Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Sah


__ADS_3

''Bagaimana para saksi? Sah? Ataukah harus diulang lagi??'' goda Pak penghulu sekaligus ustad itu.


Para saksi yang mendengar nya masih melongo kebingungan. Pasalnya, mahar yang disebutkan oleh Ayah Emil untuk putrinya begitu besar.


''Bagaimana para saksi?? Sah??'' ulang pak penghulu sekali lagi.


''Sah!'' sahut pak Madan.


Semuanya saling pandang. Seakan tersadar mereka menyahuti bersamaan.


''Sah!''


''Sah!''


Pak penghulu terkekeh, begitu juga Pak Madan.


''Alhamdulillah.. barakallahu'alikuma wabaroka'alaikuma fi Khair...'' ucap Pak penghulu setelah itu ia berdoa untuk pasangan pengantin yang baru saja ia nikahkan.


Mak Alisa masih mematung mendengar kan mahar yang Raga sebutkan tadi. Ummi Hani dan Abi Hendra yang melihat nya terkekeh geli.


Bagaimana tidak, wajah Mak Alisa berubah menjadi pias. Raga yang melihatnya tersenyum saja.


''Mak...'' panggil Raga


''Ha? Eh? A-apa Nak??'' Sahut Mak Alisa dengan sedikit tergagap.

__ADS_1


''Apakah ada yang salah??'' tanya Raga, ia masih saja menatap wajah Mak Alisa yang pucat.


''Ha? Bu-bukan itu! Hanya... mahar mu itu...'' Sahut Mak Alisa lagi dengan wajah yang masih pucat.


''Itu Memeng sudah menjadi hak Ira, Mak.. mahar itu Memang sengaja Raga peruntukkan untuk Ira jauh-jauh hari, sebelum Raga bertemu dengan Ira. Jika suatu saat Raga menemukan pasangan hidup, itulah mahar nya. Itu murni keringat Raga sendiri Mak.. bukan pemberian Abi dan Ummi..'' jelas Raga membuat Mak Alisa mentapap ummi Hani dan Abi Hendra.


''Benar itu Lis .. selama ini kami mendidik Raga untuk menjadi seorang pemimpin di masa akan datang. Kami menyuruhnya bekerja paruh waktu dikantor bersama Abi nya. Dan terbukti! Sejak ikut campur tangan Raga, perusahaan yang dibangun oleh Oma nya Raga, kini berkembang pesat. Untuk itu, Opa dan Oma nya sepakat membayar Raga karena apa yang telah ia perbuat pada perusahaan. Kamu tau berapa upah perbulan untuk menantu mu ini dari Ayah mertua ku??'' Tanya ummi Hani pada Mak Alisa.


Mak Alisa menggeleng. ''Berapa?''


''Seratus Lima puluh juta perbulan!'' Sahut ummi Hani.


Membuat yang mendengarnya shock berat. ''Dan saham yang ia berikan itu, saham yang sengaja ia beli dari Opa dan Abi nya sebanyak 45%. 15% nya ia berikan untuk Ira sebagai mahar. Menantu mu sudah punya uang sejak dini, Alisa. Kamu tenang saja! Jangan takut, jika putra ku ini tidak bisa menghidupi putri kita nanti. Tapi.. jika dia berani macam-macam dibelakang putri ku? Maka.. aku orang pertama yang akan memukul nya! Aku orang pertama yang akan menghajar nya! Kamu ingat itu Ragata Hariawan! Ummi tidak segan-segan mendepak mu dari keluarga Hariawan jika kamu berani membuat ulah yang bisa menyakiti perasaan putri kami! Ingat itu!'' tegas ummi Hani dengan serius.


Mereka juga terharu dengan ucapan seorang nyonya Hariawan. Abi Hendra tersenyum melihat ummi Hani.


Sedangkan diatas sana, Ira semakin bergetar tubuhnya. Sesekali keringat dingin mengalir di pipi tirus nya.


Selesai dengan ijab, kini ummi Hani, Mak Alisa, Raga, Abi Hendra, juga Ayah Emil, mereka semua sedang menghidangkan makanan untuk para tamu mereka.


Selesai dengan tugasnya, Raga permisi ingin melihat Ira diatas. Apakah sudah bangun atau belum.


''Mak.. ummi.. Abi... Ayah.. Raga ke atas dulu ya? Mau lihat Ira, sekalian mau pakaikan mahar ini padanya.'' Imbuh Raga sembari menunjukkan mahar yang tadi ia berikan kepada Ira.


Lengkap dengan sebuah map berwarna merah untuk ia simpan di lemari Ira. Ummi Hani mengangguk.

__ADS_1


''Pergilah! pasti sekarang Ira sedang mencari mu!'' sahut ummi Hani, seakan tau jika Ira memang sedang mencari Raga.


Setelah nya ia berlalu naik keatas. Sampai disana, Raga terkejut mendapati Ira yang sedang histeris lagi.


Ia membuang semua yang berwarna merah. Raga yang melihatnya jadi panik. Ia berlari mendekati Ira.


''Sayang! Ira! Sadar! Ini kakak! Jangan begini.. ayo sini!'' titah Raga karena melihat Ira sedang memegang sebuah pisau pemotong buah diatas nakas kamar mereka.


Pisau yang sengaja dibawa oleh ummi Hani untuk mengupas buah agar menantunya nanti bisa makan setelah sadar.


Ira menoleh. ''Kak.. si merah itu datang lagi.. aku takut kak.. aku-aku.. ambil pisau ini ingin melempar pada nya...''


''Iya-iya.. kemarikan pisau itu. Ayo sini!'' ucap Raga lagi.


Ira mendekat, tetapi tubuhnya kembali bergetar dan berteriak histeris karena ia melihat sesuatu di tangan Raga.


''Tidaaaaaakkkkk... aaaaa.... Kak Ragaaaa....''


💕


Jam updatenya othor ubah ya menjadi 20.25 WIB.


Jangan lupa dibaca ya!


TBC

__ADS_1


__ADS_2