
''Udah ah! Ustadzah pulang ya? Jangan lupa besok hafalan nya kalian harus setor! Tak ada bantahan! Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam.. ustadzah.. lain kali Ustad datang lagi kemari ya? biar kami disini bisa cuci mata setiap hari. Mumpung ada cogan!'' celutuk salah satu murid.
Membuat Ira melotot kan matanya. Ia menatap tajam pada murid itu. ''Besok! Kamu duluan yang maju untuk sektor hafalan!'' ketus Ira
Dengan segera ia menarik sang suami untuk keluar dari ruangan itu. Mulut Ira mengomel sepanjang jalan.
Ragata terkekeh mendengar Omelan Ira. ''Hunny .. ini mau kemana? Masa kebelakang pesantren? Mau ngapain?'' tegur Raga, Ira tersadar dan berhenti dari mengomelinya karena sudah berani datang dan masuk kedalam pekarangan pesantren.
''Mau nyari nyai kunti!'' ketus Ira.
Raga tertawa. Ia menarik lengan Ira dan mengahadapi padanya. ''Yakin, mau cari nyai kunti? Bukannya kamu ngajak kakak kemari untuk pacaran? hem?'' goda Raga pada Ira.
Membuat Ira melengos. Benar kata Raga, buat apa ke belakang pesantren yang banyak pepohonan tinggi besar kalau bukan untuk pacaran?
''Pacaran??''
Raga mengangguk. ''Ya, pacaran. Kita tidak pernah pacaran semenjak kita sah menjadi suami istri. Mau ya? Pulang dari sini kita dinner romantis dulu? Mau?'' tanya Raga, ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh semampai Ira.
Ira menatap dalam mata Raga. ''Tidak usah dinner boleh?''
''Kenapa? Kakak 'kan mau pacaran sama kamu? Kayak anak ABG jaman sekarang? Bedanya pacaran kita sudah halal. Jadi bebas mau melakukan apapun.''
Ira terkekeh di balik niqobnya. ''Maksud aku tuh.. tidak usah dinner diluar sayang.. tapi dirumah kita! Bukankah lebih menyenangkan pacaran dirumah ya? Bisa bebas melakukan apapun yang kita inginkan. Tanpa takut ketahuan sama orang yang akhir berujung malu??'' ucap Ira dengan pipi merona.
Ragata tertawa. Suara tawanya hingga mengejutkan seorang ustadzah karena mendengar suara seorang lelaki di pesantren mereka.
Dengan cepat kaki tuanya melangkah menuju ke belakang sekolah yang sepi. Tiba disana ia mematung melihat seorang pria dewasa sedang ******* bibir salah satu ustadzah di pesantren itu.
Tangannya mengepal erat, namun terlepas kala mengetahui jika ustadzah itu adalah ustadzah terbaiknya selama setahun ini.
Dan mereka baru saja melangsungkan resepsi pernikahan secara besar besaran. Ustadzah itu terkekeh kala melihat Ira yang malu-malu pada sang suami.
Sedang sang suami semakin gencar menggoda nya. Tanpa sadar, suara tawa itu terdengar oleh Ira dan Ragata.
''Astaghfirullah!! Ummi Na!! Maaf ummi! Maaf.. hehehe...'' Ira nyengir kuda setelah terkejut.
Raga pun imut terkekeh. Ummi Na tertawa. ''Kalau mau pacaran itu jangan disini atuh nak.. moso pacaran kok di tempat yang tidak ada romantis-romantisnya?'' ummi Nya terkekeh lagi.
''Betul sekali ummi. Istri saya ini aneh deh. Saya ajakin makan malam romantis, dianya nolak ummi! Malah saya di ajak kemari. 'Kan nggak cocok ini!'' ledek Raga pada Ira.
__ADS_1
Ira malu. Geram pada Raga ia memukul lengan Raga berulang kali. Wajahnya yang belum tertutup niqob makin kentara terlihat memerah.
''Issshh... kamu curang By! Kamu yang mau, Malah dibuang ke aku! ishh..'' gerutu Ira sambil menghentakkan kakinya.
Saking kesalnya ia berlalu pergi meninggalkan Raga dan ummi Na. Ia memakai niqobnya kembali sambil berjalan.
Raga dan ummi Na semakin tertawa melihat tingkah Ira. Raga berjalan mendekati ummi Na.
''Maaf Ummi. Saya malah membuat keributan di sini. Sekali lagi saya minta maaf ummi.' ucap Raga dengan menunduk
Ummi Na tertawa. ''Tak apa nak. pergilah susul istrimu. Sepertinya ia sedang marah padamu?''
Raga terkekeh. ''Ya, saya pamit pulang ummi. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..'' sahut ummi Na.
''Semoga setelah ini kamu berbahagia nak.. ummi selalu mendoakan kebahagiaan untukmu dan suami mu.'' ucapnya sambil berlalu mengikuti Raga yang sudah berjalan di depan mengejar Ira yang sedang berjalan menuju mobil mereka.
Raga mengejar Ira. ''Tunggu hunny,'' cegatnya pada tangan Ira.
Ira menoleh dengan bibir mengerucut. Raga tau itu. Ia terkekeh. Dengan segera ia membawa Ira masuk ke mobil mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi Maghrib. ''Kita singgah sholat dulu ya? Setelah ini kita baru lanjaukn pacaran kita!'' goda Raga lagi pada Ira.
Membuat Ira tersenyum malu-malu. Raga terkekeh. Mereka masuk dalam kawasan mesjid.
Sebelum turun, masih sempat-sempatnya Raga melumaaat bibir Ira membuat sang empu melotot.
Namun tidak bisa marah. Dirasa cukup, Raga menutup kembali niqob Ira. Pipi Ira memanas. Raga tertawa.
Setelah nya mereka turun untuk berwudhu karena suara adzan pun sudah bergema di seluruh penjuru.
Mereka menunaikan sholat Maghrib di mesjid besar itu dengan Raga sebagai imam nya. Ira terharu, sampai-sampai menitikkan air matanya ketika mendengar lantunan surah Ar Rahman yang ia bacakan.
Dua puluh menit mereka selesai dengan ibadah mereka. Setelah siap, mereka berdua keluar dari mesjid dan berpandangan saat di undakan tangga mesjid.
Ira tersenyum, begitu juga dengan Raga. Kemudian mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka untuk makan malam romantis seperti keinginan Raga.
Dasar Ira turunan Mak Alisa. Ia tidak mau makan di restoran atau di hotel. Ira mau nya makan ayam penyet kesukaan nya di warung pinggir jalan.
Raga pasrah, daripada Ira mengomel lagi. Tiba disana, mereka berdua langsung saja masuk dan memesan ayam penyet kesukaan Ira.
__ADS_1
''Loh? Ira?'' sapa Bu Kinanti pemilik warung ayam penyet itu.
''Hehehe.. apa kabar Bu.. sehat?''
Bu Kinanti tersenyum, ''Alhamdulillah baik nak.. ini siapa? Kok kamu datang dengan nya? Biasanya kamu sama Zafa? Eh? Zafa sibuk sama Suaminya ding!'' Ira tertawa.
Raga tersenyum saja. ''Perkenalkan Bu.. saya suaminya Ira.'' ucap Raga membuat Bu Kinanti terkejut.
''Suami? Bukan nya Ira masih sendiri ya?'' ia menatap Ira mencari penjelasan.
Raga menatap tajam pada Ira. Ira nyengir kuda membuat Rafa berdecak. ''Ck! Kamu hunny! Apa nggak di undang kemarin saat resepsi pernikahan kita?'' Ira menggeleng.
Raga menghela nafasnya. ''Saya dan Ira sudah menikah sejak sepuluh tahun yang lalu, Bu..''
Deg!
''Apa?!'' pekik Bu Kinanti begitu terkejut.
Ira terkekeh dan mengangguk menyetujui ucapan Raga. ''Maksudnya, kalian menikah pada saat masih sekolah menengah pertama begitu?!''
Ira mengangguk lagi dan terkekeh geli. ''Issshh... pantas saja! tiap kali ibu menjodohkan nya dengan salah satu putra ibu, Ira menolak. Ternyata sudah punya suami toh ..''
Ira tertawa tapi tidak dengan Raga, wajahnya merengut masam. ''By..'' tegur Ira.
Raga melengos. Bu Kinanti tertawa. ''Ya sudah, kalian tunggu dulu ya? Biar ibu ambilkan pesanan nya. Sudah siap itu,'' imbuhnya.
Dengan segera ia berlalu mengambilkan pesanan Ira dan suaminya. ''Ayo dimakan! Jangan cemberut ih! ibu cuma menggoda kamu saja tadi. Ira gadis setia. Pasti ia akan setia menjadi istrimu. Ibu yakin itu. Selama ini ia selalu menjauh saat ada seorang pemuda yang mendekati nya. Ibu sudah lama mengenalnya. Dari pertama usaha ibu ini dibuka, Ira lah pengunjung pertama di warung lesehan ibu ini. Kamu beruntung nak.. memilki istri seperti Ira. Mari dimakan, ibu mau balik lagi ke depan. Tuh, pelanggan ibu udah banyak yang datang! ck! pasti selalu begini. Setiap kali Ira berkunjung, warung ibu pasti penuh! Hadeeeuuhh.. benar-benar pembawa rezeki ya?'' gerutu ibu Kinanti namun sambil tertawa.
Membuat Raga semakin dalam menatap Ira. ''Apa By? Ayo dimakan. Aku duduk gini ya? Agar membelakangi pintu warung?'' Raga tersenyum dan mengangguk
Dengan segera mereka makan. Raga dengan cepat mencuci tangan dan mulai mencuil daging ayam goreng yang begitu harum itu.
Setelah nya ia suapi pada Ira. Ira pun menyuapi Raga. Mereka tertawa bersama saat rasa sambal itu membuat bibir mereka terbakar saking pedasnya.
Ibu Kinanti tersenyum melihat Ira. ''Semoga kamu bahagia sayang .. kamu bukanlah jodoh putra ibu. Kamu jodohnya Ragata. Ibu tau siapa dia. Anak pengusaha Hendra Hariawan dan Hani Hariawan. Sahabat almarhum suami ibu. Kamu beruntung nak.. sangat beruntung. Semoga kalian berbahagia..'' doa ia panjatkan untuk hubungan Ira dan Raga.
💕💕💕💕💕
Enaknya pacaran setelah menikah ..
Othor pun gitu... 😊😊😊
__ADS_1