
''Jika kau pikir, aku tidak mengetahui nya, kau salah Santi! Kau dan antek-antek mu itu salah besar menilai ku! Aku tidak sebodoh yang kalian pikir kan! Aku punya bukti tentang kejahatan kalian terhadap istriku sepuluh tahun yang lalu!''
Deg!
Deg!
Jantung Santi seakan berhenti berdetak. Ia mendongak menatap Raga yang sedang menatap nya juga.
''Untuk apa kau menemui ku? Apakah untuk mengulang kejadian masa lalu? Ingin membunuh istriku lagi? Sebenarnya, apa yang aku inginkan Santi? Aku tau kau gadis yang baik. Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Berhentilah sebelum obsesi itu merenggut jiwamu!''
Santi terisak. Ia menunduk. Raga masih berdiri di hadapan gadis itu. ''Jika kau ingin hidup dalam ketenangan, jauhi dendam dan obsesi mu untuk memilki sesuatu yang bukan untuk kau miliki. Aku mengatakan ini, bukan untuk menggurui mu. Aku hanya sedang mengingatkan jalan mu yang salah karena selalu saja ingin mengganggu rumah tangga ku dan istriku. Aku lelah, Santi! Jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama yang akan membuatmu mendekam di penjara! Apakah kau ingin keluarga mu menderita karena ulahmu yang terobsesi ingin memiliki ku, Santi?''
Deg!
Deg!
''Berhenti lah Santi! Jangan buat aku menyesal karena pernah menolong mu saat kau hampir di bunuh oleh penagih hutang itu! Cukupkan sampai disini! Cukup Santi! Jangan kau jadikan pertolongan ku itu menjadi bahan kebencian dariku, Santi. Aku tau seperti apa keluarga mu! Kau tulang punggung keluarga mu. Apakah kau ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk bisa mendapatkan uang membantu pengobatan ibu mu yang sedang sakit kanker stadium dua, Santi??''
Deg!
Deg!
Lagi, jantung Santi berdenyut sakit saat Raga mengingatkan nya tetang keluarga. Benar, ibu Santi sedang sakit kanker stadium dua.
Sangat banyak membutuhkan biaya. Santi terisak lagi. Raga menghela nafasnya. ''Berhenti lah Santi. Tak ada gunanya kau mengejar sesuatu yang tak mungkin bisa kau miliki nantinya! Jauh sebelum aku bertemu dengan mu, aku sudah lebih dulu dipertemukan dengan istriku sejak umur kami masih sepuluh tahun. Kau salah menuduhnya Santi. Ia wanita baik. Tidak sok suci atau apapun itu. Ia wanita bersahaja. Bahkan ia rela melepaskan ku demi kalian wanita yang tidak ku inginkan Sama sekali.''
''Menurutmu, apakah wanita sepertinya harus aku lepaskan begitu saja, Santi? Aku rasa tidak! Jika posisinya di balik, kamu menemukan seorang pria yang menyukai mu dan mencintaimu tanpa syarat, apakah kau akan melepaskan nya, Santi??''
Santi termenung mendengar ucapan Raga. Ia masih saja terisak disana. Di bawah Kaki Raga.
Raga menghela nafasnya. ''Pulanglah. Aku tidak ingin memperpanjang urusan masa lalu yang timbul di masa depan yang disebabkan oleh mu! Aku sudah menutup lembaran itu. Jadi ku harap, kau juga menutup nya. Jangan di ungkit lagi, Jika kau ingin hidupmu dan keluarga mu tidak menderita Santi! Bukan aku mengancam mu, tapi aku memberimu nasehat. Agar kau bisa berubah kearah yang lebih baik lagi. Pulanglah. Ibu mu sedang menunggumu! Dan juga... putri mu???''
Deg!
Deg!
__ADS_1
Deg!
Santi terkejut. ''Darimana Kak Raga tau tentang putriku? Selama ini tidak ada yang mengetahui nya kecuali ibu dan kedua adikku??''' gumam Santi dalam hati.
Ia menatap Raga yang juga sedang menatapnya. ''Pulanglah. Putri kecilmu sangat membutuhkan dirimu. Jangan karena memenuhi keinginanmu yang tidak akan pernah terwujud, kau harus melupakan putri kecil mu. Sadar akan kodratmu, Santi. Dan bersyukur lah, karena kau masih bisa memilki seorang putri yang lahir dari rahimmu. Masih banyak wanita yang tidak bisa mendapatkan anugerah seperti mu.''
Salah satunya istriku!
Raga menghela nafasnya lagi. ''Aku harus pergi, Santi. Istriku sedang menunggu ku. Aku harus pulang. Maaf.. jika tadi aku terpaksa menyakitimu. Sekali lagi maafkan aku, besok berikan pada ku tagihan tentang biaya pengobatan pipi mu. Aku yang akan membayarnya. Assalamualaikum..'' ucap Raga, dengan segera ia masuk ke mobilnya dan meninggalkan Santi yang mematung karena ucapannya.
Ia menatap nanar pada mobil Raga yang sudah keluar dari rumah sakit. Satpam yang tadinya masih berdiri sampai Raga pergi, kini mendekatinya.
Pak Danu membantu Santi untuk berdiri. ''Dek.. kamu tidak apa-apa kan?'' tanyanya.
Santi menoleh pada Pak Danu. Ia tersenyum walau terpaksa. ''Ya, saya tak apa Pak! Terimakasih, karena sudah menolong saya tadi.'' lirihnya sambil menunduk.
Pak Danu tersenyum, ''Mari duduk disana dulu. Di pos saya ada air mineral. Ayo!'' ajaknya.
Santi mengangguk, ia mengikuti pak Danu untuk duduk di pos bersama nya. Banyak mata yang melihat mereka. Tapi tidak dengan kejadian tadi.
Semua orang tau, jika rumah sakit itu sudah menjadi milik Raga separuhnya. Santi tidak tau akan kabar itu.
Karena ia baru dipindah tugaskan hari ini. Dan juga, ia belum bertemu dengan orang yang telah membawanya untuk pindah kesana.
''Minum dulu Dek. Maaf.. cuma ada air putih saja. Ini ada roti. Makanlah. Saya udah makan tadi.'' imbuhnya sambil menatap Santi dalam.
Santi mengangguk, ia minum air dalam botol itu hingga separuhnya. Santi makan roti yang diberikan boleh Pak Danu.
Tanpa sadar air mata itu mengalir lagi mengingat putrinya yang masih berumur enam bulan tinggal di tempat penitipan anak karena ibu nya tidak bisa menjaga.
Dada nya tersangka sakit sekali. Karena sudah satu hari, putrinya belum di susui. ''Hiks... maaf... hiks.. terimakasih... hiks..'' Isak Santi pada Pak Danu.
Pak Danu tersenyum lembut padanya. ''Sudahlah Dek.. kejadian itu sudah begitu lama. Tidak usah di ingat lagi. Yang penting, sekarang kamu harus berubah. Buktikan pada tuan Raga, jika kamu bisa menjadi lebih baik lagi. Hentikan obsesi mu, Dek..'' ucap Danu begitu lembut.
Santi terisak. Ia menangis sesegukan dengan bahu berguncang. Pak Danu ingin sekali memeluk wanita itu.
__ADS_1
Tapi takut salah.
''Sudah. Jangan menangis ya? Abang akan antar kamu pulang. Sekalian ingin menemui ibu mu. Perkataan Abang yang dulu masih berlaku loh.. mau kan jadi istri seorang satpam seperti Abang??''
Santi menoleh pada Danu dengan wajah basah air mata. ''Kenapa? hiks..'' tanya nya masih dengan terisak.
Danu tersenyum. ''Karena Abang mencintai mu lebih dari yang kamu tau. Abang sayang kamu, Dek sejak kamu masih SMA. Abang selalu mengawasi mu dari jauh. Bahkan saat kau di nodai oleh kekasih mu itu, Abang pun tau...'' lirih Danu dengan leher tercekat.
Santi menoleh padanya dengan wajah terkejut. ''Ja-jadi.. A-abang tau??''
Danu tersenyum. ''Apapun yang kamu lakukan, Abang tau Dek. Termasuk saat kamu ingin membunuh bayi mu sendiri karena benci dengan kekasihmu. Dek.. menikah lagi dengan ku. Abang akan mencukupi segala kebutuhan mu, termasuk biaya pengobatan ibu mu. Ibu Mardiana. Kamu mau kan? Abang akan menerima putri mu sebagai anak Abang sendiri. Abang sendiri dek.. tidak punya saudara. Abang yatim piatu. Jadi tidak ada yang bisa Abang tanggungi lagi. Mau ya?'' pintanya dengan lembut pada Santi.
Santi semakin tersedu di depan Danu. Ya, Danu adalah seseorang yang pernah menyukai Santi saat SMA dulu.
Namun karena Santi gengsi memilki calon suami seorang satpam, ia terpaksa menolak pemuda Sholeh itu.
Ia memilih menjalin hubungan dengan seorang pengusaha muda yang terkenal sukses di bidang show room mobil.
Namun sayang, semua itu hanya akal bulus pemuda itu untuk mendapatkan kesucian Santi hingga Santi hamil anak pemuda itu.
Dan pemuda itu tidak ingin bertanggung jawab. Santi sangat marah waktu itu. Beruntung nya, kuliah jurusan keperawatan nya sudah selesai.
Jika tidak, entah apa yang akan terjadi padanya.
Santi menatap sendu pada Danu. Danu tersenyum. ''Ayo, Abang antar pulang. Tuh, rekan Abang udah datang untuk jaga shif malam. Ayo, Abang antar kamu pulang, ya?''
Santi mengangguk dan tersenyum. Setelah nya, mereka berdua pulang dengan menaiki motor bersama Danu menuju rumah Santi.
Semoga saja Santi menemukan pelabuhan terakhir nya. Yaitu, Danu. Pemuda Sholeh, hidup seorang diri tapi begitu baik dan menerima segala kekurangan Santi.
Semoga saja.
💕💕💕💕💕
Selesai kisah masa lalu yang satu! hihihi..
__ADS_1