Cinta Dalam Nestapa

Cinta Dalam Nestapa
Sengaja untuk memanasi


__ADS_3

Setelah percakapan antara Ira dan Pak Armand hari itu, kini Ira tidak lagi di ganggu oleh guru agama di sekolah mereka.


Untuk sesaat Ira merasa senang dan tenang. Menegur seseorang tidak perlu dengan urat. Cukup besar dengan cara menyentuh hatinya, itu sudah cukup untuk menegur nya.


Dan terbukti, perkataan Ira yang lembut namun tegas perih akan makna, membuat guru agama di pesantrennya itu mundur alon-alon.


*


*


*


Sementara di Inggris sana, gadis yang bernama Sonia semakin nekat mengejar Ragata.


Pemuda tampan itu semakin muak setiap kali melihat Sonia yang begitu gigih mengejar dan memberi perhatian padanya.


Perhatian-perhatian kecil menurut Sonia akan membuat pemuda itu luluh pada akhirnya nanti. Begitu pikirnya.


Namun semua itu sirna saat kedatangan kedua orang tua Ragata setelah enam bulan Raga sekolah di Inggris.


Ingin ummi Hani membawa Ira, tapi gadis itu tidak mau. Takut naik pesawat katanya. Pernyataan yang membuat ummi Hani terkikik geli setiap kali mengingat putri sahabat nya itu.


Padahal bukan itu alasannya. Ira sudah mendengar dari seseorang, jika Ragata tinggal di Inggris bersama seorang gadis.


Dan semua itu terbukti pada saat ummi Hani sedang menghubunginya pagi ini. Terdengar begitu berisik suara seorang gadis yang begitu antusias saat melihat kedua orang tua Ragata datang.


Terdengar juga jika Ragata begitu senang disana. Ia bisa tertawa-tawa sementara Ira selalu sedih mengingat dirinya nan jauh disana.

__ADS_1


Entah apa tujuan ummi Hani saat ini menghubungi nya. Apakah untuk membuat hatinya terluka, atau ummi Hani ingin ia mempertahankan Ragata?


Entahlah. Mengingat itu Ira merasa sesak seketika di dadanya. Ia menghela nafas hingga berulang kali.


Dan semua itu terdengar oleh ummi Hani. Panggilan itu berubah menjadi video call. ''Nak??'' panggil ummi Hani.


''Iya, Ummi..'' suara lembut Ira menggema di layar ponsel milik ummi Hani.


Raga tertegun sejenak. Ia yang tadinya sedang tertawa bersama teman-teman yang lain jadi terdiam.


Ia melirik ummi Hani yang sedang video call dengan Ira. Tanpa sadar, kakinya melangkah menuju dimana ummi Hani sedang berbicara dengan istrinya.


''Ummi...'' panggil Raga. Suara berat seseorang yang begitu Ira rindukan. Raga tersenyum menatap Ira, Ira menarik sedikit ujung bibirnya namun setelah itu berubah menjadi datar.


''Kenapa?'' tanya ummi Hani.


''Tidak apa-apa, Ummi. Oh iya ummi, jangan lupa belikan pesanan kakak kemarin yak? Minghu depan harus kumpul loh..'' ucap Ira dengan memanyunkan bibirnya.


''Hai! Kamu adiknya Ragata ya?'' sapa Sonia pada layar ponsel Ummi Hani.


Raga menoleh pada Sonia, dengan cepat gadis itu mencuri kecupan sekilas di bibir Ragata.


Ragata terkejut dengan cepat tangannya mencekik leher Sonia. ''Beraninya kau!!'' ucap Raga dengan suara berat nya.


''Arrghhhtt.. uhuk.. lepas! Sakit!'' pekik Sonia.


Ia tak menyangka, jika tujuannya untuk memanasi Ira malah jadi bumerang buat dirinya sendiri.

__ADS_1


''Astaghfirullah! Hentikan Nak! Kamu bisa membunuhnya!'' pekik ummi Hani


Raga tak peduli, baginya Sonia harus di beri pelajaran. Bukan sekali dua kali, tapi berulang kali.


Semua teman Raga berusaha membujuk pemuda itu, tapi tak ada yang berhasil. Termasuk kedua orang tua Sonia.


Ira hanya menjadi penonton saja disana. Gerah dengan pemandangan itu, ia berbicara lembut pada Raga namun begitu menusuk relung hatinya.


''Hentikan Hubby! Apakah ini yang kamu pelajari selama tinggal di Inggris? Apakah keyakinan dan akidah mu sudah berubah sejak kamu tinggal di Inggris selama enam bulan ini? Cukup Hubby! Cukup! Aku lelah! Sedari dulu aku sudah mengatakan nya padamu, jika aku ini tidak pantas bersama mu.. pergilah! Aku melepas mu demi wanita itu. Dia sudah menunjukkan padaku, jika kau adalah MILIKNYA. Aku bukan siapa-siapa untukmu, Lepaskan aku Ragata Hariawan!''


Deg!


Deg!


Tangan Ragata lepas dari leher Sonia. Wanita itu terbatuk-batuk saking sesak dadanya karena tidak bisa menghirup nafas walau sejenak.


Ragata menatap datar pada layar ponsel yang menampilkan wajah datar Ira namun sendu. Mata itu...


''Lepaskan aku Ragata! Kau berhak bersama nya. Bahkan selama ini kau sudah tinggal satu rumah dengannya. Itu baru sedikit yang ia perlihatkan padaku, lalu bagaimana dibelakang layar ponsel ini?''


Deg!


Lagi, jantung Raga bergemuruh hebat. ''Kamu memang pantas bersama nya Ragata! Pergilah bersama nya. Bukankah tinggal satu atap selama enam bulan, kalian sudah menikah disana tanpa sepengetahuan ku? Aku tau semua tentang mu Ragata, tanpa kau beritahu kepada ku! Aku tau semuanya..'' lirih Ira masih dengan wajah datarnya.


''Selamat menempuh hidup baru Ragata Hariawan! Aku akan menunggu keputusan mu tiga setengah tahun lagi untuk memutusksn ku Ragata! Aku tunggu saat itu tiba!'' tegas Ira dengan menatap datar pada Ragata.


Raga mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih. ''Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu Ira Sarasvati binti Milham Syahputra! Selamanya kau akan tetap menjadi istriku! Terima atau tidak, inilah keputusan ku! Ummi! Kita pergi dari sini! Pertama kali aku menginjak kaki di rumah ini, aku merasa ada konspirasi untuk mengikatku dengan gadis yang tidak tahu malu itu! Kita pergi Ummi! Assalamualaikum Hunny! Jaga diri dan kesehatan mu! Tunggu aku tiga tahun lagi!''

__ADS_1


Deg!


Deg!


__ADS_2