
''Ra...'' panggil Raga masih dengan mata terpejam.
Saat ini kedua nya sedang duduk bersandar di pilar tengah tiang penyangga Mushola. Wahyu yang melihatnya tersenyum simpul.
''Romantis sekali!'' celutuk nya tanpa sadar.
Setelah sadar akan ucapan nya, Wahyu berdehem. Kedua pasangan itu sedang dalam tahap saling melepas rindu.
''Sayang... kok diam sih?! Kamu tidur?? Ini dirumahnya Allah loh .. Masa' iya kamu tidur??'' tanya Raga.
Sedangkan Ira memang benar-benar tertidur. Hangat tangan Raga membuat nya nyaman, hingga tanpa sadar ia tertidur.
Wahyu terkekeh saat melihat pasangan labil itu. Raga yang heran, mengapa Ira tak menyahuti nya menyingkap pembatas antara saf lelaki dan perempuan.
Ketika kain itu sudah tersingkap, pemandangan pertama yang ia lihat ialah, Ira tertidur begitu lelap dengan tangannya masih di genggam oleh Raga.
Melihat itu Raga terkekeh kecil. ''Ck! bisa-bisanya kamu tidur?? ishh... bangun sayang! Udah masuk waktu dhuhur loh.. masa iya kamu tidur sih?? Nggak sadar tempat lagi!'' gerutu Raga tapi masih dengan kekehan kecil di bibir tipisnya.
Wahyu terkekeh pelan melihat tingkah sepasang anak manusia itu. Raga yang sadar jika Wahyu ada disana meletakkan Jari di bibirnya, pertanda untuk diam.
Wahyu mengatupkan bibirnya, diam. Raga tersenyum tipis.
Terimakasih ya Allah... sahabatku telah kembali lagi.. sudah seminggu senyum itu hilang dari wajahnya. Hanya wajah datar nan dingin selalu ia tunjukkan.
Terimakasih, karena telah mengabulkan doaku.. Di dalam rumah Mu ini aku selalu meminta di setiap sujud ku.. agar Engkau mengembalikan senyum di wajah sahabat ku..
Raga bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara bagiku.. karena hanya Raga yang tulus berteman dengan ku.. tanpa melihat status ku dari kasta rendahan.. Terimakasih ya Robb.. aku tau kuasa Mu sungguh ada.. Dan Aku membuktikan nya sekarang...
Wahyu masih saja melihat pasangan muda yang masih labil itu, dengan air mata mengalir di pipi nya.
Sadar jika ia menangis, Wahyu mengusap wajahnya dengan senyum tersungging di wajah tampan nya.
Raga tau, jika Wahyu sedang menangis. Tapi ia tidak bisa berbicara karena Ira masih terlelap dengan memegang kedua tangan nya.
Raga terus saja menatap Ira. Hatinya menghangat saat Ira tidak melepas tangan nya. Malah semakin kuat memegang nya.
''Ini yang aku inginkan.. setiap detik dan setiap saat selalu bersama mu.. hidup ku sepi tanpa mu.. Seminggu sudah tanpa suara mu.. aku merasa hampa.. Apakah ini yang nama nya cinta?? Rindu saat berjauhan.. kehilangan saat tidak berjumpa.. Senang ketika bersua seperti ini... tapi mengapa seminggu lalu kamu berubah Ra... adakah yang salah dari diriku?? Setiap malam aku selalu bertanya pada diriku, Dimana letak salah ku?? Berulang kali ingin aku bertanya, tapi aku tak punya kesempatan.. jawab Ra..'' lirih Raga masih dengan menatap Ira yang terlelap.
Tanpa Raga sadari jika Ira sedari tadi sudah bangun dan mendengar kan semua curahan hatinya.
Ira tersenyum dalam hati. 'Kamu ingin tau jawaban ku kan kak?? Oke! akan aku jawab, setelah kita sholat dhuhur dulu.' gumam nya dalam hati.
Tak lama setelah Ira berbicara dalam hati, Wahyu mengumandangkan adzan Dzuhur pertanda sudah masuk waktu dhuhur.
__ADS_1
''Alhamdulillah...'' ucap kedua pasangan muda itu.
Raga tersentak kaget. Ira tersenyum. ''Kita wudhu dulu ya kak? Sholat! Baru setelah ini, akan kau jawab semua pertanyaan kakak!'' imbuhnya seraya bangkit dan keluar menuju tempat wudhu wanita.
Raga masih terpaku di tempat saat melihat senyum Ira dan ucapan terakhir sebelum ia berwudhu.
Raga terkejut, saat Wahyu menepuk bahunya karena sebentar lagi ia harus jadi imam sholat di mushola di sekolah nya.
Raga mengangguk patuh dan segera berwudhu. Setelah berwudhu, mereka para siswa dan siswi melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dengan Raga sebagai imam.
Ira menitikkan air mata saat mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan kan oleh Raga.
Begitu merdu hingga masuk kerelung hati.
Beberapa saat kemudian, mereka selesai sholat dengan Raga yang sudah menunggu Ira di undakan tangga.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.13 WIB. Saatnya mereka pulang, karena besok mereka harus berangkat ke Rantau Parapat.
Untuk mengikuti camping sekolah. Dengan para dewan guru juga ikut. Hanya sekolah SD saja yang tidak ikut.
Saat melihat Ira, Raga tersenyum begitu juga dengan Ira. Senyum yang menyejukkan hati bagi siapa yang melihatnya.
''Ayo...'' ajak Raga
''Kemana??'' tanya Ira
Raga tergelak melihat tingkah Ira. ''Kata nya kangen aku?? Tapi malah ingin ketemu sama Mak?? Ck! ishh...'' gerutu Ira masih terdengar oleh Raga.
Raga terkekeh mendengar gerutuan Ira. ''Kamu duluan ya?? Kakak bawa motor soal nya.'' Ira menoleh saat Raga bilang motor.
Wajah nya berubah menjadi datar lagi. Karena tadi pagi ia sempat melihat jika Raga berboncengan dengan Nessa.
Lagi, raut wajah datar Ira muncul. ''Sayang... tadi pagi itu, dia sekedar numpang sama kakak! Sumpah! nggak ada yang lain...'' lirih Raga seakan tau apa yang Ira pikirkan.
Ira menoleh padanya. ''Terserah kakak! Wong itu motor nya kakak kan? Bukan punyaku?? Kakak bebas kok ingin bawa siapa aja?? Ayo kita pulang! Banyak yang harus aku jawab tentang pertanyaan mu itu!'' ketus Ira, kemudian berlalu dari hadapan Raga.
Dengan Raga menghela nafas panjang. ''Hadeeeuuhh.. payah banget sih ingin sendiri?! Selalu saja ada yang menganggu ku! Si Nessa lagi! Kemana-mana selalu aja ngintilin aku?! kayak bintitan aja! dimana-mana nempel!'' sungut Raga sambil terus berjalan.
Mendengar Raga menyebut Nessa bintitan membuat Wahyu tergelak keras. Hingga Raga menoleh pada nya dengan kesal.
''Diam kamu, Yu. Aku belum selesai tuh cungik udah nongol aja! Bantuin napa sih?! Butek gue ngeliatin tuh orang sedari pagi tadi!'' gerutu Raga lagi.
Lagi, Wahyu tertawa ngakak. Tak tahan dengan guyonan sahabat nya itu. Raga semakin kesal di buatnya belum lagi si bintitan udah nongol di depan Raga.
__ADS_1
''Hai Ga! aku nebeng ya??'' sapanya begitu antusias.
Raga mengangguk-angguk kan kepalanya, kemudian menatap Wahyu. 'Jatah elu!' begitulah kira-kira kerlingan mata Raga.
Wahyu mendelik dan berdecak. Kini giliran Raga yang tertawa puas. Nessa terpesona melihat Raga tertawa.
Selama seminggu ini, wajah tampan itu begitu kusut. Tapi hari ini?? Raga begitu bahagia.
''Yu, bawa tuh bintitan! eh? maksudnya Nessa! nih kunci! aku pulang jalan sama...'' ucap Raga dengan mengerlingkan matanya pada Wahyu.
Wahyu mendelik. ''Dasar sahabat lucknut! giliran bintitan aja di serahin ke gue!'' gerutu Wahyu sepanjang jalan.
Raga semakin tertawa puas. Melihat Ira yang keluar dengan seorang pemuda dan mereka bercakap-cakap sepanjang jalan hingga sampai di tempat Raga.
''Loh? katanya tadi naik motor?? Mana motornya??'' tanya Ira dengan santai.
''Dibawa Wahyu!'' ketus Raga. Kemudian ia berjalan duluan dengan Ira tersenyum tipis melihat tingkah Raga.
Sepanjang jalan, Ira sibuk berbicara dengan teman sekelas nya itu, membuat Raga kesal. Ira mah bodo amat.
Teman Ira bernama Adi menyikut lengan Ira, dibalas Ira dengan kerlingan mata.
''Apa??'' tanya tanpa suara.
''Tuh!'' tunjuk nya dengan dagu pada Raga yang berwajah masam.
Ira yang melihat terkekeh pelan. Raga menoleh pada Ira. ''Kamu ketawain aku??'' ketus Raga
Ira menggeleng cepat begitu juga dengan Adi. Bukan Adi tak tau jika diantara kakak kelas nya itu dan Ira ada hubungan.
Ia tau, semua itu memang sengaja ia dan Ira lakukan agar sang pemilik hatinya merasa cemburu melihat Ira berjalan dengan orang lain.
''Kakak kenapa??'' tanya Ira seraya terkekeh pelan.
''Nggak ada!'' ketus nya lagi.
Lagi, Adi terkekeh geli melihat tingkah Raga. ''Emang enak??'' bisik nya tanpa suara.
''Awas kamu Ra! sampai dirumah, kamu kakak hukum!''
Eh?
💕
__ADS_1
Haha bang Raga cembokur euyyy.. 😄😄
TBC