Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Tertutup Niqob


__ADS_3

Letih sudah memberikan nafas buatan, Ira memeluk Ragata dengan erat. Ira menangis meraung memanggil nama Ragata, namun yang di panggil tak kunjung bangun.


Kelima orang itu membeku di tempat menyaksikan Ira meraung memanggil nama Ragata.


''Tidaaaaaakkkkk... banguuuunnnn... haaaaa.. jangan tinggalin aku Kaaaaakkk.. Banguuuunnnn.. haaaaa.. Ragataaaaaaa... aaaaa...'' Raung Ira begitu pilu.


Sementara Bik Surti yang berada di dapur, menangis sesegukan melihat Ira menangis begitu pilu. ''Kamu hiks nggak hiks boleh hiks pergi! Aku hiks ikut hiks kamu, Ragataaaaaaa... aaaa ambil juga nyawaku!! Bangun Ragataaaaaaa... aaaaaaa.. haaaaaaa...'' Semakin lama semakin kuat raungan itu.


Ira semakin erat memeluk tubuh Ragata yang lemah tanpa nafas. Sementara Ragata mendengar suara sang istri begitu lirih, ia mencoba untuk berlari menembus sesuatu yang putih dan melihat Ira sedang menangis tersedu disana memanggil namanya.


Ia mencoba meredakan detak jantung dan juga nafasnya yang sudah kembali ada. Raga merasakan tubuh hangat Ira. Harum tubuh nya membuat Ragata membuka suara walau begitu pelan.


''Hu-hun-hunny...''


Deg!


Ira berhenti menangis, ia mengurai pelukannya dari tubuh lemah Ragata. Ia menoleh pada Raga yang matanya masih terpejam.


''Kamu bangun? Kamu bangun sayang? Haaaa.. Ragata ku kembali iii... Alhamdulillah ya Allah...'' Isak Ira dengan segera memeluk kembali tubuh Ragata.


Ia menangis sesegukan lagi di dada sang suami. Ragata tersenyum. ''Hu-hunny.. pengap ih!''


Ira terkejut, ''Eh? Hehe.. sshhuutt.. maaf.. mana yang sakit hiks hem? Biar aku obati, hiks.'' jawab Ira dengan segera ia menegakkan tubuh Raga dan bersender di pinggir sofa.


Manik mata hitam itu terbuka.


Deg!


Lagi, Raga tertegun melihat seseorang yang sama saat ia masuk ke rumah itu. Ia menatap Ira dengan dalam.


Untuk menyelami rasa dihatinya. ''Hu-hunny? Kau kah itu??'' tanya Ragata dengan wajah terkejut nya lagi.


Ira terdiam. ''Tidak kah kau mengenaliku Hubby? Walau dari mata, getaran dihati serta harum tubuhku yang selalu membuatmu candu?''


Deg!


''Hunny...''


''Hah! Benar tebakan ku! Jika kamu akan melupakan ku jika kamu sudah mendapatkan orang yang sama wangi tubuhnya seperti aku! Benar bukan?''


Deg!


Lagi jantung Raga berdetak tak karuan. ''Hunny...'' lirihnya lagi masih dengan menatap Ira.


Ira menoleh pada Ummi Hani, Mak Alisa dan Papi Gilang. Wajahnya datar. Mak Alisa tau itu.


Dengan segera ia mendekati Ira dan menariknya dari hadapan Ragata. Ragata terdiam.


Wajahnya kebingungan saat ini. Ia menoleh pada Sonia. Gadis yang telah menipunya dengan harum tubuhnya saat di apartemen miliknya.


''Kamu! Kamu penyebab dari semua ini! Aku akan membalas mu Sonia!!!''


Deg!


Deg!


Jantung Sonia berdegup kencang. Wajahnya kembali pucat saat ini. ''Karena kau yang menipuku, hingga harus terjadi salah paham seperti ini! Karena kau Sonia! Kau penyebab nya! Kau harus bertanggung jawab untuk ini! Aku akan membalas mu!!'' pekik Ragata dengan kuat.

__ADS_1


Sampai Ira memejamkan kedua matanya. ''Berhenti Ragata! Tidak usah menyalahi gadis itu atas kesalahan mu! Yang harus kamu tau, jika gadis yang tertutup niqob itu adalah istrimu! Istri sah mu semenjak sembilan tahun yang lalu!"


Ddddduuuaaarrrr...


Ragata terhenyak mendengar ucapan Ummi Hani. Ia menatap Ira dengan wajah terkesiap. Ummi Hani mendekati Ira dan membuka kain tipis yang menutupi wajah Ira saat ini.


"Lihatlah! Dia cantik bukan? Bahkan Lebih cantik dari gadis selingkuhan mu itu!"


Deg, deg, deg.


Ragata menoleh pada wajah Ira yang sudah terbuka. Wajah cantik puluhan tahun yang lalu pernah ia lukai karena kecerobohan nya.


Wanita yang pernah tersesat karena ada seseorang yang dengan sengaja membuat nya tersesat di hutan.


Wanita yang sama saat dalam tidurnya selalu wajah manis itu yang terlihat disana. Mata Ragata memanas.


Buliran bening itu meluncur dengan deras setelah melihat wajah Ira yang begitu cantik saat ini.


Alis mata hitam, bulu mata lentik, bibir tipis nan menggoda. Wajahnya juga begitu mulus. Sangat cantik. Ragata terpaku melihat Ira.


Tanpa sadar tungkai jenjang itu mendekati Ira yang sedang berada bersama Mak Alisa.


"Hunny!! Hunny ku!! Kamu Ira?! Kamu Ira, ku?! Ya Allah.. maafkan aku Ra.. maaf..." lirih Raga dengan segera memeluk tubuh Ira yang bergetar karena menahan rasa sesak di dada.


"Hiks, maaf Hunny... maaf.. hiks.. maaf karena aku tidak bisa mengenalimu! Maafkan aku Hunny... maafkan aku.." lirih Ragata dengan terus memeluk tubuh Ira.


Ira tersedu di pelukannya. Apa kabar Sonia? Gadis itu mematung melihat wajah Ira sekarang.


Wajah yang dulu pernah ia lihat di dalam ponsel, dompet dan apartemen Ragata. Rasa cemburu itu tiba-tiba menyeruak ke hatinya.


Ingin sekali melepas pelukan itu. Tapi tidak berani. Karena ada seorang pemuda tampan yang sedang berdiri di sampingnya tanpa melihat dirinya sama sekali.


Ira menatap datar pada Ragata. "Ya Allah... maaf Hunny... aku tak tau! sungguh!"


Ira menatap Raga dengan datar. Walau air mata terus mengalir, tapi wajah ayu itu tidak tersenyum sama sekali.


"Bagaimana kamu bisa mengenali ku? Jika di depanmu sudah ada wanita lain selain diriku?"


Deg!


"Hunny..."


"Bagaimana kau tau Jika aku adalah istrimu sementara baru sekali kau menginjak kan kakimu dirumah ini, kau sudah berpelukan dengan wanita lain yang bukan mahram mu?"


Deg!


Jantung Raga seperti diremas-remas saat ini. Begitu sakit. "Hunny.. aku-,''


''Apa? Ingin mengelak? Ingin bilang jika kamu itu hanya bersandiwara? Sandiwara yang mengatakan jika dia itu kekasihmu, sayangmu, dan istri masa depanmu, begitu?!''


Deg!


Deg!


Lagi, jantung itu seperti di tikam sebilah pisau runcing yang tepat sasaran mengenainya. Sakit sekali.


Ragata memejamkan kedua matanya untuk menahan rasa sakit yang terus mencuat karena perkataan Ira untuk nya.

__ADS_1


''Hunny.. dengarkan dulu penjelasan ku!''


''Tidak ada yang perlu dijelaskan disini! Kau ingin bilang lagi, Jika kau tidak tidur bersama nya? Sementara setiap malam aku selalu mendengar suara desahaaan dari balik kamar utama yang seharusnya menjadi kamar kita berdua??''


Ddddduuuaaarrrr..


''Hunny!! aku tidak seperti itu!''


''Astaghfirullah.. ya Allah..'' lirih Papi Gilang, dan Mak Alisa.


Sementara Rayyan mengepalkan kedua tangannya. ''Pulang Kak!'' seru Rayyan. Wajah itu merah padam sekarang. Menahan rasa amarah yang sedang melanda dirinya.


Mak Alisa terkejut mendengar suara Rayyan. Dengan cepat ia memeluk putra sambungnya itu.


''Bawa pulang Kakak, Mami!! Abang tak sanggup mendengar nya! Pulang Mami!'' seru Rayyan lagi.


''Tenang Nak.. semua ini belum jelas.. Abang duduk dulu ya?'' pinta Mak Alisa dengan lembut.


Rayyan menurut. Ia duduk di sofa yang jauh dari Sonia. Ia tetap terus memeluk Mak Alisa. Sesekali ia terisak. Namun belitan tangan itu tidak lepas dari tubuh ramping Mak Alisa.


''Sabar sayang.. sebentar Lagi!'' bisiknya di telinga Rayyan.


Tubuh itu semakin berguncang. Sementara Ragata terengah-engah Karena me rasa amarah yang akan meledak sebentar lagi.


Ia menengadahkan kepalanya ke atas dan menjambak nya. Semua itu tak luput dari perhatian Ira.


''Berhenti menyakiti dirimu Kak Raga! Sudah dua Minggu ini aku selalu mengawasi kalian berdua! Setiap hari dan setiap malam aku masuk ke kamar mu dan kamar wanita itu. Selalu saja baju dalam kalian itu berserak di mana-mana. Belum lagi seprei itu yang selalu meninggalkan bekas bercak basah sisa pertempuran kalian setiap malamnya. Tapi aku tetap sabar! Aku tetap menabahkan hatiku, jika semua itu bukanlah kamu Ragata! Tapi semua itu hancur saat aku melihat sebuah foto yang menunjukkan jika Kamu sedang menggagahinya! Apakah itu belum cukup Ragata Hariawan!!''


Ddddduuuaaarrrr..


Lagi, Suara petir itu terus menggema di langit rumah mereka. Sangat menakutkan! Seolah alam membenarkan ucapan Ira.


''Kita Pulang Mi! Kakak! Pulang!'' tegas Rayyan tak terbantahkan.


Ira menatap datar pada adiknya. ''Apakah kakak menunggu aku membunuhnya baru kakak ingin ikut bersama ku?!?'' pekik Rayyan lagi dengan nafas memburu.


Ia semakin panas mendengar ucapan Ira. Ragata menggeleng. ''Nggak! Aku tidak melakukan hal tidak senonoh itu dengannya Hunny! Itu bukan aku! Jika aku katakan kamu pasti akan jijik melihatnya! Kamu tau itu, Ra! Itu bukan aku! Kamu tau setiap malamnya aku tidur dimana!''


''Tapi aku melihat dengan mataku sendiri jika kamu masuk ke kamar itu! Tak lama setelahnya, suara lenguhan dan desahaaan terdengar dari kamar kalian berdua!!'' seru Ira dengan air mata yang terus bercucuran.


''Astaghfirullah... ya Allah.. Hunny.. itu bukan aku. Percaya padaku Hunny.. tolong percaya padaku..'' lirih Ragata dengan duduk bersimpuh di depan ira.


Ia memeluk tubuh Ira bagian bawah, wajahnya tepat pada perut Ira. Ragata tersedu disana.


Rayyan yang sudah tidak tahan, langsung keluar dari rumah itu dan menunggu di dalam mobil.


''Kita pulang, Pi! Bawa serta putri mu! Aku harus menenangkan Rayyan yang sedang mengamuk disana! Kamu tau kan seperti apa Rayyan kalau sudah mengamuk?''


''Ya, ayo sayang! Kita pulang! Biarkan ia dengan masalahnya! Tugasmu sudah selesai disini! Tinggal tunggu surat cerai dari nya! Ayo!''


''Nggak! aku Tak akan melepaskan Ira, Papi! Ira istriku! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan nya!''


''Terserah padamu! Saya tak peduli! Yang penting putriku harus ikut pulang bersama ku! Kita pulang Nak. Jangan sampai adikmu yang akan menyeretmu nantinya! Lihat disana! Wajahnya sangat tidak bersahabat saat ini! Kamu kenal siapa putra Papi, kan Kak??''


Ira mengangguk patuh. Dengan segera ia melepas belitan tangan Ragata dari tubuhnya dan berlalu pergi meninggalkan Ragata yang mematung seorang diri disana melihat kepergian nya.


💕💕💕💕

__ADS_1


Siap-siap! Kamu akan hancur bang Raga! 😏


__ADS_2