
Selesai mereka sholat pasangan pengantin itu sudah ditunggu oleh dua orang MUA yang akan mengurus Raga dan Ira.
Keduanya dirias setampan dan secantik mungkin. Wajah Raga yang memang sudah good looking Tidak perlu merias terlalu tebal. Cukup tipis tipis saja itu sudah sangat kontras dengan kulit putihnya.
Sedangkan Ira, ia dirias seperti Ratu sehari menggunakan pakaian adat Aceh, tapi tertutup niqob berwarna senada dengan warna bajunya. Yaitu warna merah.
Raga terpesona melihat wajah Ira setelah dihias oleh sang MUA professional sewaan ummi Hani.
Matanya tak berkedip melihat sang pujaan hati yang begitu cantik saat ini. Karena mereka berdua adalah keturunan Aceh, maka pakaian adat pun juga dari Aceh.
Pakaian adat ini langsung di tempah dari tempat ummi Hani dan Abi Hendra. Pakaian itu sudah disiapkan jauh jauh hari oleh ummi Hani.
Satu jam kemudian acara pun dimulai. Dimana prosesi adat Aceh yaitu pengantin lelaki harus diantar menuju kerumah pengantin wanita.
Mak Alisa dan Papi Gilang sudah menunggu mereka di pelaminan sana. Ada ayah Emil dan Mak Azizah juga sebagai pelengkap kedua orang tua Ira.
Ira terharu melihat nya.
Di depan pintu sana sudah menyambut dengan tarian Ranup lam puan sebagai penyambutan untuk pengantin pria.
Tarian Ranup lam puan ini sendiri bukan hanya untuk menyambut pengantin saja. Tapi juga sebagai penyambutan untuk gubernur, walikota, ataupun pejabat daerah lainnya. Khusus untuk daerah Aceh.
Tarian Ranup lam puan masih saja berlangsung. Dan saat ini Raga sedang diserahkan semangkuk sirih dihadapannya untuk diambil.
Dan digantikan dengan sebuah amplop berisi uang. Terserah mau berapa pun itu. Ragata sudah tau akan hal ini. Ia sudah mengisi amplop itu dengan cukup tebal.
Karena tarian Ranup lam puan ini dikhususkan datang langsung dari Aceh. Anak didik dari sanggar nenek Irma. Adik kandung Kakek Yoga. Papa Mak Alisa.
Sama seperti pernikahan Ppai Gilang dan Mak Alisa dulu juga seperti ini. ( Baca Pelabuhan terakhir ku.)
Raga mengambil satu sirih itu kemudian ia tukar dengan amplop berwarna kuning lumayan tebal.
Semua yang melihatnya bersorak senang. Setelah selesai dengan adat itu, kini Raga dibawa menuju ke pelaminan untuk di temukan dengan Ira sang istri tercinta.
Tiba di pelaminan, nenek Alina dan nenek Irma menyambut Raga dengan Suka cita. Mereka menghadap kan pasangan pengantin itu untuk bertatap muka.
Setelah selesai, Raga di tuntun untuk duduk di pelaminan. Dilanjutkan dengan ritual berikut nya.
Yaitu pesijuk atau memberi berkat kepada sepasang pengantin yang akan menjalani rumah tangga mereka.
''Selamat menempuh hidup baru sayangku. Semoga sakinah, mawadah warahmah.. nenek hanya punya ini untukmu. Pakaikan Raga.'' titah Nenek Alina pada Raga.
Raga mengangguk, dengan segera Raga memakaikan sebuah gelang emas ditangan Ira.
__ADS_1
''Cantik!'' celutuk Raga. Raga tersenyum melihat tangan Ira memakai gelang emas dari Aceh.
Kemudian Nenek Irma pun maju untuk memberikan Ira sesuatu setelah mengucapkan selamat kepada Ira dan Ragata.
''Selamat menempuh hidup baru cucuku. Sudah cukup selam ini pengorbananmu. Hari ini kalian berdua pantas untuk bahagia. Nenek Hanya bisa memberikan ini untukmu sayangku. Pergunakan dengan baik. Jika tidak berguna, simpanlah. Jadikan ini kenang-kenangan dari kami semua.'' ucapnya.
Ira mengangguk, namun air mata sudah berlinangan di pipinya yang tertutup niqob.
''Pakaikan di jari Ira, nak. Semoga rumah tangga kalian berdua selalu bahagia dan dilimpahkan Rahmat oleh Allah SWT.''
''Amiin...'' Ira dan Raga mengaminkan doa dari para tetua. Dengan segera Raga memakaikan cincin emas pemberian Nenek Irma kepada Ira.
Begitu juga dengan Adik Kakek Yoga yang lainnya. Mereka semua turut andil memberikan sesuatu untuk Ira. Semua itu dalam bentuk emas.
Selesai dengan adat itu, baru mereka berfoto ria sebagai kenang-kenangan. Saat ini Raga sedang berbicara santai dengan Ira.
Papi Gilang yang melihat itu, mengedipkan matanya pada fotografer untuk mengambil foto Ira yang sedang tertawa.
Cekrek!
Fokus pada pakaian adatnya ya. Juga dengan pose Ira sedang tersenyum dan merangkul tangan Raga.
''Eh?'' Ira terkejut. Ragata terkekeh. Gemas, ia mengecup pipi Ira.
Cekrek!
Acara resepsi itu terus berlangsung hingga malam. Malam harinya Ira dan Raga sudah berganti dengan gaun pesta.
Semua yang disana bersuka cita dengan resepsi pernikahan Ira dan Raga. Acara yang seharusnya mereka lakukan sejak setahun yang lalu.
Saat kepulangan Raga dari Inggris. Namun sayang.. Semua itu tidak terlaksana karena kekacauan yang terjadi di dalam rumah tangga Ira dan Raga.
Dan hari ini, semua itu terwujud. Ummi Hani sampai menangis haru dipelukan Mak Alisa. Acara itu masih terus berlanjut dengan Lana sang vokalis panggung sedang unjuk gigi.
Semua yang ada disana tertawa-tawa melihat tingkah Lana dan Rayyan. Adik Abang itu begitu kompak terlihat.
Ira tertawa melihat aksi adik-adik nya. Raga menatap dalam pada sang pujaan hati. Sadar jika dirinya sedang di perhatikan, Ira menoleh.
Ira tersenyum saat mata pengantin baru itu bertubrukan. ''Terimakasih hunny. Hari ini kakak sangat bahagia karena bisa meresmikan acara yang seharusnya terjadi saat kepulangan ku dari Inggris setahun yang lalu. Maafkan semua kesalahanku hunny.. Aku banyak salah padamu..'' lirih Raga dengan menunduk.
Semua yang ada disana tidak memperhatikan lagi sepasang pengantin baru itu. Mereka sibuk menonton aksi panggung Lana dan Rayyan.
Hanya sang fotografer suruhan Papi Gilang yang masih setia dengan alatnya. Matanya terus saja menatap sepasang pengantin yang sedang curhat itu.
Ira tersenyum, ia memegang tangan Raga. ''Semua itu sudah berlalu, by. Luapkan semua itu. Mulai malam ini, kita harus membangun rumah tangga kita dari awal lagi. Semuanya hari ini di mulai By. Kita berjuang bersama ya?''
__ADS_1
Raga mengangguk setuju. Ia mendekatkan wajahnya pada Ira.
Cup!
Ragata mengecup Lama dahi Ira. Semua itu tak luput dari bidikan sang fotografer.
Cekrek!
Cekrek!
Pasangan itu tidak sadar akan tempat, hampir saja Raga membuka niqob Ira.
''Ehem! Nggak sabar banget sih?'' tegur Papi Gilang.
Raga dan Ira terkejut. Mereka berdua saling menjauh. Semua yang melihat itu tertawa menggoda Ira dan Ragata.
Pukul sebelas malam, acara itu selesai. Saat ini Ragata sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.
Raga begitu kelelahan. Begitu juga dengan Ira. Mereka berdua terlelap di dalam mobil milk Papi Gilang.
Dengan Lana dan Rayyan yang menemani mereka di dalam mobil. Satu jam kemudian, mereka tiba di rumah mereka.
Rumah hadiah pemberian Papi Gilang dan Abi Hendra. ''Kak? Udah sampai loh.. masa mau tiduran aja sih di mobil? Kami mau pulang ini. Udah ngantuk!'' celutuk Lana.
Membuat Raga dan Ira tersadar dari tidur mereka. ''Ehem.. terimakasih Dek. Kami masuk dulu ya? Kalian nggak nginap aja disini? Udah malam loh.. takutnya di jalan entah kenapa pula nanti.''
Lana dan Rayyan terkekeh. ''Nggak ah! Abang nagahk mau mengganggu pengantin baru. Enaknya kami tidur dirumah, dari pada kami nanti mendengar suara aneh-aneh yang membuat kami iri? Gimana? Abang mau tanggung jawab?'' goda Lana dengan terkekeh-kekeh.
Rayyan tertawa mendengar ucapan Lana. Raga salah tingkah begitu juga dengan Ira. ''Ya udah kalau kalian nggak mau, tak apa. Kami masuk ya? Hati-hati di jalan! Assalamualaikum..'' ucap Raga berpamitan pada kedua adik Ira.
''Waalaikum salam..'' sahut mereka berdua.
Setelah itu, mereka berdua berlalu meninggalkan kediaman Raga dan Ira. Sementara pengantin baru yang telah usang itu, masuk ke dalam rumah mereka.
Ceklek!
Cetak!
Pintu dan lampu bersamaan dihidupkan oleh Ira dan Raga. Mulut mereka menganga melihat rumah mereka dihias secantik mungkin.
Persis seperti rumah Papi dan Mak Alisa dulu saat mereka baru pulang dari acara pesta pernikahan mereka.
Ira melangkah kan kakinya masuk perlahan. Dengan segera ia membuka pernak pernik yang ada di kepala nya.
Sedangkan Raga, menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu mereka berdua duduk lesehan dilantai yang bertabur bunga mawar berwarna merah.
Ira terkekeh-kekeh melihat semua rumah mereka dihias seperti kamar pengantin. ''Pasti ini kerjaan Papi deh. Aku sangat tau, Papi seperti apa orangnya!'' Raga tertawa.
''Betul hunny. Papi is the best!'' ucapnya sambil mengacungkan dua jempol di hadapan Ira.
__ADS_1
Ira tertawa melihat tingkah Raga seperti itu. Raga membantu karena membiak seluruh pernak pernik itu dan mulai membuka satu persatu baju Ira yang lumayan berat itu.