
Hari-hari yang dilewati Raga tanpa Ira begitu membuatnya hampa. Sunyi, sepi selalu menyertainya.
Jika dulu ada Ira yang setiap pagi selalu menyuguhkan nya susu hangat, sekarang tidak ada lagi Ira di sisinya. Bahkan susu itu terasa hambar saat Ira sudah tidak lagi disampingnya.
''Aku menyesal Hunny.. aku menyesal...'' lirih Raga setiap kali melihat makanan yang ada didepan nya.
Ia tidak selera untuk makan. Makanan itu terasa hambar. Sehambar hatinya saat ini. Sekali duduk termenung, pergi bekerja dalam keadaan perut kosong.
Sering kali melakukan kesalahan saat bekerja. Tidak fokus. Bahkan yang lebih parah nya, Raga tidak mandi hingga empat hari lamanya.
Ummi Hani yang melihat putra sulungnya seperti itu sangat merasa kasihan. Setiap hari selalu seperti itu.
Tidak mau makan, sibuk bekerja. Itu pun tidak fokus. Selalu saja melakukan kesalahan. Sampai-sampai pihak rumah sakit menegur ummi Hani dan Abi Hendra.
Untuk sementara Raga tidak di ijinkan untuk bertugas. Ummi Hani terpaksa mengiyakan. Ragata terpaksa di hentikan sementara dari tugasnya sebagai seorang dokter.
Ummi Hani sangat sedih melihat keadaan Raga. Kehilangan Ira untuk yang kedua kali memang lah sangat membuat Raga begitu kehilangan.
Ia seperti mayat hidup. Tiap hari hanya termenung dan termenung. Tiap malam tidur selalu mengigau menyuruh Ira pulang.
Raga tanpa Ira seperti Raga tanpa nyawa.
Begitupun sebaliknya. Sudah hampir dua Minggu Ira tinggal di Aceh. Gadis ayu tertutup niqob itu begitu tersiksa batinnya.
Setiap hari dan setiap malam selalu menangis. Mengingat Raga, apakah suaminya itu tidur dengan baik? Makan dengan baik? Mengurus diri dengan baik?
__ADS_1
Dan banyak lagi hal lain yang ia pikirkan tentang Raga. Saking rasa rindu itu mendera hatinya, Ira sampai-sampai tidur dengan memeluk baju Raga yang ia bawa lari saat pergi dua Minggu yang lalu.
Baju yang sering Raga gunakan disaat tidur. Bau harum tubuh Raga begitu menenangkan hatinya.
Tapi semua itu tidak cukup. Bau harum di baju Raga tidak cukup untuk mengobati kerinduan yang sudah begitu mendalam untuk sang suami.
Sebulan kemudian.
Hari ini Raga sedang berusaha untuk bangkit dan ingin bekerja lagi. Tubuh ringkih nya semakin kentara terlihat.
Semakin hari semakin habis tubuhnya. Tubuh kurus, mata cekung. Pipi di penuhi bulu-bulu halus yang tidak pernah ia cukur selama sebulan ini.
Ia berusaha bangkit walau tubuh nya terasa melayang. Kepala nya terasa berat. Pandangan mata berkunang-kunang.
Namun tetap ia paksa untuk bisa berjalan. Raga mengalami hipotermia. Hipotermia merupakan penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya.
Namun hipotermia ini juga dapat disebabkan oleh hal-hal diluar penyakit. Termasuk Paparan dingin atau aktifitas kerja yang ekstrim.
Hipotermia adalah kondisi suhu tubuh drastis hingga di bawah 35°C. Akibatnya jantung dan organ vital lainnya gagal berfungsi.
Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan henti jantung, gangguan sistem pernapasan, bahkan kematian.
Inilah yang terjadi saat ini pada Raga. Raga mengalami penurunan pada suhu tubuhnya, di akibatkan seringnya Raga memakai AC di udara yang dingin.
Tidak peduli itu siang, malam, panas, bahkan ketika hujan pun Raga tetap menggunakan AC di kamarnya.
__ADS_1
Hari demi hari selalu saja begitu. Belum lagi Raga yang tidak mau makan, tidak mau mengerjakan apapun, selain hanya memandangi aktifitas di monitor kamarnya tentang keseharian Ira selama dirumah itu.
Dan hari ini, Ia berniat ingin bekerja kembali. Karena waktu untuknya terpuruk sudah cukup.
Ia berjalan sempoyongan, tanpa di duga lututnya membentur nakas dan membuat tubuhnya oleng.
Dug.
Brrrukkk..
Tubuhnya jatuh menimpa kaki ranjang. Dengan kepala terbentur kaki ranjang begitu kuat.
Raga jatuh tidak sadarkan diri dengan mata terpejam. Tak ada yang tau, karena ummi Hani dan Abi Hendra sedang bekerja di perusahaan nya.
Raga seorang diri. Tidak ada siapapun di rumah besar itu. Ia pingsan sampai ummi Hani kembali dari kantor saat sore harinya.
Belum lagi membuka baju dinas nya, Ummi Hani langsung menuju ke kamar Raga. Tiba disana ummi Hani memekik keras karena melihat Ragata yang jatuh terkapar dengan mata terpejam.
Ada bekas darah yang sudah mengering di kaki dan kepala bagian belakang nya. Ummi Hani memekik memanggil Abi Hendra.
Abi Hendra pun terkejut. Dengan segera mereka berdua membawa Ragata ke rumah sakit untuk segera di obati.
Ummi Hani sangat merasa bersalah karena membiarkan Ragata seorang diri yang sedang terpuruk karena kepergian sang istri karena bertugas dan juga karena kesalahannya.
💕💕💕💕💕
__ADS_1
Biar cepat end! Othor kebut ngetiknya! 😄