Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Raga tanpa Ira seperti Raga tanpa nyawa


__ADS_3

Ira tersadar jika dirinya sedang di kerumuni orang banyak. Ia melihat kesan kemari. Sadar, jika dirinya tidak memaki niqob, Ira gelagapan.


''Allahu! Niqob! Niqobku!'' seru Ira begitu panik.


Tangannya meraba-raba sekita tapi tak juga ia temukan. Salah seorang ustadzah memberikan niqob milik Ira.


''Bangun dan berwudhu lah. Sudah masuk waktu isya.'' tuturnya lembut.


Ira terkejut. ''Isya? Maghrib?''


Ustadzah yang bernama Zafa itu terkekeh melihat Ira terkejut mendengar ucapannya. ''Kamu tertidur lumayan lama sayang. Ayo, kita wudhu. Kakak juga sama seperti mu. Kehilangan sholat Maghrib tadi.'' tuturnya lagi begitu lembut.


Membuat Ira tertegun. ''Iyakah?? Maaf..'' lirih Ira dengan rasa bersalah.


Ustadzah Zafa tersenyum. ''Tak apa sayang.. ayo. Kita wudhu dulu. Setelah ini, kita harus bergerak lagi. Kayaknya besok kita agak terlambat sampainya disana. Ayo. Jangan di pikirkan. Jika kamu terus memikirkan nya, kamu akan sakit nantinya. Serahkan semuanya kepada Allah. Biarlah Allah yang mengurus nya, hem?'' tuturnya lagi masih dengan lemah lembut.


Ira mengangguk pasrah. Dada itu terasa sesak lagi. Tanpa di pinta buliran bening itu mengalir lagi.


Sementara Raga seperti orang bingung. Ia melihat kesan kemari. Ada Ummi Hani, Abi Hendra, dan Rayyan.


''Ummi?''

__ADS_1


''Ya, Nak? Kamu mau apa? Mau minum? Abi, ambilkan minum. Kamu mau tidur? Jangan dulu ya? Kamu harus sholat dulu. Udah masuk waktu isya.'' ucap Ummi Hani


Raga terdiam. ''Sudah isya?'' gumamnya tapi masih terdengar oleh ummi Hani.


''Ya, bangun dan berwudhu lah. Setelah ini kamu makan dan istirahat. Ummi dan Abi akan tetap disini menemani kamu. Ayo! Tidak baik menunda-nunda waktu sholat.''


Raga patuh. Ia bangkit dan menuju kamar mandi. Setelah itu ia sholat yang di Umami oleh Rayyan di mushola mereka.


Selesai sholat, ummi Hani memaksa Raga untuk makan. Raga hanya makan tiga suap. Selebihnya ia tinggalkan.


Ia tak berselera makan. Teringat akan makanan di meja, ia mengingat jika Ira selalu mengambilkan nya makan dan gadis berniqob yang tidak di ketahui oleh Raga itu adalah istrinya, Ira tetap duduk makan bersama nya.


''Hunny...'' lirih Raga dengan dada mulai terasa sesak.


Dengan segera ummi Hani menyodorkan makanan yang sudah ia ambil menggunakan tangan nya dan disuapi ke Raga.


Raga menatap tangan ummi Hani yang sudah ada di depannya. ''Makan, Nak. Jika kamu tidak makan, maka ummi pun tidak makan.'' tegas ummi Hani.


Raga membuka mulutnya. ''Hiks.. Hunny...'' isaknya lagi sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.


Ummi Hani pun ikut terisak. Rayyan mengepalkan kedua tangannya. ''Abang sudah selesai, ummi, Abi. Abang pamit pulang. Assalamualaikum..'' lirih Rayyan dengan bibir bergetar.

__ADS_1


''Eh, kamu belum habiskan makanan nya, nak? Makan dulu baru pulang.'' tahan ummi Hani pada Rayyan.


Rayyan tersenyum, namun sendu. ''Nanti Abang bisa makan lagi dirumah sama Mami. Abang pamit, pulang. Assalamualaikum.. ummi, Abi..'' Rayyan menyulurkan tangannya untuk menyalami ummi Hani dan Abi Hendra.


''Ya, sudah. Hati-hati, jika ada kabar dari Ira, segera beritahu ummi, Hem?''


''Tentu, Ummi.'' sahut Rayyan.


Dengan segera ia pergi setelah menyalami tangan Raga. Raga menangis ketika Rayyan memeluknya.


''Hiks.. Abang kuat! Nanti aku kabarin sama Abang, gimana keadaan Kakak ya? Abang harus sehat! Jika mungkin, nanti kita berdua yang menyusulnya kesana. Aku pulang Bang..'' Ucap Rayyan.


Ragata tidak menyahut ucapan Rayyan. Bisa memeluk Rayyan saja sudah cukup baginya. Tubuh saudara tiri Ira itu begitu membuat Raga nyaman.


''Ira, Dek.. Ira.. hiks.. Kakak mu...'' lirihnya masih dengan menangis.


Rayyan semakin erat memeluknya. Ummi Hani pun ikut menangis. Rayyan pulang setelah berhasil menenangkan Raga.


Kini tinggal lah Raga seorang diri. Duduk termenung meratapi nasibnya yang begitu miris.


Akan sulit baginya untuk menjalani hidup setelah ini. Raga tanpa Ira seperti Raga tanpa nyawa.

__ADS_1


💕💕💕💕


__ADS_2