
Perut kenyang dengan mulut terasa panas. Ira tertawa melihat Raga yang semakin berkeringat dingin karena menahan rasa pedas dari sambalnya.
Begitu juga dengan Ira. Hijab dan niqobnya basah karena keringat. Mereka berdua tertawa bersama.
Di ujung sana ada dua orang gadis dan seorang pemuda yang terus saja menatap mereka dengan tatapan sulit di artikan.
Mereka selesai makan pada saat suara adzan berkumandang. Dengan segera mereka keluar dari warung itu setelah Ira membayarnya.
Tiba diluar, dua orang gadis yang tadi memandangi Raga dan Ira juga ikut keluar dan mengikuti mereka berdua.
Saat Raga ingin membuka pintu mobilnya untuk Ira, dua orang gadis menghampiri nya. ''Kak Raga!" panggil salah satu gadis itu.
Raga dan Ira menoleh pada Gadis itu. "Dita? Ratna? Sedang apa kalian disini?" tanya Raga sambil berbalik menatap mereka berdua dengan dahi mengernyit.
Gadis yang bernama Dita itu mendekati Raga. Dengan segera ia mendorong Ira ke tepi dan berdiri disampingnya Raga.
Raga melototkan matanya. Ira terdiam. Ia lebih baik diam daripada memperkeruh suasana.
"Apa yang kamu lakukan, Dita!" seru Raga, Dita terkekeh.
"Kenapa kamu marah Kak? Jika dia bisa berdekatan denganmu, kenapa aku tidak? Ayo, antar aku pulang. Tinggalkan gadis itu disini!" titahnya pada Raga.
Dengan segera Dita menarik lengan Raga dan mendorong nya masuk ke kursi kemudi. Sedangkan Dita, ia masuk dan duduk dengan manis di kursi depan.
Ratna pun tidak tinggal diam, ia mendorong Ira hingga hampir saja terjatuh. "Minggir! Kamu sih.. halangin jalan aja!" sewot nya.
Ira masih diam. Dengan segera ia masuk dan mengunci pintu mobil milk Raga. Ira berdiri terpaku di luar mobil menatap Raga yang kini tengah menatap Dita dengan aura begitu menyeramkan.
Ira tau, jika Raga begitu emosi saat ini. Raga membuka kaca mobilnya dan menoleh pada Ira dengan wajah datar.
"Masuk!" titahnya terdengar tegas tak terbantahkan.
Ira menurut. Dengan segera Raga membuka kunci mobil itu dan membiarkan Ira masuk. Setelah Ira masuk, Dita mengomel tidak jelas Pada Raga.
"Ishhh... kenapa sih wanita ini kamu bawa masuk Kak Raga!! Biarin aja kenapa di tinggal?! Kan bisa pulang sendiri kerumahnya?!" sewot Dita.
Raga mengepalkan kedua tangannya. Ia menoleh pada Dita dengan wajah merah padam.
Dita terkejut melihatnya. "Fokus!!!" tegur Ira dengan wajah datar.
Rayan menoleh padanya, Ia menatap suami pada Ira. "Heh! Gadis sok Suci! Kenapa sih harus kita semobil dengan kami?! Mending tadi kamu diluar aja! Ini pakai ikut-ikutan segala sih?! Lebih baik tadi kamu tinggal dari pada ikut kami! pengganggu saja!"
__ADS_1
Deg!
Ira memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa amarah di dadanya karena ucapan Dita. Melihat Ira memejamkan kedua matanya, Raga semakin kalap.
Ia menekan pedal gas dan melakukan mobil itu dengan kencang. Ira terkejut. "Astaghfirullah! By! Sadar! Bahaya! Ya Allah.." pekik Ira ketakutan
"Aaaaaa.. hentikan Kak Raga!!!! Kita bisa matii disini!!!" seru Dita
Ratna tidak bisa berkata-kata, kepalanya tiba-tiba pusing. Ia memejamkan kedua matanya saat merasakan mobil yang ditumpangi semakin kencang dan tidak terkendali.
"Astaghfirullah By... hentikan.. kamu bisa membunuh ku kalau begini?! Apakah kamu tidak mencintaiku lagi Kak Raga?!" seru Ira dengan lirih, namun terdengar jelas di telinga Raga.
"Heleh! Jangan sok ngaku-ngaku kamu ya?! Siapa sih kamu?! Dari tadi ngintilin Raga terus. Dari mesjid sampai ke warung Bu Kinanti! Keluar kamu! Pakai an mu saja yang tertutup! Tapi kelakuan mu seperti ja laaang!!" serunya begitu melengking di telinga Raga.
Raga semakin marah. Aura kemarahan di wajah Raga membuat Ira takut. Ia tau, jika sudah seperti ini akan sulit untuk membujuk Raga.
"Hubby...."
Deg!
Deg!
"Apa?! hubby?! Siapa?! Kak Raga?!" seru Ratna karena terkejut.
Ratna dan Dita melotot melihat Ira memeluk Raga seperti itu. Hatinya terbakar cemburu saat Ira mengelus lembut dada bidang Ragata.
Tanpa sadar, Dita menarik paksa tubuh Ira yang sedang mengelus dada Ragata. Hingga tubuh Ira terhuyung dan terjatuh di kursi belakang dengan kepala terbentur dinding mobil.
Braaakkk..
Tuukk..
"Allahu Akbar!" seru Ira begitu terkejut. Rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya saat hentakan di tubuh dah kepalanya terasa begitu sakit.
Raga semakin melotot melihat itu. Tanpa sadar, kakinya semakin kencang menginjak pedal gas, hingga membuat mobil itu melaju begitu kencang di jalanan sepi.
"Aaaaaaaaaa... tidaaaaaakkkk... hentikan!!!" pekik Dita.
Ratna semakin pucat padi wajahnya. "Hubby... berhenti... kepala dan perutku sakit By.. ssssttt..." desis Ira menahan sakit.
Raga semakin marah, mendengar suara rintihan Ira. Ia yang tadinya sudah lumayan berkurang rasa marahnya, kini kembali lagi saat mendengar suara sang istri merintih kesakitan.
__ADS_1
Raga semakin kalap, ia melajukan mobil itu bak pembalap terkenal. Beruntung nya Raga, jalanan itu sepi dari pengemudi lain.
Jika tidak, mobilnya pasti akan menabrak pengendara lain dijalan. Ratna dan Dita tidak bisa berbicara lagi.
Wajah mereka pucat pasi. Raga membawa mereka ke tepi pantai yang sudah sepi pengunjung jika sudah malam.
Niat hati ingin bersenang-senang dengan sang istri malam ini, malah di ganggu oleh duo kadal betina yang begitu gatal kepada nya.
Tiba di tepi pantai yang sunyi, Raga menginjak pedal rem secara mendadak. Mobil yang sedang melaju kencang tiba-tiba di hentikan secara mendadak, membuat mobil itu berputar-putar.
Ira terdiam. Ia masih merasakan sakit di tulang belakang dan juga perut bagian bawah nya yang terhempas tadi.
Sementara duo kadal betina itu semakin histeris ketakutan. Raga masih dalam emosi tingkat tinggi.
Mobil itu masih berputar-putar hingga berhenti dengan bodi depan mobil itu hampir tersungkur dengan badan mobil bagian belakang nya terangkat tinggi.
Ratna dan Dita memekik kencang. Tapi tidak dengan Ira. Ia masih berusaha menenangkan Raga walau tubuhnya terasa sakit.
"Ssssttt... hentikan sayang.. apakah kamu ingin membunuh anak kita disini?!"
Deg!
Deg!
Raga terkejut. Dengan cepat ia melepas pedal rem dan mobil itu jatuh terhempas dengan kedua orang di mobil jatuh terhentak begitu keras.
Tapi tidak dengan Ira dan Raga. Mereka berdua saling berpelukan, dengan Ira memeluk erat lehernya saking ketakutan.
Semua itu tak luput dari pandangan Dita dan Ratna. Mereka mematung melihat kekakuan dua orang itu.
Masih sempat-sempatnya Raga melumaaat bibir Ira dalam Ira ketakutan seperti itu. Tapi itulah tujuan nya.
Sengaja. Agar mengurangi rasa takut Ira yang begitu ketakutan karena ulahnya. Setelah dirasa Ira tenang, Raga melepaskan pagutan nya dari bibir Ira.
Raga mengusap wajah Ira yang sudah terbuka niqobnya. Alangkah terkejutnya Ratna dan Dita, jika gadis yang sedang bercumbu bersama Raga adalah adik kelasnya dulu.
Raga menatap Dita dan Ratna yang juga sedang menatapnya. "Berani sekali kau mengatai istriku seorang pengganggu?! Berani sekali kau mengatakan jika dia seorang ja laaang?! Siapa kau berani menghina nya! Sedang aku selalu menjaganya sepenuh hatiku! Kami pasangan halal! Kami berdua sudah menikah sejak sepuluh tahun yang lalu! Kami sah secara hukum dan agama! Dimana nya kami melakukan kesalahan?! huh?! Bren*sek!!"
Deg!
Deg!
__ADS_1
💕💕💕💕💕
Huh! Dasar kadal betina! Kita apain tuh cocoknya ?! Greget sekali othor! 😤😤