
Saat Ira keluar dari kamar tamu untuk makan malam, bertepatan dengan Raga yang juga mau ke dapur.
Ira tak tau jika Ragata mengikutinya dari belakang. Saat tiba di meja makan, Ira berbalik karena melupakan sesuatu. Tapi tak disangka, tubuh Ira menubruk tubuh Raga yang sedang berdiri di belakangnya.
Bruukk..
''Astaghfirullah! Aduh...'' rintih Ira karena tanpa sengaja menubruk dada kekar milik Ragata.
Ragata terkekeh. Entah kenapa, sedari kepulangan nya dari Inggris, Ragata sangat terpikat dengan gadis yang tertutup itu.
''Ma-maaf.. saya tidak sengaja, Tuan!'' ucap Ira sambil menunduk. Ragata tersenyum.
Tangan itu terangkat dan mengelus kepala Ira yang tertutup hijab. Ira tertegun, namun itu hanya sebentar. Setelah ia menyadari jika Ragata tidaklah seorang diri di rumah itu. Ada gadis lain yang ikut bersamanya.
Ira mundur tiga langkah ke belakang. Ragata kecewa, namun tetap tersenyum lembut pada Ira. Yang tidak ia ketahui sejak ia pulang dari Inggris.
''Ambilkan aku makan. Dan duduk disini bersama ku! Aku lapar..'' lirih Ragata dengan mengusap perut datar nya.
Ira tersenyum, namun Ragata tidak tau itu. ''Baik. Akan saya ambilkan. Silahkan tuan tunggu dan duduk.'' jawab Ira.
Dengan segera ia menuju dapur dan mengambil mangkuk cuci tangan dan diisi air di wastafel.
Ira juga mengambil jus hangat yang sudah ia siapkan tadi, namun tak sempat Ragata minum karena gadis itu merajuk.
Mengenang gadis itu, ira menghela nafas kasar. ''Sabar Ira.. semua akan indah pada waktunya. Yakinlah! Allah pasti akan segera menyelesaikan masalah ini.'' gumamnya dengan segera mendekati Ragata yang sedang memperhatikan nya tanpa berkedip.
Ada rasa senang dihati, jika Ragata melihat begitu dalam seperti saat ini. Ira menyusun kembali piring, Gelas dan mangkuk cuci tangan.
Setelah itu, ia mengambil nasi dan lauk kesukaan Ragata. Udang balado dan cumi saos tiram Ira hidangkan di piring Raga.
Raga tersenyum melihat piringnya di isi makan kesukaannya. ''Di makan tuan! Saya mau kebelakang.'' imbuhnya.
Dengan segera ia berlalu meninggalkan Raga yang ingin makan, Ira malas bertemu dengan gadis itu lagi.
Hatinya masih sakit melihat gadis itu begitu manja pada sang suami. Namun, sebelum Ira berbalik Raga sudah mencekal tangannya.
''Tunggu!''
__ADS_1
Deg, deg, deg.
Jantung keduanya berdegup kencang. Raga semakin erat memegang tangan Ira. Sementara Ira, ia sedang menstabilkan degup jantungnya yang terus berdetak kencang saat Raga menyentuh tangannya.
''Temani aku makan. Aku lapar..'' pinta Ragata dengan wajah sendu.
Ira mengangguk pasrah. ''Tapi..'' ia menoleh ke atas dimana gadis itu berada. Lagi, rasa sesak itu menghimpit dadanya.
''Dia tidak akan keluar. Begitulah keseharian nya. Ia akan merajuk sampai aku yang selalu mengalah padanya. Sangat berbeda dengan hunny ku! Hah! Ayo kita makan. Temani aku.'' pinta Raga lagi dengan sangat. Ia tau, jika gadis yang tidak dikenalnya itu takut pada seorang gadis yang sedang berada di dalam kamar sana.
''Baiklah. Tapi saya duduk di bawah ya? Kalau makan, saya lebih suka di bawah.'' jawab Ira dengan segera ia mengambil piring dan mengisi nya dengan makanan kesukaan nya.
Ragata tercenung sesaat melihat piring Ira yang begitu mirip dengan makanan kesukaan istrinya.
Aneh bukan? Bahkan Ragata tidak tau, jika yang ada di depannya saat ini adalah Ira. Istrinya. Istri sahnya secara hukum dan agama.
Melihat Ira menuju ruang tivi dan duduk lesehan disana, Raga pun ikut duduk lesehan di lantai. Ira terkejut melihatnya.
Ragata terkekeh. ''Ayo makan. Aku tidak akan melihatmu makan seperti apa. Bagiku, duduk lesehan seperti ini saja sudah cukup. Karena dirimu mengingat kan ku tentang nya..'' lirih Ragata dengan segera ia menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya.
Ira menatap Ragata dengan sendu. ''Aku disini Hubby.. kamu tidak jauh dariku. Tapi kamulah yang menjauh dariku.. aku sangat merindukan kebersamaan kita yang seperti ini.. tapi apalah dayaku, jika takdir sekarang sedang tidak berpihak pada ku.. hiks.. aku sangat merindukan mu Hubby..'' lirih Ira dalam hati.
Tes.
Tes.
''Makanlah. Aku tidak kan melihat wajahmu saat kamu makan. Aku hanya ingin di temani. Itu saja. Itu sudah cukup untukku..'' lirih Raga dengan sendu.
Lagi, rasa sesak itu menghimpit dada Ira. Rasanya sangat sulit untuk di tahan. Ira terpaksa menyuapkan nasi ke mulutnya agar suara isakan lirihnya tidak terdengar oleh Ragata.
Namun terlambat, Ragata sudah mengetahui nya. ''Aku mohon.. jangan selalu menghindari ku.. aku butuh teman untuk ku berbagi.. tolong.. jangan menjauh dariku. Kamu boleh tidak peduli padaku saat gadis itu bersama ku. Namun, jika gadis itu tidak ada, jadilah seperti ini. Teman serta sahabat ku..'' pinta Raga dengan bibir bergetar.
''Entah kenapa, saat berada disamping mu. Aku merasakan ketenangan dan nyaman. Sentuhan tanganku di kulitmu membuat darahku berdesir hebat. Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu mirip dengan Hunny ku? Siapa kamu? Apakah kita pernah saling mengenal? Atau kah ada hal lain yang aku tidak tau? Tolong beritahu aku?'' pinta Raga dengan wajah yang sudah beruraian air mata.
Ira terdiam. Suara isakan nya tertelan di kerongkongan saat mendengar ucapan Raga. Ia Tidak ingin menatap wajah sendu itu. Wajah yang dulu begitu ia rindukan.
Ira takut, jika nanti Ragata akan salah paham padanya. Ira menghela nafas panjang. ''Saya hanya orang baru disini tuan. Mungkin hanya perasaan tuan saja karena sedang merindukan seseorang?'' sahut Ira dengan leher tercekat.
__ADS_1
Ia menggigit bibir nya untuk menahan rasa sesak yang terus mendesak ingin keluar. Ragata menatap wajah Ira yang tertutup itu.
''Aku sangat merindukan nya. Bahkan sangat merindukan nya. Tapi.. aku tidak tau entah kenapa ia rela meninggalkan ku demi pria lain! Entah apa maksudnya itu? Aku kesal padanya. Namun, aku sangat mencintai nya. Aku tidak bisa melupakan rasa cinta ini untuknya. Aku harus apa? Jika ia sendiri yang memilih pergi dariku?'' cerita Ragata pada Ira.
Ira menoleh sekilas pada Ragata.
Deg!
Tatapan mata itu...
Raga membeku di tempat. Ira dengan segera bangkit dan menuju kedapur setelah ia mengangkat kedua piring mereka.
''Siapa kamu? Kenapa aku merasa dekat dengan mu. Harum tubuhmu, begitu menghanyutkan diriku. Siapa? Siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu Ira? Hunny ku?''
Deg, deg, deg.
Jantung Ira berdegup kencang saat Ragata mencekal tangan nya. Ira berusaha melepas, namun Ragata tidak mengizinkan nya.
Ia menarik paksa tubuh Ira hingga terjatuh di pangkuannya. ''Allahu Akbar!'' seru Ira begitu terkejut.
Ragata tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia mendekap tubuh hangat Ira dengan erat. Ada rasa nyaman saat memeluk tubuh itu.
Tubuh yang selama ini begitu ia rindukan. ''Aku merindukan mu Hunny..'' bisik Ragata di ceruk leher Ira.
Deg, deg, deg.
Lagi jantung itu berdegup semakin kencang. Ira menggigit bibir untuk mengurangi rasa berdebat yang sedang terjadi pada jantung nya.
''Hunny?''
''Ya?''
Deg!
🌸🌸🌸🌸
Apakah Ragata akan tau, jika itu adalah istrinya?
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutannya!