Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Kembar sepasang


__ADS_3

''Ya Allah.. ya Robb... anak ini sudah lahir!!! Suster!!'' pekik bidan Astrid.


Semua yang ada disana masih tertegun dengan keadaan itu. Ragata, ummi Hani, dan Mak Alisa begitu shock mendapati cucu pertama mereka lahir dengan selamat tanpa bantuan siapa pun.


Suster Santi segera menyiapkan alat untuk memotong tali pusar bayi Ira yang sudah keluar beberapa detik yang lalu.


Bidan Astrid dengan segera membantu Ira untuk mengambil alih bayinya. Tapi belum lagi bayi itu terputus dari tali pusarnya, Ira sudah mulai mengedan lagi.


''Eegghhhh .. eeggghhhh... huuufffttt.. eeeegghhh.. egghhh...''


Deg!


''Hunny!!'' Seru Raga begitu terkejut dengan suara Ira yang lumayan kuat itu.


Raga berlari dan berdiri disampingnya Ira yang sedang berusaha mengeluarkan bayi kedua mereka.


Dengan sigap Raga membuka niqob serta hijab Ira agar bisa mempermudah Ira dalam menarik nafasnya.


Setelah semua terbuka, terlihatlah wajah Ira begitu kesakitan saat mengedan untuk kedua kalinya.


Raga memeluk leher Ira. Dan berbisik lembut di telinganya. ''Kamu kuat, hunny! Kamu pasti bisa! Kakak yakin, jika bayi kedua kita laki-laki seperti Abi nya! Berjuanglah hunny! Cup.'' Raga mengecup kening Ira.


Ira semakin kuat saja mengeluarkan bayi kedua mereka dari tubuhnya. ''Eegghhhh... eeggghhhh... eeggghhhh... eeggghhhh... haaaaahh...''


''Oeeeekk.. oeeeek... oeeeek...'' lagi, bayi kedua mereka keluar sudah.


Ira terengah-engah sesaat setelah mengeluarkan bayi kedua mereka. Ia tersenyum, namun air mata menetes. Begitu juga dengan Raga.


Cup.


''Kamu berhasil, hunny. Kita berdua jadi orangtua! Cup. Selamat menjadi ibu, istriku... cup, cup, cup.'' Raga mengecup seluruh wajah Ira yang sudah berlinangan air mata.


Mak Alisa dan ummi Hani yang masih tertegun, akhirnya sadar saat mendengar suara bayi kedua cucu mereka.

__ADS_1


Tes.


Tes.


Tes.


''Alhamdulillah.. ya Allah... akhirnya kita punya cucu Lis! Allahuakbar!! Cucu ku!!!'' seru Oma Hani.


Ya, Oma Hani. Itu panggilan dari Ragata untuk Ummi Hani. Padahal mah, ummi Hani ingin di panggil nenek oleh kedua cucunya.


Begitu juga Mak Alisa. Beliau juga dipanggil Oma oleh Ragata. Biar adil katanya. Mak Alisa hanya tertawa saja.


''Hiks .. hiks .. bayiku...'' lirih Ira masih dengan berlinangan air mata.


Raga mengangguk. ''Ya, anak kita! Tunggu ya, kakak adzani dulu kedua bayi mungilku itu.'' Imbuhnya.


Dengan segera ia berlalu dan mendekati dokter Chika, pengganti dirinya saat ingin mengecek kondisi bayi mereka berdua.


''Sudah selsai dokter Chika?'' tanya Raga sambil mendekati kedua bayinya itu. Ia membuka jas dokternya dan meletakkan sneli putih itu di sudut ruangan yang ada gantungan baju disana.


Tangan Raga gemetar, matanya memanas lagi. Dadanya sesak seperti ingin menangis. Ia tersenyum, namun air mata itu menetes hingga mbasahi pipi kedua anaknya.


Cup.


Cup.


''Bismillahirrahmanirrahim, Allahu Akbar, Allahu Akbar!'' lantunan suara bergetar Raga saat menyandingkan adzan pada kedua bayinya sekaligus.


Seakan tau, bayi itu menggeliatkan tubuhnya dalam pelukan Raga. Raga terharu lagi. Ummi Hani mendekati nya, dan mengelus lembut tubuh Raga yang sudah bergetar karena menangis setelah bayi mereka di adzankan.


''Sudah... ayo bawa kesana. Ummi nya juga ingin melihat kedua anaknya. Ayo, Raga mengangguk sambil terus menangis.


Mak Alisa terkekeh, ''Udah ih! Malu sama yang lain, masa' udah jadi Abi masih nangis juga??'' goda Mak Alisa pada Raga.

__ADS_1


Padahal beliau baru saja selesai menangis bersama ummi Hani. Tapi, bisa-bisa nya kedua paruh baya itu mengejek Raga terus.


Ira hanya bisa terkekeh kecil. Tubuhnya masih lemah saat ini. Di tangan kirinya terpasang jarum infus.


Puas dengan melihat kedua bayi sepasang milik Ira dan Raga, kedua paruh baya segera menghubungi suami mereka.


Dan juga keluarga yang lainnya.


Satu jam kemudian, ruang inap Ira dan kedua bayinya menjadi ramai karena kedatangan tamu.


Yaitu, ustadzah Zafa dan bayinya yang berusia lima bulan. Ya, Zafa dan dokter Zidan lah yang terlebih dahulu memiliki momongan.


Padahal untuk kesembuhan Ira terbilang cepat. Ternyata Zafa dan dokter Zidan lebih cepat lagi dari Zafa. Itulah yang namanya rezeki. Tak ada yang tau seperti apa jalan nya.


Ternyata... saat pertama kali dokter Zidan mengkonsumsi obat yang Raga berikan, ia langsung bisa membuahi Zafa yang memang begitu subur.


Dokter Zidan tidak tau itu, karena gejala kehamilan tidak terlihat sama sekali pada Zafa.


Semua itu ketahuan saat mereka begitu gesit melakukan hubungan intim. Saking ingin memilki momongan, dokter Zidan tidak pernah libur untuk menggempur Zafa.


Hingga terjadilah hal yang begitu memalukan bagi mereka berdua, ketika Raga memeriksa keadaan Zafa.


Ya, seluruh keluarga Zafa, ummi Hani, Mak Alisa sudah tiba. Termasuk duo Opa yang selalu memperebutkan duo bayi kembar itu.


Raga dan Ira hanya bisa terkekeh, melihat tingkah kedua orang tuanya itu. Kebahagiaan yang tiada Tara.


Kini, tiada lagi nestapa. Yang ada hanya rasa bahagia.


Ya, semoga saja.


💕💕💕💕


Habis ye? Besok othor kasih spoiler tentang S 2 nya.

__ADS_1


Pantengin terus, jangan sampai ketinggalan! 😁😁


__ADS_2