
Selesai dengan drama saling menggelitik satu sama lain, kini Raga dan Ira sedang mandi bersama.
Awalnya Ira tidak mau, tapi yang nama nya Raga tetap memaksa. ''Hilih! Sekarang kamu nolak, kemarin di hutan nggak sadar apa hingga buang air pun Kakak di temani!'' cibir Raga membuat Ira berdecak.
''Itu kan kemarin Kak .. lah hari ini? Ya.. beda lah!'' sahut Ira masih sibuk dengan tempat tidurnya yang berantakan akibat ulah mereka berdua.
''Pokoknya kita mandi berdua! Titik tanpa koma!'' tegas Raga.
''Terserah Kakak lah.. aku mah apa atuh.. cuma istri siri.. kamu...'' cibir Ira. Dengan menyanyikan bait lagu Cita citata.
Raga terkekeh. Ia mendekati Ira yang sedang membereskan tempat tidur mereka. Raga melingkari tangan nya di perut Ira.
Ia meletakkan dagu nya di bahu Ira. Ira menoleh dan..
Cup!
''Ihh.. curi kesempatan! Awas ah!'' kesal Ira.
Raga tertawa. ''Mana ada Kakak curi kesempatan? Wong kamu nya yang cari dalam kesempitan sayang, ih! Kok malah nuduh sih?''
''Awas ah! Aku mau mandi Kak!''
''Mandi berdua, atau tidak sama sekali! Ayo, kita mandi! Jalan dan bawa handuk nya!'' titah Raga.
Ira mendengus. ''Iya, iya yang mulia Raja Ragata...'' sahut Ira dengan sedikit mengejek Raga dengan sebutan raja.
Raga tak peduli. Setelah melihat Ira menarik handuknya, kini ia membawa Ira ke kamar mandi masih dengan memeluk Ira seperti tadi.
Tiba di kamar mandi, Ira mencoba melepaskan pelukannya dari Raga. ''Lepas Kak! Katanya mau mandi?? Ini gimana mau mandi, kalau Kakak ngurungin aku kayak begini?? Ck!'' kesal nya masih dengan berusaha melepaskan tangan Raga dari tubuhnya.
Raga tetap kekeuh pada pendiriannya. ''Kita mandi bersama, disana!'' tunjuknya dengan dagu.
''Di bathtub??''
''Ya, ayo! pasti seru! Seperti kita mandi di hutan dua hari kemarin, kamu masih ingat kan?? Gimana kamu duduk di depan ku dengan hanya melilitkan baju kuyak mu itu.'' Goda Raga, membuat pipi Ira bersemu merah.
Raga melepaskan tangannya dari tubuh Ira dan membaliknya. ''Lah? Ini kok bisa merah sih?? Kamu kenapa?? Sakit kah??'' ucap Raga pura-pura bodoh.
Plak.
''Aduh! Sakit sayang! Ishh..'' gerutu Raga, saat tangannya di timpuk Ira.
''Awas aku mandi! Eits! Kakak disitu! Dan aku disini! Tak ada bantahan! Atau tidak jadi mandi sama sekali!'' tegas Ira, membuat Raga mengulum senyum.
''Baiklah Permaisuri ku.. hamba akan menuruti perintah yang mulia..'' ledeknya pada Ira.
Ira mencebik bibirnya. Gemas Raga mengecup bibir itu sekilas.
Cup!
Ira mendelik. '' Ishh.. curi lagi! Curi lagi! Setelah ini apa yang akan Kakak curi lagi??'' kesal Ira sembari menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, saking kesalnya.
__ADS_1
Raga terkekeh. Ira membelakangi Raga dan mulai membuka bajunya. Raga pun sama. Setelah selesai dengan bajunya, kini Ira memakai rok hitam panjang selutut untuk menutupi separuh tubuhnya.
Ia memakai rok itu hingga ke batas dada nya. Karena rambutnya masih tergerai, ia menggulungnya dan mengumpulkan menjadi satu di ikat dengan jepitan rambut milik Mak Alisa yang Ira pinjam.
Melihat itu Raga menahan nafasnya. Leher jenjang, putih mulus itu begitu menggoda nya.
Tanpa sadar kaki itu melangkah mendekati Ira. Ira sudah duduk di atas closet dan membelakangi Raga.
Cup!
Deg.
Jantung Ira bergemuruh hebat saat merasakan sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh lehernya.
Cup!
Lagi sentuhan itu masih saja berlanjut. Ira menghentikan gerak tangan nya untuk melumuri lulur pada seluruh tubuhnya.
Matanya terpejam saat merasakan sesuatu yang lembab itu masih bermain di pundak dan leher nya.
Sadar jika itu akan menimbulkan sesuatu yang tidak seharusnya nya terjadi, Ira menoleh pada Raga yang saat ini sedang tersenyum melihatnya.
''Hentikan Kak..'' lirih Ira
Raga tersenyum. ''Ya, ayo kita mandi. Biar Kakak yang akan melumuri lulur di bagian belakang ya?'' pinta nya pada Ira.
''Yakin??'' selidik Ira.
''Nih lulurnya! Beruntung nya aku jika ada yang melumuri belakang tubuhku dengan lulur! Pastilah merata. Biasanya sendiri, dan itu sangat susah!'' gerutu Ira, Raga terkekeh mendengarnya.
Setelah nya tangan Raga mulai menyapukan lulur itu ke tubuh Raga. Ada sesuatu yang berbeda saat Raga yang melakukan nya.
Seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Membuat jantungnya berdetak tak karuan.
Begitu juga dengan Raga. Saat tadi merasakan bibir sang istri, Raga merasakan getaran yang aneh pada tubuhnya.
Terutama pusat tubuhnya. Seperti sesak. Raga menghela nafasnya nya berulang kali.
Benar apa kata Abi. Sangat sulit menahan godaan ini. Jika sudah tamat SMA aku tak peduli.
Tapi ini?? Ira masih kelas dua. Dan aku?? Sebentar lagi tamat dan akan masuk kelas satu SMA.
Duh lama nya.. piye iki? Sanggup nggak ya?? Bisik Raga dalam hatinya, dengan terus menghela nafas berulang kali.
''Kak??''
''Hemhh..''
''Eh? Kakak kenapa??'' tanya Ira karena mendengar sahutan Raga seperti desahaan.
''Tidak apa-apa..'' bisiknya di telinga Ira.
__ADS_1
Hembusan nafas Raga di ceruk lehernya, membuat Ira menegang. ''Udah Kak.. kita mandi ya?'' lirih Ira, masih dengan mencoba menyadarkan Raga.
Raga masih saja menghirup bau tubuh sang istri. ''Sebentar lagi..'' bisiknya.
Ira hanya bisa pasrah saat tangan itu masih mengusap lulur di tubuh bagian belakang nya.
''Udah ya??'' lirih Ira lagi.
Ira sudah tak sanggup menahan sesuatu yang entah seperti apa. ''Nanti dulu..'' bisik Raga lagi.
''Kak .. please... '' pinta Ira lagi dengan bibir bergetar
Raga tersentak mendengar suara Ira bergetar. ''Maaf.. maaf sayang.. maaf..''
Ira hanya mengangguk namun ia sudah terisak. ''Kita mandi ya?? Janji! Tidak akan seperti tadi lagi! Maaf sayang... maaf..'' bujuk Raga, ia sangat terkejut mendapati Ira menangis karena perlakuan nya.
''Ayo kita mandi!'' lanjutnya lagi.
Ira mengangguk dan mulai berdiri di bawah shower air hangat yang di hidupkan oleh Raga. Dengan lembut ia membantu sang istri untuk membasuh tubuhnya yang di penuhi dengan lulur.
Mata Ira memerah karena terus saja terisak. Dibawah guyuran shower, Raga juga ikut terisak.
Ia tak menyangka perbuatan nya tadi membuat Ira jadi takut pada nya. Tubuh Ira bergetar saat Raga tadi mengecupi ceruk lehernya.
''Maaf kan Kakak Ra... maaf.. janji nggak akan diulangi lagi..'' lirih Raga di bawah shower yang sedang mengguyur tubuh mereka berdua.
Ira hanya bisa terisak, sakit Raga melihatnya seperti itu. ''Maaf Sayang.. maaf..'' berulang kali Raga mengucapkan kata maaf pada Ira, tapi gadis yang baru saja berubah status menjadi istrinya itu masih saja menangis sesegukan.
Selesai mandi, Raga membalut tubuh Ira dengan handuk yang tadi di ambilnya. Lagi, Raga menahan nafasnya saat melihat bagian bawah tubuh Ira.
Astagfirullah.. ya Allah.. kuatkan aku.. lirih Raga sembari mengangkat Ira menuju ke tempat tidur mereka.
Setiba nya disana, Ira memeluk tubuh Raga dengan erat. ''Maafkan aku Kak .. jangan marah padaku.. aku belum siap..'' lirih Ira, semakin membuat Raga merasa bersalah.
''Tidak sayang! Tidak! Kakak nggak marah sama kamu. Hanya aku saja yang... hah! sudah lah! Pakai baju ya??'' sahut Raga, ia mencoba membujuk Ira untuk mau memakai baju.
Ira mengangguk dan menurut saat Raga memakai kan nya baju. Walau harus berulang kali menahan nafasnya.
Setelah selesai, Ira memeluk Raga dengan erat dan mengajaknya tidur. Raga menurut dan membawa Ira ke pembaringan.
Raga menghela nafasnya berulang kali untuk mengurangi rasa sesak yang terus melanda dadanya.
''Maaf sayang.. benar kata Abi.. gelora Muda itu sangat berbahaya. Dan sekarang terjadi padaku! Jika Ira belum mengalaminya, karena ia masih sangat muda. Sedang aku?? Hampir berusia enam belas tahun.. Apakah aku akan sanggup seperti ini terus selama beberapa bulan lagi?? Hah! Semoga aku kuat! Insyaallah..''
💕
Gelora Muda memang berbahaya Bang!
Hati-hati ntar kebobolan tuh neng Ira! 🤣🤣🤣
TBC
__ADS_1