
''Ayo, akan ku pakaikan baju mu, By. Seger kan yah?'' seloroh Ira.
Cup!
Ragata mengecup sekilas pipi Ira. ''Ya, jika bersama mu apa pun akan terasa segar!'' sahut Raga masih dengan tersenyum melihat Ira yang sedang memakai kan baju ganti untuknya yang sudah basah tadi.
''Heleh, mau gombal nih ceritanya?'' ledek Ira sambil mencebik kan bibir nya.
Cup!
Raga mengecup lagi putik merah jambu yang semakin membuat nya candu. Ira memutar bola mata malas.
''Stop ih! Seneng banget sih curi-curi kesempatan?'' Ira mendelik tak suka. Raga tertawa.
Ia menarik tubuh Ira agar mendekat padanya. Harum mawar menguat dari tubuh Ira. ''Hemmm... harum inilah yang membuat aku tertipu dengan Sonia. Beruntungnya aku, aku mengenali yang mana istri sah ku dan yang mana wanita lain..'' lirih Raga dalam dekapan Ira.
''Bukankah aku sudah mengatakan nya padamu, By?''
''Apa?''
''Ck! kok kamu lupa sih?'' Raga terkekeh.
''Kakak masih ingat sayang.. 'Wangi tubuh mu selalu ada dalam ingatan ku. Walaupun aku tidak melihat mu datang, tapi wangi dari tubuh mu itu aku tau. Jika kamu sudah ada di belakang ku.'' ucap Raga masih dengan senyum tersungging di bibirnya.
''Dan kamu juga bertanya, Bagaimana jika nanti ada seorang gadis yang sama dengan wangi tubuhku, apakah kakak bisa membedakan nya??''
''Tentu! Karena kakak mengenali dirimu bukan dari wangi tubuh mu saja. Tapi dari hati. Saat getaran itu datang, perasaan hangat dan nyaman disaat itulah kakak tau, jika kamu ada di belakang kakak. Wangi sebuah parfum bisa ada pada tubuh gadis lain, tapi getaran dari hati hanya ada ketika bersama mu sayang..'' imbuh nya dengan menatap dalam pada Ira.
Ira tertegun mendengar penuturan Ragata. ''Hunny.. ada kisah masa lalu yang kamu tidak ingat. Coba ingat-ingat, ketika kecil saat kamu kelas tiga SD ada kejadian apa,'' tanya Raga sambil mengurai pelukannya.
Ira menatap dalam pada Raga. ''Kelas tiga SD?'' ulang Ira.
Raga mengangguk, ''Ketika kamu kelas tiga SD. Masih ingat nggak ada kejadian apa?'' kata Raga lagi dengan mengingatkan kepada Ira.
''Eum... apa ya? Nggak ingat sih, By. Beneran! Lupa aku! hehehe..'' Ira terkekeh didepan Raga
Raga tersenyum, ''Ayo berbaring, pegal belakang kakak duduk terus.''
''Ehehehe.. dengan senang hati. Ayo, kamu dulu By. Aku menyusul.'' Raga mengangguk.
Ia mencoba menggeser tubuhnya sedikit ketepi agar ada ruang untuk Ira bisa berbaring di sebelahnya.
__ADS_1
''Sudah. Ayo cerita kan. Mana tau, Kamu yang menceritakan nya, aku bisa ingat?'' imbuh Ira setelah merangsek masuk ke cerung leher Ragata yang berbau harum maskulin tubuhnya setelah tadi ia mandikan.
''Hem.. waktu umur kakak sepuluh tahun kakak pernah jalan-jalan sama Oma ke taman safari Medan yang dekat sini. Sekarang udah nggak ada. Udah jadi hotel semua.'' kata Raga sambil terkekeh.
''Terus?''
''Saat itu kami bertiga, Kakak, Opa dan Oma pergi kesana dengan mobil pribadi milik Opa. Kami melewati jalan setapak yang jarang dilewati orang. Itu jalan pintas menuju ke taman safari itu. Jalan itu hanya muat untuk satu mobil saja. Jika ada mobil lewat, maka motor atau mobil lain harus berhenti menunggu mobil yang di gang itu lewat.'' cerita Raga sambil mengusap lembut tangan Ira.
Ira mengenang sesuatu, matanya membulat sempurna saat mengingat kejadian yang sudah begitu lama.
''Saat kami bertiga melewati jalan sempit itu, dari kejauhan kakak melihat seorang anak perempuan memakai hijab berwarna biru muda dengan gamis senada sedang berlari dengan kencang. Entah karena apa, Kakak pun tak tau. Yang jelas saat itu, gadis kecil itu begitu panik. Hingga tanpa sadar, ia tertabrak oleh mobil yang Kakak tumpangi.''
Ira mengeratkan pelukannya pada tubuh Raga. Ia ingat sekarang. Ingat segalanya. Tubuh Ira bergetar. Raga tau itu. Ia mengusap lembut tubuh hangat sang istri.
''Gadis itu tertabrak mobil kami hingga terluka. Pelipis dan perutnya terbentur kuat pada depan mobil membuat suara benturan keras terdengar. Opa menghentikan mobilnya, dan membuat pintu kemudi dengan buru-buru. Kakak pun begitu. Kakak berlari duluan. Dan saat Kakak melihat wajah gadis kecil itu, jantung kakak berdebar tak karuan. Sempat oleng ke belakang namun Oma menahan tubuhku agar tidak terjatuh.''
''Hiks.. My Prince...'' lirih Ira dengan bibir bergetar.
Ragata tersenyum. Ia melanjutkan lagi ceritanya. ''Melihat gadis itu seperti melihat diriku sendiri. Wajahnya begitu mirip dengan kakak ketika kecil dulu. Oma dan Opa pun mengatakan hal itu. Melihatmu pingsan tak sadarkan diri, kakak panik setengah mati. Entah kenapa ada rasa aneh menelusup ke hati saat melihat gadis kecil itu terluka. Dengan segera, kami membawa kerumah sakit untuk segera ditangani.''
Ira semakin mengeratkan pelukannya ditubuh ringkih Raga. Ia membalasnya tak kalah erat dari itu.
''Raga Hunny.. bukan Ragi..'' kata Raga sambil terus tertawa.
Ira terus saja terisak. ''Kak Ragiku...'' Raga tertawa.
''Kamu sudah ingat Hunny?'' Ira mengangguk.
''Ceritakan, aku mau dengar. Karena ketika itu aku tidak sadarkan diri. Ketika sadar pertama kali yang aku lihat itu wajah tampan mu...'' lirih Ira dengan wajah merona.
Ragata tertawa. ''Ya, aku tampan sekali saat itu Dimata mu. Sampai-sampai kamu ubah namaku. Dari Raga menjadi Ragi!''
Ira terkekeh, namun masih di ceruk leher Ragata. ''Waktu itu, kami tidak tau identitasmu. Dengan terpaksa Oma dan Opa kembali lagi ke tempat itu. Dan ya, mereka berdua berhasil menemukan orang yang sudah membawa mu kesana. Masih ingatkan pertama kali tangan kita bersentuhan?'' Ira mengangguk dan menoleh pada Raga yang sedang tersenyum.
''Seperti apa?'' tanya Raga sambil menatap ke dalam manik mata hitam Ira.
''Seperti di gigit semut! Dan juga ketika di lepaskan, nggak rela. Waktu itu, aku lebih suka di pegang kak Raga daripada suster itu!'' ketus Ira.
Membuat Raga tertawa. ''Terus, apalagi yang kamu ingat?''
''Eum... waktu itu, dokter bilang sama Mak, kalau perut ku terbentur dengan keras. Dan mengakibatkan sesuatu di.....'' Ira mematung saat mengingat hal itu.
__ADS_1
Ragata memeluk tubuh Ira. ''Apa?''
Leher Ira tercekat untuk mengatakan nya. ''I-itu.... pe-perutku... rahimku... mengalami masalah dan, dan akan sulit memilki keturunan....'' lirih Ira dengan tersedu.
Ragata semakin erat memeluk tubuh Ira. ''Hiks.. aku mandul kak.. aku ma-manduuuulll...'' seru Ira semakin tersedu.
Ragata ikut menangis. ''Kamu tidak mandul Hunny. Kamu hanya sedang sakit. Maka dari itu Kakak sekolah keluar negeri untuk menyembuhkan mu dengan tugasku sebagai dokter. Karena hanya dokter spesialis kandungan yang bisa mengobati sakitmu. Jangan sedih.. kita belum coba loh.. apakah rahim kamu sehat atau tidak? Kakak kan belum periksa? hem? Atau kita coba sekarang aja membuatnya? Mumpung dirumah sakit?''
Plak..
''Allahu Akbar! Kok di pukul sih? Tega kamu sama Kakak! Tubuh kurus begini, tinggal tulang dan kulit kamu tega memukulnya!''
Ira tersedu namun terkekeh. Ragata tertawa. ''Maka dari itu, Kakak sengaja sekolah kesana. Semua itu demi dirimu, Hunny. Buat apa kakak tersiksa dan bertahan selama lima tahun ini kalau bukan untuk ini? Semuanya untuk mu Hunny. Cukup sekali kakak kehilangan mu, tapi nggak lagi. Kakak hampir mati karena terus mencari mu. Yang tidak tau dimana tempat tinggal mu.''
''Setelah kejadian itu, Kakak tidak pernah melupakan mu sedetikpun. Wajah manis mu selalu ada dalam ingatan hingga lima tahun lamanya kita kembali dipertemukan. Pertama kali melihatmu, Kakak sudah tau Jika itu kamu. Makanya kakak sering ngikutin kamu. Dari mulai ke Mushola, kantin, bahkan sampai ke WC pun kakak ikutin kamu dengan cara pura-pura buang air kecil. Padahal sedang menjagamu agar tidak pergi lagi seperti dulu.'' Raga terkekeh begitu juga dengan Ira mengenang saat mereka sekolah dulu.
''Dan beruntungnya Kakak, ternyata kamu adalah anak seseorang dari sahabat ummi di kampung halamannya. Kamu, My Queen! Kamu! Kamu yang selama ini Kakak cari. Setelah kakak mendapatkan mu, apakah kamu pikir Kakak bisa melepaskan mu begitu saja?'' jelas Raga membuat Ira tertegun.
Ia menatap Raga dengan sendu. ''Maafkan aku By.. aku tidak tau.. Aku lupa padamu.. padahal sejak kejadian itu, aku terus saja mengingat mu. Aku sengaja mengunci rapat hatiku agar tidak menyukai pemuda lain. Karena aku pun menunggu dirimu. Dan ya, saat pertama kali melihat mu di lapangan, sempat terpikir olehku apakah kamu My Prince? Karena wajahmu begitu mirip dengannya. Kak Ragi!''
Raga tertawa. Begitu juga dengan Ira. ''Kita berjuang bersama ya, By? Untuk sekarang, kesembuhan mu yang lebih utama. Setelah itu, baru diriku. 'Kan nggak mungkin dong, dalam keadaan sakit gini kamu mengobati ku? Sementara tubuhmu saja belum dikatakan layak untuk bisa mengobati ku? Iyakan?''
Raga tersenyum dan memeluk Ira semakin erat. ''Ya, saat ini dokter kurus ceking ini harus sembuh dulu agar bisa mengobati pasien spesial ku ini. hem?'' Ira tertawa. Begitu juga dengan Ragata.
Kisah masa lalu, hingga membawa mereka ke masa depan. Ya, Raga nekat ke luar negeri demi Ira. Sang istri yang mengalami benturan parah pada rahimnya karena kecelakaan yang disebabkan oleh Opa, Oma dan dirinya.
Tapi bukan itu yang menjadikan Raga tidak ingin lepas dari Ira. Sejak pertemuan pertama kali itu, Raga memang sudah tertarik pada Ira.
Paras ayu Ira, polos, dan begitu menggemaskan bagi Raga. Hingga ia bertekad akan mendapatkan Ira untuk menjadi istri masa depannya.
Karena ia sudah merasa nyaman dengan Ira saat pertama kali bertemu. Jika tentang sakitnya, Raga akan berjuang untuk mengobati Ira semampu dan sebisanya.
Itulah tekad Raga.
💕💕💕💕💕
Jangan bosan ye?
Akhir bulan end!
So.. Pantengin terus.. agar jangan kelewatan update nya! hihihi..
__ADS_1