Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Berdarah


__ADS_3

Ummi Hani berjalan gelisah menunggu kepulangan Raga dan Ira. Ia berjalan mondar mandir seperti setrikaan.


Melihat itu Abi Hendra hanya bisa menggeleng kan kepalanya. Jika ditegur, nanti yang ada dirinya kena semprot ummi Hani.


''Ya Allah nak.. kamu kemana sih? Mana Ira katanya tadi sakit lagi! Ishh..'' gerutunya pada diri sendiri.


Matanya awas menatap ke depan. Dan terlihat dari kejauhan sorot lampu mobil milik Raga.


Dengan segera ummi Hani berlari dan membuka pintu gerbang rumah milik Raga. Sedari jauh ummi Hani sudah mendengar suara berisik yang ditimbulkan dari mobil Raga yang rusak parah.


Mobil Raga masuki pekarangan rumah mereka. Ummi Hani terkejut melihat bentuk mobil Raga yang hancur seperti baru saja mengalami kecelakaan.


''Astaghfirullah!!! mobil kamu kenapa nak?! Ini kenapa?! Kecelakaan dimana kamu?! Ira mana?! Ira mana?!'' pekik ummi Hani begitu panik.


Bukannya membuka pintu mobil dan segera turun, Raga dan Ira malah terkekeh-kekeh melihat ummi Hani menjadi panik seperti itu.


Abi Hendra pun turun ke bawah untuk melihat mobil Raga. ''Astaghfirullah! Apa yang terjadi dengan mobil mu, Bang?! Kenapa jadi hancur begini? Udah jadi barang rongsokan ini!'' seru Abi Hendra


Ia juga begitu terkejut mendapati mobil sang putra menjadi hancur lebur seperti itu. Bagaimana tidak, kap belakang hancur dan terseret di belakang.


Belum lagi kap bagian depan. Hancur tak benbentuk. Raga dan Ira turun dengan terkekeh-kekeh.


''Ih kok malah ketawa sih? Ini kenapa jadi hancur begini? Kecelakaan Di mana tadi? Apakah ada yang terluka?'' tanya ummi Hani sambil memeriksakan tubuh Ira dan Raga.


Mereka berdua tertawa melihat ummi Hani begitu panik. Belum lagi Abi Hendra, pria paruh baya itu mengelilingi mobil Raga hingga dua kali.


''Ck, ck, ck. Parah betul ini Ga! Kok bisa begini sih? Tadi katanya Ira sakit? Apakah gara-gara itu kamu kecelakaan?'' ucap Abi Hendra masih dengan mengelilingi mobil itu.


Sesekali terkekeh dan menggeleng kan kepalanya. Raga dan Ira semakin tertawa. ''Hahaha.. Kami nggak kecelakaan Ummi, Abi. Kak Raga menang balapan mobil dengan duo kadal betina!'' celutuk Ira yang membuat Raga semakin tertawa.


Ummi Hani menggeleng kan kepalanya. ''Ya sudah. ''Ayo masuk. Tadi katanya perut kamu sakit?''


Ira mengangguk, ''Iya ummi. Cuma sebentar kok. Ini udah mendingan.'' jawab Ira.


''Ya sudah, sebaiknya kalian istirahat. Ummi dan Abi akan menginap disini. Pergilah!''


''Ya,'' sahut keduanya.


Setelah nya mereka berdua menuju ke kamar mereka yang ada diatas, dengan Raga merangkul pinggang Ira.


Sesekali terdengar gelak tawa dari mereka berdua. Ummi Hani tersenyum, begitu juga dengan Abi Hendra.


''Lihatlah Bi.. mereka selalu saja tertawa disaat masalah selalu datang di dalam rumah tangganya. Ummi salut pada Ira, kelakuan nya sama persis dengan Alisa. Ummi tidak salah memilih menantu!'' celutuk ummi Hani.


Abi Hendra terkekeh. ''Ayo kita masuk, ummi masih punya hutang sama Abi. Belum tuntas kerjaan kita tadi. Ayo!''

__ADS_1


Ummi Hani mendelik. ''Kerjaan apaan malam-malam begini selain dengan menggempur ku hingga pagi!'' ketus ummi Hani.


Abi Hendra tertawa.


Sementara dikamar atas, Raga dan Ira sedang melaksanakan sholat isya. Selesai dengan ibadah mereka, Raga membawa Ira ke ranjang dan membaringkan nya disana.


Ira menurut. Mereka berdua tidak bersuara. Karena Ira tau, saat ini Raga ingin memeriksa rahim nya lagi.


Dengan segera Raga mengambil satu buah alat khusus untuk melihat perkembangan rahim Ira.


Alat khusus yang ia beli dari Inggris untuk pengobatan Ira. Setelah sepakat, Ira tidak mau melakukan operasi.


Ia lebih memilih cara dengan meminum obat secara rutin. Entah berhasil atau tidak, Raga pun tak tau.


Yang penting usaha pikirnya.


Lima belas menit kemudian, pemeriksaan itu selesai. Raga menghela nafasnya. Ia tersenyum melihat Ira yang juga sedang tersenyum melihatnya.


Raga mendekat kan wajahnya pada Ira. Ira tersenyum, dengan cepat ia mengalungkan kedua tangannya di leher Raga.


Terjadilah pertemuan dua bibir itu lagi. Mereka melepas penat dan menyalurkan kasih sayang dengan cara seperti itu.


Apalagi yang harus dilakukan oleh pengantin usang rasa baru itu. Selain mereguk manis madu pernikahan.


Raga dengan lembut membuai sang pujaan hati agar bisa ikut bersamanya. Tanpa sadar seluruh benang itu sudah terlepas semuanya.


Ira semakin melenguh saat merasakan pijatan lembut pada buah sintal miliknya. Raga semakin semangat.


Hingga ia ingin melesakkan pusaka nya itu Kesarang surga milik sang istri. Mereka berdua melenguh bersamaan.


Dua pasang anak manusia berbeda usia sedang mereguk manisnya madu pernikahan. Yang tua tidak mau kalah dari yang muda.


Saling berlomba untuk memuaskan pasangan masing-masing dengan cara mereka. Hingga hampir tengah malam, pasangan muda itu terkapar tak berdaya.


Ira tertawa. Begitu juga dengan Raga. Mata mereka berdua terpejam. Sangat lelah. Menguras keringat di malam hari melebihi kerja keras siang hari.


Mereka berdua terlelap tanpa melepaskan penyatuan mereka. Semua itu tersadar saat subuh hari.


Raga menggeliat terlebih dahulu, sadar jika junior nya masih di dalam, ia terkekeh. Dengan segera ia mencabut dengan pelan agar tidak mengganggu Ira.


Namun ada yang aneh dari juniornya. ''Merah? Darah?'' gumamnya


Ia menoleh pada Ira dan di seprei putih miliknya. Mata Raga membulat sempurna. Banyak sekali darah yang di tubuh bagian milik Ira.


Tepat nya di pusat inti Ira. Tapi sang empu tidak sadar. Raga panik. Dengan segera ia membangunkan Ira.

__ADS_1


''Hunny! Bangun! Bangun hunny! Tubuhmu mengeluarkan banyak sekali darah! Ayo bangun, agar kita kerumah sakit! Bangun hunny!'' seru Raga begitu panik karena melihat wajah Ira begitu pucat.


Ira menggeliat kan tubuhnya. ''Ehm... apa By.. masih ngantuk aku .. nanti aja ya? Kamu aja duluan..'' lirihnya dengan mata terpejam.


Cup!


Raga mengecup putik merah jambu miliknya. Bukannya bangun, Ira malah memperdalam ciuman itu.


Raga pun ikut terhanyut, tapi saat mengenang darah di seprei putih miliknya ia melepas paksa pagutan itu.


Membuat Ira kecewa. Ira membuka matanya dan menatap jutek pada Raga. ''Kok gitu?'' sungutnya dengan bibir maju seperti bebek.


Raga terkekeh. ''Bangun hunny.. tidakkah kamu merasakan ada keanehan dibawah tubuhmu?''


''Eum??'' Ira belum konek.


Ia bergeser sedikit. ''Kok lembab sih, By?'' tanya nya pada Raga.


Raga terkekeh lagi, ''Coba kamu geser, ada apa dibawah sana. Kayaknya kamu datang bulan ya? Sampai kebanjiran gitu merahnya??''


''Hah? Apa iya?''


''Coba lihat hunny...'' Raga gemas sendiri dengan istrinya ini.


Dengan segera Ira bergeser, betapa terkejutnya Ira saat melihat bercak darah segar dan juga darah itu seperti bentuk kerikil kecil-kecil.


Ira panik. ''I-ini apa By?? Aku datang bulan? Tapi kenapa banyak gini?!'' seru Ira dengan panik.


Raga terkekeh. ''Jangan kan kamu, akupun sama. Lihatlah ini!'' tunjuk Raga pada juniornya yang sudah mulai berdiri lagi.


Ira melotot kan mata nya. ''By! tutup! Kenapa di buka sih?!''


Raga tertawa. ''Kan udah aku bilang tadi hunny.... punyaku juga berdarah seperti itu. Di akibatkan karena kamu yang yang mengeluarkan darah itu.''


''Hooo.. ya sudah, mari kita mandi. Sudah subuh 'kan ya?''


''Ya,'' sahut Raga.


Dengan segera mereka masuk ke kamar mandi untuk mandi bersama.


💕💕💕💕


Maaf ye telat!


Othor lagi kebut Annisa tadi.. hihihi..

__ADS_1


__ADS_2