
Setelah berbincang-bincang hangat sebelum tidur, kini pasangan itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Raga begitu senang saat ini. Akhirnya sang istri bisa mengerti dan memahami kenapa dirinya harus sekolah keluar negeri.
Mereka berdua tidur begitu lelap, tidak sadar jika hari sudah subuh. Suara kumandang adzan sahut menyahut di seluruh penjuru.
Namun tidak membangunkan dia sejoli yang terpisah begitu lama itu. Mereka berdua terbangun saat pintu ruangan itu di gedor dari luar.
Dor, dor, dor.
''Astaghfirullah! Apa itu?'' pekik Ira masih dengan mata terpejam.
Ragata menggeliat kan tubuhnya. ''Tidur Hunny.. kakak masih ngantuk!'' celutuknya
Ira terkekeh. Cup! Mata tajam Raga terbuka.
Klep, klep.
Ira tersenyum. Cup. Lagu kecupan itu mendarat di bibirnya. Membuat Raga terkekeh.
''Kamu nakal ya sekarang? Nggak malu-malu lagi kayak dulu, hem?'' kata Raga semakin mengeratkan pelukannya.
Ira tertawa. ''Bangun ih! Udah subuh loh.. Kalau aku naggak nakal, takut nya kamu pergi lagi, By.. aku tak mau itu..'' lirih Ira masih menatap mata Raga.
Raga tersenyum. ''Tak akan! Kakak tidak akan pergi lagi. Terkecuali maut yang akan membawa kakak pergi. Sampai itu terjadi, kakak masihlah tetap berada disamping mu, Hunny..''
Ira semakin mengeratkan pelukannya. Raga terkekeh, ''Nyaman banget ya tidurnya dengan memeluk kayu kering ini?'' Ira mendongak mendengar ucapan Raga.
''Siapa kayu kering? Kamu? Nggak! Kamu bukan kayu kering! Kamu hanya kurang makan! Sekarang aku sudah kembali, waktunya untuk memberikan mu makan sehat agar tubuhmu kembali lagi seperti semula. Sekarang.. aku yang akan menjadi dokter mu! Dan kamu, pasienku. Cup!'' lagi karena mengecup lagi bibir sang suami yang membuatnya Candu.
Raga tertawa. Namun tertawa itu terhenti, karena mendengar gedoran pintu ruangan mereka semakin kuat.
Do, dor, dor, dorr..
''Ck! Nggak tau apa, orang masih ingin seperti ini! Ck! Ganggu saja!'' gerutu Ira dengan kesal.
Ragata tertawa. Ia melepaskan tangannya dari tubuh Ira agar Ira bisa turun dan membuka pintu itu.
Dengan segera iar turun dari ranjang pasien, ia mencari niqob nya dan mulai memakai nya. Setelah siap, Ira membuka pintu itu dengan wajah masam.
Ceklek!
''Assalamualaikum.. maaf, jika saya mengganggu. Saya ingin membawa dokter Raga untuk melakukan terapi pagi ini. Apakah dokter Raga sudah bangun?'' tanya dokter Salim.
Mata teduh itu terus saja menatap Ira. Ira yang sadar mengalihkan pandangannya pada Raga. Raga mengangguk dan tersenyum padanya.
''Waalaikum salam. Baik, tunggu sepuluh menit lagi. Kamu belum melaksanakan sholat subuh.'' jawab Ira masih dengan wajah masam.
__ADS_1
Dokter Salim tidak tau itu. Ia hanya bisa melihat mata Ira yang tidak menyukai kedatangan nya.
''Oh, baiklah. Saya tunggu. Jika sudah, bawa saja dokter Raga ke ruangan di ujung sana. Saya menunggu disana. Saya permisi. Maaf, jika mengganggu istirahat Anda, Nyonya Ragata.'' ucap dokter Salim sambil mengulum senyum melihat wajah Ira yang merona.
''Baik. Terimakasih. Saya sendiri yang akan membawanya ke sana. Kalau begitu kami sholat dulu.''
''Silahkan. Saya permisi.'' katanya pada Ira. Ira mengangguk.
Dokter Salim berlalu pergi. Ira dengan segera menutup pintu ruangan itu, dan menuju pada Raga yang sudah duduk walau masih menyender.
''Ayo, kita wudhu dulu.'' Raga mengangguk.
Setelah itu mereka berdua mulai melaksanakan ibadah mereka yang tertunda karena keenakan tidur bersama.
Dua puluh menit kemudian, mereka keluar dari ruangan inap itu dan menuju di ujung ruangan sana.
Saat sedang mendorong kursi roda yang di duduki Raga, ponsel Ira berbunyi. Ira berhenti. ''Sebentar! ustadzah Zafa menelepon, aku angkat dulu ya, By?''
''Ya,'' jawab Raga.
Ira menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan video dari ustadzah Zafa. ''Assalamualaikum, Ra...''
''Waalaikum salam, ustadzah.. maaf, baru bisa ngangkat panggilan ustadzah. Ini lagi dirumah sakit, mau bawa suami untuk terapi. Ada apa ya ustadzah?''
Ustadzah Zafa tersenyum, ''Alhamdulillah.. berarti sudah tidak rindu lagi 'kan ya sama suami?'' goda ustadzah Zafa.
Ragata tertawa. Begitu juga dengan Ustadzah Zafa. ''Jangan panggil ustadzah ih, yang kayak lagi ngajar aja kita. Kakak aja ya? Umur kita kan beda sedikit aja?''
''Hehehe.. baiklah Kak Zafa. Ada apa ini? Loh? Kakak sedang dirumah sakit? Lah, itu sedang kemana? Kok kesini?'' tanya Ira dengan melihat kearah ujung sana.
Zafa tetaw melihat wajah terkejut Ira. ''Kakak ih, kok bilang sih mau kesini? Sama siapa??'' tanya Ira pada Zafa yang sudah berdiri dihadapannya saat ini.
Zafa terkekeh. ''Sendirian sayangku. Kakak ingin jenguk suami kamu. Sekalian cari jodoh disini. Mana tau, kepincut cinta dokter juga kayak kamu!'' godanya pada Ira.
Ira tertawa begitu jauh dengan Raga. ''Assalamualaikum.. dokter Ragata.. perkenalkan nama saya Zafa Mariana. Saya kakak, teman, sahabat sekaligus tempat curhat istri anda, dokter Raga!'' goda Zafa pada Ira.
Ira menepuk pelan tangan Zafa. Sang empu hanya terkekeh. ''Waalaikum salam.. ustadzah Zafa.. terimakasih karena sudah mau menjadi teman serta sahabat untuk istri saya. Saya beruntung, meninggalkan nya dengan orang-orang baik seperti kamu ustadzah Zafa.'' ucap Raga masih dengan tersenyum namun tidak melihat mata Zafa.
Zafa pun begitu. ''Tak apa Dokter! saya senang memilki sahabat rasa adik ini di kehidupan saya. Pengalaman Ira dalam berumah tangga akan menjadi suatu pelajaran untuk saya ke depan nya jika saya kelak berumah tangga. Eh, ngomong-ngomong disini masih ada dokter muda lagi nggak?''
''Buat apa Kak?'' tanya Ira dengan bingung.
Raga terkekeh melihat Ira polos seperti itu. ''Ada. Itu di ujung sana sedang menunggu kita. Beliau dokter Salim. Dokter khusus terapi saya hari ini. Kalau mau, nanti saya katakan padanya. Ayo, dokter Salim sudah menunggu kita! Ayo Hunny! Lama sedikit, nanti aku disemprot oleh nya!'' kata Raga membuat dua orang ahdia tertutup niqob itu tertawa namun masih batas pelan.
Ragata punya ikut tertawa. ''Tapi ini, bagaimana?'' tanya ustadzah Zafa pada Ira
''Loh? Kakak bawa apa ini? Ayam semur kah?''
__ADS_1
Zafa tertawa. ''Kamu tau saja ya? Ya, ini untuk sarapan pagi kita. Ya sudah, kakak bawa saja. Nanti selesai suami kamu terapi, kita makan bersama ya?''
Ira tersenyum. ''Terimakasih kakakku! Cup!'' Ira mengecup sekilas pipi Zafa yang tertutup niqob saking senangnya.
Zafa tertawa. Semua itu tidak luput dari tatapan seorang dokter di ujung sana yang sedang bertanya-tanya dalam hati.
Siapakah gerangan yang sedang bersama istri rekannya itu.
Ira dan Zafa berjalan beriringan menuju ruangan terapi untuk Raga. Tiba disana, dokter Salim tertegun melihat Zafa. Begitu juga dengan Zafa.
''Kak Salim!''
''Zafa!!'' seru mereka berdua bersamaan.
Raga dan Ira saling pandang. Ira tersenyum, begitu juga dengan Raga. ''Ehem!''
''Eh, astagfirullah!! Ayo Dokter! Mari masuk!'' ajak dokter Salim
Ia jadi salah tingkah begitu juga dengan Zafa. Wajahnya memanas. Ira menyikut lengan nya. Zafa menggeleng kan kepalanya dan menunduk.
Ira terkekeh, ''Roman-roman nya ini akan ada pasangan yang akan menikah Minggu ini?'' goda Raga pada Kedua orang yang sedang salah tingkah itu.
Ira tertawa. ''Nanti kita bahas. Kamu berhutang penjelasan padaku Kak Zafa!''
''Kamu juga dokter Salim!'' tambah Raga dengan tersenyum menggoda dokter Salim.
''Ehem, baiklah. Ayo kita mulai terapinya.'' Kata dokter Salim.
Ia dengan segera mendorong kursi roda Raga dan dibawa menuju tempat terapi. Sedari melakukan terapi Ragata, dokter Salim curi-curi pandang pada Zafa. Ira tau itu.
Ia tertawa saat melihat wajah Zafa merona karena malu.
Setengah jam kemudian, terapi jalan itu selesai. Kini saatnya mereka untuk sarapan pagi.
''Jelaskan!'' titah Ira tak terbantahkan.
Kedua orang itu saling pandang dan menghembuskan nafas panjang.
''Baiklah.. sebenarnya kami dulu pernah dekat, pada saat masih SMP. Dan kami juga sudah dijodohkan sedari kecil, Sama seperti kalian!''
''Apa?!''
💕💕💕💕💕
Dokter Salim dan Zafa ini berkaitan erat nantinya dengan Ira dan Raga pada season 2.
Jadi.. othor selipkan dulu mak nya disini. Baru nanti anaknya! 😁😁
__ADS_1