Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Cinta Dalam Nestapa 1


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak dimana Ira menolak Raga dengan cara mengamuk. Sekarang hal seperti itu tidak terjadi lagi.


Hari ini Ira kembali ke sekolah, karena dokter Andini sudah mengizinkan nya untuk kembali bersekolah.


Ira sangat senang. Begitupun dengan Raga. Dan kebetulan hari ini adalah hari mereka ulangan.


Ulangan sebelum menuju akhir untuk Ira. Sedangkan Raga ujian sebelum ujian akhir untuk tamat dari SMP negeri 1 Medan.


''Udah siap??''


''Udah. Bismillahirrahmanirrahim, semoga hari ini berjalan lancar dan juga nanti aku kembali meraih juara satu!''


''Amiinn.. pasti kamu juara sayang! Ayo kita turun. Kebersamaan ku dengan mu hanya bersisa tiga bulan lagi. Setelah ini kita akan berpisah untuk sementara. Ya.. walaupun kita nanti akan bertemu di pesantren yang sama. Tapi kan tak ada yang tau jika kita pasangan suami istri!''


Ira tersenyum walau hatinya sendu. ''Iya, Kak. Sabar aja ya? Setelah sekolah kita selesai, maka kita akan berkumpul kembali seperti saat ini.''


Raga tersenyum manis. Ira tersipu malu. Semburat merah menyembul di pipi nya. Raga terkekeh.


Tak ingin berlama-lama, mereka bergegas turun. Disana sudah ada Mak Alisa dan juga Lana.


Melihat sepasang anak manusia labil itu turun, mereka tersenyum. Hingga mereka melanjutkan makan bersama.


Setelah sarapan, mereka berangkat ke sekolah seperti biasa dengan berjalan kaki.


Di sekolah.


Cukup berjalan lima belas menit saja untuk sampai ke sekolah Ira dan Lana. Raga sudah pamit duluan, karena Pak Madan ingin menemuinya.


Ira dan Lana berpisah di ujung jalan antara sekolahnya dan sekolah Lana. Ira berjalan duluan sedang Lana menunggu nya.


Saat ingin masuk ke kelasnya, Rania dan Nessa sudah ada disana. Rupanya dua gadis itu sengaja menunggu kehadiran Ira.


Ira berjalan perlahan namun raut wajah itu berubah seketika menjadi datar. Rania tersenyum sinis melihat nya.


''Wooaahh.. selamat datang kembali adik kelasku tercinta. Kami sedari tadi sudah menunggu mu disini. Bagaimana? Kamu sudah siap menjalani hari-hari mu lagi?'' ucap Rania.


Sementara Nessa hanya terdiam. Ia menatap Ira datar tanpa ekspresi. Mendengar ucapan Rania, Ira melengos.

__ADS_1


Ira sangat muak dengan kehadiran kakak kelasnya itu. Rania sangat geram dengan kelakuan Ira.


''Heh! Cewek udik! Sombong banget kamu ya?! Jangan mentang-mentang Raga yang menolong kamu, lantas kamu sombong seperti itu pada ku! Jangan macam-macam dengan ku, jika tidak ingin terjadi hal sama lagi pada mu!'' ancam Rania.


Ira menatap datar pada Rania. Sekarang di kelas itu hanya ada Ira, Rania dan Nessa. Tidak ada siapa pun lagi.


Rania masih nekat ingin mengancam Ira karena ia yakin jika Raga tidak berani berbuat apapun terhadap nya.


''Masih ingatkan kamu, bagaimana rasanya saat kamu mencoba mengusik milik ku?''


Ira menatap Rania dan terkekeh. ''Milik mu? Kapan Ragata menjadi milik mu? Pacar aja bukan! Suami apalagi?'' kekeh Ira, membuat Rania meradang.


Gluk.


Rania menekan leher Ira hingga jatuh menimpa meja. Ira meringis menahan sakit di pipinya.


''Berani kamu melawan ku, maka inilah yang akan kamu dapatkan! Ingat ini cewek udik! Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan mu mendekati Raga! Raga milikku. Tidak sekarang ataupun nanti! Sampai kapan pun Raga tetaplah milikku! Berani kamu merebutnya, maka inilah yang akan terjadi! Camkan itu?!'' anacam Rania lagi.


Setelah itu ia melepaskan pipi Ira, sebelumnya ia memukul Ira hingga oleng ke samping.


Ia menyusut buliran bening yang mengalir di pipinya. ''Akan ku balas nanti perbuatan mu! Sekali kau melukai kakak ku, dua kali aku akan membalas mu! Aku Maulana Akbar! Jika aku sudah benci dengan sesuatu, maka tidak akan ada yang bisa melarang ku untuk bisa membalas rasa sakit hatiku! Ingat itu! Aku akan membalas kalian.'' Geram Lana, kemudian ia berlalu meninggalkan Ira yang terisak disana.


Raga tidak mengetahui hal itu sama sekali. Karena ia sibuk dengan rapat OSIS untuk pergantian ketua OSIS yang baru.


Pukul 13.45 menit sekolah Ira dan Raga sudah selesai. Kini Ira berjalan pulang sendirian tanpa ada yang menemani.


Lana sudah sedari tadi pulang sekolah, sedangkan Raga masih di sekolah nya. Ira berjalan sendirian di jalan itu.


Hingga tiba di tikungan jalan, ada sebuah motor melaju kencang dan menyerempet Ira. Beruntung nya Ira waspada.


Ia masih terngiang-ngiang dengan ancaman Rania. Dan patut di waspadai, pikir nya. Dan benar saja, terlambat sedikit saja, Ira pasti terluka.


Motor itu berhenti di kejauhan, ia menatap Ira dengan tatapan membunuhnya. Ira tau siapa itu.


''Ya Allah.. begitu berat cobaan ini. Kuatkan aku ya Allah..'' lirih Ira dengan air mata yang sudah bercucuran.


Pulang kerumah, Mak Alisa bertanya sesuatu yang membuatnya terkejut. Kenapa pipinya bisa memar seperti itu? Tanya Mak Alisa. Apakah karena di pukul orang? Tanya Mak Alisa lagi. Tapi Ira mengelak. Ia mengatakan jika memar di pipi nya itu, adalah gara-gara kecerobohan dirinya tanpa sengaja menabrak pintu. Kilahnya.

__ADS_1


Padahal itu semua benar adanya. Ia sengaja menutupi semua itu. Lana meradang melihat Kakak nya ini.


Tapi Lana bisa apa? Jika Ira sudah meminta, maka Lana tak bisa menolak nya. Ya, Lana sudah tau segalanya tentang ancaman Rania terhadap nya.


Tapi ia meminta pada Lana, agar tidak memberitahukan hal itu kepada Raga. Biarlah ia yang menanggung nya.


Ia masih ingin sekolah, itulah alasannya.


Hari demi hari yang Ira lewati tidaklah mudah. Setiap harinya Rania selalu saja mengganggu nya.


Dimulai dari saat masuk sekolah, istirahat bahkan pulang sekolah. Bahkan Rania nekat, menyiram baju Ira hingga ia basah kuyup.


Beruntung nya Ira, ia selalu sigap membawa baju ganti. Tidak sampai disitu, hari-hari yang di jalani Ira begitu menyiksa batin nya.


Tetapi karena Raga selalu berada di sisinya, jadilah ia kuat menahan semua badai yang menerpa dirinya.


''Ini baru sekumpulan masalah kecil, aku saja sudah takut. Bagaimana nanti jika ada yang lebih besar dari ini? Aku harus kuat demi diriku sendiri. Karena jika ke depan nya aku mendapatkan masalah yang sama. Maka aku sudah siap menerimanya. Bukankah ujian ini adalah satu bentuk pengujian terhadap diri kita agar kita lebih kuat lagi nantinya?'' katanya kepada Lana.


Lana hanya bisa diam dengan semua perkataan Ira. Ia akan sabar. Sabar itu tidak ada batasnya.


Sabar itu seluas samudera. Tiada sekat dan penghalang. Inilah ujian cintanya dengan Raga.


Saat ia begitu mencintai Raga, maka ujian ini menerpa dirinya. Walaupun ia sering dirundung pilu, ia tak peduli.


Cintanya kepada Raga kuat dan tulus. Sering di sakiti dan tersiksa batinnya ia kebalkan dirinya hanya demi seorang Ragata.


Dirinya mengalami rasa nikmat cinta dalam nestapa. Walaupun ia sering sedih, mendapati Raga selalu bersama Rania saat di sekolah mereka, Ira tak peduli.


Toh, pada kenyataan nya Raga tetap pulang ke pada nya. Bukan pada Rania atau pun pada gadis lain.


Sungguh sakit mengalami Cinta dalam Nestapa ini.


💕


Semua harus di syukuri bukan? Walaupun harus menahan rasa sedih setiap kali bersama pasangan kita.


TBC

__ADS_1


__ADS_2