Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Menginap


__ADS_3

''Terimakasih kak.. karena sudah membelaku di depan nya.. aku takut, jika besok ia akan datang ke kelas ku untuk memukul ku seperti yang lain...'' lirih Ira.


Membuat Raga, memejamkan kedua matanya. ''Jika besok dia berani memukul mu? Maka akan ku pastikan, dia akan di keluarkan dari sekolah ini! cukup sudah aku selalu di cap kepemilikan olehnya. Aku tak suka itu!'' geram Raga, namun itu membuat Ira terkekeh.


''Begitu dong.. kan cantik!''


''Eh??''


''Apa??''


''Tadi kakak bilang apa??''


''Yang mana??'' elak Raga.


''Hadeeeuuhh... baru kelas tiga SMP tapi kakak udah pikun!'' gerutu Ira.


Raga hanya terkekeh mendengar ucapan Ira.


Sedangkan seseorang yang berdiri di belakang mereka masih terdiam. Raga yang sadar menegur nya.


''Wahyu!!''


''Eh?? Ja-jadi... ka-kalian... be-beneran pasangan??'' tanya Wahyu dengan wajah terkejut nya.


''Seperti yang kamu dengar Yu. Itu benar adanya. Bukan bohongan. Dua Minggu dari sekarang, kami akan bertunangan secara resmi. Nanti kamu, kita undang deh...'' ucap Raga pasrah.


Ira tersenyum. ''Ayo kak, kita masuk! Jangan lupa nanti siang pulang ke rumah. Aku duluan ya kak??''


''Iya sayang..''


Blussshh


Semburat merah menyembul di pipi mulusnya. Ira yang sadar lari ngacir dan hampir saja terjatuh.


Raga yang melihat nya terkejut. ''Hati-hati!'' peringat nya, namun yang di ingatkan sudah lari ngacir.


Raga terkekeh. ''Kamu tau Yu. Gadis yang pernah aku ceritakan pada mu itu ya Dia! Ira Sarasvati!''


''Ooo.. jadi ceritanya, kamu suka sama adik kelas kita sendiri gitu?? Selamat Bray! Samawa ya??''


''Eh?? aku belum nikah bege!''


''Hehehe.. sama aja deng!''


Setelahnya mereka masuk ke kelas karena waktu untuk pulang sudah tiba.


Bel pulang berbunyi pertanda sekolah sudah usai dengan belajar mengajarnya. Ira berjalan duluan dan menunggu Raga di gerbang.


Saat melihat Raga keluar, ia tersenyum manis. Namun, sesaat kemudian senyum itu surut berganti dengan sendu.


Ira melihat Raga sedang berbicara dengan seseorang begitu akrab hingga ia tidak sadar dengan keberadaan Ira yang menunggunya disana.


Saking asiknya berbicara, ia melewati Ira begitu saja. Ira hanya diam. Raut wajahnya berubah menjadi datar.


Akhirnya ia menunggu Lana pulang. Dan kebetulan Lana sudah keluar.


''Kakak!!''


''Hem,'' sahutnya membuat Lana mengernyitkan dahinya.


''Bang Raga mana??'' tanya Lana.

__ADS_1


Ira menggeleng. Walaupun ia tau dimana Raga, ia tetap sengaja menggeleng. Lana celingukan mencari Raga.


Dan saat melihat Raga sedang berbicara dengan sedikit tertawa dengan seorang gadis, Lana jadi paham.


''Ayo!'' ajak Ira.


Lana mengangguk patuh. Setibanya di depan Raga, Lana menegur nya. Raga terkejut.


''Bang Raga! disini Ternyata!''


''Abang! Ira!'' kejutnya, ia melihat Ira yang tidak melihat nya sama sekali. Bahkan ia terus saja berjalan tanpa melihat kebelakang.


''Nesa! aku duluan ya? Besok kita sambung lagi!''


''Oke! aku tunggu!'' sahut gadis bernama Nesa itu.


''Ck! makan tuh lawakan perempuan lain! lihat tuh Kak Ira ngambek! muka nya asem! kecut kayak jeruk purut! Abang sih?? Lana nggak mau ikut campur ya??'' ucap Lana kemudian berlalu pergi meninggalkan Raga yang berdiri mematung disana bersama gadis bernama Nesa itu.


''Ada apa Ga??''


''Nggak ada apa-apa! aku balik ya! assalamualaikum!'' ucapnya kemudian berlari meninggalkan gadis yang mematung itu.


''Siapa gadis itu, mengapa begitu penting buat Raga? Hingga wajah nya pun mendadak berubah takut seperti itu.'' gumam gadis bernama Nesa teman sekelas Raga.


Setibanya dirumah, Ira masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan Raga yang masih tersengal karena mengejar nya baru saja.


''Assalamualaikum Mak...''


''Waalaikum salam... ada masalah kah??'' tanya Alisa


''Eh?? nggak ada Mak! memang nya kenapa??'' tanya Raga pura-pura tidak tau.


''Nggak sih.. nggak biasa nya kakak kayak begitu! Biasanya kalau dia ada masalah baru begitu?? Makanya Mak nanya, apakah terjadi sesuatu diantara kalian berdua??''


''Nggak ada masalah apa pun kok. Mak tenang aja ya .. kalau begitu Raga masuk dulu ya mau sholat sekalian ganti baju! eh? bajuku??''


''Udah ada di kamar Abang! Tadi diantar sama ummi kamu.'' ucap Mak Alisa membuat Raga mengangguk.


''Terimakasih Mak..''


''Ya.. masuk dan istirahat!'' Raga mengangguk dan berlalu dari hadapan Alisa.


''Aku yakin, pasti terjadi sesuatu! Aku sangat mengenal seperti apa putri ku itu. Ia tidak mungkin bertingkah seperti itu, jika tidak ada yang mengganggu dirinya.'' gumam Alisa.


Raga masuk dengan lesu ke kamar Lana. Ia berbaring disana dengan mata terpejam.


''Maaf...'' lirihnya dengan mata terpejam. Saat ini Raga begitu lelah.


Ia ingin tidur sebentar, sedangkan Lana sudah keluar entah kemana.


Entah berapa lama Raga tertidur, ketika ia terbangun semburat senja sudah terbit di ufuk barat.


''Astaghfirullah! aku tidak sholat dhuhur dan sekarang hampir habis waktu ashar! Haishhh..'' gerutu Raga, ia melangkah kaki nya masuk ke kamar mandi untuk mandi dan sholat.


Setelah selesai dengan ibadahnya, kini ia bersiap akan ke mesjid untuk sholat Maghrib berjamaah disana.


''Tunggu bang! Lana mandi dulu! baru pulang ini dari latihan bola!'' imbuh Lana, secepat kilat Lana masuk ke kamar mandi.


Sedangkan Raga turun ke bawah untuk melihat Ira, apakah sudah bisa di ajak bicara atau belum.


Sesampainya dibawah, ia tak menemukan siapa pun. Hanya terdengar suara orang lagi ngomong-ngomong di depan.

__ADS_1


Raga melangkahkan kakinya kedepan dan melihat jika disana ada Alisa yang sedang menggendong Annisa. Tapi tidak terlihat Ira disana.


''Mak.. Raga ke mesjid ya!''


''Oh iya! tuh Abang juga udah siap!'' tunjuk nya pada Lana.


Setelah nya mereka menuju ke mesjid untuk sholat berjamaah. Mereka berdua pulang hingga waktu isya.


Selepas sholat isya, Raga dan Lana pulang. Berbarengan dengan Ira yang akan keluar dengan sepedanya.


Ia hanya melihat Raga sekilas kemudian berlalu meninggalkan Raga yang termangu memandangi kepergian nya.


Raga menghela nafas panjang.


''Bang.. kakak itu keras loh orang nya.. sangat sulit untuk di bujuk. Apalagi jika menyangkut masalah hati!'' celutuk Lana membuat Raga lagi dan lagi mematung.


Setibanya di dalam rumah, Alisa menyambut mereka dengan senang.


''Ayo kita makan! Mak udah masakin kesukaan nya bang Raga! Cumi saos tiram!'' ucap Alisa.


Membuat calon mantunya itu tersenyum walau hatinya sedang gundah. Mereka makan tanpa Ira. Raga merasa hampa.


Makanan yang ia telan pun terasa hambar. Saat mereka sedang makan, terdengar suara orang mengucapkan salam.


''Udah pulang kak?? Ayah ada??'' tanya Alisa.


''Ada! tuh di depan masih betulin sendalnya yang putus karena cepat-cepat ingin kemari tadi!'' sahut Ira sembari terkekeh.


''Kakak! ishh... ayah kok ditinggal sih?! mana sendal ayah copot lagi?! Bawa sepeda kok yang kecil begitu?! ya nggak muat toh, sama ayah?? Belum lagi kalau kaki ayah panjang!'' gerutu ayah Emil sepanjang ia masuk kedapur.


Saat tiba disana ia terkejut melihat seseorang. ''Eh?? ada tamu toh??''


''Yah...'' sapa Raga sembari mengulurkan tangannya pada ayah Emil untuk disalaminya.


''Ini...''


''Calon mantu ayah! Bang Raga! anak nya Abi Hendra! sama ummi Hani!'' celutuk Lana dengan mulut penuh makanan.


Ayah Emil terkekeh. ''Kalau lagi makan tuh jangan ngomong dulu atuh bang..''


Lana mendelik melihat ayah Emil. Dibalas tawa oleh ayah Emil.


''Duduk bang! udah makan??'' tanya Alisa.


''Kapan makannya?? Wong baru siap mandi aja udah di ajak kesini! katanya penting! tuh anak gadismu! gara-gara terburu-buru, sendal Abang jadi copot dibuatnya!'' sungut ayah Emil.


Membuat Mak Alisa dan Ira terkekeh. ''Ihh.. kok ayah salahin kakak sih?? kan ayah sendiri tuh yang tadi buru-buru? malah nyalahin kakak pula! Ntar ya kakak bilangin Tante Azizah baru tau rasa!'' ancam Ira, membuat ayah Emil gelagapan.


''Eh, eh! kok bawa-bawa Tante zizah sih?? nggak asik ah!'' gerutu ayah Emil.


Lana yang mendengar nya tertawa terbahak. ''Hahaha... ketahuan! pawang ayah! Tante Azizah!!!'' pekik Lana.


Lagi dan lagi membuat ayah Emil gelagapan. Mak Alisa yang melihatnya terkekeh. ''Tunggu apa lagi sih bang?? jika memang udah cocok, sok atuh di nikahi?? Jangan diamainin mulu! Ntar dosa loh...'' tegur Alisa


''Hehehe.. masih ngumpulin modal dek.. doa in aja ya?? Kalau pun jadi, nanti kan Abang kabari?? Abang kan udah beli rumah di perumahan ini. Agar bisa selalu dekat sama anak-anak, hehehe..'' ucapnya dengan cengengesan.


Alisa hanya tersenyum saja. ''Setelah ini kita bahas tentang masalah anak kita ya? Sekarang Abang makan dulu!'' titah Alisa.


Ayah Emil mengangguk. Dan mereka pun makan dengan sesekali di iringi gelak canda dari ayah Emil.


💕

__ADS_1


Masih ada beberapa bab lagi baru kita lanjut bab di air terjun. 😁😁


TBC


__ADS_2