
Sepulang Raga dari rumah Mak Alisa, sekarang Raga dan Abi sedang berbicara. Ummi Hani sedang di dapur karena sedang membuatkan teh hangat untuk dua jagoan nya itu.
Setibanya ummi Hani disana, Raga bersiap ingin mengatakan sesuatu.
''Abi... ummi... Raga ingin minta izin sama kalian berdua. Raga ingin menikahi Ira sepulang Raga dari camping sekolah. Raga takut Bi.. jika yang kami lakukan itu adalah dosa.. Dari pada menjadi dosa, lebih Raga menikahi Ira secara agama dulu. Jadi.. kalaupun Raga menginap disana, tidak akan ada yang melarang. Bolehkan Abi? Ummi??''
Kedua pasangan belum paruh baya itu terkejut. ''Menikah, Nak?? Kamu tidak salah??''
Raga menggeleng. ''Ini keinginan Raga ummi.. toh, setelah SMA nanti Raga juga akan menikahi Ira, bukan? Jadi.. ya, lebih baik sekarang daripada nanti.''
Abi Hendra menatap putra nya dalam diam. Ummi Hani menghela nafas panjang. ''Tapi kamu masih sekolah, Nak.. apa bisa?? Abi??''
''Ya bisa atuh Mi.. kan nikahnya sembunyi-sembunyi? Kalau tau, ya Raga bakalan di keluarin dari sekolah.'' sahut Raga dengan sedikit terkekeh.
''Abi! jawab atuh! ih!'' gerutu ummi Hani, karena melihat suaminya itu terus saja terdiam.
Abi Hendra menghela nafasnya. ''Nak.. pernikahan itu bukan main-main. Apakah kamu sudah memikirkan masak-masak? Bukan Abi tidak percaya pada mu, hanya saja.. umur kalian masih sangat muda. Dan juga.. kamu sebentar lagi mau masuk pesantren?''
''Kan pesantren nya sama dengan Ira, Bi. Kalau pun kami tidak bisa bertemu, palingan pulangnya kami kan bisa bertemu??''
''Abi masih belum paham dengan jalan pikiran mu. Maksud kami menjodohkan kalian berdua itu ialah untuk memperkuat tali silaturahim. Bukan sekarang, Nak.. tapi nanti!'' sahut Abi Hendra.
''Sekarang atau nanti, sama saja Bi.''
''Kamu yakin bisa Raga??'' tanya Abi Hendra lagi.
''Yakin!'' sahutnya mantap.
''Kamu Taukan jika kalian itu masih SMP. Masih labil-labil nya. Apakah kamu bisa menahan dirimu, agar tidak menyentuh Ira?? Kamu pahamkan apa yang Abi katakan??''
Raga mengangguk. ''Paham Abi.. palingan celup-celup dikitlah! kan nggak mungkin langsung jadi??''
Plaakk..
''Aduhhh.. ummi! kok di geplak sih?! sakit ini kepalanya!'' gerutu Raga dengan sedikit mendesis menahan sakit.
''Dasar anak kurang asam! Enak aja kamu mau nyelup-nyelup mantu ummi! Kamu pikir, mantu ummi itu teh celup??'' sewot ummi Hani.
Abi Hendra tertawa. ''Sabar sayang.. Raga itu putra mu..''
Ummi Hani mendelik. ''Memang putra ku! tapi sifatnya? mewarisi sifat mu! Sama-sama tukang celup!'' gerutu ummi Hani.
Membuat Abi Hendra lagi, lagi tertawa. Raga hanya tersenyum saja. ''Ishh... kamu boleh nikahin mantu ummi, tapi kamu tidak boleh mencelup nya hingga kamu pulang dari Inggris nanti! Jika kamu ingin menikah dengannya setelah acara camping mu selesai, maka itu syarat dari ummi! Tidak ada penolakan! dan tidak ada bantahan!'' tegas ummi Hani, sembari menatap dua jagoan nya yang mengap-mengap tak jadi bicara.
__ADS_1
''Ummi kok gitu sih?! Nggak asik ah! Masa' istri sendiri nggak bisa di celup sih?!'' gerutu Raga.
Abi Hendra terkekeh. ''Jika kamu mau, Jika enggak pun tidak masalah buat ummi! toh, kamu juga yang rugi!'' imbuh ummi Hani santai.
''Ishhh...'' gerutu Raga.
Abi Hendra terkekeh lagi. ''Sudahlah, Nak.. ikuti saja apa kata ummi, mu. Semua itu demi kebaikan mu. Itu memang seharusnya. Jika terlalu dini, takutnya kami keduluan sama kamu!''
''Maksudnya??''
Abi Hendra tertawa, sedang ummi Hani mendelik. Ia menatap tajam sang suami.
''Sudah, usah di dengarkan apa yang di katakan oleh Abi, mu. Besok kami akan kesana menyampaikan hal ini pada Tante Alisa. Jika ia menyetujui, maka pernikahan mu akan terlaksana. Namun, jika Tante Alisa menolak, maka kamu harus pasrah dan menerima keputusan nya dengan lapang dada. Kamu dengar??'' tanya ummi Hani.
Raga mengangguk pasrah. ''Iya deh... dari pada nggak nikah sama sekali??''
Abi Hendra tertawa mendengar ucapan putra tunggal nya itu.
Setelah pembahasan itu, Raga istirahat karena besok mereka akan menempuh perjalanan yang lumayan jauh.
Keesokan paginya.
Raga telah bersiap-siap untuk pergi ke acara camping ke Rantau Parapat. Begitu juga dengan Ira.
Ia juga sudah siap dengan perlengkapan nya. Lana sudah sedia menunggu Ira untuk membawa tas ransel yang berisi bahan kemah untuk Ira di sana.
Setibanya di sekolah, Ummi Hani melihat Ira yang juga sudah tiba disana. Dengan gamis berwarna biru dongker, serta hijab senada, menambah kecantikan Ira dimata ummi Hani.
Raga yang melihat pun terpana. ''Masyaallah... cantiknya...'' gumam Raga, dan di dengar oleh ummi Hani.
''Menantu siapa dulu dong?? Ummi...'' sahut nya jumawa. Raga tertawa.
Mendengar suara Raga, ira menoleh dan mendapati ummi Hani disana sedang tersenyum dengan nya.
Ira pun membalas senyum nya. Kakinya melangkah menuju ummi Hani, tapi belum tiba disana, seseorang sudah mendahuluinya berjalan ke arah ummi Hani.
''Assalamualaikum Bu...''
''Waalaikum salam.'' sahut ummi Hani.
Ummi Hani menatap Ira yang tersenyum namun sendu. Ummi Hani merasa tercubit hatinya.
Gadis itu menyalami ummi Hani, Raga melihat sekilas ke arahnya. Setelah itu matanya tertuju pada Ira yang melangkah menjauhi nya.
__ADS_1
Raut wajah Raga berubah menjadi datar. Ia tau, pasti karena gadis yang baru saja datang mendahului Ira.
''Ummi, Raga kesana sebentar.''
Ummi Hani mengangguk. Gadis yang bernama Nessa itu, mulai mengakrabkan diri dengan nya.
Ummi Hani hanya membalas seadanya pertanyaan dari dari Nessa. Matanya awas menatap Ira yang sedang mengurus segala perlengkapan nya seorang diri disana.
''Sayang...'' panggilnya begitu lirih tapi masih terdengar oleh Ira.
Ira menoleh dan tersenyum. ''By...'' panggilnya.
Raga tersenyum manis membuat seseorang terpana melihat nya. Siapa lagi kalau bukan Nessa.
Ia yang berjalan menuju Raga, berhenti karena melihat Adik kelasnya itu begitu akrab dengan Raga.
Ada rasa tidak nyaman dihatinya melihat itu. Ummi Hani yang melihat Ira dan Raga sedang berbicara, berjalan mendekati kedua anaknya itu.
''Sayang nya ummi...'' panggil ummi Hani.
Ira menoleh dan tersenyum manis. ''Ummi...'' ia datang dan memeluk ummi Hani begitu erat.
Dan dibalas tak kalah erat oleh ummi Hani. ''Kangen banget sama putri ummi yang satu ini? Kamu kok pergi sih tadi saat temannya Raga datang??''
Ira tersenyum. ''Kakak nggak mau mengganggu ummi... dikira nanti kakak cari perhatian lagi sama ummi.'' celutuk nya membuat ummi Hani merengut.
''Kamu kenapa sih lebih memikirkan orang lain daripada ummi?? Ummi itu maunya kamu sayang, bukan yang lain..'' lirih ummi Hani.
Ira tertawa, semua itu tak luput dari perhatian seseorang. ''Ummi... kakak tetap menjadi kesayangan nya Ummi... ummi tenang aja ya? Masalah teman kak Raga tadi, kakak sengaja, agar bisa memberi waktu sedikit padanya untuk lebih mengenal ummi.''
''Maksudnya, kamu sengaja mau ngedeketin ummi sama gadis itu begitu?!'' ketus ummi Hani.
Raga dan Ira tergelak. ''Nggak gitu ummi.. kakak hanya mencoba mengakrabkan ummi dengan nya, mana tau ummi menginginkan calon mantu pengganti seperti nya??'' goda Ira.
''Ira!'' seru Raga.
Ira mengulum senyum melihat raut wajah Raga yang berubah. Ummi pun sama bertambah jutek aja wajahnya.
Ira tertawa melihatnya. '' Ummi tenang aja.. kakak nggak akan pergi, kecuali kak Raga yang menginginkan nya..'' lirih Ira dengan wajah menunduk.
''Tidak ada yang akan pergi tanpa seizin ku!''
Eh?
__ADS_1
💕
Kamu kenapa Bang??