Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Bukan Pembawa sial


__ADS_3

Ira dan Raga masih berusaha untuk menyadarkan Mak Alisa. Dengan tangan gemetar, Ira sekuat tenaga mencoba untuk tetap fokus.


Padahal saat ini pikiran nya terus merayap enyah kemana-mana. Raga yang melihat nya, memeluk Ira.


''Sabar sayang.. ini ujian buat kita. Orang yang paling banyak mendapatkan ujian adalah orang yang istimewa di mata nya. Yang sabar ya? Biar kakak hubungi ummi dan Abi dulu.'' Imbuh ya dengan segera melepaskan pelukannya. dari Ira dan berjalan menuju kamar mereka dengan tergesa.


Setelah mendapatkan ponsel itu, ia segera mendiskusikan nomor Abi Hendra. ''Assalamualaikum Abi! Cepat kerumah, Lana kecelakaan! Mak Alisa pingsan belum sadarkan diri! Tolong cepat Bi. Jika tidak, Mak Alisa pun akan bernasib sama dengan Lana.'' Dengan sekali tarikan nafas, Raga mengatakan hal itu kepada Abi Hendra.


Abi Hendra yang baru saja menyeruput jus jeruk, ia menyemburkan minuman itu hingga terbatuk-batuk.


''Uhuk.. uhuk.. uhuk.. Raga! Ummi! uhuk.. uhuk.. Alisa!!'' pekik Abi Hendra sembari terus terbatuk-batuk.


Abi Hendra memukul dada nya dengan kuat. Setelah dirasa lapang, ia berlari keluar tanpa membawa apapun.


'"Abiii!!! Tunggu ih!" panggil Ummi Hani.


Ummi Hani yang baru saja ke dapur untuk mengambil kue bolu untuk di berikan kepada Abi Hendra, terkejut mendengar teriakan Abi Hendra tentang Mak Alisa.


"Tunggu Bi! Tunggu ummi! Kita sama-sama Kesana nya! Abi ganti baju dulu. Itu badan penuh dengan keringat! Mana nggak pakai sendal lagi! Tenang Bi! Tenang...'' Ucap Ummi Hani, saat melihat Abi Hendra tangannya gemetaran.


''Alisa, Ummi! Lana! Ira! Raga! Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?!'' pekik Abi Hendra begitu frustasi karena terkejut mendengar berita itu.


''Istighfar Abi! Astaghfirullah ya Allah! Ingat! Masih ada Allah yang menjaga mereka, kenapa kamu jadi panik begini? Sabar.. tenang.. ''Ucap Ummi Hani lagi dengan memeluk tubuh Abi Hendra.


Abi Hendra tersadar dari serangan paniknya. ''Astaghfirullah.. ayo kita kesana. Mereka pasti sangat membutuhkan kita saat ini! Abi ganti baju dulu!''


Ummi Hani mengangguk dan berlalu mengikuti Abi Hendra yang telah duluan. Setelah siap, Abi Hendra dan Ummi Hani segera bergegas ke rumah Alisa.


Setengah jam kemudian mereka tiba dirumah Mak Alisa. Terdengar dari dalam suara Isak tangis Ira dan juga suara Raga yang masih berusaha menenangkan Ira.


''Assalamualaikum...''


''Waalaikum salam.. Ummi, Abi! Mak Alisa!'' sahut Raga sembari menunjuk ke arah Alisa yang tergeletak dengan wajah pucat.


Melihat itu dengan sigap Abi Hendra membopong Mak Alisa untuk segera dibawa ke kamar nya diatas.


Di ikuti ummi Hani, Ira dan Raga. Sesampainya disana, Mak Alisa dibaringkan perlahan oleh Abi Hendra.

__ADS_1


Ia menatap nanar pada cinta pertama nya itu. Kasihan sekali kamu Lis.. Baru sekejap mendapatkan kebahagiaan tapi sudah mendapat ujian lagi.


Seminggu yang lalu, putri kita. Dan sekarang? Suami sah mu dan juga putra mu! Malang sekali nasib mu Lis..


Apa yang bisa ku lakukan untuk bisa membuat mu bahagia?? Batin Abi Hendra.


Abi Hendra tidak sanggup melihatnya. Ia tak kuat. Ummi Hani pun paham. Ia mengangguk pada Abi Hendra dan Abi Hendra pun keluar.


Sedangkan Mak Alisa masih berusaha di sadarkan oleh Ummi Hani. Ira masih saja terisak di kaki Mak Alisa.


Kepala nya terasa pusing karena terlalu lama menangis. Kiara dengan setia memijat kepala itu dengan lembut. Sementara Annisa sudah tertidur di sisi kiri Mak Alisa.


''Bangun Lis.. bangun... Lana butuh kita!'' gumamnya sambil terus mengoleskan kayu putih itu di kepala serta hidung Mak Alisa.


Mak Alisa masih saja pingsan tak sadarkan diri setelah mengetahui jika kedua orang tersayang nya mengalami kecelakaan.


Ira masih setia menunggui Mak Alisa. Dengan ditemani ummi Hani dan adik Raga yang nomor dua. Kiara.


Ternyata saat tadi Raga menelpon Abi Hendra, Kiara baru saja tiba. Setelah menghubungi Abi Hendra dan menunggui mereka tiba, baru kemudian Raga ke rumah sakit sendirian untuk melihat kondisi Lana.


Abi Hendra hingga ingin menghubungi dokter keluarga mereka karena melihat Mak Alisa yang tak kunjung sadar.


''Ayolah Mi! Alisa belum sadar loh sedari tadi? Apa sih yang ditunggu?? Belum lagi Lana seorang diri di sana?'' ujar Abi Hendra.


Ummi Hani menghela nafasnya. ''By.. aku sangat kenal dengan sahabat ku ini. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Sebentar lagi ia pasti siuman. Setelah Alisa siuman, kita semua akan ke rumah sakit. Bukan kah Raga sudah lebih dahulu kerumah sakit??''


''Memang benar! Tapi Abi khawatir Mi! Haishhh.. lni lagi nih Abang Emil! di telpon kok nggak diangkat-angkat sih?!'' gerutu Abi Hendra.


Ummi Hani hanya bisa terdiam. Saat ingin mengoleskan kayu putih lagi di kening Alisa, Alisa menggerakkan sedikit matanya.


''Alhamdulillah! kamu sadar Lis?? Akhirnya...'' ucap ummi Hani.


Abi Hendra menoleh begitu juga dengan Ira. Ia sampai bangkit dari pembaringan nya yang sedang memeluk kaki Alisa.


''Abang... Papi...'' lirih Alisa masih dengan mata terpejam.


''Ayo bangun Lis! kita harus segera ke rumah sakit! karena Lana membutuhkan kita disana! ayo!'' ajak ummi Hani sembari mendudukkan Alisa agar bisa bersandar di kepala ranjang kamar nya.

__ADS_1


Saat ini Kiara juga sedang bersama mereka, tapi tugasnya adalah mengurus Annisa.


Karena Ira juga shock saat mengetahui jika Lana dan Papi Gilang kecelakaan. Walau Annisa tertidur di sisi Mak Alisa, tapi ia tetap bertugas menjaga bayi kecil itu.


***


Setelah sadar dan mendingan, Mak Alisa, Ira, Ummi Hani, dan Abi Hendra segera pergi kerumah sakit.


Setibanya disana, Mak Alisa langsung saja berlarian tanpa memperhatikan apapun yang ada di depannya.


Mak Alisa berlari di ikuti Ira dan ummi Hani di belakang nya, setelah bertanya dimana kamar Lana berada.


Tiba disana, bukannya Mak Alisa masuk. Malah ia berdiri mematung karena mendengar ucapan wanita paruh baya untuk nya.


Disana ada dua orang paruh baya, juga dua orang laki-laki paruh baya. Dan juga seorang gadis seumuran Papi Gilang memakai gaun pengantin.


Kakek Kosim juga tak jauh berada disana.


''Dasar wanita sialan! Gara-gara anaknya itu, putra kita harus masuk UGD. Dasar wanita sialan! pembawa sial! Kalau aku bertemu dengan nya! tidak ku izinkan lagi anak nya itu bertemu dengan putra ku!!''


Deg.


Deg.


Jantung Mak Alisa terasa seperti dihantam palu Godam. Sangat berat dan sesak. Dirinya dan putranya dituduh atas kecelakaan yang menimpa Papi Gilang.


''Mak...'' lirih Ira dengan mata berkaca-kaca.


''Astaghfirullah!! kenapa pula nenek tua itu menuduh kamu sebagai penyebab terjadinya kecelakaan itu?! Siapa pula yang mau?!'' sungut ummi Hani.


Mak Alisa hanya bisa diam mematung. Kakinya lemas tak bertulang, saking terkejutnya dengan perkataan wanita paruh baya disana. Mak Alisa sampai jatuh terduduk di kursi tunggu.


''Mak ku bukan wanita pembawa sial!!''


💕


TBC

__ADS_1


__ADS_2