhnya tidak tidak bersentuhan dengan siapapun selain adiknya, Papinya dan juga aku! Suaminya! Kau tau apa tentang istriku, heh?!'' Raga semakin mencapit dagu itu dengan kuat.
__ADS_1
Hingga rasa tulang wajahnya itu akan rontok seketika, saking sakitnya Capitan tangan Raga di dagunya.
Walau tangan itu berlapis dengan jas dokternya, namun rasa Capitan itu begitu sakit terasa.
Santi sampai meneteskan air matanya. ''Emmm.. emmmm.. emmmm..'' hanya itu yang bisa ia katakan.
Dengan tangan nya terus memukul-mukul tangan Raga. Air mata gadis itu terus membasahi wajahnya.
Raga tidak tersentuh sedikitpun.
''Aku belum lupa dengan apa yang dulu pernah kau perbuat pada istriku, Santi! Aku masih menyimpan bukti itu. Bukti dimana kau sengaja ingin membunuh istriku sepuluh tahun silam!''
Deg!
Santi berhenti meronta-ronta, ia menatap sendu pada Raga. ''Jika bukan aku memikirkan istriku yang sedang sakit saat itu, maka aku akan membunuh mu, Santi!''
Ddduuaaarrr..
Santi tersentak mendengar nya. Ia menatap nanar pada Raga. Raga melepaskan Capitan tangan nya dari wajah Santi.
Santi bernafas lega. Namun itu hanya sementara, setelah itu ia harus mendapatkan ucapan yang begitu menyakiti hatinya dari Ragata.
''Kau selalu menuduh istriku yang gatal, kecentilan, dan tidak tau malu. Bisanya hanya mengejar ku saja! Kau tau Santi? Ira tidak pernah sekalipun mengejarku! Bahkan ia rela melepaskan ku demi kalian wanita yang tidak tau diri selalu mengatakan baik dihadapan semua orang! Sayangnya, aku tidak ingin melepaskan nya sekalipun. Bahkan sampai aku mati pun, aku tidak mengijinkan dirinya dimiliki oleh siapapun selain aku!''
''Kau mengatakan istriku sok suci? Sekarang aku tanyakan padamu. Suci mana dibandingkan dirimu yang bermuka dua dihadapan ku? Suci mana dirimu yang selalu menuduh istriku yang tidak-tidak! Suci mana istriku dan kamu yang sudah lebih dulu dijamah oleh lelaki lain saat kamu masih sekolah dulu.''
Deg!
''Istriku memang suci, Santi! Sangat Suci! Bahkan hatinya pun Suci! Tidak seperti hatimu yang kotor! Yang selalu memikirkan hal-hal buruk untuk mencelakai orang lain! Bahkan demi kalian wanita kotor yang tidak tau malu, yang selalu menyiksanya, ia masih bisa memaafkan kalian bertiga! Jangan lupakan masa lalu Santi! Aku belum lupa! Dan Aku belum tua untuk bisa melupakan semua kejadian sepuluh tahun silam, yang mana kau dan para sahabat mu, pernah ingin mencoba melenyapkan istriku saat di berada di sumur tua di belakang sekolah kita!''
Ddduuaaarrr...
Kaki Santi lemas tak bertulang. Ia jatuh ambruk ke tanah dengan tatapan kosong. ''Jika kau pikir, aku tidak mengetahui nya, kau salah Santi! Kau dan antek-antek mu itu salah besar menilai ku! Aku tidak sebodoh yang kalian pikir kan! Aku punya bukti tentang kejahatan kalian terhadap istriku sepuluh tahun yang lalu!''
Deg!
Deg!
__ADS_1
💕💕💕💕💕
Apa lagi itu? Masalah masa lalu masih berbuntut panjang ya?