Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Melahirkan


__ADS_3

Dua bulan berlalu setelah mereka tertawa bersama ketika mengingat kelakuan Sonia yang begitu haus akan belalai para lelaki. 😄


Kini Ira sedang merasakan mulas yang tiada Tara menjelang kelahiran nya. Dari tiga hari yang lalu Ira sudah merasakan sakit yang sangat seperti ini.


Tapi ia masih betah berada dirumahnya ditemani Mak Alisa dan ummi Hani. Sedang Raga sudah berangkat ke rumah sakit pagi-pagi sekali karena ada operasi mendadak.


Mak Alisa mengusap peluh Ira yang mengalir hingga ke lehernya saat ini. Ummi Hani memberinya semangat agar terus kuat.


''Tarik nafas... buang.. tarik lagi.. buang lagi..'' begitu kata ummi Hani yang sedang mengendarai mobil milk nya.


Padahal selama ini ummi Hani tidak mau menyetir sendiri lantaran trauma pernah menabrak pedagang asongan hingga kritis.


Dan sekarang, ia terpaksa melakukan nya karena Ira akan melahirkan. Sebagai seorang ibu yang sudah pernah melahirkan, ummi Hani dan Mak Alisa tau seperti apa keadaan Ira saat ini.


Dan yang dialami oleh Ira, sama halnya seperti Mak Alisa. Bedanya, Ira anak pertama. Sedangkan Mak Alisa melahirkan Algi dan Nara anak ke empat dan ke lima.


Triing..


Triing..


Triing..


Ponsel ummi Hani berbunyi. Ummi Hani berdecak sebal. Dengan segera ia menekan tombol hijau pada ponsel nya.


Dan meletakkan ponsel itu di dashboard mobilnya. Terlihat Raga disana begitu gelisah menanti kedatangan Ira.


''Assalamu'alaikum, ummi! Ira gimana? Bertambah mulas kah atau??'' ucapnya begitu panik.


Mak Alisa terkekeh melihat menantu sulungnya itu. ''Ira tak apa nak.. ini Mak sedang mengusap perut dan punggung nya. Sabar ya? Sebentar lagi kami sampai. Kamu tak tau saja, jika ummi mu sudah berkeringat dingin mengendarai mobil miliknya ke rumah sakit demi Ira.'' Ucap Mak Alisa, membuat Raga terkejut.


''Ummi?? Ummi menyetir?!'' pekik Raga karena terkejut.


Mak Alia tertawa. Sementara ummi Hani berdecak sebal. ''Ck! Diam kamu Raga! Kamu harus tanggung jawab. Jantung ummi ini hampir copot menyetir mobil ini. Sudah puluhan tahun sejak kejadian itu. Ini baru bisa lagi karena terpaksa! Kamu sih! Bukannya pulang, malah menunggu saja! Ummi tutup! Assalamualaikum!'' sewot ummi Hani


Tut.


Dengan segera sambungan ponsel itu terputus. Raga yang sedang berada di lobi rumah sakit mulutnya menganga lebar melihat ponsel miliknya padam seketika.


''Ummi? Nyetir lagi?! Hahahaha...'' Raga tertawa terbahak di lobi rumah sakit.


Suster Santi yang sedang berjalan dengan mendorong bangkar bersama dua orang perawat lainnya, berlari dengan cepat saat melihat Ragata, pemilik rumah sakit itu tertawa lepas.


''Hahaha...''


''Dokter!! Anda kenapa tertawa? Apakah Nyonya Ira sudah melahirkan?!'' tanya suster Santi begitu panik.

__ADS_1


Raga semakin tertawa. Ia masih tidak habis pikir dengan Umminya itu. Katanya dulu udah nggak mau nyetir mobil lagi. Lah sekarang?


Malah nyetir lagi. Semua ini gara-gara Ira yang akan melahirkan keturunan kedua ummi Hani.


Cucu kandungnya. Putra pertama dari Ragata.


Dan saat ini kedua nenek itu sedang berjuang membawa Ira ke rumah sakit. Ummi Hani semakin ngebut saja saat melihat Ira sudah mengedan.


''Astaghfirullah!! Tahan dulu, nak! Ini ummi lagi nyetir?! Kamu tahan dulu, jangan biarkan cucu kami lahir di dalam mobil. Haisshh.. kenapa pula jalanan itu pada macet sih?!'' gerutu ummi Hani semakin kesal.


Ia menekan klakson berulang kali. Hingga menimbulkan suara bising.


Tiiiiinnnn


Tiiiinnnnn


Tiiiinnnnn


Tiiiinnnnn..


Mak Alisa sampai terkejut melihat ummi Hani menyumpahi pengguna jalan yang sengaja berbaris padahal tidak ada kegiatan disana.


Tiiiiinnnn...


Para anak muda yang berdiri dijalan itu mengejek ummi Hani dengan tatapan mengejeknya.


Geram, ummi Hani keluar dan menghampiri anak muda yang terus mengejek ummi Hani dengan senyum mengejek nya.


Braaakkk..


''Astaghfirullah!!! Haniii!!'' pekik Alisa begitu kaget saat melihat ummi Hani turun dengan wajah begitu menyeramkan.


Tiba disana, ummi langsung saja menjambak pemuda yang tadi mengejeknya dan menarik leher pemuda itu untuk ikut dengan nya.


Anggota yang lainnya terkejut. Mereka ingin ikut. Ummi Hani menoleh dengan mata merah menahan amarah.


''Berani??? Maka leher ketua kalian ini akan saya patahkan dan saya cincang menjadi sepuluh bagian!! Setelah nya saya lempar ke sungai! Setelah itu, giliran kalian semua!!!'' ucap ummi Hani dengan suara dinginnya.


Sedang pemuda yang sedang dalam jepitan tangan ummi Hani tidak bisa bergerak.


Karena leher dan mulutnya terkunci rapat. Di pegang erat oleh ummi Hani. Tiba didepan mobil mereka, dengan segera ummi Hani menyorong pemuda itu agar ikut dengannya untuk menyetir mobil ke rumah sakit


Pendidikan.uda itu begitu terkejut kala melihat siapa orang yang sedang di dalam mobil itu.


''Loh, loh, Mami Alisa?!'' pekiknya saking terkejutnya.

__ADS_1


''Lah?? Dimas?!? Sedang apa kamu nak??''


''Maaaakk.. bayinya mau keluaaaar... cepetan.. huffftt... eeggghhhh...''


Ummi Hani dan Mak Alisa saling pandang. ''Jalaaaaaaaannnn!!!'' pekik dua orang paruh baya itu dengan keras.


Dimas yang terkejut dengan segera menginjak pedal gasnya hingga mobil itu melaju dengan kencang.


Para kawanan Dimas tadi sudah menyingkir saat melihat Dimas tadi di tarik oleh ummi Hani.


''Allahu Akbar!!! Dimaaaasss... pelan-pelan ih! Jantungan Mami naaaakk...'' pekik Mak Alisa begitu kuat.


Ummi Hani memejamkan matanya dengan erat. Ia masih trauma saat kejadian puluhan tahun silam.


Ira semakin kuat mengedan. '''Hufffttt... eeeegghhh... huufftt.... eeggghhhh... eeggghhhh...''


Mak Alisa semakin panik. Begitu juga dengan Dimas. Ia semakin kencang mengendarai mobil itu, hingga cuma butuh waktu tiga menit saja mobil yang Dimas kendarai sudah masuk ke pekarangan rumah sakit.


Raga dari kejauhan terkejut melihat laju mobil itu begitu kencang. Hingga tiba didepan lobi, mobil itu berhenti mendadak.


Cekiiiiiiiittttt...


Suara aspal dan ban mobil milik ummi Hani begitu mengganggu pendengaran semua orang dirumah sakit itu.


Raga mendekati mobil itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Ira hampir mengeluarkan bayinya dalam keadaan duduk.


''Ya Allah.. hunny!! Santiiii bangkaaaarr!!!'' pekik Ragata dengan panik.


Dengan segera Santi dan dua orang perawat lainnya mendekati mobil ummi Hani. Dengan segera Raga membantu Ira yang terus terusan mengedan tanpa henti, karena bayi itu sudah keluar kepalanya.


''Astaghfirullah!! Bidan Astrid!!! Cepaaatt!!!'' pekik Raga begitu heboh di lobi rumah sakit.


Mereka berlarian mendorong bagkar Ira. Belum lagi Ira di pindahkan bayi berjenis kelamin perempuan, sudah keluar.


''Oeeek.. oeeeek... oeeeek...'' suara tangisan bayi dibawah baju gamis Ira yang berwarna hitam begitu nyaring.


Raga tertegun, begitu juga dengan ummi Hani dan Mak Alisa. Bidan Astrid yang baru saja tiba dan masih ngos-ngosan, dengan segera mengangkat baju gamis Ira hingga ke pahanya.


''Ya Allah.. ya Robb... anak ini sudah lahir!!! Suster!!'' pekik bidan Astrid.


Semua yang ada disana masih tertegun dengan keadaan itu. Ragata, ummi Hani, dan Mak Alisa begitu shock mendapati cucu pertama mereka lahir dengan selamat tanpa bantuan siapa pun.


💕💕💕💕💕


🤣🤣🤣🤣 Brojol kan tuh, hampir aja di jalanan tadi. 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2