
''Tu-tunggu Sonia! Tolong jangan lakukan hal itu! Dia istriku! Tolong jangan sakiti dia!'' suara dalam rekaman ponsel itu membuyar kan lamunan Sonia tentang masa lalu mereka disana.
Ragata menatap sinis padanya. ''Bagaimana? Masih mau mengelak? Dan ya, aku juga punya bukti tentang ayah bayi yang kau kandung itu!''
Deg!
Deg!
Sonia kembali terkejut. ''Aku yang katakan? Atau kau yang mengaku saja?'' ejek Ragata dengan tersenyum meledek nya.
Lagi dan lagi Sonia terkejut. ''A-apa maksud mu Ragata! Anak ini darah daging mu!'' seru Sonia.
Ragata tertawa. Suara tawa yang begitu menyeramkan. ''Darah dagingku? Bagian mana janin yang ada dalam perut mu itu darah dagingku?! Bagaimana ceritanya, janin itu anakku, sementara aku tidak pernah sekalipun menyentuh mu! Jangan berbohong lagi Sonia! Jangan mengelak lagi dari kenyataan!''
''Ini memang anakmu Ragata!!!'' pekik Sonia.
Ragata menghela nafas panjang. ''Baiklah. Itu yang kau inginkan! Oke! Kita putar kembali rekaman berikut nya! lihatlah!''
Tunjuk Ragata pada Video itu. ''Ah.. sakit! Kamu gimana sih Kak?! Sakit perutku! ishh.. bisa penyet bayi kita! Tau nggak!''
Deg!
Jantung Sonia bergemuruh hebat. ''Maaf sayang.. maaf.. kakak nggak sengaja! Ya udah ya, malam ini kita tidak usah bersenang-senang, tapi kamu harus bersenang-senang dengan pemuda yang aku pilihkan! Kita akan bersama-sama menikmati nya! Mereka sudah ada di depan pintu. Sebentar aku bukan pintunya!''
Deg!
Lagi, keringat dingin itu mengucur di dahinya. Wajah nya pucat pasi. Bagai tak di alirkan darah.
Sementara suara dan gambar dalam video itu membuat ummi Hani dan Abi Hendra beristighfar berulang kali.
''Bagaimana? Masih belum mau mengakui jika ayah dari janin yang kamu kandung itu adalah Sandi! Kakak kamu! Kakak angkat kamu! yang diadopsi oleh Tuan Krisna dan Nyonya Anita dua puluh lima tahun yang lalu di sini! Di negara kita! Dan kedua orangtuanya pun masih hidup Sampai sat ini!''
__ADS_1
Ddddduuuaaarrrr...
Tubuh Sonia oleng kebelakang. Sedangkan Nyonya Anita tubuhnya luruh ke lantai karena pingsan.
Sonia jatuh terduduk di lantai nan dingin. Ia menatap kosong pada rekaman ulangan dimana dulu, ia menjebak Ragata dengan obat perangsang dosis tinggi.
Semua video itu berurutan Ragata putarkan dihadapan Sonia dan kedua orang tuanya. Tuan Krisna tidak bisa berbicara apalagi.
Mulut nya terkunci rapat. Dengan semua bukti yang Raga tunjukkan akan sangat tidak mungkin Sonia akan terbebas dari hukuman penjara.
''Kamu masih ingat Sonia dengan apa yang aku katakan dulu?'' tanya Ragata pada Sonia.
Sonia diam. Tatapan Matanya kosong. ''Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai! Itulah hasil dari perbuatan mu Selama di luar negeri lebih kurang lima tahun ini bersama ku. Dua tahun bersama kakak angkat mu! Dan tiga tahun bersama ku! Kau mengingatku dengan kelemahan ku! Kau tau Jika kelemahan ku terletak pada Ira. Istriku. Tapi kau tetap menekan ku! Agar balas dendam dan obsesi mu terlampiaskan pada orang yang tepat. Yaitu aku.''
''Jika aku bisa memilih, aku lebih memilih istriku dibandingkan dengan mu! Walaupun sekarang kami jauh karena ulah mu, tapi aku akan tetap berusaha berjuang demi meluluhkan hati istriku! Aku terpaksa berbaik hati padamu, demi sebuah bukti akurat itu. Semua bukti itu sudah aku serahkan kepada polisi. Sebentar lagi, mereka akan datang kesini untuk menangkapmu!''
''Jika kau tau tentang kelemahan ku adalah istriku, maka aku jauh tau kelemahan mu adalah Sandi. Kakak angkat rasa pacar, sekaligus suami diluar nikah mu! Aku terpaksa harus menyentuh tubuhmu dengan tanganku! Kau selalu membuatku kacau dengan harum tubuh mu yang begitu mirip dengan istriku! Tapi aku tidak terkecoh sama sekali! Bahkan saat kau memberikan obat perangsang itu pun, aku masih bisa menangani nya! Kau salah Jika berurusan dengan ku Sonia! Kau salah! Aku bukanlah lawan mu! Kau tak sepadan denganku! Berhenti mengharap kan dan balas dendam yang memang sudah jelas menjadi milik orang lain!''
''Hah! Inilah salahku! Salahku karena harus mengenal dirimu yang selalu mencoba untuk merusak hidup ku! aku tidak menyalahkan mu dalam hal ini. Mungkin inilah jalan takdirku. Mungkin dengan cara ini, Aku harus lebih tegas dalam menangani seorang wanita ular berbisa sepertimu!''
Deg!
Sonia memejamkan kedua matanya. ''Ummi, Abi, urus wanita ini! Aku harus segera menyusul Ira kerumah mertuaku. Doakan aku ummi, agar Ira mau ikut bersama ku. Jika tidak, maka hidupku akan hancur. Sama seperti lima belas tahun yang lalu.''
''Pergilah! Kalian berdua butuh waktu untuk ini. Jika Ira menolak ingin bertemu denganmu, maka bersabarlah. Tapi tetap harus berjuang demi mendapatkan kepercayaan nya lagi.''
''Pergilah!'' titah Abi Hendra dengan menepuk bahu putranya.
''Terimakasih Abi, ummi. Aku pergi! Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..'' sahut ummi Hani dan Abi Hendra.
__ADS_1
Setelah melihat Ragata pergi, kini Abi Hendra berbicara pada Tuan Krisna. ''Bawa Kembali putrimu tuan Krisna! Tunggu sampai polisi untuk membawa putrimu! Seluruh akses untuk keluar negeri sudah kami bekukan! Tunggu sampai polisi menjemput putrimu! Silahkan keluar dari rumah ini! Putramu sudah menunggu diluar!'' tunjuk Abi Hendra pada Sandi yang sudah berdiri diluar rumah mereka.
''Sayang ..''
Deg!
''Kak Sandi...'' lirih Sonia dengan mata berkaca-kaca.
Dengan segera ia bangun dan berlari memeluk tubuh tegap Sandi yang juga sedang menunggunya.
''Hiks.. hiks.. Kakak...''
''Ssssttt... sudah! Ayo kita pulang!''
''Aku Tidak mau masuk penjara Kak... bagaimana dengan anak kita?''
''Ssssttt .. sudah. Kita pikirkan nanti. Ayo kita pulang. Akan Sandi jelaskan semuanya Di rumah..'' lirih sandi sambil menunduk.
Tidak berani melihat wajah tuan Krisna yang begitu menahan amarah saat ini. ''Bawa anak sialan itu! Tapi jangan pulang kerumah ku! Aku tidak sudi memiliki seorang putri penipu dan penghancur rumah tangga orang lain! Pergi kau! Tunggu polisi menjemput kalian berdua! Tanggung jawab atas semua yang telah kalian lakukan selama ini! Aku tidak akan membebaskan kalian berdua! Terima resiko nya! Aku tidak akan menolong kalian lagi seperti selama ini!''
''Saya permisi tuan Hendra. Maafkan kehadiran anak sialan itu begitu menyusahkan anda selama beberapa tahun ini! Aku pulang. Terimakasih sudah mau menerima kami, walau harus putramu dan menantumu yang harus menanggung nya! Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..'' sahut mereka bersamaan.
Dengan segera tuan Krisna keluar dari rumah Ragata dan pulang kerumah mereka. Tidak peduli dengan dua anak yang sudah mereka anggap tiada itu.
💕💕💕💕
Hayoo.. jempolnya digoyang, kembangnya di siram ke othor ye?
Kalian belum jawab kan pertanyaan othor? Tapi tak apa. Tetap double update hari ini!
__ADS_1
Hihihi...