
Plak.
Plak.
Ummi Hani menggeplak kepala Raga saat ia selesai menarik Ira membawa ke pelukan nya.
''Aduh.. kok di geplak sih Ummi?!'' runtuh Raga, karena geplakan Ummi sangat sakit mengenai tengkuk nya.
Ummi Hani melototkan matanya ke Raga dan berkacak pinggang, ''Dasar! Anak sama Abi nya sama saja! Ayo Nak, kita pergi!'' imbuh ummi Hani, dengan segera ia membawa Ira menuju mobil mereka.
Sepeninggal Ummi Hani dan Ira, Abi Hendra dan Raga saling pandang. Kemudian menghela nafas panjang. ''Sabar...'' ucap mereka bersamaan.
Sementara ummi Hani disana sangat khawatir melihat wajah Ira. Ia memeriksa seluruh tubuh Ira.
Membuat gadis SMP itu berputar-putar. Ira tertawa karena tingkah ummi Hani. ''Hahaha.. kakak puyeng Ummi! Kalau terus terusan di putar kayak gini, bisa jadi mata kakak juling ini!'' celutuk Ira, masih dengan tertawa.
Ummi Hani berhenti, ia menatap Ira dengan nafas lega. ''Alhamdulillah.. Ummi pikir, kamu kenapa-kenapa, Nak..''
''Hehehe.. kakak baik-baik aja Ummi! Eh, rambutan ku!!!'' pekik Ira saat mengingat buah rambutan miliknya.
Dari belakang mereka, Raga datang dengan membawa buah rambutan itu untuk Ira. Melihat itu Ira berbinar senang.
''Aaaaa.. rambutanku!'' pekiknya senang.
Raga tertawa. ''Haha.. kamu ini seperti orang yang nggak pernah makan rambutan saja! Kamu kan sering makan nya saat di kantin sekolah?''
''Eh, darimana Kak Raga tau?''
''Tau lah sayangku.. kamu itu terkenal nakal di sekolah!''
Ira mendelik. ''Ih mana ada! Yang ada kak Raga tuh!''
__ADS_1
''Heleh! Nggak mau ngaku kamu ya?''
''Nggak ada aku nakal kak Raga!'' sungut Ira.
Raga terkekeh, ''Kamu nakal! Nakal manjatin rambutan orang! Mak Mia aja udah nggak sanggup begitu kamu!''
''Nggak ada aku nakal ya! Kakak tuh juga! Siak banget lagi ngambil jambu madu punya tetangganya sebelah sekolah kita! sampai-sampai di kejar oleh yang punya! Heleh! Kagak mau ngaku jiga!'' ketus Ira.
Abi Hendra yang melihat perdebatan di antara kedua anaknya ini melerai.
''Sudah, sudah. Kamu harus masuk ke pesantren Raga.'' Titah Abi Hendra.
Raga merengut, ''Sebentar dulu Abi.. masih betah di sini!''
''Ck! Kalau kamu kangen kan bisa pulang tiap Minggu nya?'' tanya Abi Hendra.
Raga menghela nafasnya. ''Bukan bisa atau nggak bisanya Abi.. aku tuh kalau udah mulai belajar maka fokusku akan belajar. Jika nggak sekarang aku melepas rindu. Akan sulit untukku nanti. Belum lagi mereka itu selalu mengawasi ku?''
Abi Hendra terdiam. Begitu juga dengan Raga. Mereka tak menyahut apa yang ummi Hani katakan.
''Ummi... jangan biarkan hati Ummi kotor karena terus menerus mengumpat mereka di dalam hati. Nggak baik loh..'' tegur Ira, yang melihat wajah ummi Hani semakin masam.
Raga dan Abi Hendra menahan tawanya. ''Darimana kamu tau jika ummi sedang mengumpat orang?''
''Hehehe.. kakak bisa baca dari raut wajah ummi yang kesal saat membicarakan tentang pesantren ini. Kakak nggak tau ada masalah apa antara ummi dan juga pemilik pesantren ini. Yang jelas wajah kesal Ummi begitu kentara terlihat. Benarkan Ummi tebakan Kakak?''
Lagi, Raga dan Abi Hendra menahan tawanya. Abi Hendra menoleh ke arah lain karena tidak tahan dengan ucapan menantu nya yang tepat sasaran.
Sedangkan Raga tekikik geli. ''Kenapa kalian berdua ketawain Ummi?!'' sewot ummi Hani.
Ia melihat dua pangeran hatinya itu sedang menertawai dirinya. Sedangkan Ira menatap heran kepada ayah mertua serta suaminya.
__ADS_1
''Kalian ketawain Ummi? Ada apa? Ada yang salah ya sama ucapan Kakak tadi?'' selidik Ira, ia menatap satu persatu wajah yang ada di hadapannya kini.
Saat ini mereka sudah duduk lesehan di bawah pohon rambutan yang dekat dengan mobil mereka.
Raga menoleh dan terkekeh, ''Benar sekali sayangku! Ucapan mu memang tepat sasaran. Ummi sedang kesal dengan pemilik pesantren ini. Ummi kesal karena kedua orang tua itu memaksa Ummi untuk-,''
''Diam Raga! Sebaiknya kamu masuk! Bawa anak kamu masuk Abi!'' titah Ummi tak terbantahkan.
Raga terdiam. Ia tau jika ummi Hani sudah berbicara seperti itu, berarti seorang ummi Hani sedang tidak ingin di ganggu.
Abi Hendra mengangguk, ''Ayo Nak..''
''Ya,'' sahut Raga.
Dengan segera ia berjalan beriringan dengan Ira mengikutinya dari belakang. Tinggallah Ummi Hani sendiri dengan wajah masam.
''Awas Bi.. Ummi mode galak loh.. kalau udah gitu pasti ngambek tuh permaisuri Abi!''
Abi Hendra menghela nafasnya. ''Kamu harus bisa melawan semua orang yang ada disini. Jangan pernah mau jika kamu dipaksa. Mengerti?''
''Tenang Abi.. hati ku itu udah mentok di gadis ini! Jadi nggak mungkin kelain hati!'' seloroh Raga senantiasa menarik Ira ke pelukannya.
''Heleh! Sekarang belum, tapi nanti saat kamu ke Inggris. Kita lihat saja! Ucapan ku ini benar atau tidak! Jika itu sampai terjadi, aku akan pergi dari kehidupan mu selamanya Ragata Hariawan!'' tegas Ira, dengan segera ia berlalu meninggalkan Abi Hendra dan Raga yang mematung karena ucapan Ira tadi.
''Hadeeeuuhh.. tambah lagi dah ni yang ngambek nya?''
Abi Hendra terkekeh. Ternyata istri dan menantunya sama-sama memiliki sifat yang sama mengenai mereka berdua.
''Capek deh...''
TBC
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣🤣