Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Mak Alisa Resah


__ADS_3

''Semua keputusan ada ditangan mu Lis! Kami menunggu jawaban mu hari Minggu besok! Ayo hunny. Kita pulang.'' ajak Abi Hendra.


Ummi Hani melihat Alisa dengan wajah sendu nya. ''Aku pulang ya Lis? Kamu tak apa kan jika ku tinggal?'' tanya Ummi Hani.


Mak Alisa menatap ummi Hani dengan wajah datar. ''Ya, pulanglah! Tempat mu memang bersama suami mu. Tapi tidak dengan putriku!''


Deg!


''Alisa...''


''Alisa...'' panggil Mama Lia dan ummi Hani bersama an.


Mak Alisa tetap pada pendiriannya. ''Kita lihat saja nanti, apa yang menjadi keputusan putriku itulah keputusan ku.'' Tegas Mak Alisa.


Abi Hendra hanya bisa menghela nafas panjang. ''Terserah padamu Alisa. Kami mengikuti semua keinginan mu. Apapun yang menurutmu baik, kami ikuti. Tapi jika Raga tetap ingin menginginkan putrimu, kamu tidak bisa menolaknya Alisa.'' ujar Abi Hendra sembari menatap Mak Alisa yang juga sedang menatapnya.


''Tentu,'' sahutnya masih dengan wajah datarnya.


''Kami pulang ya, nak? Minggu bedok, Hani dan Hendra yang akan menyusul mu! Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' sahut Mak Alisa.


Wajahnya datar tanpa ekspresi ketika melihat pria paruh baya disana sedang menatapnya dengan datar juga.


Mereka berlalu meninggalkan toko kue Mak Alisa. Sebelum pergi, ummi Hani masih berbalik melihat pada Mak Alisa.


''Maafkan aku Alisa...'' lirih ummi Hani.


Dengan segera ia masuk ke mobil. Dan berlalu meninggalkan Mak Alisa yang menatap dengan datar.


Entah mengapa saat ini hatinya begitu resah mengingat Ira di pesantren sana bersama Raga.


''Semoga kamu kuat, Nak..'' gumamnya.


Sementara Ira di pesantren yang sama dengan Raga saat ini sedang melakukan piket kelas.

__ADS_1


Ternyata, Arumi satu kelas dengan nya. Ira tetap bertahan dengan wajah datarnya, ketuka melihat Arumi mendekati nya.


''Hei gadis buluk! enak banget kamu ya? Masuk ke pesantren ini karena Kak Raga. Cih! tak tau malu! Bisa nya cuma jadi benalu! Ingat kamu ummi Hani itu ibu mertuaku! Dan Oma Lia itu Oma ku! Kamu tidak pantas bersama Ragata! Aku ingatkan ! Jangan sekali-kali kamu mendekati Raga! Raga itu suamiku! Paham kamu!'' sentak Arumi dengan suara tinggi naik satu oktaf.


Ira yang sedang mengelap meja guru pun menoleh. ''Kamu berbicara padaku?''


''Dasar tuli! Bodoh lagi! Kok bisa sih Ragata memilihmu sebagai calonnya? Cih! lagunya sok suci! Padahal mah kotor!'' seru Arumi lagi.


Ira menghela nafasnya. ''Kapan kau menikah dengan Ragata? Boleh aku lihat buktinya? Mahar apa yang diberikan Ragata padamu? Sudah punya buku nikah?''


Arumi melotot mendengar ucapan Ira. Ia kesal dengan Ira yang selalu menjawabnya. Karena emosi, Arumi mengangkat tangannya untuk menarik hijab Ira.


Seseorang diluar sana mengepalkan tangannya. Ia ingin menjumpai pujaan hatinya itu. Tapi tak tau nya keduluan sama Arumi.


Ia ingin masuk dan menarik Arumi, tapi tak jadi karena mendengar ucapan Ira


''Jangan sekali-kali kau berlaku kasar padaku, Arumi! Kita disini semua sama. Sama-sama menuntut ilmu. Kau anak seorang pemilik pesantren. Ustadz lagi. Tidakkah kau malu dengan perbuatan mu yang tidak terpuji ini? Kau ingin membuang kotoran di wajah kedua orang tuamu karena kelakuan mu? Aku tak pernah merasa jika aku merebut Raga darimu! Tanyakan padanya, siapa disini yang mengejar dan dikejar!''


''Jangan mentang-mentang kau anak pemilik pesantren ini. Kau bisa berbuat macam-macam padaku! Kau dan aku, kita sama! Yang membedakan adalah status sosial kita! Jangan selalu merendahkan orang lain, jika kau tak ingin direndahkan! Hargai keberadaan orang lain, walaupun dia itu rival mu!.''


Deg!


Jantung Arumi berdegup kencang. Ia begitu tertampar dengan ucapan Ira. Raga masuk dan mendekati Ira.


''Hunny...'' panggil Raga.


Arumi dan Ira menoleh. Arumi tersenyum melihat Raga ada di belakangnya. ''Kakak ngapain kesini? Ingin melihatku ya?'' ledek Arumi terlalu percaya diri.


Raga tak mendengarkan ucapan Arumi. Ia melewati Arumi dan berdiri di depan Ira. Ira tidak peduli.


Ia sibuk dengan pekerjaan nya. Raga terkekeh melihat Ira begitu serius dengan pekerjaan nya.


''Hunny...'' panggil Raga lagi.


Ira menoleh tetap dengan wajah datar. ''Hubby...'' sahut Ira. Dengan segera ia mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Raga.

__ADS_1


Raga menerima uluran tangan itu. Ira mengecup nya dengan takzim. Semua itu tak luput dari perhatian Arumi.


Dirinya seperti terbakar saat ini. Panas!


Raga mendekatkan dirinya ke wajah Ira dan.. Cup. Kecupan hangat ia labuhkan di dahi Ira. Ira memejamkan kedua matanya.


''Kenapa kemarin tak menemui ku, hem?'' tanya Raga saat sudah selesai mengecup dahi Ira.


Ira tersenyum, ''Hehehe.. aku lihat kakak sedang sibuk! Jadi aku tidak mau mengganggu!'' sahut Ira dengan sedikit nyengir.


Ira melirik pada Arumi yang sudah berwajah masam. Raga terkekeh, ''Jika untukmu aku tidak akan pernah sibuk! Udah sarapan?''


Ira mengangguk. ''Udah tadi sama yang lain.'' sahutnya masih dengan melirik Arumi.


Kesal di cuekin, Arumi menarik paksa lengan Raga hingga menoleh padanya. Raga terkejut. Arumi dengan cepat ingin mengecup bibir Raga saking kesalnya pada Ira.


Tapi sayang, Raga menoleh kesamping. jadilah hanya pipi yang dapat dijangkau oleh bibir Arumi.


Bibir Arumi merengut sebal. ''Ihh.. kok dibuang sih muka nya! Kan cuman dapat pipi! Biasanya sarapan pagi aku tuh, bibir kamu Kak! Kita kan suami istri? Ini malah kamu lebih perhatian dengan gadis buluk ini ketimbang aku! Aku ngambek nih!''


Ira mengepalkan tangannya. Ia menatap datar pada Ragata. Raga menggeleng kan kepalanya melihat Ira.


''Selesaikan urusan mu dengan CALON ISTRIMU Ragata! Setelah selesai baru kita bicara!''


Deg!


''Hunny...'' lirih Raga


Sedangkan Arumi tersenyum senang. Ia tersenyum sinis melihat Ira yang berlalu meninggalkan nya.


''Kau! Apa yang kau inginkan Arumi? Kenapa mengatakan pada Ira jika kau adalah istriku?! Kau lupa status mu Arumi! Aku tak menyangka, anak seorang pemilik pesantren begitu rendah harga dirinya ketika di hadapan lelaki yang sudah mempunyai istri! Kau pelakorrr yang mengganggu hubungan ku dengan istriku! Kau!'' tunjuk Raga pada wajah Arumi. ''Bukanlah istriku! Kita tidak sedekat itu, hingga kau berani mencium ku! Cih! murah sekali harga dirimu Arumi! Kau tidak pantas bersanding denganku Arumi! Ira yang berstatus sah saja tidak semurah dirimu! Yang berani mencium suami orang di depan istrinya sendiri! Cih! Sekarang saja sudah terlihat seperti apa kelakuan mu? Heh! Murah sekali!''


Ddddduuuaaarrrr..


TBC

__ADS_1


__ADS_2