
Sementara di dalam kamar utama, sepasang kekasih tanpa ikatan pernikahan itu sedang bercakap-cakap santai.
''Kamu mandi ya? Setelah ini istirahat. Aku mau ke bawah sebentar. Ingin menghubungi Abi, kalau kita sudah tiba dirumah baru ini.''
''Oke. Setelah itu, kamu kesini lagi kesini ya? Jangan tinggalin aku, kayak dulu lagi?'' rengek nya manja. Bibirnya cemberut.
Raga yang gemas dengan segera memeluk gadis itu dengan sayang. Namun hanya sebentar, setelah itu ia melepaskan dekapannya dari gadis itu.
''Mandilah! Aku akan keluar!''
''Oke!'' sahutnya.
Dengan segera ia masuk kemar mandi setelah mengambil handuk dalam lemari itu.
Melihat gadis itu pergi, dengan segera Ragata bangkit dan menuju tepi lemari buku yang terpajang di lemari itu.
Ia menekan kode rahasia untuk bisa masuk ke kamar itu.
Klik.
Suara pintu terbuka. Setelah terbuka dengan segera ia masuk dan melihat seluruh isi kamar nya.
Ia mengernyitkan dahinya saat melihat diatas tempat tidur itu bertabur bunga mawar merah.
Ia tersenyum. ''Hunny... Aku sangat merindukan mu.. Apakah kamu juga merindukan ku? Sudah tiga tahun berlalu, masihkah kau tidak ingin tinggal bersama ku? Aku merindukan mu Hunny..'' lirih Raga.
Dengan segera ia tidur di ranjang yang bertaburan bunga mawar kesukaan Ira. Ia menangis terisak disana.
''Hunny... aku mau kamu.. bukan yang lain Hunny...'' lirihnya lagi begitu menyayat hati.
''Sampai hati kamu menduakan ku, apa kurangnya aku hunny? Aku tidak seburuk yang kau pikirkan! Aku masih sama seperti yang dulu. Aku masih seperti yang dulu. Ummi.. Aku mau hu.. nny..'' isaknya lagi begitu pilu.
Jika seandainya ada seseorang yang melihat Raga saat ini, pastilah orang itu mengatakan jika ia cengeng.
__ADS_1
Tapi inilah kenyataan nya. Inilah Ragata Hariawan. Banyak sisi tersembunyi dari dirinya.
Teringat akan sesuatu, Ragata bangkit dan mengambil ponselnya. Ia mendial nomor seseorang.
Sambungan terhubung.
''Ya, tuan!''
''Apakah kau sudah menemukannya?'' tanya Ragata dengan suara berat nan dingin.
''Sedikit lagi tuan. Bukti yang anda butuhkan sudah ada ditangan saya. Besok pagi akan saya kirimkan melalui email Anda.''
''Hem,'' sahutnya. Setelah itu ia menatap rindu pada sang pujaan hati.
Figura besar di hadapan nya saat ini membuat seutas senyum terbit di bibirnya. ''Tunggu aku Hunny! Aku akan datang menjemput mu! Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu. Kira-kira seperti apa ya wajahmu saat ini? Pastilah sangat cantik! Tapi.. apakah itu tadi kamu? Tapi kenapa kamu diam saat bertemu dengan ku? Matanya sangat mirip dengan mu? Siapa gadis itu? Ah, buat aku penasaran saja! Tapi hatiku berdesir kala melihat mata itu. Sama seperti aku melihatnya pertama kali ketika aku masih kelas empat SD dulu? Ah, mana mungkin itu hunny ku! Setahuku, di tidak memakai pakaian tertutup seperti itu. Ah sudahlah. Lebih baik aku mandi dan sholat. Aku harus menyelesaikan masalah ini segera sebelum Abi dan ummi datang kesini. Bisa berabe nanti urusannya! Ah pusing aku!!!'' seru Ragata.
Ia mengacak-ngacak rambut nya Karena kesal. Sekilas ia melihat bayangan dari layar monitor yang terpasang di kamarnya.
Ragata mengernyitkan dahinya. ''Kenapa gadis itu masuk ke kamar tamu? Astagfirullah! Dia buka baju! Hadeuuuhhh.. hampir saja!'' ucap Ragata, dengan segera ia masuk ke kamar mandi di dalam kamar rahasia itu.
Ia membuka hijab serta sesuatu yang menghalangi wajahnya saat ini. Ia membuka seluruh pakaiannya.
Yang tersisa hanya baju batik sebatas lutut dengan tali satu di bahunya. Dengan segera ia berlalu masuk ke kamar mandi, untuk mandi dan berwudhu.
Selesai berwudhu, Ira melaksanakan sholat ashar yang tertunda karena kejadian yang begitu menyayat hati.
Ia duduk bersimpuh dengan air mata yang terus beruraian. Begitu juga dengan Ragata. Ia mengisi pilu dikamar rahasia miliknya.
Tiada yang tau tentang kamar itu. Kecuali...
Dua hati satu tubuh. Bisa merasakan sakit yang sama disaat yang bersamaan. Hanya perbedaan dari rasa sakitnya saja.
Jika Ira sedang bersedih karena Ragata menghindari nya, sedangkan Ragata sedang bersedih karena sangat merindukan sang istri, Ira.
__ADS_1
Apa yang terjadi sekarang ini adalah suatu ujian dalam rumah tangga mereka. Saling mencintai, tapi tidak bisa memiliki.
Ira bersimpuh di sajadah, menumpahkan segala sakit di hati nya. Begitu juga dengan Ragata.
Ia menumpahkan keluh kesahnya pada sang maha pencipta tentang kerinduan nya pada sang pujaan hati.
Sangat rindu. Saking rindu setiap malam ia selalu memimpikan Ira. Mata ayu nan sendu itu, begitu membuatnya berdesir setiap kali ia menatapnya.
''Andai kamu tau hunny .. aku begitu tertekan dengan keadaan ini. Aku sudah tidak sanggup lagi. Tapi aku terpaksa bertahan demi dirimu. Aku bertahan karena mu. Aku harus kuat, karena selalu mengingat dirimu. Aku hampa tanpa mu.. maafkan aku Hunny.. maafkan aku.. aku terpaksa memilih jalan ini. Maaf jika aku membohongi mu. Maafkan aku yang terlalu banyak melukai hatimu. Maafkan aku hu.. nny...'' Isak Ragata sambil bersimpuh di sajadahnya.
Sementara Ira, ia semakin menangis pilu saat mengenang masa lalu mereka. ''Jika ku tau seperti ini jadinya, aku ingin memiliki mu dulu Hubby! Tapi saat itu aku masih sekolah. Aku bisa apa? Tapi hari ini? Aku hancur Hubby.. aku sakit. Sakkiiiiitttt sekali. Sangat sakit! Aku menunggu mu hingga bertahun lamanya, agar kita membina mahligai rumah tangga kita. Hiks.''
''Tapi apa yang kulihat hari ini, kau menghancurkan semua impian yang sudah ku bangun dan ku simpan sendiri dalam hati. Kepulangan mu bukan membawa kebahagiaan untukku, tapi membawa luka untukku. Tega kamu Hubby! Tega kamu! Sekian tahun aku menunggumu. Aku sangat merindukanmu! Aku sangat merindukanmu! Ya Allah.. sakkiiiiitttt... aaaa... huhuuuu..'' Raung Ira, ia hanya bisa menangis saat ini.
Luka hati yang begitu dalam di sebabkan oleh sang suami yang begitu ia rindukan dan sangat ia cintai.
Bukan sekali atau dua kali. Tapi berulang kali. ''Aku tau siapa kamu, Hubby! Kamu memang baik dan tampan. Banyak gadis yang mengincar mu. Termasuk gadis itu. Tapi yang aku tidak sangka, kau berbuat hina seperti itu. Hamil di luar nikah? Bagaimana jika Abi dan Ummi tau? Ya Allah... apa yang harus aku lakukan sekarang? aaaa... huhuhu...''
Ia semakin tersedu di dalam kamar tamu rumah mereka berdua. Begitu juga dengan Ragata.
Pemuda tampan itu semakin sedih hatinya mengingat kenyataan pahit yang sedang ia alami saat ini.
''Hah! Baik! Aku akan bersabar. Aku akan bersabar dengan kelakuan mu, Ragata. Bukan salahmu yang tidak mengenali diriku. Tapi inilah kejutanku untukmu. Aku harus kuat, menjalani sisa hari ini sebelum aku pergi dari sini. Sampai hari itu tiba, aku harus bersabar. Sampai dimana sabar itu lelah menghadapi diriku. Aku akan tetap dirumah ini, dengan atau tanpa persetujuan mu. Niatku masih seperti awal pernikahan kita. Aku akan menunggumu mengatakan nya sendiri padaku. Jika kau sudah tidak menginginkan ku lagi, maka aku yang akan pergi dari rumah ini karena permintaan mu.'' Ira mengusap kasar buliran bening yang mengalir di pipinya.
💕💕💕💕
Hiks.. nyesek banget jadi Ira. Othor yang nulis aja sakit. Gimana sama Ira yang mengalami nya?
Ikuti terus kelanjutannya! hiks..
Like dan komen, vote dan Rate juga 🤧🤧🤧
Ups! maaf! kepencet othor tombolnya! 😁😁
__ADS_1
Yang ini udah di revisi.