
Setelah mereka tiba dirumah, juga Raga telah menceritakan semua tentang kejadian yang sebenarnya saat di air terjun SiPiso-piso, kini mereka sedang menanti kedatangan penghulu, para saksi, dan juga ayah Emil.
Karena pemberitahuan secara mendadak, ayah Emil terburu-buru hingga tidak sempat mengganti baju kerja nya.
Saat tiba disana, ayah Emil melihat dirumah Alisa telah banyak mobil yang datang. Jantung ayah Emil bergemuruh hebat.
Ia berjalan tergesa. Saking buru-buru nya ia hampir tersungkur di teras rumah Alisa. Untunglah ada Raga yang menolongnya cepat waktu.
Jika tidak, maka hidung ayah Emil akan menyentuh lantai dingin rumah Alisa. ''Hati-hati Yah!'' ucap Raga, saat melihat ayah Emil hampir terjatuh.
Sadar jika itu adalah suara calon menantu yang menantinya, Ayah Emil mendongak.
''Terimakasih, Nak! Mana Ira??''
''Ada di dalam Yah, ayo! Ayah ganti baju dulu ya? Raga udah nyiapin bajunya di dalam.'' sahut Raga.
Emil mengangguk. Ia masuk dan bertemu dengan tamu mereka termasuk Hendra. ''Bang!'' sapa Hendra.
Emil tersenyum dan menggamit tangannya untuk menerima tangan Hendra. Emil lantas memeluknya dengan erat.
Setelah itu ia berlalu pergi dari hadapan semua orang untuk bersih-bersih terlebih dahulu sebelum menikah kan putrinya dengan putra Hendra.
Sedangkan para wanita sedang menemani Ira di dalam kamar. Lima belas menit kemudian, Ayah Emil telah siap dengan bersih-bersih nya.
''Oke. Saya sudah selesai!'' ucap Emil.
Melihat itu Raga duduk di depan Emil dan bersimpuh di kakinya. Ia ingin meminta restu pada Emil sebelum menikahi Ira.
Emil yang melihat itu mengernyit kan dahi nya bingung.
''Yah.. alasan kenapa Ayah dipanggil kemari, ialah... Saya ingin meminta izin Ayah untuk menikahi Ira malam ini juga. Karena suatu hal dan sebab yang nanti akan saya ceritakan setelah pernikahan ini. Apakah Ayah bersedia menikahkan kami berdua??'' tanya Raga, sembari melihat Emil dengan seksama.
Emil mamatung mendengar ucapan Raga. Lama ia berpikir, setelahnya ia mengangguk. ''Ya, Ayah merestui kalian menikah sejak dini, tapi ingat! Jika kamu tidak lagi mau bersama Ira, maka kembalikan Ira kepada Ayah sebagaimana kamu mengambilnya. Ayah percaya padamu, Ayah yakin, kamu pasti bisa menjaga Ira nantinya. Bimbing ia menjadi wanita yang Sholehah seperti keinginan Mak mu.. Ayah .. hah! untuk apa menunggu sampai malam?? Sekarang lebih baik! Ayo! kita panggil semua orang itu dan Ayah akan menikahimu dengan putri sulung Ayah!'' sahut Emil dengan sedikit kekehan di mulutnya karena melihat Raga, mulutnya menganga lebar saking terkejutnya.
''Se-sekaranag Yah??'' sahut Raga dengan tergagap karenanya terkejut.
''Hem, atau tidak sama sekali!'' gertak Emil dengan wajah serius nya.
''Ba-baik Yah. Tunggu sebentar, Raga panggil ummi juga Mak kemari.'' Sahut Raga dengan lari ngacir menuju kamar atas, karena disanalah para wanita berada.
Ayah Emil yang melihat calon menantunya itu terkekeh lucu. ''Semoga kamu bisa jadi panutan nantinya untuk Ira, Nak.. tidak seperti Ayah..'' lirih Emil dengan wajah sendunya.
Tiba disana, Raga mendorong pintu dengan kuat hingga membuat Mak Alisa dan ummi Hani terlonjak kaget.
Brrrruuuaakkk..
''Astaghfirullah!!'' ucap ummi Hani dan juga Mak Alisa secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka menoleh melihat Raga dengan nafas terengah-engah. ''Ummi! ummi bawa 'kan mahar yang udah Raga siapkan?? hosshh.. hosshh..'' ucap Raga dengan nafas terengah-engah.
''Memang nya kenapa??'' tanya Ummi balik, masih dengan menatap Raga.
Ia sengaja menggoda putranya itu, padahal ummi tadi udah tau semuanya. Bahkan ketika Wahyu mengirimkan pesan kepada ummi Hani, yang mengatakan jika emas yang ia beli harus dibawa ke rumah Ira.
Awalnya tidak tau, tapi karena itu adalah keinginan Raga, makannya ummi Hani membawanya ke rumah Alisa dan itu pun masih ada dalam tas yang ada disebelah Ira.
''Ayo! pak penghulu udah nunggu dibawah, sedang Ayah Emil udah setuju untuk menikahkan kita berdua.'' ucap Raga sekalian mengajak kedua orang tua belum paruh baya itu.
Alisa dan ummi Hani saling pandang. ''Bukannya nanti malam ya??'' tanya Ummi Hani. Mak Alisa mengangguk.
''Sekarang, atau tidak sama sekali!'' tukas Raga dengan nafas memburu mengingat gertakan Ayah Emil tadi.
Mak Alisa tertawa. Karena ia tau, itu pasti kerjaan Ayah Emil. ''Haha.. ya sudah, Hani kita ke depan. Biarkan Ira istirahat dulu disini. Setelah selesai ijab, kita bisa kembali lagi kesini.''
''Oke.'' Sahut ummi Hani.
Setelah nya mereka berempat turun ke bawah untuk melihat Acara nikahan dadakan antara Ira dan Raga.
Tiba disana, sudah ada Pak ustad yang berprofesi sebagai penghulu, kepala desa setempat, ketua RT dan RW, juga Pak Madan.
Ternyata beliau masih disana. Sedikit yang ia tau tentang kejadian itu. Makanya ia berniat ingin tau lebih banyak lagi.
Mak Alisa duduk bedampingn dengan ummi Hani serta Annisa. Bayi kecil itu sangat antusias saat melihat isi rumahnya penuh dengan manusia.
Bayi itu patuh dan menurut. Seakan tau, jika itu adalah ayahnya. Padahal mah bukan, bayi itu pikir jika itu adalah Gilang.
Karena wajah Ayah Emil dan Papi Gilang itu begitu mirip. Hanya beda warna kulit saja.
Mak Alisa, menarik baju ummi Hani dan berbisik. ''Hani, untuk makanan nya gimana?? Aku belum masak apapun! Gimana ini??'' bisik Mak Alisa ditelinga ummi Hani.
Membuat ummi Hani terkekeh geli. ''Kamu tenang saja, aku sudah memesan makanan enak langsung dari tempat nya. Dan juga seserahan Raga untuk Ira sudah aku siapkan. Kamu tenang ya? Lima belas menit lagi mereka sampai.'' bisik ummi Hani pula di telinga Mak Alisa.
Mak Alisa manggut-manggut setuju. Baru sebentar mereka dibicarakan, terlihat banyak orang yang datang membawa makanan serta barang seserahan untuk Ira dari Raga.
Mak Alisa yang melihatnya melongo. ''I-ni.. ka-kapan kamu pesannya Hani?'' tanya Mak Alisa dengan wajah cengo nya.
Saking banyak seserahan itu, hingga memenuhi satu ruangan yang ada disana. ''Sudah lama! Hanya saja, baru sekarang baru bisa aku bawa kemari dan bertepatan dengan putraku yang akan menikahi Ira. Rencananya sih.. barang ini untuk seserahan Ira nanti. Tapi... karena aku begitu senang dapat menantu dari putri sahabatku sendiri, ya.. nggak salah dong jika aku memesan ini sejak dini? Sama seperti pernikahan mereka sekarang! Pernikahan Dini!'' Celutuk ummi Hani.
Membuat mereka yang mendengar nya tertawa. ''Dasar!'' gerutu Alisa, namun setelah itu ia terkekeh kecil.
Raga pun ikut tertawa. Semua nya sudah siap. Sekarang waktunya untuk menikahkan Raga dan Ira.
''Ehm, untuk mempersingkat waktu sebentar lagi juga ashar ya, jadi langsung saja memulai nya.'' imbuh pak ustad dan dingguki oleh semua yang ada disana.
''Raga!'' panggil pak ustad sekaligus penghulu itu.
__ADS_1
''Saya ustad!'' sahut Raga.
''Diduk didepan Ayah Emil. Apakah mahar nya sudah ada atau..''
''Sudah ada! Ummi?'' sahut Raga, ia menoleh ummi Hani dan meminta barangnya.
Ummi Hani memberikan satu buah kotak berukuran kecil sebesar telapak tangan kepada Raga.
Raga menerimanya dan membuka kotak itu, Ia meletakkan cincin yang dipakai Ira ke dalam kotak itu.
Karena memang tujuan ia memberikan cincin itu ialah untuk mahar yang akan ia berikan kepada Ira.
Kemudian ia letakkan mahar itu di atas meja beserta dengan suratnya. Pak penghulu yang melihat nya terkejut.
Ia menatap Raga dan juga Ayah Emil. Kemudian ia berdehem. ''Baik, saya tuliskan dulu ya di kertas agar bisa kalian lafalkan dengan segera.''
Pak ustad mulai menuliskan jumlah mahar yang ia berikan kepada Ira, serta mahar lainnya.
Membuat pak penghulu terdiam. ''Lafalkan segera, sebelum ijab Qobul.'' titah pak penghulu.
Ayah Emil menerima kertas itu dan sangat shock ketika membacanya. Ia melihat Raga yang sedang fokus pada kertas yang ada ditangan nya.
Pak penghulu sekaligus ustad itu menatap Ayah Emil dan terkekeh. Begitu juga tadi dengan dirinya. Untuk meredakan rasa terkejutnya, Ayah Emil berdehem.
''Sudah siap??'' tanya pak penghulu.
''Siap Pak!''
''Siap Ustad!''
Sahut mereka bersamaan. Setelah nya Pak penghulu menuntun tangan Raga agar menggenggam tangan Ayah Emil.
''Bismillahirrahmanirrahim, Asyhaduanla ilaha ilallah Waasyhaduanna muhhammadurrasulullah.. saudara Ragata Hariawan bin Hendra Hariawan saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandungku Ira Sarasvati binti Milham Syahputra dengan mas kawin sebuah kitab suci Al-Qur'an, perhiasan emas seberat 45,6 gram dan juga saham di HDS Group sebanyak 15 persen dibayar tunai!'' Ayah Emil menyentak tangan Raga.
''Saya terima nikah dan kawinnya Ira Sarasvati binti Milham Syahputra untuk saya dengan mas kawin sebuah kitab suci Al-Qur'an, perhiasan emas seberat 45.6 gram dan juga saham di HDS Group sebanyak lima belas persen dibayar tunai!'' sahut Raga begitu lantang.
Membuat seseorang tersentak dari tidurnya dengan tubuh bergetar.
''Bagaimana saksi? Sah??''
💕
Hayoo.. pernikahan Dini.. ada yang ingat tentang film jaman dulu ini? yang diperankan oleh siapa??
Cus jawab di kolom komentar ya?
TBC
__ADS_1